
Anna membasuh wajahnya dengan air keran, tak peduli jika riasan di wajahnya luntur. Sejak awal Anna memang tak suka make up atau merias diri.
Kini ia melihat pantulan dirinya di depan cermin besar tersebut. Meneliti penampilannya dengan air muka tak berekspresi.
‘Apa memang sejak awal aku tidak pantas jadi orang berada? ’ batin Anna, lama-lama tatapannya menyendu. Memandang gadis cantik didepannya dengan hati yang terasa kelu.
Anna menaruh pandang pada kedua tangannya, melihat bagaimana kulit putih dan mulus itu ada pada dirinya. Wajah cantik, hidup senang, tidak ada kesusahan nyatanya berhasil membuat dirinya menderita. Kesalahan, semua ini kesalahan.
Apa yang sekarang ada pada diri Anna adalah kesalahan yang tak pernah bisa ia terima atau lupakan.
Dua puluh menit berlalu yang hanya dihabiskannya untuk melamun depan cermin, Anna keluar dari toilet dan mendekat ke salah satu meja yang ia tak kenal satu orang pun disana. Karena acara ingin dibuka, tanpa berpikir panjang asal duduk saja. Lagi pula tak ada larangan, ia juga tak ingin kembali ke meja dimana Destina, Vivian dan Caitlin berada.
Meja bundar dengan dua belas kursi yang melingkar itu hanya diisi oleh tiga orang wanita dan dua orang pria, ditambah Anna yang baru saja bergabung tanpa malu. Nampaknya lima orang tersebut pun tak memedulikan Anna yang dinilai sebagai orang asing, Anna juga melihat tiga wanita yang asik berbincanf dan dua pria saling duduk berdampingan itu tidak saling mengenal. Jadi Anna memilih meja yang tepat.
Beberapa menit kemudian terdengar suara di atas panggung, dimana seorang wanita cantik berdiri disana dengan anggun.
Satu lagi seorang wanita muda yang tak kalah cantik memegang microphone yang bertugas sebagai pemandu acara malam ini.
Memperkenalkan sesosok wanita cantik di hadapan para tamu itu adalah Heriska Naomi Wandini sang Primadona malam ini, menyambut para tamunya yang hadir di gedung megah nan mewah ini.
Anna mengernyit saat melihat hanya ada Heriska seorang, tanpa ada dampingan orangtua di sisinya. Terasa janggal menurut Anna, namun tak terlalu memperdulikan lebih jauh.
Dihadapan Heriska sudah ada meja yang tersedia kue tart tiga tingkat, dan dua buah lilin berbentuk angka dua dan tiga tertancap di puncak kue. Para tamu berdiri dari duduk mereka, sama-sama menyanyikan lagu selamat ulang tahun hingga tiup lilin. Heriska didepan sana sangat ceria, terlihat sekali keanggunan dan kecantikannya malam ini.
Kemudian sesi berikutnya adalah potong kue. Beberapa orang bahkan berbisik satu sama lain siapa yang akan mendapatkan potongan kue pertama.
“Pasti Ardan! Rumornya Heriska menjalin hubungan dengan pengusaha muda itu kan? ”
“Bukan rumor lagi, satu negara ini juga tahu Ardan dan Heriska adalah pasangan kekasih. ”
“Lebih mengejutkan lagi kalau kue pertama diberikan pada anak bungsu Aldrich. ”
“Ah, iya. Ada isu juga tentang putera Aldrich yang cacat itu datang kemari, kan? ”
“Sst! Bosan hidup, ya? Siapa yang berani membicarakan keluarga Aldrich terang-terangan? ”
“Apa kita harus sembunyi-sembunyi dulu? ”
“Diam! Aku tidak ingin terjerat masalah yang tidak perlu. ”
“Dasar lemah! ”
Anna melirik tiga gadis yang saling berbisik tersebut dengan tatapan jengah. Sementara yang lain pun mulai menebak-nebak siapa yang beruntung mendapatkan potongan kue pertama dari Heriska.
