No Problem, To Not Be Perfect

No Problem, To Not Be Perfect
bab 3


Jam 11.00 siang, jalanan Jakarta masih macet padahal sudah mendekati jam makan siang. Pikiran Rivan kembali mengingat apa yang diucapkannya tadi, mengenai perempuan yang pernah mengisi relung hatinya dulu.


Dia jadi bingung sendiri, dan tersenyum tidak jelas. Bagaimana kabar gadis itu sekarang, apakah baik-baik saja, apakah dia sudah menikah, atau bahkan sudah punya anak ??


Betapa berdosanya dia memikirkan gadis itu, jika memang gadis itu sudah menikah dan punya anak. Apalagi kalau suaminya sampai tau, tak terbayang bagaimana reaksinya nanti.


Rasa ingin taunya membawanya membuka gadget, mumpung lagi macet, batinnya. Dia membuka aplikasi berbagi poto, meng-klik tombol pencarian, kemudian mengetik nama depan gadis itu. Keluar gambar beserta nama yang sesuai dengan pencariannya. Tapi setelah dibuka satu persatu ternyata tidak ada gambar poto yang sesuai dengan wajah gadis itu.


Rivan memghembuskan nafas kesal, karena tidak mendapati apa yang dia inginkan. Akhirnya, karena sudah putus asa ia melempar HP nya ke jok disampingnya. Dan kembali memfokuskan pikirannya ke jalan di depannya.


Pukul 11.50 Rivan sudah sampai di rumahnya, di Ruko maksudnya. Disana para karyawannya sudah mulai beristirahat, hanya tinggal Mika saja yang masih duduk di meja resepsionis.


Mika menyambutnya dengan tepukan tangan. " Selamat ya Van, wawancaranya lancar. Oh ya, kamu terlihat ganteng saat tampil di TV. " Puji Mika.


Mika adalah sekertaris, merangkap sebagai resepsionist dan akuntan di perusahaan Rivan. Karena belum memiliki banyak karyawan, jadi dia merangkap banyak jabatan.


Mika ini teman kuliah Rivan dulu di Singapura, karena setelah lulus kuliah dia belum mendapatkan pekerjaan, akhirnya Rivan menariknya untuk membantu usahanya yang saat itu baru mulai dirintis, ya kurang lebih sepuluh bulan yang lalu.


Rivan tersenyum " Ah, biasa aja. Kamu belum istirahat makan siang ??."


Mika menggelengkan kepala. " Belum, aku masih nungguin kurir kertas, belum nyampe nih dari tadi." Katanya sambil melirik jam di dinding.


" Yaudah, aku naik dulu ya." Kata Rivan, sambil beranjak meninggalkan meja resepsionis dan berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua.


Di lantai dua sudah ada beberapa karyawannya yang sedang menikmati makan siangnya. Rivan memang menyediakan makan siang untuk para karyawannya, supaya mereka tidak perlu mencari makan di luar. Lagian masakan Bi Titi selalu terasa sangat lezat, tidak mungkin orang-orang itu bisa menolaknya.


" Makan Bos !!." Seru salah satu karyawannya saat melihat Rivan melintas.


Tak berapa lama, dia sudah kembali turun ke lantai dua, sudah berganti pakaian, kini ia sudah mengenakan kaos pendek warna putih dan celana denim pendek, kemudian ikut bergabung menikmati makan siang dengan yang lain.


Di sini 'ngantor' tidak perlu rapi, karyawannya juga hanya mengenakan T-shirt dan celana biasa. Rivan membebaskannya, yang penting mereka nyaman tapi tetap sopan.


Setiap kali bersama, para karyawan Rivan, yang notaben-nya adalah teman-temannya itu, selalu meledeknya. Bagaimana tidak, diumurnya yang sudah menginjak 26 tahun, dengan karir yang sudah mulai menanjak, dia masih jomblo. Apalagi mendengar jawaban Rivan diacara Talk Show tadi pagi, teman-temannya itu benar-benar dibuatnya tertawa terbahak-bahak. Pasalnya, jawabannya yang mengatakan bahwa dia masih mengingat seorang gadis teman sekolahnya dulu, itu adalah jawaban konyol. Bagaimana mungkin seorang laki-laki tampan dan sukses seperti Rivan masih mengingat cinta monyetnya. Benar-benar diluar dugaan semua orang.


Bi Titi hanya ikut tertawa mendengar acara pem'bully'an beramai-ramai itu.


Ditengah suasana riuh itu, tiba-tiba Mika muncul dengan kabar yang mengejutkan.


"Bos, tadi ada telepon dari salah satu manager artis, dia meminta supaya Bos mau jadi gimik artisnya, jadi pacar pura-puranya gitu. Nanti masalah nominal berapa bayarannya akan disepakati di surat perjanjian surat kontrkanya."


Rivan kaget hingga tersedak. Bi Titi buru-buru mengambilkan segelas air putih untuk Rivan. " Apa ??." Tanya Rivan tidak percaya, setelah ia mulai bisa mengendalikan pernafasannya. "Trus kamu bilang apa ??." Tanya Rivan panik.


" Ya aku bilang, nanti aku sampaikan dulu dengan Bos Rivan. Kalau sudah ada keputusan, nanti aku akan mengabari mereka. "


Rivan manggut-manggut. " Bagus."


Kini beban pikiran Rivan bertambah, bukan hanya memikirkan animasinya yang kini harus selalu kejar tayang, tapi masalah jadi pacar setingan juga menambah berat pikirannya.


Bagaimana jawaban Rivan selanjutnyaa....


bersambung...


plis like dan komennya yaa. biar aku semangat nglanjutin nulisnyaaa😊makasih.