My Special One, Keenan

My Special One, Keenan
Part 15


Drea bergegas masuk rumah ketika Burhan memberitahukan jika Keenan sudah berada di rumah sejak beberapa jam yang lalu. Drea menepuk dahinya, seharusnya dia bertanya apakah Keenan mau dijemput atau tidak. Sejak menerima berita kekalahan Keenan pada babak pertama, Drea ciut nyali tidak berani bertanya, baik melalui pesan maupun telepon. Ketika hampir sampai di ruang keluarga, langkah Drea terhenti karena melihat seseorang yang keluar dari ruangan tersebut, yang tak lain adalah Papa Keenan. Drea mengangguk memberikan hormat seraya tersenyum, namun Papa Keenan hanya melihat sekilas tanpa memberikan senyum balasan untuk Drea.


Drea terpaku saat melihat Keenan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, “Apa yang sedang terjadi?” Gumamnya pelan, dia masih berdiri mematung di jarak 3 meter dari Keenan duduk. Hatinya berdegup, apa yang harus dia lakukan? Apakah harus menghampiri atau membiarkan Keenan menenangkan diri dulu?.


Sejak kekalahan Keenan di babak pertama, headline berita di berbagai media membahas tentang skandal kencan Keenan dengan Nuca. Hal tersebut dikait kaitkan dengan kekalahan Keenan. Bahkan beberapa netizen dengan garangnya menghujat Keenan. Apakah karena itu Keenan terluka?. Drea berani mendekati Keenan dan duduk di sebelah Keenan, Keenan membuka tangannya. Terlihat wajah Keenan sembab, air matanya masih terlihat di kedua matanya. Drea menatap Keenan tanpa berbicara. Keenan menyandarkan kepalanya di bahu Drea. Drea kikuk, membiarkan kepala Keenan bersandar, tangannya dengan ragu menepuk pundak Keenan.


“It’s Ok Keenan….It’s Ok” Drea menenangkan, Keenan masih terdiam di bahu Drea. Hanya ini yang bisa dia lakukan untuk menenangkan Keenan dari masalah yang dia hadapi sekarang.


“Mungkin aku adalah alasan mengapa Kim meninggal” Ujar Keenan lemah, suaranya parau”


“Apa?” Drea meyakinkan apa yang dia dengar. Dia tahu nama Kim, Kim adalah kakak Keenan yang meninggal karena kecelakaan.


Keenan menarik kepalanya dari bahu Drea, dia sendiri tidak tahu apa alasannya mengapa harus bersandar di bahu Drea. Dia hanya merasa lukanya kembali setelah tahu tentang fakta kematian Kakaknya. “Kakakku meninggal bukan karena kecelakaan, tapi karena bunuh diri”


Drea ternganga mendengar kalimat terakhir Keenan, “Apakah ini fakta yang sebenarnya? Atau hanya asusmi kamu?” Drea menegaskan.


“Aku yang membunuhnya Dre…karena Papa yang selalu membandingkan Kim dengan aku, aku yang tidak peka dengan apa yang dirasakan Kim selama bertahun-tahun. Dan pada akhirnya dia menyerah dengan semua ini”


Drea menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sebenarnya dia tidak percaya bahwa Kim benar-benar bunuh diri, mungkin akibat tekanan yang dia dapatkan. Seharusnya orang terdekat memberikan motivasi, namun malah memberikan banyak tekanan pada Kim. Dia paham apa yang dirasakan Keenan sekarang.


“Aku benar-benar merasa bersalah” Ujar Keenan sambil sesenggukan. Drea kembali menepuk pundak Keenan hingga beberapa saat.


“Jangan sampai media tahu, atau Papa yang akan hancur” Keenan berharap, tidak ingin menambah luka di hati Keenan. Drea tidak ingin menggali apa yang sebenarnya ingin dia ketahui tentang kematian Kim. Dia hanya akan mendengarkan jika Keenan dengan sukarela menceritakan hal ini.


“Semoga” Drea tersenyum. Keenan nampaknya juga sudah agak lega, mimik wajahnya sudah terlihat lebih sumringah daripada tadi. Drea lega. “Harusnya kamu tidak usah membuka media sosial” Ujar Drea tiba-tiba. Keenan menaikkan kedua alisnya tanda tidak mengerti arah ucapan Drea.


