
"Aku mencintaimu! cinta dan sayang sama kamu Sal! Maaf kalau aku tidak memberitahu kamu. Aku sudah menyimpan perasaan ini sejak kita pertama bertemu, sejak aku pindah rumah di Kota ini."
Doni, jujur aku sayang dan menyukaimu. Tapi aku juga tidak tau perasaan yang aku rasa. Apakah ini cinta atau bukan ,aku bingung. terkadang aku jengkel padamu karena kau tidak menepati janjimu untuk mengabari aku di inbox chat IG. Aku sempat berfikir kau melupakanku jadi aku mencoba untuk melupakanmu ,tapi itu tidak bisa. Aku selalu menunggumu, menunggu kabarmu. Dan akhirnya kau pun kembali.
Aku menangis, tak bisa menahan bendungan air mata. Dan tak tau harus berkata apa. Doni memelukku, mencoba menenangkanku. "Maaf Sal, aku memang laki2 yang pengecut. Maaf aku menyuruhmu menungguku, dan maaf aku membuatmu menangis."
Aku menghapus air mataku, berdiri dan meninggalkan Doni. Tapi Doni menahanku dengan menarik tanganku, memelukku. aku mencoba menolak dan mendorongnya, namun Doni berkata "sebentar saja Sal, biarkan aku memelukmu sebentar saja, aku rindu kamu Sal." Aku mencubit punggung Doni. "Aaa...! kok kamu nyubit aku sih?!"
"Inget Don, kita belum mukhrim!"
"Tapi aku tadi sudah cium dan meluk kamu?" tersenyum jahil.
"Tau ah! nggak ada berhentinya aku ngomong sama kamu! Mending aku berhentiin aja!" Aku berlari ke dalam rumah. Takut dan gugup jika aku berlama lama bersama Doni.
Haha, Salsa2.. kamu tambah menggemaskan ya, lihat saja, aku kan membuatmu tidak bisa lari dariku. #Doni
Di Ruang Tamu
"Udah mah.."
"Lho Doninya kemana? kok nggak masuk bareng kamu?
Tiba2 Doni masuk dan berkata "Assalamualaikum, Doni udah dateng om, tadi Doni lihat2 taman bentar."
" tadi kamu habis ngobrol apa sama Salsa?"
"Nanti aja ceritanya ya mah kalau udah di rumah?"
" Oh begitu, ya udah Mirna, kami pulang dulu ya, maaf lho kalau kita kesini merepotkan kamu. Habis si Doni pengen banget ketemu sana anakmu itu. Katanya kangen berat."
"ih mama, jangan dibilangin dong." Ucap Doni kesal dan malu.
"Haha nggak apa2 Rik, nggak merepotkan sama sekali kok. Justru aku malah seneng akhirnya bisa menemukan obat rindunya si Salsa juga." Orang tuaku dan orang tuanya Doni tertawa, termasuk juga Doni. Kecuali aku, aku malu menatap Doni, karena kejadian yang ada di taman tadi, meskipun hati ini senang akhirnya Doni kembali.