My Special One, Keenan

My Special One, Keenan
Part 9


Keenan menggandeng Drea keluar ballroom, tak percaya Keenan akan membawanya keluar. Air matanya meleleh. Mereka berdua berhenti di sebuah café yang tak jauh dari tempat semula. Drea duduk masih dengan air matanya, Keenan hanya diam memperhatikan. Orang di sekeliling mereka ada yang berbisik bisik melihat Keenan. Keenan menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu memakai topi dan masker. Drea menghapus air matanya dan menatap Keenan yang nampak aneh karena malam-malam memakai topi dan masker.


“Lo…Lo mau Gue disangka nyulik Lo? Atau nggak gitu Gue disangka nyakitin Lo” Keenan protes. Drea menatap Keenan sambil menahan senyum. “Kenapa?” Keenan menurunkan maskernya hingga ke dagu.


“Aku nggak nyangka, Kamu akan nampak keren pakai topi itu” Ucapan Drea membelalakkan mata Keenan, bisa-bisanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya, benar-benar tidak disangkanya, tapi dia bersyukur Drea sudah tidak menangis lagi. “Harusnya kamu jadi bintang iklan itu saja, nggak perlu repot-repot membuat pusing sutradara” Imbuh Drea lagi.


“Lo kerja, kenapa harus kluyuran malam-malam?”


“Aku nggak kluyuran, mereka adalah temanku, dan salah satunya sedang ulang tahun. Aku datang, lalu salahku di mana?” Drea merenggut, merasa tidak bersalah sama sekali.


“Bahkan Lo tidak melihat HP sama sekali” Protes Keenan. Drea memeriksa mengeluarkan HP dari tasnya dan memeriksanya, ada beberapa pesan dan panggilan dari Keenan yang dia abaikan. “Banyak dari mereka yang rela ingin mendapat nomer HP Gue dengan segala cara, dan lihat Lo, mengabaikan pesan dan panggilanku”


“Maaf, aku nggak tahu kalau kamu pulang hari ini” Drea memainkan jemari tangannya sendiri.


“Gue bawa koper sendiri” Keenan masih saja protes, membuat Drea terbenam dalam kesalahannya.


“Maaf, nggak lagi-lagi seperti ini” Drea mengucapkan permintaan maaf lagi. Keenan menahan


tawanya.


“Harusnya Lo berterima kasih atas tindakan Gue tadi. Gue bawa Lo keluar dari tempat yang nggak seharusnya Lo ada di sana. Bukankah sudah Gue bilang, jangan kluyuran”


“Mereka temanku”


“Teman? Lo masih bisa anggap mereka semua teman? Perlakuan dan perkataan mereka ke Lo. Sorry Dre, bukannya Gue ikut campur. Gue dengar percakapan kalian. Mereka bukan teman Lo” Keenan mendadak banyak bicara. “Gue nggak mau Lo terluka” kalimat Keenan yang terakhir membuat seolah ada angin kencang yang meniup rambut belakang Drea, membuat Drea tak bisa berkata apa-apa, jantungnya berdegup kencang.


Pembicaraan beralih ke dalam mobil Keenan, karena banyak orang yang mengenal Keenan. Hal tersebut membuatnya tidak nyaman, sebelum Keenan menjalankan mobilnya, Keenan memberikan Drea kesempatan untuk berbicara.


“Aku yatim piatu dari kecil, entah ini nasib atau takdir, sejak kecil hidupku penuh bully an dari teman-teman sekitarku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidak berteman dengan siapapun. Hingga aku mengenal mereka, Mandy, Nadira, dan Renata. Mereka baik, mereka menerimaku dan kita serinng menghabiskan waktu bersama-sama. Aku sedih tadi saat mendengar perkataan mereka tentangku, mungkin mereka khilaf, dan sedih lagi saat kamu mengajakku keluar” Drea melihat Keenan, Keenan menatap balik, topi dan masker sudah dilepas.


“Lalu, cowok itu?”


“Rendi, namanya Rendi, dia baik, dia temanku yang mengajak aku berbisnis, dulu aku ada usaha kecil-kecilan, dialah yang membantu hingga hidupku menjadi layak, sebelum semua yang kumiliki lenyap seperti sekarang. Dan lihat…aku harus bekerja denganmu, Keenan Sean Sanjaya. Tapi…tapi aku nggak nyesel, kamu ternyata baik”


“Apa?”