Heriska memotong kuenya dan menaruhnya di piring kecil yang sudah tersedia, pandangannya menelusuri para tamu dihadapannya hingga tatapannya terhenti pada sosok pemuda yang tak jauh di tempatnya. Heriska turun panggung dan melangkah mendekati sosok tersebut, yang tak lain adalah Ardan.
Anna yang melihat itu mengangkat alisnya dan melirik ketiga gadis tadi sekilas. Ternyata apa yang dikatakan mereka benar. Karena jarak antara Anna pada tempat Heriska dan Ardan berdiri cukup jauh, ia tak dapat dengar jelas karena Heriska tak membawa microphone bersamanya turun.
Sementara ditempat Heriska yang akan menyerahkan kuenya.
Ardan menggaruk tengkuk belakangnya yang tak gatal. “Tadinya, tapi saat aku kembali ke meja teman-temanmu. Anna tidak ada, mereka bilang Anna ke toilet tapi saat Vivian menyusul, Anna tidak disana. Dan ia juga tak kembali ke meja sebelumnya. Kupikir dia pulang deluan. ”
Heriska yang mendengar itu sedikit kecewa dan merendahkan bahunya lemas. Kemudian kembali mengukir sentum tipis. Menyodorkan piring ditangannya pada Ardan.
“Terima kasih sudah datang. ”
Ardan balas tersenyum lembut dan menerima potongan kue pertama itu.
“Orangtuamu benar-benar tidak bisa hadir, ya? ”
Pertanyaan Ardan membuat wajah berseri Heriska berubah muram, Ardan yang menyadari kesalahannya pun mengulum bibir.
“Nggak papa kok, kan udah ada Gue, ” ucap Ardan mencoba menenangkan wanita itu dan membawa suasana hangat kembali.
Heriska kembali tersenyum mendengarnya. Ia merasa seperti wanita yang beruntung bisa dipertemukan oleh pemuda sebaik Ardan.
Interaksi manis tersebut pastinya menjadi titik pusat perhatian para tamu yang hadir. Merasa kagum sekaligus iri pada Heriska yang dinilai mata mereka tidak sebanding dengan Ardan.
Anna yang ikut melihat itu hanya dapat terdiam di tempatnya. Menilai jika bahasa gerak tubuh mereka terlihat kaku namun terkesan akrab.
“Apa kubilang! Heriska itu selalu saja mencari-cari perhatian Ardan! ”
Suara itu lagi, benar-benar membuat kesabaran Anna hampir habis.
“Sudahlah, Jane! Pelankan suaramu! ”
“Apa yang salah pada perkataanku? Jujur, Heriska terlalu memaksa untuk Ardan meliriknya! ”
“Ya, ya, ya kamu benar. Tapi cukup, shut up! ”
“Kamu ini kenapa, sih?! Lihatlah jelas-jelas Heriska tak tahu diri memberikan Ardan kue murahan seperti itu, kasihan sekali Ardan jika benar-benar jatuh cinta pada Heriska. ”
“Dari penglihatanku, mereka sudah saling jatuh cinta. ”
“Damn! ”
Anna mencuri lirik pada ketiga wanita itu, ingin ikut pada perbincangan tersebut tapi tak tahu harus berbicara apa untuk membela Heriska, sosok yang penting bagi kakaknya.
Tapi ia merasa itu adalah hal yang sia-sia dan merepotkan, yang ada hanya akan memperburuk pesta jika ia beradu argumen pada ketiga wanita arogan ini.
Anna tahu, Heriska memang berasal dari kalangan atas. Tapi jika disandingkan dengan Ardan yang berasal dari keluarga Swayn itu sangat jauh perbandingannya. Anna menghela napas, kenapa dunia ini selalu menilai tentang tingginya derajat?
Bukankah jika sudah berjodoh, mahu ia hidup di dalam hutan lebat atau pinggir sungai jika sudah jodohnya dengan mereka yang hidup di istana, mahu bagaimana lagi?
Bukan dunia permasalahannya terletak, tapi mereka para manusia yang menjunjung tinggi harga diri selalu rumit dan mempersulit keadaan.