No Problem, To Not Be Perfect

No Problem, To Not Be Perfect
bab 6


" Kejadian apa itu ??." Tanya Mas Edy penasaran.


Rivan mengulum senyum. Hatinya tergelitik tatkala ia kembali mengingat kejadian beberapa tahun silam.


" Iya, jadi waktu itu secara tak sengaja aku menemukan sebuah komik Mas." Kata Rivan mulai bercerita. "Terkadang kita hanya berfikir bahwa komik adalah bacaan anak-anak. Padahal bagi orang lain, benda semacam itu bisa juga untuk pengobat stres."


"Itu kejadiannya kapan ??." Tanya Mas Edy, memotong cerita Rivan.


"Waktu itu saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Jadi saya membuka komik punya temen saya yang tak sengaja terjatuh itu. Pertama-tama hanya penasaran. Baca cerita ada gambarnya, tapi lama-lama suka terus ketagihan. Nah, dari situ mulai deh, belajar menggambar, bikin cerita-cerita gitu."


"Wah, hebat ya anda. Masih sekolah sudah bisa mencari uang sendiri." Kata Mas Edy kagum.


" Belum Mas, waktu itu saya belum berani publikasi, hanya sebatas untuk menyalurkan emosi, jadi semacam pelampiasan gitu. Bahkan karena saya 'seolah-olah' sudah menemukan dunia baru, jadinya saya merasa bahwa menggambar adalah dunia saya. Saya bisa berfantasi, bisa mengaplikasikan kemarahan saya dalam bentuk gambar. Sampai saya yang biasanya peringkat satu dikelas, menjadi peringkat paling bawah dikelas."


Mas Edy tertawa tak percaya mendengar cerita dari Rivan.


"Bagaimana bisa, anda juara kelas tiba-tiba bisa menjadi, maaf ya 'murid paling bodoh' di kelas ??." Tanya Mas Edy, sambil mengangkat dua jarinya membentuk tanda kutip.


"Iya, karena waktu itu saya berpikir, bahwa pelajaran di sekolah itu sudah tidak menarik bagi saya. Untuk apa saya belajar mati-matian semata hanya untuk menyenangkan hati kedua orang tua saya, yang tidak pernah mengapresiasi pencapaian saya. Ini hidup saya, saya harus bisa menikmatinya, saya punya tujuan hidup sendiri. Dan itu dia yang membuat saya bisa menjadi seperti sekarang. Memiliki tujuan hidup yang jelas, dan saya bekerja keras untuk itu."


Rivan merasa lega, apa yang menjadi beban hidupnya selama ini bisa ia bagi dengan seseorang, dan ia berharap kisahnya bisa menjadi motivasi untuk orang lain.


" Speecless saya, anak seumuran anda yang kala itu masih duduk di bangku SMA bisa membuat keputusan terbesar dalam hidup anda. Dimana tidak semua orang memiliki keberanian untuk melakukan itu."


Mas Edy memberikan tepuk tangan.


Waktu menunjukan pukul 21.14 saat Rivan meninggalkan studio Mas Edy. Diiringi rintikan hujan yang mengguyur, Rivan menaikki motornya membelah jalan kota yang sudah mulai lengang.


Karena hujan yang lumayan deras membuat lubang-lubang jalan yang rusak tertutup oleh genangan air, sehingga ia harus lebih berhati-hati supaya tidak sampai terjatuh. Jalan besar yang ia lalui memang sudah beberapa bulan ini mulai rusak dan meninggalkan lubang-lubang yang berukuran lumayan besar, karena banyak truk muatan yang melaluinya. Tetapi sejauh ini belum ada perbaikan, padahal sudah lumayan banyak memakan korban.


Ketika hampir mendekati lampu merah di pertigaan, tiba-tiba saja motor Rivan hilang kendali karena ia terlambat menyadari ada lubang besar berada di depannya. Bukan karena ia kurang berhati-hati tapi karena kaca helm yang ia kenakan tertutup oleh titik-titik air hujan, sehingga membuat penglihatannya tidak terlalu tajam.


Motor yang dikendarai Rivan oleng ke kiri, sementara tubuhnya terpental dan terjatuh ke atas aspal. "Aduhhhh !!!." Pekiknya.


"Ciittttttt !!!!!." Suara rem mobil berdecit.


Dan pengendara mobil di belakangnya, banting setir ke arah kiri hingga bagian depan mobilnya naik ke atas trotoar.


Semuanya terjadi begitu cepat, hanya dalam hitungan detik. Dan hampir saja iya tertabrak oleh mobil itu, jika saja pengemudinya tidak dengan cekatan membuang stir ke arah kiri.


