
Rivan berjalan mantap, membuka pintu dan siap bersua dengan mamanya.
" Hem, hem, ada apa mama datang kesini ?."
Tanya Rivan membuka percakapan.
Wanita berusia paruh baya itu membalikan badannya, menghadap kearah putra semata wayang yang sudah berdiri di depannya dan tersenyum.
Memang tidak seperti biasanya, harusnya dijam-jam pagi begini mamanya biasanya sudah sibuk dengan jadwal pasien yang tak pernah sepi, maklum dia adalah seorang dokter spesialis yang sudah memiliki banyak langganan dan memiliki rekam jejak yang bagus.
" Jadi selama ini kamu tinggal disini, di ruko ini ??. Apa tidak sebaiknya kamu pulang dan kembali tinggal di rumah." Kata Riana mengiba.
" Sudahlah ma, jangan mulai lagi. Aku sudah dewasa bukan anak kecil lagi. Aku sudah bisa mengurus diriku sendiri, lagian ada Bi Titi bersamaku, mama tidak perlu khawatir. Yang perlu mama pikirkan adalah jaga kesehatan mama."
" Aku ada janji, jadi maaf kita tidak bisa ngobrol lebih lama lagi. Lain waktu kalau mama ada waktu senggang lagi, kita bisa lanjutkan obrolan kita. Mama tidak perlu memikirkan aku, pikirkan pasien-pasien mama, jangan sampai membuat mereka menunggu dan kecewa."
Sahut Rivan, sambil berlalu pergi meninggalkan mamanya yang masih berdiri terdiam.
Kalimat yang barusan diucapkan Rivan sungguh menusuk hatinya. Riana tidak menyalahkan putranya itu, karena dari dulu memang ia yang salah. Harus 'menduakan' anaknya itu demi kariernya. Sekarang dia baru menyadari, dia telah kehilangan moment-moment indah bersama anaknya yang tidak akan mungkin bisa terulang lagi. Bahkan sekarang dia tidak sungguh-sungguh mengenali pribadi putranya itu.
Tak terasa air mata menetes saat melihat putranya itu berlalu pergi meninggalkannya.
Di jendela lantai dua, diam-diam Bi Titi menyaksikan adegan ibu dan anak itu. Air matanya pun tak luput ikut menetes. Bi Titi tahu betul bagaimana perjuangan Riana untuk mengejar cita-citanya menjadi dokter spesialis. Dulu saat Rivan masih kecil, Riana mati-matian menyelesaikan kuliahnya di jurusan kedokteran di sebuah universitas terkenal di kota ini. Sementara suaminya, Ivandi Pradipta yang seorang arsitek, selalu mengerjakan proyek di luar kota. Rasanya tidak tega ketika melihat Rivan berlaku seperti itu kepada ibunya. Tapi disisi lain, Rivan juga banyak kehilangan waktu-waktu emas bersama orang tuanya. Jadilah hubungan mereka sekrang berjarak.
Pukul 07.30 Rivan sampai di stasiun TV yang dimaksud. Acara akan dimulai pukul 08.00, jadi masih ada sedikit waktu untuk mempersiapkan diri.
Semua berjalan lancar, pertanyaan yang ditanyakan adalah seputar usahanya yang sudah mulai mendapat tempat dihati masyarakat. Proses suksesnya yang dimulai dari hobinya menggambar sampai menemukan ide untuk membuat animasi yang dia tayangkan lewat youtube. Sampai mendapat kontrak di salah satu stasiun televisi semuanya sudah dibahas secara tuntas. Saat hampir dipenghujung acara, si pembawa acara tiba-tiba menanyakan pertanyaan diluar skenario yang sudah ditulis.
" Mas Rivan ini katanya kan belum nikah, jadi statusnya apa ni, single atau sudah punya pacar ??." Tanya si host cantik.
Rivan tersenyum, oh ya, dia baru teringat bahwa dia masih jomblo.
" Saya masih jomblo." Jawabnya sambil tersipu malu.
" Saya hampir tidak percaya dengan jawaban Mas Rivan ini. Masak orang setampan ini masih jomblo. Pemirsa sekalian dengar kan, Mas Rivan ini masih jomblo lho. Hayo netizen yang mau daftar jadi pacarnya Mas Rivan bisa langsung DM ya."
Ledek host cantik bernama Eliza itu sambil tertawa renyah.
Rivan hanya tersenyum, sementara sang host masih berusaha mengulik kisah asmaranya.
" Masak nggak ada sih Mas, cewek yang disuka gitu, atau yang mungkin membuat terkesan gitu ??."
Tanya Eliza lagi.
" Kalau sekarang sih belum ada, tapi kalau yang membuat terkesan ada sih dulu waktu SMA."
Jawab Rivan, sambil berusaha mengingat kembali masa-masa SMA nya dulu.
" Oh jadi belum bisa Move-on gitu ceritanya."
Lagi-lagi Eliza meledeknya.
" Namanya siapa dong Mas, kali aja nanti orangnya lagi nonton acara ini."
" Adalah, nanti kalau orangnya sudah nikah kan kasihan juga sama suaminya."
----
Bahkan Rivan tidak tahu, bagaimana kabar gadis itu sekarang, sudah menikah atau belum. Karena semenjak lulus sekolah dan melanjutkan kuliahnya di Singapura, mereka sudah tidak pernah lagi bertemu ataupun bertukar kabar.
Yang ia tahu, sampai sekarang gadis itu masih bersliweran di benaknya.
bersambung....😀
jangan lupa komentnya ya teman-teman, supaya author semangat nulisnya.