
Doni menelepon...
"Assalamualaikum, Sal? udah siap? Aku tunggu dibawah ya..."
"sebentar lagi, ok ok...."
Tak lamaku bersiap, aku pun turun memakai lift. Setelah keluar dari lift, aku melihat tatapan Doni membeku...
"Don? Doni!!!"
" Aa?? iya...?"
"Kamu kenapa sih?"
"Ng... Nggak papa..."
"Cih.. aneh, ya udah ayo ah... katanya nanti telat?"
Aku dan Doni masuk mobil, dan segera menuju ke rumah Tante Rika dan Om Ridho (orang tuanya Doni).
Telah sampai...
"Assalamualaikum, mah... pah... Doni pulang..."
"Waalaikumsalam, eh ada nak Salsa... sini yuk masuk..."
"Iya tante..."
Saat aku masuk, aku terkejut melihat mamah dan papahku juga ada di rumah Tante Rika.
"Mama Papa? Sejak kapan mama papa disini?"
"Sejak kemarin..." mamah tertawa pelan ke arah papa.
"Lho, kamu belum dikasih tau Doni nak?"
"belum pa..."
"Ya udah, ikuti aja maunya dia, nanti juga kamu akan tau" mama tertawa pelan, begitu pula papa.
Aneh, ada apa sih sebenernya?
Aku mencari Tante Rika, meminta izin untuk berkeliling. Rumah Doni memang begitu luas. Bahkan lebih luas dari rumahku. Ditengah keasyikkanku berkeliling, aku tertarik dengan taman bunga yang ada di halaman belakang rumah Doni. aku pun menuju kesana, namun tak sengaja aku melihat ada 3 orang perempuan yang tidak asing.
"Don? Kamu beneran mau ngelamar si Salsa disini?"
"Iya Ran..."
"Oh My God Don, kamu kurang romantis ya..."
"Ih Cik, nggak boleh ngomong gitu, terserah Doni dong dia mau ngelamar Salsa kayak gimana, iya nggak Don?"
Doni hanya tersenyum...
"Ya udah.. menurutku bagus - bagus aja sih kamu ngelamar Salsa disini, lagi pula dia juga suka bunga. Tapi aku peringati nih Don, jaga Salsa dengan baik - baik, lindungi dia, buat dia bahagia, jangan sakiti dia. Kalau kamu nyakitin dia, awas aja kamu, kita bertiga nggak akan pernah maafin kamu..."
"Tentu saja dong Mel, aku pasti nggak akan membuat dia sedih. Hhhmmm makasih ya kalian udah mau mbantu aku nyiapin ini semua..."
"Oh iya nggak papa, hehehe lumayan bisa keluar negri secara gratis..."
"Ck.... CIKAAA...." ucap Rani dan Mela secara bersamaan, memberikan tanda agar Cika berhenti bicara.
Lah, itu kan Rani Cika ama Mela? Kok Mereka ada disini juga? Aku bersembunyi, mencoba mendengar apa yang mereka katakan, tapi tidak terdengar apapun, karena jarak tempat ku sembunyi lumayan jauh dari tempat mereka. Aku memutuskan kembali.