“Kata orang kamu dingin, nggak peduli, aku nggak percaya kamu melakukan semua ini”


“Gue kesini karena Gue mencari asisten Gue yang nggak patuh, yang mengabaikan perintah dan membiarkan Gue menunggu di bandara”


“Oh…aku salah”


“Kamu nggak salah” Keenan menjalankan mobilnya. Drea mendelik, apakah panggilan “kamu” dari Keenan tadi memang benar adanya, atau Drea hanya salah dengar?


“Tadi…manggil…”


saat bertemu aku”


Drea kembali tersenyum, berulang kali Keenan menyebut kata “Aku”, berarti yang dia dengarkan tidak salah. “Selamat, sudah kubilang, kamu keren”


“Setelah ini tolak semua iklan” Keenan pura-pura ngambek.


“Eh jangan, aku bisa mengajarimu bergaya” Drea tertawa, Keenan benar-benar lega melihat Drea sudah bisa tertawa seperti itu.


 ***


Mbak Aida berteriak dari jauh, seisi makhluk yang ada di lapangan memandang ke arahnya, untung saja sedang istirahat.


“Apaan sih mbak?” tanya Ardi, Ardi yang kalem sampai ingin tahu apa yang terjadi.


“Si pelaku sudah tahu belum?” Mbak Aida duduk nimbrung di antara Drea, Jerry, dan Ardi yang tengah duduk berdekatan. Sedangkan banyak pemain lain di dekat situ juga mendengarkan dan melihat hebohnya Mbak Aida. “Mana nih pelakunya? Nggak enak kalau nggak konfirmasi langsung ke sumbernya”


“Keenan?” tanya Jerry. “Dipanggil pelatih tadi, ada apaan sih mbak, gosip? Ah sudah lama dia nggak pernah masuk akun lambe lambe”


“Sudah 3 bulan” Bahkan Adi mengingat berapa bulan Keenan tidak masuk akun gosip, Drea dengan seksama mendengar. Mbak Aida mengeluarkan HPnya dan menunjukkan foto Keenan tengah berduaan dengan seorang cewek, foto selanjutnya Keenan mendapat ciuman pipi kanan kiri.


“Cuma gini doang mbak?” Tanya Jerry.


“Gini doank gimana sih, Keenan nafas dekat cewek aja udah jadi bahan gosip panas loh Jer, apalagi sampai gini. Bakalan rame ini jagat fans Keenan Sean Sanjaya. Bentar-bentar, bukannya ini bandara ya? Kok aku nggak tahu sih?”


“Udah pulang duluan kali mbak kamu” Ujar Jerry.


“Iya juga, sudah dijemput suami”


“Itu kamu Dre?” Tanya Ardi tiba-tiba, Drea yang sejak tadi menjadi pendengar setia terhenyak. Lalu dengan cepat dia menggelengkan kepalanya. “Kamu kan asistennya, kenapa nggak jemput dia?”


“Aku ada urusan waktu itu. Hanya bertemu cewek gitu sudah bisa jadi hot gosip ya Mbak?” Drea penasaran, Jerry dan Mbak Aida saling berpandangan. Drea was-was, jangan sampai ada foto Keenan di kejadian malam itu.


“Lah…dia belum nyadar Mbak, bahwa Keenan milik cewek sebangsa” Jerry tertawa, Mbak Aida ikut tertawa.


“Dia aset yang harus benar-benar dijaga Dre, kamu hati-hati, bisa-bisa suatu saat nanti kamu ketemu dengan fans dia yang bar-bar” Mbak Aida membuat Drea bergidik, Jerry dan Ardi tertawa. “Ah bodo amat, tapi dengan kembalinya gosip tentang dia, itu artinya dia semakin membaik guys, setidaknya psikolog di sini nggak puyeng lagi”


“Eh Mbak, bisa kamu tulis mbak, mereka sudah saling follow” Jerry tetawa, Drea menatap Jerry dengan wajah cemberut.


“Baik Jer, biar pada kebakaran nanti”Mbak Aida tak kalah jail mengusili Drea. Jerry dan Mbak Aida tertawa ngakak, Drea cuma bisa mendengus.


Mereka meninggalkan Drea sendiri karena harus kembali ke aktivitas masing-masing, untuk mengusir rasa jenuhnya menunggu Keenan, Drea berdiri dan berjalan di sekitar luar gedung sambil membuka beberapa berita online, Drea mengetik kata kunci Keenan. Banyak berita muncul dengan headline,”Keenan dan seorang perempuan diduga pacarnya”.


“Dia benar-benar atlet sekaligus selebritas” Drea menggumam. Banyak komentar dari para penggemar yang merasa patah hati karena Keenan bersama cewek. “Mereka patah hati padahal tidak memiliki, bisa ya?” Drea kembali menggumam.