
Perlahan Bi Titi membuka pintu memasuki ruangan di lantai tiga itu. Sementara Kalisa mengekor di belakangnya.
" Ini tempat apa Bi " Tanya Kalisa memastikan.
Bi Titi tersenyum, sambil membuka lebar pintu berdaun satu itu, memberi jalan untuk Kalisa masuk. Dan menutupnya kembali setelah mereka berdua berada di dalam.
" Ini kamar pribadi Mas Rivan Non. "
Kalisa mengangguk pelan mendengar penjelasan dari Bi Titi. Sambil terus berjalan masuk, menghampiri tempat tidur Rivan yang terletak di dekat pintu masuk.
Di atas tempat tidur rupanya Rivan sudah menyiapkan sepasang baju yang siap untuk ia kenakan sebagai ganti kebayanya yang basah.
"Sepertinya ini baju ganti buat Non." Kata Bi Titi, sambil membolak-balik setelan kaos yang ada di atas tempat tidur. Lantas memberikannya kepada Kalisa.
Sebuah celana kolor pendek berwarna abu-abu dan kaos oblong berwarna putih, yang tentu saja baju berukuran besar, mengingat Rivan memiliki postur tubuh yang tinggi besar.
Kalisa mengambil baju itu, otaknya masih menimbang apakah ia akan benar-benar memakainya atau tidak, mengingat sejauh ini ia belum pernah mengenakan baju orang lain. Apalagi orang tersebut adalah seorang laki-laki dan tidak begitu dikenalnya pula.
Tiba-tiba terdengar pintu diketuk dari luar. Tiga kali ketukan.
"Nggak apa-apa, itu baru, belum pernah dipakai." Suara seseorang berteriak dari luar, sepertinya suara Rivan. Seolah ia mengerti kegundahan Kalisa.
"Nggak apa-apa Non, pakai aja. Tuh kata Mas Rivan juga masih baru." Sambung Bi Titi.
Sedikit ragu, tapi Kalisa tak punya pilihan lain lagi. Lantas ia berpamitan kepada Bi Titi untuk berganti pakaian di kamar mandi pribadi Rivan, yang letaknya hanya beberapa langkah dari tempat tidur Rivan.
Rivan menjadikan lantai tiga ini sebagai tempat tidur dan ruang olahraga, karena di bagian ujung ruangan terdapat beberapa alat olahraga, hanya terpisah oleh rak-rak buku yang berjajar rapi sebagai sekat.
Rapi, sangat rapi untuk ukuran kamar seorang laki-laki.
Bi Titi menatap ke sekeliling ruangan, ia merasa ada sesuatu yang hilang, tapi entah apa itu ia sendiri juga lupa.
Beberapa saat kemudian Kalisa keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju yang serba kebesaran. Tentu saja karena Kalisa memiliki postur tubuh yang cenderung kurus, berbanding terbalik dengan Rivan yang berpostur tinggi besar.
Sedikit kikuk ia berjalan ke arah Bi Titi. Rambut yang tadinya di sanggul cantik, kini sudah ia lepas dan ia gerai karena basah.
Bi Titi yang melihat perubahan Kalisa lantas menyadari sesuatu. Ya, tidak salah lagi Kalisa adalah gadis yang berada dalam lukisan bos nya itu. Gegas ia menatap ke arah lukisan yang menggambarkan wajah seorang gadis yang sedang tersenyum itu. Tapi ternyata benda itu sudah tidak ada pada tempatnya. Ia baru menyadari bahwa sesuatu yang hilang itu adalah lukisan yang sejak lama terpasang di dekat jendela. Bi Titi tersenyum.
Kalisa kembali meraih handuk yang tadi ia letakkan di atas kasur, lantas menggosok rambutnya perlahan.
" Mau dibantu Non " Tanya Bi Titi, menawarkan bantuan.
Kalisa menggeleng " Tidak Bi. Terimakasih" tolak Kalisa, lanjut ia kembali menggosok rambutnya.
"Maaf ya Bi sebelumnya, mungkin pertanyaan ku nanti akan sedikit menyinggung atau kurang berkenan, tapi harus aku tanyakan sama Bibi, supaya aku juga merasa lega." Kata Kalisa membuka percakapan, sambil mengambil tempat duduk di samping wanita paruh baya itu.
