
"Trus mobil aku gimana ??."
"Biar nanti petugas derek yang urus."
"Ayo naik."
Tanpa membantah lagi, Kalisa melipat payung yang dibawanya kemudian berjalan mendekat ke arah sepeda motor Rivan.
Dilihatnya sepeda motor dengan pijakan yang lumayan tinggi itu. Ia berfikir sejenak, bagaiman caranya ia bisa naik ke atas motor itu, sementara rok batik yang dikenakannya memiliki bentuk yang sempit di bagian bawahnya. Belum lagi sepatu heels 10cm ber-hak runcing yang dikenakannya, bisa-bisa membuatnya terjatuh saat hendak naik ke atas pijakan motor besar itu.
Membanyangkan betapa susahnya ia menaiki motor itu, membuatnya mengurungkan niat untuk membonceng Rivan.
Tetapi Rivan yang menyadari hal itu, kembali turun dari motornya lantas mengangkat Kalisa hingga gadis itu kini telah berada di bagian belakang motor Rivan.
" Ternyata kamu lebih berat dari yang ku bayangkan." Canda Rivan, mencairkan suasana.
" Enak aja, aku nggak seberat itu tau."
"Lagian aku kan udah bilang, aku bisa naik taksi sendiri." Gerutu Kalisa, yang mulai kesal karena candaan Rivan.
Sebenarnya dari dulu jaman sekolah, Rivan memang terkenal sebagai murid yang cupu, pendiam dan tidak banyak memiliki teman. Kerjaannya hanya menggambar dan menggambar, jarang bergaul dengan teman-teman yang lainnya. Pernah ia menggambar wajah semua teman di kelasnya, beserta para guru yang mengajar di kelas itu, tetapi ketika menggambar wajah Kalisa, ia menggambar dengan sangat buruk, hingga membuat semua teman di kelas tak berhenti meledek Kalisa. Kalisa begitu kesal kala itu. Bagiamana tidak, ketika melihat Kalisa, semua murid tertawa karena teringat dengan hasil gambar Rivan yang sangat jelek. Padahal ia bintang kelas, karena selalu menduduki peringkat satu di kelasnya, menggeser posisi Rivan yang kala itu tiba-tiba saja berubah drastis. Sampai-sampai mengira bahwa Rivan terkena gangguan jiwa, stres atau semacamnya. Tak kalah menterengnya, pacar Kalisa adalah Gilang si ketua kelas. Tapi semua gelar itu hilang, sebab kelakuan konyol Rivan yang secara sengaja menjatuhkan martabatnya di depan teman-temannya.
Hal itu yang membuat Kalisa membenci Rivan. Tapi itu semua sudah berlalu, dan kini mereka sudah sama-sama dewasa.
"Becanda ." Lanjut Rivan.
Setelah memastikan semua siap, Rivan mulai memacu motornya, menembus hujan yang kini menyisakan gerimis kecil. Kali ini ia berusaha lebih berhati-hati, karena ia harus memastikan Kalisa aman bersamanya.
Kurang lebih sepuluh menit berkendara, motor Rivan berbelok ke arah rukan yang terlihat sangat sepi. Jantung Kalisa mulai merasa deg-degan. Dalam hatinya bertanya-tanya, untuk apa Rivan membawanya ketempat seperti ini. Jangan-jangan ia memiliki rencana jahat terhadap dirinya. Ia mempertimbangkan untuk lompat dari atas motor dan berlari menyelamatkan diri. Tapi rencana itu ia urungkan, mengingat pasti tubuhnya akan terasa sakit saat terjatuh dari motor yang sedang melaju dan terbentur ke aspal. 'Arggggggghhhhh !!'. Hatinya berteriak, membayangkan hal-hal buruk yang akan menimpanya.
Tiba-tiba saja motor Rivan berhenti di rukan paling ujung. "Sudah sampai." Katanya memberi isyarat kepada Kalisa untuk turun.
"Tempat apa ini ??." Tanya Kalisa memastikan.
Ia melihat lampu di rukan ini masih menyala terang, berarti masih ada tanda-tanda kehidupan di sana. Dia juga melihat beberapa sepeda motor terpakir di depan rukan.
'Ah, jangan-jangan ini tempat para penjahat berkumpul, apalagi ia melihat Rivan yang memiliki tubuh yang besar dan kekar, jangan-jangan ia bekerja sebagai debt kolektor, tukang tagih yang suka mukulin orang. Bisa-bisa ia jadi mangsa mereka malam ini.' Kalisa bergidik ngeri membayangkan pikiran-pikiran buruk itu memenuhi otaknya.
"Ini tempat tinggalku." Jawab Rivan.
"Apa ??." Tanya Kalisa tak percaya.
Jangan-jangan benar dugaannya, Rivan tinggal bersama para tukang tagih. Kalau tidak, tidak mungkin kan orang tinggal di rukan. Apalagi malam-malam begini mereka masih berada di sini, kalau nggak tinggal disini trus ngapain mereka masih disini.
Rivan hendak membantu Kalisa untuk turun dari motornya, tapi buru-buru Kalisa menolaknya. Lantas ia melompat dari atas motor dengan susah payah, sementara Rivan hanya berdiri memandangi tingkah lucu temannya itu.
" Rakkk." Tak sengaja rok yang dikenakan Kalisa tersangkut di pijakan motor Rivan, ia melirik ke arak sumber suara dan mendapati rok yang dikenakannya sudah robek sampai sebatas paha.
