
Gilang, begitu cepat ia pergi, bahkan sudah setahun berlalu tetapi Kalisa masih mengharapkannya untuk kembali, walaupun itu adalah sesuatu yang mustahil. Tuhan begitu sayang padanya, bahkan mereka berpisah sebelum sempat mencicipi indahnya mahligai berumah tangga.
"Nanti aku tanyakan dulu Ma, apakah Bunda mau mengadakan acara atau tidak. Biasanya sih Bunda rajin mengadakan tahlilan."
Karena harus terpisah oleh takdir, hubungan antara keluarga Gilang dengan keluarga Kalisa masih terjalin dengan baik. Apalagi Kalisa juga masih dekat dengan Bunda, ibunya Gilang, ibu mertuanya dulu. Sesekali Kalisa pergi mengunjungi Bunda dan selanjutnya mereka mengunjungi makam Gilang bersama-sama. Bagaimanapun juga mereka sudah saling mengenal dari jaman Kalisa berpacaran dengan Gilang dulu, dari semasa mereka masih duduk di bangku sekolah.
Bunda juga sudah menganggap Kalisa seperti anaknya sendiri.
Hari ini Kalisa berangkat kerja menggunakan taksi online, karena mobil kesayangannya harus bermalam di bengkel. Dia juga belum menelpon pihak bengkel lagi, untuk memastikan kapan mobilnya bisa selesai diperbaiki.
Ketika sedang asyik mendengarkan musik melalui headset, tiba-tiba sopir yang sedang mengemudi mobil membalikkan kepala ke arahnya. Ia mengucapkan sesuatu tetapi Kalisa tidak dapat mendengarkannya dengan jelas perkataan laki-laki yang kira-kira sebaya dengannya itu. Lantas ia membuka salah satu headset yang menempel di telinganya.
"Iya Mas kenapa?" Tanya Kalisa.
"Apa benar Mbak ini Kalisa, teman sekolah saya dulu?" Tanya Mas Sopir.
Kalisa tersentak kaget. Rupanya masih ada lagi orang yang mengingat dan mengenalinya.
"Eh iya, ngomong-ngomong mas ini siapa ya, kok saya lupa. Maklum faktor umur.” Kata Kalisa, sambil mengingat-ingat kembali dan memastikan wajah orang di depannya itu.
"Saya Beni, dulu duduk di IPA 2."
Wah, Beni, sepertinya Kalisa tidak begitu mengenalnya dulu, apa karena sudah lupa.
"Oh, iya saya di IPA 1, pantes saja saya kurang begitu ingat, ternyata kita tidak satu kelas."
"Iya, mungkin Mbak Kalisa juga tidak mengenal saya, secara sayakan cuma murid biasa saja, tidak terkenal seperti Mbak."
"Ah, biasa saja. Saya juga biasa saja kok, tidak sepopuler itu."
"Bedalah, kalo Mbak kan murid populer, pacarnya juga murid populer. Siapa juga yang tidak mengenal pasangan Gilsa, Gilang dan Kalisa."
"Ah, Mas-nya terlalu berlebihan."
Air wajah Kalisa mendadak menjadi sendu. Ada gurat kesedihan tergambar disana. Gilang, bahkan teman-teman sekolahnya dulu pun masih mengingatnya.
"Gilang sudah tidak ada, kalo dia ada salah maafin ya."
Mobil berdecit, Beni sang pengemudi tiba-tiba menarik pedal rem hingga membuat mobil berhenti mendadak, dan hampir saja membuat kepala Kalisa terbentur jok yang berada di depannya.
"Maaf, maaf. Serius?"
Tanya Beni terkejut.
Kalisa yang juga kaget, langsung saja sewot.
"Kenapa sih, yang bener dong nyetirnya. Mau aku kasih bintang satu. Hampir saja aku terbentur." Kesal Kalisa, tanpa menjawab pertanyaan dari teman lamanya itu.
"Di depan itu ada stasiun tivi, aku berhenti disitu."
"Baik, maaf ya, tadi aku bener-bener kaget, tolong jangan kasih bintang satu ya. Plis." Pinta Beni, mengiba.
"Ini, aku sudah bayar lewat aplikasi."
Kata Kalisa sambil menunjukan layar ponselnya ke arah Beni.
"Iya, terimakasih ya. Sekali lagi aku minta maaf ya. Dan terimakasih udah kasih tip dan bintang lima."
"Iya, lain kali hati-hati kalo bawa penumpang." Imbuh Kalisa, sesaat sebelum meninggalkan mobil berwarna hitam itu.
Kalisa berjalan cepat menuju tangga di depan gedung kantornya. Ah, pagi-pagi begini ia sudah dibuat sewot saja. Ia hanya bisa berharap mudah-mudahan moodnya tidak jelek hari ini.
Ketika menaiki anak tangga terakhir, mendadak ia dibuat kaget oleh sepatu hak tinggi yang dikenakannya. Bagiamana tidak, sepatu hak yang baru dibelinya beberapa bulan yang lalu itu tiba-tiba mleyot dan membuatnya hampir terjatuh, beruntung kakinya tidak sampai terkilir. Tetapi apesnya lagi, hak sepatu yang sebelah kanan lepas dan membuatnya berjalan pincang sampai keruangannya. Beruntung, ia memiliki cadangan sepatu cadangan diruangannya.
Ah sial, padahal ia sudah menganggap sepatu itu sebagai sepatu keberuntungannya, tetapi sepatu itu malah membuatnya malu dan membuatnya menjadi pusat perhatian karena jalannya yang pincang.
Karena kesal ia melempar sepatu itu ke tempat sampah di dekat pintu untuk membuangnya.Tetapi setelah mempertimbangkan harganya dan mengingat perjuangannya untuk membeli sepatu itu, akhirnya ia kembali memungut sepatu itu.
Ketika sedang mengamati sepatunya yang rusak, tiba-tiba seseorang muncul dari balik pintu. Ya, dialah Winda asisten pribadinya.
Cocok, Winda datang disaat yang tepat, ia ingin menanyakan dimana tempat mereparasi sepatu.
"Gawat Mbak, sepertinya wawancara hari ini gagal, karena narasumber tidak bisa hadir." Seru Winda yang datang dengan tergesa-gesa dan ternyata membawa kabar buruk.
"Apa ?." Tanya Kalisa panik.
"Bagaimana bisa ?"
"Iya Mbak, tadi jam sembilan ada telepon masuk dari narasumber pengisi acara hari ini. Dia tidak bisa hadir karena ada urusan mendadak. Jadi dia menolak hadir."
Kalisa berdiri dari tempat duduknya, berkacak pinggang frustasi.
'Bagaimana bisa orang itu mendadak membatalkan janji secara sepihak.' Gumamnya.
"Mana nomor telepon orang itu, biar saya yang bicara. Enak saja dia membatalkan janji secara sepihak."
"Baik Mbak, saya ambilkan dulu." Kata Winda, sambil berlalu meninggalkan Kalisa.
Tak berapa lama Winda kembali dengan membawa secarik kertas di tangannya.
"Ini Mbak." Kata Winda menyerahkan kertas itu kepada Kalisa.
Kalisa melirik barisan huruf dan angka yang tertera di kertas itu.
Rivan Angga Wijaya.
Matanya dibuat membulat sempurna membaca nama yang tertera pada kertas yang berada ditangannya itu. Apa ini Rivan, oh tidak. Atau, apakah ada Rivan yang lain?.
bersambung.