"Iya ada apa Non" Tanya Bibi yang sudah siap mendengarkan pertanyaan dari Kalisa.
" Sebenarnya ini tempat apa sih Bi, bukannya apa-apa Bi, tapi sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Rivan, bahkan mendengar kabarnya pun tidak pernah, tapi tadi secara tidak sengaja terjadi insiden di jalan, dan tiba-tiba saja kami bertemu lagi dan Rivan membawaku ke tempat ini. Jujur aku kaget dan takut Bi, ya Bibi pasti juga berpikiran sama denganku jika dalam situasi kayak gini." Tanya Kalisa dengan memasang wajah serius.
"Kenapa Bibi ketawa, aku serius Bi."
"Habisnya pertanyaannya lucu."
"Lucu gimana, orang aku serius nanya kok."
"Non nggak perlu khawatir, Mas Rivan itu orang baik. Dan disini memang tempat tinggal dan tempat bekerjanya Mas Rivan."
"Tempat bekerja ?. Kerjanya ngapain." Tanya Kalisa, yang masih penasaran dengan jawaban dari Bi Titi yang ia rasa masih mengambang.
"Ya itu, menggambar kartun apa gitu, Bibi juga kurang tahu persisnya. Tapi yang Bibi denger, kartunnya itu lagi rame di tipi sekarang. Mas Rivan sampai diundang masuk tipi."
Kalisa merasa kurang paham dengan penjelasan dari Bi Titi, terlihat dari ekspresi wajahnya yang belum puas mendengar jawaban dari Bi Titi.
"Sudah, yang penting Non nggak perlu khawatir disini, Mas Rivan itu orang baik Bibi sudah kenal lama sama dia."
"Terus, orang-orang di bawah itu."
"Oh, kalo itu pegawai disini, yang bantu Mas Rivan bikin kartun."
"Oooo,," Mendengar jawaban dari Bibi Titi, Kalisa merasa sedikit lega. Dan setelah ini ia bisa segera pulang dan tak perlu berlama-lama lagi.
" Oh ya Bi, kita bisa turun sekarang. Rasanya tidak enak berlama-lama di sini." Ajak Kalisa.
Kalisa memasukkan kebaya basahnya ke dalam paper bag berwarna putih, lantas pergi meninggalkan kamar Rivan.
Sejauh ini, tidak ada orang yang diperbolehkan masuk ke lantai tiga oleh Rivan kecuali Bi Titi, Kalisa adalah orang luar pertama yang masuk ke kamar itu.
Di bawah Rivan sudah menunggu, sambil menyesap teh hangat buatan Bi Titi. Ia menatap Kalisa yang baru turun dan mengenakan bajunya yang kebesaran. Ada perasaan yang entah apa itu sedang memenuhi hatinya sekarang, rasa yang membuatnya ingin selalu tersenyum. Rasa yang tidak pernah hilang, masih sama seperti dulu setiap kali ia melihat Kalisa.
"Terimakasih, sepertinya aku bisa pulang sekarang."
Suara Kalisa mengagetkan Rivan, rupanya Kalisa sudah berdiri di depannya sekarang.
"Masih hujan, aku bisa mengantarmu."
"Tidak perlu, aku bisa naik taksi sendiri."
"Ini sudah malam, aku bisa mengantarmu."
Lagi-lagi Kalisa hanya bisa menurut, karena ia tak ingin terjadi perdebatan yang lebih panjang lagi.
Setelah berpamitan dengan Bi Titi, mereka berdua turun ke bawah, melewati beberapa orang yang masih duduk di depan layar komputer, dan mereka kembali bersorak saat mendapati bos nya itu sedang bersama dengan seseorang. Lagi-lagi Rivan tak menghiraukannya, begitu juga dengan Kalisa, mereka berdua lantas menuju ke tempat parkir di depan rukan.
Rivan meminta Kalisa untuk menunggunya di teras rukan supaya aman, karena hujan masih mengguyur walau tidak begitu deras. Sementara Rivan berlari menghampiri mobil Jeep yang terparkir di depan rukan. Jeep tua yang sudah lama tidak ia gunakan. Yang ternyata susah dinyalakan.
bersambung..