Rivan berusaha untuk bangun, dan mengevakuasi motornya, karena motornya terjatuh di sisi kiri dekat trotoar. Beberapa orang yang melihat kejadian itu, gegas berlari ke arah kejadian.


Seorang wanita cantik keluar dari mobil nahas itu. Kemudian berjalan menghampiri Rivan, sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangannya dari rintikan hujan.


"Apa kau tak apa-apa ?." Tanya wanita itu dengan nada panik.


Kini air hujan mulai membasahi rambut wanita itu, semua orang yang berusaha menolong malah terpana dengan kehadiran wanita itu.


Wanita cantik itu mengenakan kebaya broklat berwarna ungu muda, dan rambut yang ditata sedemikian rupa, sehingga berhasil membuatnya menjadi pusat perhatian.


Rivan menoleh ke arah wanita itu. Rupanya ia masih mengingat tai lalat yang khas yang menghiasi wajah wanita itu. Ia tersenyum.


"Iya, tidak apa-apa." Jawab Rivan salah tingkah.


"Beneran nggak pa pa ?. Aku tuh kaget banget, tiba-tiba ada orang jatuh. Pas banget di depanku." Katanya, masih dengan nada gugup yang terdengar dari cara bicaranya.


Wanita itu mengibaskan kedua tangannya untuk menghilangkan rasa kagetnya. Ya, karena begitu cepat kejadiannya membuatnya gemetar karena kaget.


Salah seorang bapak yang menolongnya, memberikan payung yang di bawanya kepada wanita itu, mungkin dia iba melihat keadaan wanita itu yang sudah mulai basah kuyup.


Dan setelah memastikan semuanya aman, bapak-bapak yang tadi ikut berkerumun mulai bubar dan kembali ketempat masing-masing. Kini tinggal Rivan dan Kalisa. Ya, wanita itu bernama Kalisa. Pemilik komik yang diceritakan Rivan tadi.


Kalisa melihat keadaan mobilnya, sedikit mengenaskan karena bemper depannya sedikit tak berbentuk karena menabrak trotoar, dan atas saran bapak-bapak tadi ia memanggil jasa derek untuk membawa mobilnya ke bengkel.


Rivan membuka helm nya. Kemudian mendekati Kalisa.


"Apa kabar Lis ??." tanya Rivan.


Kalisa sedikit kaget mendengar pertanyaan dari Rivan. bagaimana bisa laki-laki di depannya itu mengenalinya, sementara ia tak mengenalinya sama sekali


"Apa ??" tanya kalisa kaget.


"Ini gue, Rivan." Jawab Rivan.


Tak percaya, Kalisa membungkam mulutnya dengan salah satu tangannya.


"Rivan ??." tanyanya memastikan.


Rivan mengangguk, sambil mengulas seyum di bibirnya.


"Rivan yang....." Kalisa tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tak habis pikir dia, bagaimana bisa Rivan si anak cupu bisa berubah drastis seperti sekarang ini. bahkan ia sama sekali tak memgenalinya.


"Nanti biaya perbaikan mobilmu biar aku yang nanggung. Lagian walaupun tak di sengaja, ini kan salahku." Entah, begitu berat untuk mengucapkan maaf. Hanya itu yang bisa ia katakan untuk mengganti kata maaf.


Kalisa hanya bisa mengangguk pasrah.


"Oh ya, Elo tinggal dimana Lis sekarang ??." Tanya Rivan.


"Gue nggak pindah kemana-mana. Masih tinggal di rumah gue yang dulu." Jawab Kalisa sekenanya.


Berarti lumayan jauh dong, tidak mugkin ia pulang dalam keadaan basah kuyup begini.


Rivan melepas jaket anti airnya, menyisakan kaos putih yang ia kenakan, kemudian menyerahkan jaket itu pada Kalisa. Ia tahu, bahwa gadis itu pasti kedinginan karena pakaian yang di kenakan benar-tidak bisa melindungi tubuhnya dari hawa seperti ini.


"Ni pakai, biar nggak kedinginan." Kata Rivan, sembari menyerahkan jaket berwarna hitam kepada Kalisa.


"Tidak perlu, nanti setelah mobil dereknya sampai, aku bisa naik taksi." Tolak Kalisa.


Tanpa meminta persetujuan Kalisa lagi, ia meletakkan jaket itu di kedua bahu Kalisa.


"Jangan menolak !" Perintah Rivan.


"Ayo sekarang ikut aku !." Lanjut Rivan.


"Kemana ??" Tanya Kalisa kaget, karena tiba-tiba Rivan menarik tangannya.


"Sudah ikut saja."


Rivan menaikki motornya, kemudian meminta Kalisa untuk membonceng di belakangnya.


"Trus, mobil aku gimana ??."


bersambung.