No Problem, To Not Be Perfect

No Problem, To Not Be Perfect
bab 10


Apakah kamu sudah menikah Kal?"


Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Rivan. Dan suasana menjadi hening sesaat setelah kalimat itu meluncur. Bukan bermaksud mencampuri urusan orang lain, tapi mereka sudah sama-sama dewasa sekarang. Ya, dua puluh lima tahun adalah usia yang cukup matang untuk seseorang berani mengambil komitmen dalam bentuk ikatan pernikahan.


Kalisa menoleh ke arah Rivan, setelah beberapa saat yang lalu ia menatap lekat ke depan. Senyumnya tersungging sambil mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.


Rivan mengangguk, paham maksud dari Kalisa. Ya, gadis di sebelahnya itu sudah ada yang memiliki. Kalisa sudah menikah. Entah sedih atau kecewa, tetapi ada sesuatu yang terasa mengganjal dihatinya. Sedikit kebahagiaan yang menyelimuti hatinya beberapa waktu yang lalu, kini seolah menguap begitu saja. Meninggalkan rasa canggung yang membuat mereka seolah-olah berjarak.


"Kamu sendiri gimana Van ?" Pertanyaan Kalisa berhasil membuyarkan lamunannya. Tapi apakah dia melamun, atau hanya sedang menata hati, berusaha menerima kenyataan.


Rivan menggeleng, sambil mengulum senyum. Kini ia tidak berani untuk terlalu lama mengalihkan pandangannya ke arah Kalisa, ia lebih sering menatap ke depan fokus melihat jalan yang akan dilaluinya.


Sebagai laki-laki, ia sadar diri harus bisa menjaga pandangannya, terlebih status Kalisa adalah istri orang. Walaupun sebelumnya ia sangat berharap bahwa mereka masih sama-sama single.


'Bodohnya aku, bodoh sekali.' Batin Rivan, sambil memukul kepalanya dengan salah satu tangannya.


"Van, kamu nggak pa-pa?" Tanya Kalisa panik. Bagiamana tidak, tidak ada angin atau apa tiba-tiba saja Rivan memukul kepalanya sendiri hingga beberapa kali. Kalisa jadi teringat kejadian di kampusnya dulu. Saat semua mahasiswa tengah fokus mendengarkan Dosen yang sedang mengajar, tiba-tiba saja salah satu teman yang duduk di sebelahnya memukul-mukul kepalanya sendiri sambil berteriak, yang setelah ditelusuri ternyata sedang kesurupan. Ngeri.


"Hah." Pertanyaan dari Kalisa lumayan mengagetkan. "Nggak kok, nggak apa-apa." Jawab Rivan salah tingkah.


"Aku masih fokus pada pekerjaanku. Belum kepikiran kearah situ."


"Oh," Kalisa mengangguk.


"Nanti di perempatan depan belok kiri ya." Kata Kalisa menunjukkan arah.


"Lhoh, emangnya udah mau sampai ?"


"Iya, dari situ belok kiri nggak jauh lagi nanti sampai di perumahanku."


"Aku perumahannya yang sebelah kanan, jadi di pertigaan depan kita belok kanan." Tanpa memberi jawaban, Rivan mengikuti arahan dari Kalisa.


Pukul 23.00 mereka sampai di rumah Kalisa.


"Terimakasih ya Van, mau mampir dulu nggak ?."


"Tidak, sudah malam. Salam aja buat semuanya. Aku langsung balik ya."


Tanpa basa-basi lagi, Rivan kembali tancap gas.


"Ya, terimakasih ya." Kata Kalisa, sembari sedikit membungkukkan badannya.


"Ya." Sahut Rivan, sambil berlalu meninggalkan Kalisa.


****


Diperjalanan pulang, pikiran Rivan masih sibuk membayangkan Kalisa. Antara terima dan nggak terima mendengar pengakuan bahwa Kalisa sudah menikah. Ia kembali bertanya pada hatinya, apakah selama ini ia masih menunggu Kalisa. Kenapa susah sekali melupakan gadis itu. Sembilan tahun sudah berlalu, tanpa bersua dan kabar berita. Tetapi kenapa hatinya masih berharap, kenapa ?


Ia kembali teringat dengan lukisan wajah Kalisa yang tadi sempat ia sembunyikan. Apakah sebaiknya ia memberikan lukisan itu kepada pemiliknya, supaya ia juga bisa melepaskan dan berhenti berharap.


Siapa laki-laki yang telah mempersunting Kalisa, apakah Gilang, ataukah siapa?


'Argggggg'


Kepala Rivan serasa mau pecah membayangkan kemungkinan-kemungkinan itu.


bersambung...