
Alarm diponsel berdering, menandakan waktunya si pemilik ponsel untuk mengakhiri mimpi indahnya. Dengan mata yang masih terasa perih, Rivan berusaha mencari keberadaan ponselnya. Seingatnya, dia meletakkan ponselnya diatas nakas tempat tidurnya. Tapi setelah meraba-raba sekitar nakas, dia tak kunjung menemukannya. Sementara bunyi yang keluar dari ponsel itu sangat memekakan telinganya.
Dengan sedikit kesadarannya, Rivan bangun dan mencoba mencari keberadaan ponselnya. Yang ternyata jatuh dibawah nakas.
Ia mendengus sambil mematikan alarm diponselnya. Waktu terasa cepat sekali berlalu, rasanya baru sebentar ia memejamkan mata, ternyata sudah 4 jam.
Semalam ia harus menyelesaikan episode baru animasi yang sedang dikerjakannya, kira-kira jam 02.00 pagi dia baru mulai bisa tidur.
Semenjak dia teken kontrak dengan salah satu stasiun TV nasional, hidupnya berubah 180 derajat.
Rivan sekarang, bukanlah Rivan yang dulu. Hidupnya kini bak selebritis, kemana pun dia berada orang sudah mulai mengenalinya.
Kini dia adalah seorang CEO muda yang sedang naik daun namanya, berkat animasi kartun yang sekarang banyak digandrungi anak-anak kecil. Memang bukan animasi biasa yang dibuatnya, animasi kartun ciptaannya sarat akan makna dan pesan moral yang disampaikan. Tak heran para orang tua juga menyukai animasi itu.
Maka dari itu, dia juga harus mulai belajar beradaptasi dengan kesibukannya sekarang. Walaupun terasa sulit baginya.
Sebelumya dia tidak pernah menyangka, bahwa hobinya menggambar yang semula hanya pelampiasan untuk menyalurkan kekecewaannya, ternyata mampu membawanya sampai dititik sejauh ini.
Dia bergegas berlari ke kamar mandi, hari ini dia ada janji jam 08.00 pagi dengan sebuah stasiun TV untuk menghadiri acara Talk Show sebagai narasumber.
Selesai berbenah dan mengenakan pakaian semi formal, Rivan turun ke dapur. Disana dia sudah disambut oleh Bi Titi dan masakan menggoda imannya yang sudah tertata rapi di meja makan.
" Hari ini ada jadwal kemana mas ?."
Tanya Bi Titi sambil mengambilkan piring untuk Rivan.
" Talk Show Bi, di TV 9."
Sahut Rivan sambil memindahkan nasi kepiringnya.
Rivan tersenyum.
" Kesepian gimana, itu anak-anak banyak Bi."
Kata Rivan sambil memasukan sesendok nasi dan lauk kemulutnya.
" Iya, tapi kan beda Mas."
Sahut Bibi sendu.
" Dari dulu Bibi sudah terbiasa dengan Mas Rivan, makanya kalau Mas Rivan pergi tu kayaknya Bibi gimana gitu."
" Cuma dua jam Bi."
Dulu memang Rivan selalu dirumah, karena belum sesibuk seperti sekarang. Rivan tinggal disebuah rukan tiga tingkat. Lantai bawah sebagai kantor, lantai kedua sebagai dapur dan tempat tinggal beberapa pegawainya. Sementara lantai paling atas ia gunakan sebagai tempat pribadinya, yaitu kamar dan ruang Gym.
Selesai sarapan dia turun ke lantai bawah. Karena baru jam 07.00, keadaan kantor masih sepi, belum ada karyawannya yang datang. Semenjak mendapatkan kontrak dari sebuah stasiun televisi, dia merekrut beberapa karyawan untuk membantunya. Kurang lebih ada tujuh orang, kebanyakan adalah teman kuliahnya dulu.
Sampai di pintu utama, dia menemukan sesosok perempuan yang berdiri membelakanginya. Bukan siapa, wanita itu adalah mamanya. Terakhir kali ia bertemu dengan mamanya adalah enam bulan yang lalu.
Rindu sudah pasti, tapi luka lama yang sudah lama terpendam tak bisa dihapus begitu saja.
Rivan masih berdiri dibelakang pintu, menatap tajam kearah perempuan yang sudah melahirkannya itu.
bersambung......☺