No Problem, To Not Be Perfect

No Problem, To Not Be Perfect
bab 11


Sampai di rukan, Rivan melangkahkan kakinya dengan gontai. Sementara Bi Titi sudah menunggunya dengan keingintahuannya yang membuncah.


"Sudah pulang Mas ?." Tanya Bi Titi, yang datang menyambut.


"Iya Bi, aku langsung ke kamar ya. Mau istirahat." Jawab Rivan sembari berlalu meninggalkan Bi Titi yang masih berdiri di dekat meja makan.


Padahal Bi Titi sudah membuatkan makanan ringan kesukaan Rivan, ia bermaksud untuk membuat Rivan bercerita sambil menikmati camilan itu. Tetapi rupanya Rivan sudah benar-benar lelah, karena dia sama sekali tidak melirik ke arah meja makan. Langsung berjalan cepat menuju lantai tiga kamarnya.


Bibi menyimpan camilan itu di lemari pendingin. Kemudian melirik ke arah jam dinding, rupanya sudah lewat tengah malam, ia lantas masuk ke kamarnya untuk beristirahat dan meredam rasa keingintahuannya perihal gadis yang baru saja diantar oleh bosnya itu.


****


Pukul 08.00 pagi, Bi Titi sudah menyiapkan sarapan untuk Rivan beserta karyawan yang lain.


Jam segini biasanya Rivan sudah bangun dan menikmati secangkir kopi sambil mencari ide di ruangan terbuka di lantai atas, tetapi tumben sekali sampai sekarang belum nampak batang hidungnya. Bahkan kopi buatan Bi Titi pun belum di sentuhnya dan sudah mulai dingin.


Karena khawatir, Bi Titi melihat keadaan Rivan di kamarnya. Beberapa kali ia mengetuk pintu kamar Rivan, tetapi tidak ada jawaban dari yang empunya kamar. Ketika ia memutar handle pintu, rupanya pintu tidak dikunci sehingga ia bisa langsung masuk.


Di dalam, ia melihat Rivan yang masih tertidur dengan selimut besar yang membungkus tubuhnya. Bi Titi datang menghampiri, memastikan apakah laki-laki yang sudah diasuhnya dari kecil itu baik-baik saja atau tidak.


Dia menempelkan telapak tangannya di dahi Rivan yang menyembul dari balik selimut. Dia merasakan hawa panas yang berasal dari dahi Rivan menjalar ke telapak tangannya. Rupanya Rivan sedang demam.


Bi Titi sedikit panik, karena sejauh ini Rivan jarang sekali sakit karena ia rajin berolahraga. Mungkin efek kehujanan semalam.


Dengan langkah seribu ia meninggalkan Rivan, mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengompres Rivan.


Lantas ia menempelkan handuk basah di dahi Rivan. Sembari menatap dengan lekat wajah Rivan, ah Rivan sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Dimatanya, Rivan adalah anak yang baik, walaupun dia tahu bahwa hubungannya dengan kedua orangtuanya kurang baik. Bukan salah siapa-siapa, tetapi keadaan yang membuat ikatan hubungan orang tua dan anak itu menjadi kurang baik.


Tak terasa air mata menetes dari pelupuk mata wanita paruh baya itu. Ingatannya kembali melayang, mengingatkan kejadian di masa lampau yang ia lalui bersama Rivan. Kenangan itu saling bergantian seperti sebuah cuplikan adegan film.


Berulang kali ia melepas menempelkan handuk basah itu di dahi Rivan.


Hingga air yang tadinya hangat, kini sudah berubah menjadi dingin. Dan ia kembali menggantinya dengan air hangat lagi.


Setelah setengah jam berlalu, Rivan mulai bangun. Dan ia kaget ketika mendapati Bi Titi sudah berada di sampingnya. Kemudian meraba handuk kecil yang berada di dahinya, karena ia merasa ada yang aneh disana.


"Tidak apa-apa, ini hanya kain kompres"


"Jam berapa sekarang Bi ?" Tanya Rivan.


"Sekarang sudah setengah sembilan, tunggu sebentar ya Bibi ambilkan sarapan dulu, habis itu minum obat penurun panas." Terang Bi Titi, hendak beranjak dari tempat duduknya.


"Apa??, setengah sembilan??" Tanya Rivan kaget.


Buru-buru ia melepas kain kompres di dahinya, menyibakkan selimut yang membungkus tubuhnya, lantas beranjak dari tempat tidurnya.


"Aku hari ini ada janji meeting dengan stasiun televisi Bi." Serunya tergesa-gesa.


Bi Titi hendak menahan Rivan yang terburu-buru bangkit dari tempat tidurnya. Tetapi kecekatannya tidak sebanding dengan pergerakan cepat Rivan.


Setelah Rivan berdiri, ia merasakan kepalanya berputar, semua yang ia lihat seolah ikut bergoyang-goyang, naik turun seolah-olah sedang terjadi gempa.


Ia memegangi pelipisnya, kemudian kembali terduduk di tepi tempat tidurnya.


Bi Titi bergerak cepat membantu Rivan untuk kembali merebahkan tubuhnya.


"Mas Rivan lagi demam, tolong dengarkan kata-kata Bibi. Sebaiknya sekarang istirahat dulu, sampai nanti kondisinya benar-benar sudah pulih. Bibi akan kebawah dulu ambil sarapan. Tunggu sebentar." Tegas Bi Titi, sembari menata selimut, menutupi seluruh bagian tubuh Rivan, kecuali kepalanya.


Kali ini Rivan tidak bisa menolak perintah Bi Titi lagi. Rupanya kondisi tubuhnya memang sedang membutuhkan istirahat sesuai perintah Bi Titi.


Bi Titi kembali meletakkan kompres di dahi Rivan,kemudian beranjak pergi mengambil sarapan dan obat penurun panas.


****


Di meja makan, Kalisa sudah berkumpul dengan kedua orangtuanya. Seperti biasa mereka selalu menghabiskan waktu sarapan bersama-sama sambil membicarakan banyak hal.


Tak lupa ia bercerita mengenai kejadian yang menimpanya semalam. Papa yang mendengarnya terlihat kaget, mungkin ia merasa khawatir atas apa yang menimpa anak perempuannya itu. Tetapi beruntung, ia bertemu orang baik yang menolongnya. Dan dia bisa selamat sampai di rumah tanpa kekurangan suatu apapun, kecuali mobil kesayangannya yang harus bermalam di bengkel karena kejadian itu.


"Minggu depan pas setahun meninggalnya Gilang. Acaranya mau diadakan dimana ??"Tanya Mama mengingatkan.


Mata Kalisa membulat ketika mendengar pertanyaan Mama.