
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Sudah 5 tahun Doni pergi, dan dia selalu mengirimkan buku diary disetiap ulang tahunku. Bagaimana Kabarmu Doni? Itulah bisikkan hatiku yang selalu terucap disaat buku itu sudah datang didepan rumahku. Dan tak lupa juga Doni selalu memasukkan kartu ucapan ulang tahun di dalamnya.
Kini aku sudah menduduki bangku perguruan tinggi. dan dihari yang special untukku inilah ia akan kembali ke kota S*.
Sambil menunggu Doni, seperti biasa aku menulis ditempat yang aku sukai, yups di bawah pohon belakang rumahku. Aku baru tersadar, benar apa kata Doni. dihari ulang tahunku, bukannya aku asik2 ngerayain ultahku bersama keluarga & tamu undangan eh malah aku asik dengan menulis di bawah pohon.
Sesekali aku melihat jam, dan berjalan menuju teras, melihat apakah Doni sudah datang? Namun ternyata dia tidak ada?
Doni, aku sudah menunggu, apakah kamu akan datang? itulah yang dikatakan hatiku.
Lalu aku kembali ke ruang dimana aku harus berkumpul. mencoba menikmati hari ulang tahunku.
Setelah acara ulang tahunku selesai, aku segera menuju kamar ku, berganti pakaian setelah itu mandi.
ditengah aktifitas mandiku, tiba2 mamah mengetok pintu kamar mandiku. "Salsa?!"
Sontak aku mematikan kran yang menyala.
"iya mah? ada apa?"
"nanti kalau sudah selesai mandi turun ya nak, ada seseorang yang mau ketemu kamu."
"iya mah..."
Cepat2 segera ku selesaikan mandiku, langsung pergi menuju ke bawah.
"Mah? Siapa sih emang yang pengen ketemu aku?...."
Oh God? ini siapa? Kenapa aku ngerasa nggak asing ya? Tapi ini masak Doni sih?
"Sal, kok kamu bengong sih? Sini dong ketemu sama Doni."
Oh God... ini beneran nggak mimpi? coba aku cubit tanganku.
"aaa..."
"Sal? km knp teriak?
Oh God ternyata bukan mimpi. Tapi masak ini Doni sih? Dia berubah banget? Tambah ganteng dan tinggi dia...
"i.. i.. iya pah..."
Doni tertawa memandangku Sal2 ternyata kamu belum berubah ya, masih polos kayak dulu. Nggak salah kalau Papa dan Om Ricko merestui aku menikahimu.