“Kamu darimana? Kebiasaan mengapa tidak menjemput setelah aku pulang turnamen?” Keenan melipat kedua tangannya di dadanya.


“Itu…itu aku…karena aku tidak tahu kapan kamu akan pulang”


“Lalu darimana kamu?”


“Aku bertemu teman, mungkin semua asetku akan segera kembali” ujar Drea semangat. Keenan kaget melihat Drea begitu semangat.


“Aku turut senang” Keenan tersenyum tipis. “Lalu apa maksud kamu melarangku membuka media sosial? Bukankah aku juga harus bekerja dari sana juga?” Keenan mengernyitkan dahi.


“Oh…itu karena…karena aku takut kamu akan membasahi lengan bajuku lagi karena tangisanmu, karena membaca komenan para netizen ke kamu atas kekalahan kamu” Drea nyerocos. Keenan tersenyum, kali ini agak lebar. Terlihat barisan giginya yang putih, tentu saja senyumnya terlihat sangat manis.


“Hah syukurlah” Drea lega


“Kenapa? Kamu khawatir tentang aku?”


“Ah…enggak, ya gimana ya. Yang penting kamu baik-baik saja”


“Ayo pergi” tanpa menunggu persetujuan dari Drea, Keenan berdiri dari sofa ruang keluarga dan menuju kamarnya untuk bersiap-siap pergi bersama Drea.


 ***


Drea dan Keenan berada di area pemakaman, Drea mengok kanan kiri dan mengingat sesuatu. Keenan sudah berada di dekat pusara yang bernama Kim Ananta S. Keenan meletakkan Bungan dan sejenak menundukkan kepala untuk berdoa. Drea mengikuti Keenan dan jongkok di depan Keenan. Drea juga meletakkan bunga dan menyiramkan air di makam tersebut. Hatinya berdesir, dia pernah kesini sebelumnya.


“Maafkan aku Kim, ini semua salahku, aku yang tidak pernah peka menjadi saudaramu, aku yang seolah tidak peduli denganmu, andai waktu bisa kembali, aku akan lebih peduli padamu. Kali ini aku akan melindungi Papa dan menyadarkan Papa. Semoga kamu tenang di sana, maaf” Keenan kembali mengulang permintaan maafnya kepada


Kim. Drea diam saja mendengarkan Keenan. Dia bersyukur Keenan sudah kembali tenang dan menguasai emosinya.


“Aku akan lebih sering datang kesini Kim, doakan semoga aku bisa meluluhkan hati Papa” Keenan menambahkan kalimatnya sebelum pulang.


“Amin” Drea menyahut. Mereka berdiri dan bersiap meninggalkan makam. Drea menengok ke belakang, tempat di mana dia merasa pernah ke tempat ini. Tidak salah lagi, ini adalah makam yang dia datangi bersama Rendi.


“Apa Kim adalah teman Rendi?” Tanya Drea saat sudah berada di dalam mobil Keenan. Keenan diam sejenak sambil melepas kacamata hitamnya.


“Kenapa?” Jawab Keenan kemudian. Dia tidak kaget karena kenyataannya memang seperti itu


“Aku pernah kesini, hari di mana kakakmu dimakamkan”


“Berarti kamu tidak salah” Jawab Keenan, mobil sudah melaju ke jalan raya.


“Berarti, saat melihat kamu di teras rumah kamu pertama kalinya itu, dan aku mengatakan tidak asing dengan wajah kamu itu…” Drea tidak melanjutkan kalimatnya. Dia tertawa kecil, dia baru sadar mengapa dia merasa tidak asing dengan wajah Keenan. Hal itu karena dia pernah melihat Keenan di pemakaman Kim. “Tapi…aku tidak pernah tahu kalau ternyata teman Rendi itu adalah kakakmu”


“Kamu kenal Kim sebelumnya?”


“Ehm…cuma lihat, tidak sampai akrab atau kenalan, Rendi sendiri tidak pernah memperkenalkan dia ke aku atau teman yang lainnya”


Mobil Keenan berhenti di depan rumah yang hampir mirip dengan rumah Keenan, hanya saja rumah tersebut agak lebih besar. Keenan turun dari mobil dan membuka pintu pagar rumah tersebut agar mobilnya bisa masuk. Drea dan Keenan turun setelah mobil berhenti di dpan rumah yang bercat putih tersebut.