
Setelah meminum obat yang diberikan oleh Bi Titi, Rivan merasa sedikit membaik walaupun belum sepenuhnya sembuh. Ia masih membutuhkan waktu untuk mengistirahatkan tubuhnya di tempat tidur.
Sebenarnya ia sangat merasa bersalah, karena harus membatalkan janji secara sepihak dengan stasiun televisi itu. Lebih tepatnya ia yang tidak bisa menepati janjinya. Tapi situasinya kini benar-benar tidak memungkinkan untuk hadir dalam acara itu. Entah alasan apa yang dibuat oleh Mika untuk membatalkan janjinya itu.
Ia melirik jam dinding, sudah pukul 11 siang. Rupanya sudah dua jam ia tertidur. Obat yang diberikan Bi Titi rupanya menyebapkan kantuk, buktinya ia langsung tertidur setelah meminumnya.
Kini tubuhnya sudah dipenuhi keringat, efek dari obat yang ia minum. Kaos yang di kenakannya pun ikut basah dan ia mulai merasa risih. Ia hendak bangkit dari tempat tidurnya untuk sekedar mengganti kaosnya yang sudah mulai lengket dan menempel ditubuhnya. Tetapi saat hendak bangun, rupanya bebarengan dengan Bi Titi yang juga baru masuk ke dalam kamarnya. Lekas Bi Titi menghentikan Rivan, memintanya untuk tetap berada di tempat tidurnya.
"Mau kemana ??" Tanya Bi Titi, sambil meletakkan nampan yang dibawanya ke nakas.
"Ganti baju Bi." Kata Rivan, sambil menunjukkan kaosnya yang basah.
"Sudah disitu saja, biar Bibi yang ambilkan."
Begitulah Bi Titi, ia selalu memperlakukan Rivan seolah ia anak kecil saat sakit, padahal ia bisa saja melakukan hal semacam itu sendiri.
Tak berapa lama, Rivan sudah berganti kaos. Bi Titi kembali memeriksa dahinya dengan punggung tangannya. Rupanya demamnya masih ada.
Bibi kembali memaksa Rivan untuk membuka mulut, dan menyuapkan beberapa suap nasi dan lauk yang tadi dibawanya. Walaupun Rivan sudah menolaknya, tetapi Bi Titi tak kehilangan akal untuk merayunya, supaya ia mau membuka mulut. Padahal Rivan merasa apapun yang dimasukkan kedalam mulutnya semua tak ada rasa, hanya rasa pahit yang dirasa.
"Nanti kalo nggak makan, kapan sembuhnya." Begitu kata Bi Titi.
Benar juga, kalau bukan Bi Titi siapa yang akan merawatnya. Karena Bi Titi sudah seperti Ibunya sendiri. Dia begitu sabar dan telaten merawatnya sedari ia kecil sampai sekarang. Bahkan dulu-dulu saat Rivan masih kecil ketika ia sedang sakit, Bi Titi lah yang selalu menemaninya bahkan sampai begadang tidak tidur karena ia khawatir dengan keadaan Rivan. Makanya sampai sekarang pun saat ia sakit, ia selalu nurut dengan apa yang diperintahkan oleh Bi Titi.
"Nanti jam 12 minum obat demamnya lagi, sekarang Bibi ke bawah dulu mau nyiapin makan siang buat anak-anak. Kalo udah selesai, nanti Bibi kesini lagi." Kata Bi Titi sambil merapikan selimut Rivan.
Sementara Rivan meraih ponselnya dan mulai memfokuskan penglihatannya pada benda pipih yang dipegangnya.
"Jangan lama-lama main hape-nya. Banyakin istirahat dulu." Perintah Bi Titi lagi, sebelum ia meninggalkan kamar Rivan.
"Iya Bi." Jawab Rivan, sambil memfokuskan matanya ke arah benda pipih yang dipegangnya.
🌱🌱🌱🌱🌱🌱
Setelah mendapatkan izin dari atasannya, Kalisa lantas memberitahu Winda bahwa ia akan pergi keluar.
" Sebentar atau lama Mbak?". Tanya Winda.
"Belum tahu juga sih, niatnya sih sebentar aja, tapi tempatnya jauh, jadi nanti kalo lama kamu langsung bikin evaluasi saja ya mengenai wawancara dengan Yuotuber tadi. Sama reaksi penonton masukkan juga kedalam evaluasi. Buat bahan meeting besok." Perintah Kalisa.
"Baik Mbak." Jawab Winda, kemudian meninggalkan ruangan Kalisa.
Kalisa mengambil tas selempangnya, kemudian mengutak-atik ponselnya untuk memesan taksi online.
Keluar dari kantor, ia sudah disambut oleh pengemudi taksi yang sudah ia pesan.
Mobil berjalan menembus jalanan Jakarta yang lumayan padat siang ini. Butuh waktu hampir dua jam untuk sampai di bengkel tempat mobilnya diperbaiki. Ia melewatkan makan siangnya tadi, dan sekarang perutnya meronta minta diisi.
Rupanya bengkel yang dituju sangat ramai pengunjung, banyak mobil yang mengantri untuk direparasi.
Ia menemui salah satu montir yang sedang memperbaiki mobil yang ringsek bagian belakangnya.
"Maaf Mas, bisa minta tolong sebentar." Sapanya kepada laki-laki muda itu.
