
Drea dan Rendi bertemu di sebuah café sesuai janji pertemuannya tadi, setelah sekian lama selalu gagal. Akhirnya mereka bisa bertemu hari ini. Meski dalam hati Drea agak mengganjal karena merasa melanggar pesan Keenan untuk tidak bertemu dengan Rendi.
“Apakah kamu selalu sesibuk ini dan tidak memiliki banyak waktu sekarang?” Tanya Rendi.
“Maksudnya?” Drea balik bertanya.
“Iya, sejak kamu bekerja dengan Keenan” Rendi menyebut nama Keenan, sontak Drea agak terkejut dan menatap Rendi. “Kenapa? Kaget?” Rendi tersenyum. “Aku baru tahu kalau kamu kerja sama dia, aku minta maaf Dre, harusnya aku bisa melindungi kamu” Rendi seolah menyesal.
“Iya, aku kerja sama dia sekarang, dan aku merasa lebih baik setelah kehilangan semuanya” Drea menatap Rendi tajam, Rendi masih tersenyum.
“Maafkan aku Dre”
“Bukan salahmu” jawab Drea singkat, lalu mengambil gelas yang berisi minuman, sesaat menyesapnya.
“Dre…aku minta maaf, aku belum bisa mengembalikan semua asetmu”
“Aku bilang bukan salahmu” Drea masih seolah melindungi Rendi, orang yang dia tahu sebagai salah satu yang ikut investasi di usahanya.
Rendi nampak ragu mengungkapkan, beberapa saat dia diam, menatap Drea, lalu mengatur nada bicaranya agar Drea tidak akan marah.
“Kenapa Ren? Ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan lagi selain kita belum berhasil mengembalikan aset?” Tanya Drea, dia mengetahui Rendi sedang gelisah.
“Dre…selama ini aku hanya pelaksana saja, aku tidak pernah berinvestasi di usaha kamu” Rendi membuka pembicaraan. Drea mencoba mencerna, dan mulai memahami. Dia tahu Rendi memang cerdas, dia pandai dalam menjalankan roda bisnis, tak masalah bagi Drea dengan pengakuan ini, meskipun dia agak terkejut. “Aku tidak punya apapun untuk ikut andil dalam usaha kamu yang kamu rintis dan berkembang itu, aku bohong sama kamu” ujar Rendi.
“Dan pada saat bisnis kamu sedang bagus-bagusnya, sedang semangatnya kamu, datanglah teman-teman kamu, Nadira, Mandy dan Renata, yang kamu anggap sahabat” Drea mendengarkan kelanjutan pengakuan Rendi. “Hingga akhirnya aku dekat dengan salah satunya”. Rendi terdiam sesaat, Drea memperhatikan raut wajah Rendi.
“Nadira?” Drea menebak, dan tebakan itu tidak salah, Rendi mengangguk.
“Kamu sangat akrab dengan mereka dan seolah sudah kenal sangat lama, bahkan kamu tidak pernah peduli bagaimana mereka bersikap di belakangmu, hingga mereka menipumu” Rendi membuka rahasia yang tidak Drea ketahui sama sekali.
“Maksudmu?” Drea ingin mempertegas penjelasan Rendi agar dia mudah mencernanya.
“Iya, mereka menipu kamu hingga semua aset kamu disita bank, dan aku nggak bisa berbuat aoa-apa”
Mata Drea memerah, Rendi, orang yang selama ini dia kenal, dia percaya dengan segenap kepercayaannya, ternyata tega menghianatinya. Air mata Drea meleleh, marah dan kesal campur aduk dalam hatinya.
“Sorry Dre, aku janji aku akan mengembalikan semuanya, biar aku kumpulkan bukti-bukti untuk menjerat mereka” Rendi berusaha menenangkan Drea, tangannya mencoba menggenggam tangan Drea, namun Drea menepis dan menarik tangannya.
“Ren, setelah bertahun tahun aku percaya sama kamu, aku tidak memperasalahkan jika hanya ternyata hanya aku yang memiliki modal itu dan kamu menjalankan usahaku, tapi tidak kali ini” Drea menahan air matanya agar tidak semakin banyak yang mengalir.
“Maaf Dre…”
“Setelah kamu dicampakkan Nadira, kamu baru mengatakan ini semua” beberapa hari yang lalu media pemberitaan memang dihebohkan dengan berita kedekatan Nadira dengan seorang artis. Itu artinya Rendi sudah tidak lagi dibutuhkan oleh Nadira. Rendi hanya terdiam, berharap Drea memaafkannya. Tapi nampaknya Drea sangat terlihat
marah.
Drea tahu, ini adalah alasan mengapa Keenan selalu mengatakan agar dia berhati-hati, dia tahu sekarang, bahwa orang yang selama ini dia anggap sahabat ternyata tak lebih dari seorang penghianat. Drea mengusap air mata yang sudah tidak bisa dia tahan lagi, Drea berdiri dan keluar meninggalkan Rendi. Rendi hanya menunduk, teringat akan peringatan Keenan padanya.
Setelah melihat Drea pulang dengan mengendarai taksi online yag dipesannya, Keenan tak lantas masuk ke dalam asrama. Keenan membuka HP dan menuju lokasi di mana dia akan ketemu dengan Rendi. Beberapa menit dia sampai di tempat yang mereka setujui. Keenan memakai topi dan masker saat berada di café yang Rendi sepakati. Dia tidak ingin ada berita lagi tentang dia.