Kalisa merutuki nasibnya yang sial. Sebenarnya setelah turun dari motor Rivan, ia berencana untuk lari dan kabur dari Rivan. Tapi apa daya, situasi tidak memungkinkan, karena tak mungkin dia lari dengan keadaan seperti itu.
"Aduh." Pekiknya pelan, sambil memegangi bagian belakang roknya yang robek.
Rivan hanya tersenyum melihat kejadian itu, 'dasar keras kepala' batinnya.
"Bagaimana kalau kau panggilkan aku taksi, aku bisa naik taksi. Lihat sendiri kan, aku tidak mungkin mampir kesini dalam keadaan seperti ini." Tawar Kalisa, ia sedikit salah tingkah karena malu.
Dengan cekatan Rivan mengambil jaket yang hanya tersangkut di bahu Kalisa, kemudian menggunakan jaket itu untuk menutupi bagian belakang Kalisa dan mengikat bagian lengan jaket di pinggang Kalisa.
Kalisa merasa sangat malu dan kesal karena ia tak pernah merasa se apes ini sebelumnya.
Tidak mungkin Rivan membiarkan Kalisa pulang dalam keadaan seperti itu.
Ia tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Kalisa, ia merasa senang bisa bertemu lagi. Beberapa jam yang lalu ia baru saja membicarakannya bersama Mas Edy, tapi sejam kemudian ia benar-benar bertemu lagi dengan gadis itu, panjang umur Kalisa. Rasanya bagaikan mimpi.
Rivan berjalan di depan, lantas Kalisa mengekor di belakangnya. Ia melangkah dengan ragu sambil berdoa, mudah-mudahan tidak ada lagi hal buruk yang akan menimpanya di dalam sana.
Ketika memasuki rukan, Kalisa sedikit kaget ternyata di dalam masih ada beberapa orang yang sedang bekerja di depan layar komputer. Semua orang yang berada di dalam mengalihkan pandangannya dari layar komputer dan menatap ke arah Rivan dan Kalisa.
"Siapa itu bos, boleh juga tuh." Teriak salah seorang pegawai Rivan, meledek. Sementara beberapa orang yang lain ada yang ber 'suit-suit' ria dan ber 'cye-cye' ria.
'Deg' Jantung Kalisa seolah berhenti berdetak, ia hanya menunduk dan tidak berani menatap ke arah sumber suara. Ia bergidik ngeri membayangkan orang-orang itu benar-benar orang jahat yang akan menerkamnya.
Sementara Rivan hanya tersenyum menanggapi ledekan anak buahnya itu.
Rivan melanjutkan langkahnya ke lantai dua, disusul Kalisa di belakangnya. Di lantai dua mereka disambut oleh Bi Titi yang sudah menunggu kedatangan Rivan.
Bi Titi sedikit kaget, mendapati bosnya itu datang dengan keadaan basah kuyup bersama dengan seorang gadis yang Bi Titi pun tidak kenal, tapi menurut Bi Titi wajah gadis itu tidak asing.
"Bi, tolong buatkan teh hangat." Perintah Rivan.
"Baik Mas." Jawab Bi Titi, sambil berjalan meninggalkan dua orang itu menuju dapur yang letaknya bersebelahan dengan meja makan.
"Kamu tunggu dulu sebentar, duduk dulu." Kata Rivan, sambil menarik sebuah kursi di ruang makan, mempersilahkan Kalisa untuk duduk.
Tanpa menjawab sepatah katapun Kalisa menuruti perintah Rivan. Hatinya di penuhi rasa lega, karena ketakutan-ketakutan yang membayangi, ternyata tidak benar-benar terjadi. Sekarang ia mulai menggigil karena kedinginan.
Kalisa menatap ke sekeliling ruangan, kemudian pandangannya berhenti pada Bi Titi, melihat dengan seksama pergerakan Bi Titi yang terlihat jelas karena tak ada sekat.
Bi Titi datang dengan membawa dua gelas teh hangat.
"Diminum Non, mumpung masih hangat." Kata Bi Titi, sambil menyerahkan segelas teh kepada Kalisa.
"Iya Bi, terimakasih." Jawab Kalisa.
Tak berapa lama, Rivan yang sudah berganti pakaian datang dengan membawa sebuah handuk berwarna putih berukuran sedang kemudian menyerahkannya kepada Kalisa. Kalisa meraih handuk itu, kemudian menggosok rambutnya.
"Bi antar Kalisa mengganti pakaiannya di atas." Perintah Rivan lagi, pada Bi Titi.
"Baik mas."
"Mari Non, Bibi antar ke atas." Ajak Bi Titi.
Kalisa tercengang mendengar perintah dari Arvin. Yang benar saja, baju siapa yang akan di pakainya nanti, ia merasa risih karena tidak terbiasa menggunakan pakaian orang lain.
"Tidak perlu, pakai handuk saja nanti juga kering kok." Tolak Kalisa.
"Ni kayak gini, nanti lama-lama juga kering sendiri." Kalisa memperagakan mengelus kebayanya dengan handuk, sambil memasang senyum yang dipaksakan.
Rivan tersenyum, tak percaya dengan tingkah konyol Kalisa.
Lantas laki-laki itu memberi isyarat kepada Bi Titi untuk membawa Kalisa naik ke atas.
" Ayo Non, kalau kayak gini nanti Non bisa sakit."
Lagi-lagi Kalisa tidak bisa menolak lagi. Dan memilih mengikuti wanita paruh baya yang mulai berjalan menuju lantai tiga itu.
bersambung.