"Iya, ada yang bisa dibantu Mbak ?" Tanya laki-laki itu, sembari menghentikan pekerjaannya.
"Mas, saya mau tanya, mobil saya semalam mengalami kecelakaan dan menurut informasi dari petugas derek mobil saya dibawa ke bengkel ini. Kira-kira dimana ya mobil saya berada ?." Tanya Kalisa.
"Baik, sebentar ya Mbak. Saya tanyakan dulu."
Mendapat informasi tersebut, si montir langsung menghampiri petugas yang berada di dekat kasir bengkel. Setelah sedikit mengobrol dengan orang itu, si montir kembali menghampiri Kalisa.
"Sini Mbak, ikuti saya." Kata si montir.
Tanpa menunggu lama, Kalisa langsung mengekor di belakang pemuda itu. Dan mereka berjalan ke samping bengkel. Dan disana Kalisa melihat mobilnya yang masih teronggok dengan bagian bemper depannya yang rusak.
"Kurang lebih satu Minggu Mbak. Nanti dikabarin kalau sudah selesai."
"Jangan lupa meninggalkan nomor telepon yang bisa dihubungi, supaya nanti kalau mobilnya sudah siap bisa langsung dihubungi."
"Baik Mas."
"Mbak bisa langsung ke kasir untuk mengisi formulir."
"Baik Mas, terimakasih."
Sementara Kalisa berjalan ke kasir, si mas montir kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sampai di kasir, Kalisa diminta untuk mengisi form data diri. Menurut pegawai kasir supaya memudahkan untuk menghubunginya nanti kalau mobilnya sudah selesai diperbaiki.
Urusan bengkel selesai. Sekarang ia bergerak cepat menghampiri mobil taksi online yang sedari tadi sudah menungguinya.
Jarak dari bengkel ke rukan Rivan kurang lebih hanya 3 km. Jadi butuh waktu kurang lebih 10 menit untuk sampai. Dia sudah memutuskan untuk tidak berlama-lama disana. Karena ia harus segera mengisi perutnya yang sudah mulai keroncongan.
"Saya bayar lewat aplikasi ya Pak." Kata Kalisa sambil menunjukan aplikasi yang ada di ponselnya kepada Pak sopir.
" Baik Mbak, terimakasih." Jawab Pak sopir santun, sambil mengulas senyum di bibirnya.
Pak sopir itu merasa senang, selain karena mendapatkan bintang lima dari Kalisa, ia juga mendapat tip yang lumayan.
Turun dari taksi online yang ia naikki, Kalisa lekas berjalan cepat menghampiri meja resepsionis di rukan Rivan.
Kemarin malam waktu ia kesini, meja itu kosong tak berpenghuni. Kini di belakang meja itu sudah berdiri seorang gadis cantik yang ia yakin gadis itu yang menjawab telpon darinya pagi tadi.
"Selamat siang Mbak, ada yang bisa saya bantu ?." Tanya Mika ramah.
Spontan para pekerja karyawan Rivan yang berada di belakang, serentak menoleh ke arah meja resepsionis.
"Siang Mbak, bisa saya bertemu dengan Pak Rivan nya ?" Tanya Kalisa to the point.
"Maaf Mbak, Pak Rivan nya sedang tidak bisa diganggu."
'Yang benar saja, sudah jauh-jauh datang kesini masak akan pulang dengan tangan kosong' Bisik Kalisa geram.
"Tapi Pak Rivan nya ada ?" Tanya Kalisa, kali ini kekesalan mulai nampak dari wajah ayu nya.
Mika tampak bingung, bagaimana ia harus menjawabnya, tadi pagi Bi Titi cuma bilang kalau Rivan tidak bisa diganggu, tanpa memberi tahu apa alasannya.
"Sebentar Mbak, saya tanyakan dulu. Sementara menunggu, Mbak bisa duduk dulu disitu." Kata Mika menunjuk bangku yang berada di depan meja resepsionis, di dekat jendela. Sementara ia berjalan meninggalkan meja resepsionis dan menuju lantai dua.
Di lantai dua, Mika bertemu dengan Bi Titi. Dan dia memberitahu Bi Titi, bahwa di bawah ada seseorang yang ingin bertemu dengan Rivan. Dan sekaligus menanyakan sebenarnya ada apa dengan Bos nya itu. Dari pagi tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali. Dan Bibi pun memberitahunya, bahwa Rivan sedang sakit.
Karena penasaran, Bi Titi melihat siapa gerangan yang datang, ia melihat dari ujung tangga. Kemudian tersenyum simpul, mengetahui siapa yang sedang duduk di baris an bangku di bawah itu.
"Tidak apa-apa, suruh dia naik." Perintah Bi Titi.
"Apa ??, tidak salah Bi ?" Tanya Mika tak percaya.
Bi Titi hanya tersenyum sambil mengangguk, menjawab pertanyaan dari Mika.
"Ayo Mbak, silahkan naik ke atas." Ajak Mika.
Bibi memberikan isyarat kepada Kalisa untuk naik ke atas, lantai tiga. Sementara Mika masih termangu tak percaya. Bertahun ia bekerja disini, belum pernah ia menginjakkan kakinya di lantai tiga.
"Siapa itu Bi, dokter ??." Tanya Mika penasaran.
"Bukan." Bi Titi menggeleng, sambil mengumbar senyum dan menatap ke arah kamar Rivan.
bersambung...