“Lo memilih tempat yang begitu manis, sayangnya bukan Drea yang kesini” Keenan seolah menyindir.
“Gue tahu semua tentang kakak Lo” Balas Rendi. Keenan terkejut, tapi menahannya, dia tidak ingin seolah Keenan ingin tahu segalanya. “Gue tahu semua”
“Jadi maksud Lo menghubungi ini untuk itu?” Tanya Keenan setenang mungkin.
“Salah satunya, tapi sebelum Gue cerita tentang kakak Lo, Gue pengen tahu, sudah berapa lama Drea kerja sama Lo?”
Keenan tersenyum tidak segera menjawab pertanyaan Rendi, Rendi memainkan sedotan yang ada di gelas minumannya.
“Gue fikir tidak akan pernah berhubungan dengan Lo, tapi ternyata takdir menggiring kita untuk bertemu lagi setelah pemakanan kakak Lo beberapa bulan lalu” tambah Rendi, Keenan menatap Rendi tajam, dia merasa tidak mengenal Rendi sebelum ini, bahkan kakaknya tidak pernah bercerita tentang temannya yang bernama Rendi. “Kenapa? Lo kaget? Kim Ananta Sanjaya kakak Lo kan?” Tanya Rendi lagi.
“Darimana Lo kenal kakak Gue?”
“Tidak udah kaget, Lo belum jawab pertanyaan Gue tentang Drea”
“Sebelum Gue jawab, Lo jelaskan semuanya” ujar Keenan tegas.
“Kakak Lo yang selalu terintimidasi oleh Lo, kakak Lo yang selalu dibanding-bandingin dengan Lo yang penuh dengan prestasi. Dan Lo tahu kenapa kakak Lo meninggal? Dia meninggal bukan karena kecelakaan, tapi disengaja” ucapan Rendi yang terakhir membuat telinga Keenan menjadi panas, dia tidak ingin mempercayai apa yang diucapkan Rendi.
“Kakak Lo sebenarnya tidak pernah ingin menjadi atlet, itu hanya kemauan Papa Lo, dia lebih menyukai otomotif” Penjelasan Rendi terasa masuk akal, Kim sering bercerita kepada Keenan jika sudah pension jadi atlet, dia ingin membuka bisnis yang berkaitan dengan otomotif. “Papa Lo yang selalu memberikan tekanan dan membandingkan dengan Lo, membuatnya frustasi, ditambah lagi prestasi kakak Lo yang tidak sebagus prestasimu”
“Lalu buat apa Lo menceritakan semua ini ke Gue?” Keenan menahan emosinya.
“Biar Lo tahu, seberapa menderitanya kakak Lo , Gue memang teman kakak Lo, hanya saja Gue tidak pernah terlihat, bahkan Lo nggak tahu Gue, Gue hadir di pemakaman kakak Lo, Gue tahu segala curahan hati kakak Lo. Tapi semua itu nggak penting buat Gue, Gue hanya kasihan sama nasib kakak Lo yang tragis”
Ingatan Keenan kembali pada peristiwa beberapa bulan lalu, saat dia mendengar berita bahwa kakaknya meninggal tragis dalam sebuah kecelakaan. Betapa hancurnya dia melihat kenyataan tersebut, Kakak yang dia sayangi, meskipun Keenan dan Kim tidak terlalu dekat. Memang, Kim yang sama-sama berprofesi sebagai atlet, prestasinya tidak sebagus Keenan yang hampir selalu naik podium setiap tahun. Papa mereka selalu saja membandingkan, Keenan tidak suka dengan keadaan itu, tapi Papanya tidak pernah mau tahu. Dia terus saja membandingkan Kim dan Keenan.
“Drea…bagaimana dengan dia?” Rendi membuyarkan lamunan Keenan tentang masa beberapa bulan yang lalu, hatinya kelu jika apa yang dibicarakan Rendi adalah sebuah kebenaran. Apakah mungkin Kim yang dia kenal selalu diam dan baik-baik saja memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu.
“Dia sudah kerja sama Gue beberapa bulan yang lalu”
“Kembalikan dia ke tempat asalnya” pinta Rendi. “Gue nggak mau terjadi apa-apa sama dia” tambah Rendi, Keenan tidak mengerti apa yang dikatakan Rendi dengan kalimat terjadi apa-apa.
“Dia baik-baik saja, Gue hanya takut jika dia kembali ke asalnya, dia akan terluka” jawab Keenan. Rendi tersenyum sinis.
“Lo mau berita kematian kakak Lo naik lagi?” Rendi mengancam, Keenan menatapnya tajam, sadar akan ancaman Rendi.
“Bagaimanapun usaha Lo, Gue nggak akan membiarkan semua itu terjadi, dan ingat, Drea akan tetap berada di tempatnya sekarang sambil menunggu kebenaran terungkap” Keenan seolah mengancam balik. “Gue tahu kalau semua ini ada hubungannya sama Lo dan kawan-kawan Lo”
“Jangan menuduh tanpa bukti”
“Kita lihat saja nanti” Keenan membuat perhitungan.