No Problem, To Not Be Perfect

No Problem, To Not Be Perfect
bab 13


'Ah, pasti ini Rivan yang lain, ada kemungkinan kan dua orang atau lebih memiliki nama yang sama. Dan ini kan kota besar, tentu banyak orang yang memiliki nama seperti itu.' Batin Kalisa


Aduh, hari ini kenapa ia merasa banyak ketiban sial.


Ia mulai mengetik nomor yang tertera di layar ponselnya.


Tut, tut, tut, tersambung tapi belum ada yang mengangkat.


Tak berapa lama, muncul suara seorang wanita dari seberang sana.


"Selamat pagi." Sapa wanita diujung sana.


"Selamat pagi Mbak, bisa bicara dengan saudara Rivan Angga Wijaya."


"Maaf Bu, ini saya sekertaris Pak Rivan. Pak Rivan nya sedang tidak bisa diganggu."


Mendengar jawaban yang tidak sesuai dengan harapannya, emosi Kalisa pun mendadak meledak.


"Mbak, jangan kayak gitu dong, kita kemarin sudah membuat kesepakatan, kenapa tiba-tiba dibatalkan secara sepihak. Ini urusan pekerjaan Mbak, harus profesional dong. Tidak bisa kayak gini. Ini waktunya sudah mepet, tinggal satu jam lagi acaranya mulai." Bentak Kalisa, yang sedang kesal.


"Maaf Bu, tapi Pak Rivan lagi ada urusan dan tidak bisa diganggu. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Tapi saya mohon pengertiannya. Dan mudah-mudahan Ibu berbesar hati untuk mengatur ulang jadwal Pak Rivan. Nanti akan kami usahakan untuk hadir dikesempatan mendatang."


"Kalau seperti ini, berarti Bos anda harus menerima konsekuensi dari perusahaan saya. Karena sudah melanggar kesepakatan yang sudah sama-sama disepakati dari kedua belah pihak." Ancam Kalisa, mengeluarkan jurus terakhirnya.


"Apapun itu, kami akan menerimanya dengan segala kekurangan kami Bu."


'Orang ini, kenapa menyebalkan sekali.' Batin Kalisa


Kalisa mengambil nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya dengan kasar.


Wanita diujung sana sudah meminta maaf, apalagi yang bisa ia lakukan selain mengiyakan permintaan maaf wanita itu. Karena percuma juga ia memaksakan kehendaknya.


"Bilang pada Bos anda itu, setelah ini kami akan membuat perhitungan. Selamat pagi !."


Kalisa menutup teleponnya dengan kesal. Sekuat tenaga ia memencet gambar telepon berwarna merah di ponselnya untuk melampiaskan kekesalannya.


Kalisa kembali berkacak pinggang, sambil berjalan mondar-mandir di depan Winda. Ia harus menemukan pengganti si Rivan yang tidak profesional itu. Pikirannya sedang memilah-milah orang yang dianggapnya cocok untuk menggantikan Rivan sebagai narasumber siang ini.


Sementara Winda hanya diam mematung, sambil mengamati atasannya yang sudah beberapa kali bolak-balik lewat di depannya itu. Dalam keadaan seperti ini, ia tak mungkin berani mengeluarkan suara sedikitpun karena itu akan menambah kekesalan atasannya itu


Tak berapa lama, Kalisa berhenti tepat di depan Winda sambil mengumbar senyum manis yang menghias wajahnya.


"Bagaimana kalau kita menghubungi Youtuber yang lagi viral karena jargon lucunya itu." Kata Kalisa, sambil manggut-manggut meminta persetujuan dari Winda.


Sebenarnya kriteria seperti itu tidak masuk dalam tema acara yang ia pegang saat ini, karena tema acaranya adalah inspirasi anak muda. Jadi kebanyakan yang menjadi narasumber adalah anak muda yang memberikan dampak atau yang bisa menginspirasi anak muda lain untuk mulai bergerak. Tetapi apa mau dikata, karena butuh waktu kurang lebih satu Minggu untuk me-riset narasumber. Dan sekarang mereka hanya punya waktu satu jam untuk mendapatkan narasumber baru.


Ia juga berpikir sejenak apakah Youtuber yang sedang viral itu cocok di jadikan sebagai narasumber. Tetapi ia tak punya pilihan lain selain meng-iyakan ide dari atasannya itu.


"Ok, sekarang kamu hubungi Youtuber itu. Saya akan menyuruh Yoga untuk menyusun pertanyaan yang nanti akan di gunakan untuk mewawancarai narasumber."


"Oh ya Win satu lagi, nanti kamu kirim file si Rivan-Rivan itu ya. Saya mau lihat, seperti apa sih orangnya, belagu banget. Baru juga tenar sedikit, sudah kena star syndrom saja."


"Baik Mbak." Jawab Winda, sebelum akhirnya ia membalikkan badan dan meninggalkan Kalisa.


Kalisa merebahkan tubuhnya di atas Sofa tamu di ruang kerjanya. Sedikit menenangkan pikirannya yang tadi sempat kacau.


Tak berapa lama, telepon di meja kerjanya berdering. Segera ia bangkit dari tempat duduknya, kemudian menghampiri gagang telepon itu.


"Iya, bagaimana Win."


Rupanya Winda yang menelponnya.


"Bisa Mbak, tapi sepertinya dia akan sedikit terlambat, karena jalanan macet dan waktunya juga sangat mendadak."


Ah, Kalisa bisa sedikit bernapas lega.


"Tidak apa-apa Win, yang penting orangnya bisa datang. Syukurlah kalo begitu."


Kalisa kembali meletakkan gagang telepon di tempatnya, ia nyaris melompat karena terlalu girang.


Kemudian ia menge-chek email dari Winda. Ia membuka sebuah file yang terlampir dalam email itu.


Matanya kembali membulat sempurna, sementara mulutnya menganga tak percaya. Ia menutup mulutnya yang menganga dengan salah satu tangannya. Terkejut, kaget dan tidak percaya, itu yang ia rasakan saat ini.


"Oh my God, oh my God. Apa ini serius." Katanya, bicara sendiri.


"Jadi Rivan itu, adalah Rivan si kurang ajar. Bisa-bisanya ia menyusahkan orang seperti ini. Awas nanti ya, bikin kesal saja. Dasar manusia star syndrom, tidak profesional." Gerutunya.


Ia kembali melanjutkan membaca profil dari Rivan. Mulutnya kembali menganga tak percaya. Menurut profil yang ia baca, Rivan adalah pendiri dan pemilik Nanca Studio, studio yang memproduksi kartun Bona dan kawan-kawan. Kartun yang sedang digandrungi anak-anak saat ini.


Sulit dipercaya, ia bisa berada dititik ini sekarang.


,🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Akhirnya Youtuber itu datang juga, ia tidak terlalu banyak berharap untuk mendapatkan reaksi yang baik dari penonton di rumah, karena memang semuanya dilakukan secara mendadak. Tetapi ia bisa bernapas lega, karena semuanya bisa terlewati.


Setelah makan siang nanti rencananya ia ingin meminta izin dari atasannya untuk keluar. Karena ia ingin melihat kondisi mobilnya yang berada di bengkel dekat rumah Rivan dan ingin memastikan apa yang membuat Rivan membatalkan perjanjian yang sudah disepakati bersama. Ia membutuhkan alasan yang jelas dan pasti atau jawaban yang keluar langsung dari mulutnya. Karena ia tidak suka dengan rasa 'penasaran' yang memenuhi hati dan pikirannya.


bersambung....