No Problem, To Not Be Perfect

No Problem, To Not Be Perfect
bab. 9


Sekali dua kali dinyalakan, belum bisa. Beberapa kali lagi, tapi masih belum ada tanda-tanda mobil akan menyala. Sementara Kalisa nampak gelisah sambil berdiri menunggunya di teras rukan. Beberapa kali ia mencuri pandang ke arah Rivan sambil menggosok lengannya untuk menghalau dingin yang mulai menyerang. Dan Rivan baru menyadari bahwa ia tidak meminjamkan jaket pada gadis itu, sehingga membuatnya kedinginan. Menyadari itu, gegas Rivan keluar dari mobilnya, berjalan cepat menuju rukan.


"Tunggu sebentar." Kalimat itu yang terucap dari bibirnya saat melewati Kalisa dan dengan cepat meringsek masuk ke dalam rukan, sementara Kalisa masih berdiri di luar rukan, sambil melihat keadaan sekeliling yang sudah mulai sepi.


Beberapa menit kemudian, Rivan kembali dengan membawa sebuah jaket berwarna biru tua, kemudian menyerahkannya pada Kalisa.


"Terimakasih." Ucap Kalisa, sembari mengenakan jaket pemberian Rivan. Kali ini Ia tak bisa menolak pemberian Rivan, karena hawa dingin sudah mulai menusuk kulitnya dan ia membutuhkan jaket itu.


"Apakah masih lama?" Tanya Kalisa sedikit berteriak.


Beruntung, belum sempat ia menjawab pertanyaan itu, mobil Jeep tua itu sudah bisa menyala. Karena dia akan sangat kecewa bila nanti Kalisa berpendapat bahwa ia adalah orang yang tidak bisa diandalkan. Ah sungguh kata-kata 'tidak bisa diandalkan' itu membuatnya trauma sampai sekarang dan ia takut jika ada orang lain yang akan mengatakan itu padanya kini.


Mobil berjalan pelan menghampiri Kalisa yang masih berdiri menunggunya di teras rukan. Rivan merasa lega, dan berharap mudah-mudahan mobil warisan kakeknya itu tidak mogok di tengah jalan.


Jarak dari rumah Rivan ke rumah Kalisa lumayan jauh. Kurang lebih butuh waktu satu setengah jam untuk mencapainya. Karena sudah malam, jadi jalan lumayan lengang ditambah guyuran hujan yang mengguyur dari semenjak sore tadi semakin membuat jalanan lumayan sepi.


Untuk memecahkan keheningan, Kalisa memberanikan diri untuk membuka percakapan dengan Rivan. Sebenarnya ada suara musik yang mengalun pelan, tetapi ia merasa terganggu dengan keheningan yang tercipta dari keduanya.


"Ngomong-ngomong, kamu sudah lama tinggal disitu ?" Tanya Kalisa, sembari menoleh ke arah Rivan yang sedang menyetir.


"Lumayan, sudah enam bulan terakhir." Jawabnya singkat.


"Ooo, baru berarti."


"Aku dengar dari Bi Titi, usahamu sudah mulai maju sekarang. Seneng ya sudah jadi bos sekarang, punya anak buah lagi. Keren"


Rivan menatap Kalisa, tetapi ekspresinya terlihat datar. Itu adalah sebuah sanjungan, tapi itu belum membuatnya merasa tersanjung.


"Tidak, belum seberapa. Baru mulai berkembang." Ia merasa bahwa ia belum pantas untuk dikatakan maju.


"Kamu sendiri gimana. Kerja dimana sekarang ?"


"Aku ?, ya gitulah jadi karyawan biasa."


"Jangan bercanda mana mungkin, sulit dipercaya manusia dengan otak jenius seperti kamu hanya jadi karyawan biasa."


Kalisa menghembuskan napas kesal mendengar reaksi dari Rivan. Seolah-olah pekerjaannya menjadi karyawan biasa itu sebuah kesalahan.


"Maksudnya ?" Tanya Kalisa gusar.


"Terus suruh jadi Mentri, pejabat, atau Presdir gitu?" Jawab Kalisa sewot.


"Ya bukan begitu, orang dengan otak pintar kaya kamu tu harusnya minimal jadi Duta Besar."


Sial, rupanya Rivan masih mengingat cita-citanya semasa SMA dulu itu dan sekarang ia menggunakannya untuk meledeknya.


Kalisa memukul keras lengan Rivan, ia benar-benar merasa kesal pada laki-laki di sebelahnya itu.


"Aduh, aduh. Sakit." Seru Rivan sembari mengelus lengannya yang terasa sakit.


"Rasain tu, emang enak." sungut Kalisa.


"Kan cuma becanda." Rivan tersenyum mendapati wanita di sampingnya itu terlihat kesal.


Momen seperti ini tidak pernah mereka rasakan dulu. Karena walaupun mereka satu kelas, tetapi mereka jarang sekali bercakap. Apalagi hubungan mereka terjalin kurang baik, selain karena persaingan prestasi juga karena keisengan yang dilakukan oleh Rivan, hingga membuat gadis itu tidak Sudi untuk bertegur sapa dengannya.


Rivan berinisiatif untuk meminta maaf, ya laki-laki datar itu ternyata bisa tersenyum dan meminta maaf. Setelah kata maaf terlontar dari mulutnya, kini suasana mulai kembali mencair. Mereka mulai membahas kejadian di sekolah dulu, yang sudah lama terlewatkan. Hingga sebuah pertanyaan keluar dari mulut Rivan.


"Apakah kamu sudah menikah Kal?"


Pertanyaan yang jawabannya membuat suasana kembali hening.


bersambung...