
Kalisa melempar senyum ke arah Bi Titi, kemudian melangkah dengan semangat ke lantai tiga. Ia sudah mengumpulkan semua kekuatan yang dimiliki untuk menyerang Rivan, walaupun ia belum makan siang tapi ia merasa masih memiliki banyak tenaga untuk melumpuhkan Rivan.
Ia mengetuk pintu kamar Rivan.
"Tok, tok, tok!" Tiga ketukan. Tetapi tidak ada jawaban dari dalam
"Tok, tok, tok !" Kali ini dengan menggunakan sedikit tenaganya ia mengetuk pintu, sehingga menimbulkan bunyi yang lumayan keras.
Ia mulai gusar, 'sebenarnya maunya apa sih?' Batinnya kesal.
Karena tak ada jawaban dari dalam, terpaksa ia membuka handle pintu. Dan ternyata pintunya tidak terkunci, buktinya dengan sekali hentakan pintu bisa langsung terbuka.
Ia mengintip ke dalam, memastikan situasi di dalam. Sepertinya tidak ada kehidupan disana. Ia hendak mengurungkan niat untuk masuk, tapi ia kembali teringat dengan pesan Bi Titi yang langsung menyuruhnya untuk naik. Tidak mungkin kan kalau tidak ada alasannya.
Perlahan ia melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar dan membiarkan pintu sedikit terbuka. Berjaga-jaga bila nanti ada sesuatu yang mengancam, ia bisa langsung lari keluar.
Di dalam, ia melihat Rivan sedang tertidur di tempat tidurnya.
'Enak sekali, dia malah enak-enakan tidur.' Batinnya.
"Bangun tuan!, sudah siang." Suara Kalisa dibuat satu oktaf lebih tinggi.
Rivan mengerjap, mendengar suara yang tiba-tiba muncul.
Ia menoleh kearah sumber suara, dan mendapati Kalisa sudah berdiri disana, di samping tempat tidurnya.
'Apakah ini mimpi ?' Tanyanya dalam hati.
Kembali, ia mengucek matanya memastikan apakah ini mimpi atau nyata. Karena tidak mungkin tiba-tiba Kalisa berada disini.
Tetapi kenyataanya Kalisa masih berdiri di hadapannya, sambil melipat kedua tangannya.
"Kenapa, kaget ?" Tanya Kalisa.
"Tau nggak, apa yang sudah kamu perbuat hari ini. Kamu enak-enakan tidur, sementara aku harus memutar otak untuk mencari pengganti. Aku tahu kamu lagi naik daun, tetapi percuma kalau tidak punya atittude yang baik. Jadi orang harus profesional dong, jangan kayak gini. Maen batalin janji seenak jidat sendiri !" Cerocos Kalisa, kesal.
Kalisa mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengontrol emosinya yang meledak, ditambah lagi karena ia sedang lapar jadi tingkat kemarahannya naik 5 kali lipat.
Belum ada respon apapun dari Rivan. Dan itu membuat Kalisa semakin kesal.
"Bos !!, hallo, apakah anda mendengarkan saya. Saya ngomong sama anda lho, tapi kok sepertinya anda tidak mendengarkan apa yang saya ucapkan."
Rivan merubah posisinya, kini ia mencoba untuk bangun, walaupun kepalanya terasa pusing dan berat.
Melihat keadaan Rivan, Kalisa jadi merasa serba salah. Ia melihat laki-laki yang ditemuinya semalam, berubah 80 derajat sekarang.
'Apakah dia sakit gara-gara kejadian semalam' batin Kalisa.
Mukanya terlihat pucat, dengan mata merah sembab. Kini Kalisa terlihat bingung, rupanya ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada Rivan.
Ia jadi merasa bersalah, karena datang langsung marah-marah.
Kini Kalisa tidak berani mengoceh lagi, ia menutup mulutnya rapat-rapat.
Dan Rivan, ia masih terdiam. Kini ruangan kembali hening.
"Tok, tok, tok."
"Permisi, ini minumnya Nona." Suara Bi Titi, memecah kesunyian.
Kalisa bersyukur, Tuhan mengirimkan seseorang untuk menolongnya dari situasi yang sangat tidak mengenakkan ini.
"I,iya. terimakasih Bi." sahut Kalisa.
"Apa nona kesini sengaja untuk menjenguk Mas Rivan ??." Tanya Bi Titi polos.
Kalisa sedikit kaget dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut Bi Titi.
'Apa?, menjenguk, yang benar saja.' Batin Kalisa.
"Enggak Bi, tadi kebetulan saya ada urusan di bengkel yang tidak jauh dari sini, jadi sekalian mampir ke sini." Jawab Kalisa.
"Iya, dari pagi Mas Rivan belum bisa bangun karena demam tinggi. Tadi pagi sudah minum obat, sudah mendingan."
Bi Titi meletakkan nampan yang dibawanya di atas nakas, samping tempat tidur Rivan.
"Duduk Non, jangan berdiri terus." Bi Titi duduk sejajar dengan Rivan. Kemudian meraba dahi Rivan.
"Tidak apa-apa Bi, saya berdiri aja." Tukas Kalisa.
Kalisa memandang tak percaya pada adegan yang terpampang nyata di depan matanya itu. Ternyata laki-laki dewasa pun kalau sedang sakit tak ubahnya seperti anak yang baru berusia lima tahun. Dalam hati Kalisa mencibik.
