No Problem, To Not Be Perfect

No Problem, To Not Be Perfect
bab 5


Bukan hal baik untuk berbagi cerita pribadi ke ranah publik, apalagi itu adalah pengalaman yang kurang mengenakkan. Tapi mudah-mudahan pengalaman ini bisa jadi pelajaran buat orang-orang yang mendengarkannya. Ambil hikmahnya, dan buang hal-hal buruknya.


" Halo, Rivan. Rivan siapa nama panjangnya ??."


Tanya Mas Edy membuka acara.


" Ezra Rivan Pradipta." Jawab Rivan sedikit tegang.


" For your information nih para penonton dimanapun anda berada, Rivan ini adalah salah satu potret anak muda yang bisa meraih kesuksesan diusia muda. Bisa mewujudkan mimpinya dan sekarang menjadi salah satu orang yang paling banyak diperbincangkan. Oh ya sekarang berapa umurnya ??."


" 25 Mas."


" Bayangkan, diusia yang baru menginjak 25 tahun dia sudah bisa seperti sekarang ini, saya umur 25 masih mainan sulap menyulap lho. Luar biasa sekali. Tapi dibalik setiap kesuksesan seseorang pasti selalu ada 'cerita' inspiratif yang memang selalu menarik untuk diulas. Dan disini kita akan mengulik lebih dalam lagi cerita perjalanan dari seorang Rivan Pradipta. Gimana, sudah siap ??." Tanya Mas Edy memastikan.


Rivan mengangguk, sambil mengukir seulas senyum dibibirnya.


" Rivan, ceritakan bagaimana anda bisa sampai dititik ini ??."


" Saya juga juga masih bingung Mas, tidak pernah menyangka bahwa saya bisa sampai dititik ini. Karna pada waktu itu semua terjadi karena sebuah ketidaksengajaan." Jawab Rivan mulai bercerita.


Mas Edy mengerutkan kening, " Ketidak-sengajaan ??. Sepertinya menarik ini. Bagaimana bisa, orang sukses tidak 'disengaja' ??. Tanya Mas Edy tidak percaya.


" Bukan begitu Mas, waktu itu saya masih SMA dan belum mulai memikirkan tujuan hidup, orang tua saya selalu 'menuntut' supaya saya mendapat peringkat pertama dikelas. Mereka mendoktrin saya, bahwa mereka adalah orang sukses, jadi saya tidak boleh mempermalukan mereka, tidak boleh mengecewakan sedikitpun, intinya saya juga harus sukses seperti mereka."


" Tunggu-tunggu." Mas Edy memotong cerita Rivan. " Orang tua anda adalah orang yang sukses, apa pekerjaan mereka ??."


" Mama saya adalah seorang Dokter spesialis disalah satu Rumah Sakit ternama, sedangkan Ayah saya adalah seorang Insinyur, yang bekerja sebagai Arsitek." Jelas Rivan.


" Berarti mereka orang yang sangat sibuk ??."


" Banget Mas, sampai tidak ada waktu sama sekali untuk saya. Setegar apapun kita sebagai laki-laki, tapi yang namanya kita sebagai anak-anak, tetaplah anak kan Mas, kita butuh dibimbing, diarahkan, disayang. Dipahami apa maunya kita, ini bukan manja lho ya, karena dari kecil saya tidak pernah dimanja. Kesibukan orang tua saya memaksa saya untuk menjadi mandiri sejak dari kecil."


Mas Edy mengangguk-anggukan kepalanya. " Berarti anda sudah ditempa dari sejak kecil ya secara tidak langsung."


" Mungkin seperti itu Mas, tapi itu benar-benar hari-hari terberat buat saya. Ketika teman-teman saya bercerita, mereka bisa memancing bersama ayahnya dihari Minggu, ada yang pergi ke Mall dengan keluarganya, hiking bersama, dan sebagainya, saya hanya bisa bermimpi dalam hati, kapan saya bisa merasakan pengalaman seperti itu. Bahkan ketika saya sakit dan harus dirawat pun orang tua saya tidak bisa menemani saya." Mata Rivan mulai mulai berkaca-kaca.


Rivan mengangguk. " Makanya, anak Mas Edy jangan sampai diperlakukan seperti saya, biar nggak kaya saya yang dulu." Ledek Rivan.


Edy Pamungkas ini juga hanya memiliki satu orang anak laki-laki. Statusnya sebagai single father , karena beberapa tahun yang lalu dia memutuskan untuk bercerai dengan mantan istrinya. Hubungan kedekatannya dengan sang anak sering ia pamerkan di laman media sosialnya.


" Dengerin cerita anda, saya jadi ikut terharu, jadi langsung teringat lho sama anak saya. Tapi tenang, saya tidak memperlakukan anak saya seperti itu."


" Jangan sampai Mas, kalau luka fisik yang sakit bisa disembuhin, tapi kalau luka hati susah sembuhnya. Nanti malah menyesal, karena waktu kan nggak bisa dibalikin lagi."


Mas Edy menganggukkan kepalanya. " Terus bagaimana ketidak sengajaan itu memghampiri anda ??."


" Iya, karena pressing yang sangat berat itu, membuat saya menjadi hampir depresi. Dari saya masuk sekolah SD dulu, hari-hari saya sudah penuh dengan jadwal berbagai macam les yang harus saya jalani. SD, SMP saya masih kuat. Semester pertama SMA, masih bisa berdamai dengan diri sendiri untuk bisa menjalani. Tapi saat memasuki semester ke-dua, saya sudah hampir blank. "


" Blank ??." Tanya Mas Edy hampir tidak percaya.


Rivan mengangguk.


" Ketika seorang anak dituntut untuk menjadi luar biasa tanpa ada penyemangat, selain hanya bisa menahan beban sendirian apa coba Mas ??."


" Tapi anda tinggal bersama orang tua anda kan pada saat itu ??."


" Iya kami tinggal bersama. Tapi mereka tidak pernah memperlakukan saya seperti orang tua pada umumnya. Mereka menunjukkan kasih sayang mereka dengan uang. Yang menurut mereka itu lebih bisa membuat saya bahagia."


" Speechless saya. Tidak habis fikir, anda berapa bersaudara ??."


" Saya anak tunggal, kalau seandainya saya punya saudara masih mending Mas, saya tidak akan merasa sangat kesepian saat itu."


Mas Edy kembali menggeleng tidak percaya. " Trus apa yang anda lakukan pada waktu anda hampir 'blank' itu ??." Tanya Mas Edy, sambil membuat tanda kutip pada kata blank dengan kedua tangannya.


" Disitu, saya merasa Tuhan menyelamatkan saya dari depresi, dengan kejadian tidak sengaja yang saya alami ."


bersambung......😊


nantikan kelanjutan kisahnya yaaa...