"Kenapa demamnya tinggi lagi Mas." Suara Bi Titi Yang terlihat khawatir membuat Kalisa serba salah berada di tempat itu.
"Minum obat lagi ya, tadi habis makan seharusnya minum obat dulu, tadi Mas Rivan langsung tidur lagi, Bibi nggak tega mau bangunin."
" Kruuuuk, kruuuuukkk"
Bi Titi dan Rivan serentak menoleh ke arah Kalisa.
Kalisa menyadari sesuatu, rupanya bunyi tadi berasal dari dalam perutnya.
Malu tak dapat ditolak, senang tak dapat diraih. Rasanya ingin mati saja saat itu juga. Kenapa juga kejadian memalukan seperti ini harus terjadi.
Ia tak dapat menyembunyikan rasa malunya, salah tingkah itu yang terjadi.
"Saya balik dulu aja ya, lain kali datang lagi."
Ah, mungkin pergi adalah salah satu cara terbaik untuk menyelamatkan diri.
Kalisa hendak mengambil langkah seribu dan langsung tancap gas meninggalkan kamar Rivan.
"Tunggu dulu." Suara Rivan yang sedikit serak berhasil menghentikan langkahnya.
"Urusan yang tadi kita bicarakan lain waktu saja, aku pamit dulu."
"Tunggu dulu." Kini suara Rivan terdengar lebih tinggi.
Kalisa mendengus kesal, kenapa si Rivan sialan itu harus menghentikannya lagi, apa dia tidak tahu seberapa malunya Kalisa saat ini, menyebalkan.
"Apa lagi?" Tanya Kalisa, berhenti mematung di depan pintu, tanpa menoleh.
"Kita makan dulu."
'Kelar hidup gue'. Batin Kalisa.
"Lain kali saja, aku masih ada urusan di kantor."
"Tunggu dulu Non, Bibi siapkan dulu makannya."
Kini Bi Titi sudah berdiri di belakang Kalisa, kemudian menggandeng tangan Kalisa, membawanya turun ke bawah. Dan menyuruhnya duduk, menunggu sebentar sementara beliau menyiapkan makanan yang akan di makan, memalukan.
Tak berapa lama Rivan datang, mukanya masih terlihat pucat dan kuyu. Ia duduk di depan Kalisa sehingga Meraka saling berhadapan.
Bi Titi menghidangkan makanannya yang ternyata sudah siap untuk dilahap.
Satu persatu piring berisi lauk berangsur ia letakkan di atas meja.
"Selamat makan, mudah-mudahan masakan Bibi cocok dengan lidah Non Kalisa."
"Terimakasih Bi" Jawab Kalisa, sambil menelan rasa malunya.
"Iya, sama-sama. Ngomong-ngomong kalian terlihat serasi." Timpal Bi Titi lagi, sambil meletakkan dua gelas kosong dan sebotol air putih.
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Bi Titi, mendadak Rivan bereaksi.
"Kalisa sudah menikah Bi dan dia kesini karena urusan pekerjaan." Suara Rivan terdengar pelan, tetapi berhasil membuat Bi Titi merasa bersalah. Dan lantas meminta maaf kepadaku, kemudian berlalu pergi. Meninggalkan kami, berdua.
"Habiskan makananmu, habis itu kau boleh pergi." Imbuh Rivan tanpa menatap Kalisa.
Baru menyuap beberapa suapan, selera makan Kalisa mendadak hilang. Padahal makanan di piringnya terasa sangat lezat, tadinya.
Makanan yang ditelannya barusan seolah tercekat di tenggorokkannya, lantas ia menuang air ke dalam gelas yang tadinya kosong, kemudian meneguknya secara perlahan. Ia menatap nanar ke arah Rivan yang sedang menikmati makanannya.
'Oh, jadi sekarang ia mengusirku.' Batin Kalisa.
"Baik, terimakasih. Aku pamit dulu."
Rivan menatap piring milik Kalisa, kemudian beralih menatap Kalisa.
"Habiskan dulu, apa kau tidak kasihan sama Bi Titi yang sudah nyiapin makanan."
'Apa, setelah tadi ia mengusir sekarang meminta untuk menghabiskan makananku dulu.'
"Aku masih ada urusan, sampaikan ucapan terimakasihku pada Bi Titi."
Kalisa mengangkat tas selempangnya, kemudian pergi meninggalkan Rivan.
****
Mika hendak naik ke atas untuk mengisi botol minumnya, tatkala mendapati Bos nya - Rivan, sedang makan berdua dengan wanita itu, Kalisa. Hatinya terasa panas, hampir saja air mata luruh dari kedua netranya.
Langkah yang tinggal beberapa langkah lagi sampai di lantai dua, ia urungkan. Ia tak kuat jika harus melihat Rivan duduk bersama wanita lain. Sejauh ini, ia merasa wanita yang paling dekat dengan Rivan adalah dirinya, tetapi kenyataannya bertahun-tahun bersama tak menumbuhkan benih-benih asmara di hati Rivan.
Apalagi mendengar cerita dari Bi Titi mengenai kejadian semalam, seolah-olah hatinya diruntuhkan dalam sekejap. Hancur tak berdarah, meninggalkan rasa sakit yang menyiksa.