
Keesok harinya, Drea memulai pekerjaan pertamanya sebagai asisten yang bekerja mencuci baju Bosnya, Bos yang sampai detik ini belum pernah dilihatnya. Drea agak kesulitan dengan pekerjaan ini,
maklum, sudah lama dia tidak pernah mencuci bajunya sendiri.
‘’Pekerjaan ini, nggak berat, dan aku akan melakukan yang terbaik, hasil cucianku pasti bersih dan wangi” ujar Drea
sambil menyelesaikan jemuran terakhir. Drea bertepuk tangan sambil menghela nafas lega. Setidaknya cucian 2 ember besar sudah selesai.
“Uh…tidak bisa membayangkan andai saja mencuci menggunakan tangan” Drea membereskan ember yang baru saja dibersihkan dengan air, lalu meletakkan di samping mesin cuci. “Hampir yang kucuci adalah
kaos, kaos olahraga yang bertuliskan Keenan S.S.
“Mungkin bosku pemain sepakbola, volly, atau dia hanya gemar mengoleksi kaos jersey semacam ini?” Gumam Drea.
Pekerjaan pertama selesai, Drea harus menunggu cucian kering sebelum melanjutkan untuk menyetrikanya. Drea beringsut menuju depan kamarnya, bercermin dan melepas tali rambutnya. Membiarkan rambutnya tergerai.
“Meskipun keadaanku sedang tidak bagus, tapi aku harus tetap kelihatan cantik seperti biasanya” Drea tersenyum
berbicara pada dirinya sendiri di cerrmin. Karena kamarnya terletak di samping, Drea bisa melihat teras depan dari posisi dia berdiri sekarang. Dilihatnya seseorang yang sedang duduk di teras sambil membawa ransel dan memainkan HP. Drea mendekatinya lalu tanpa ragu duduk di sebelahnya, namun cowok itu tak bergeming dan masih asyik dengan layar HPnya.
“Ah….kamu pasti asisten baru ya?” Drea sudah duduk di bangku kosong. Cowok itu masih saja sibuk dengan HPnya tanpa menoleh ke Drea. “Kamu pasti gantinya Mas Dewo, eh tapi kenapa aku nggak asing dengan wajah kamu ya…oh mungkin kamu dulu salah satu pelanggan caféku” Drea masih nyerocos dengan semangatnya. “Hah…nanti kita bisa jadi teman baik, kita bisa bekerja sama untuk Bos kita, yang aku sendiri belum tahu siapa orangnya, seperti apa, baik atau tidak, keren atau tidak. Tapi sepertinya dia belum beristri, dan sepertinya dia seorang atlet, atau mungkin dia hanya hobby dengan olahraga tertentu” Drea menatap cowok itu, wajahnya heran, kenapa lawan bicaranya itu masih saja diam tanpa ingin membalas ucapannya.
“Ngomong-ngomong, nama kamu siapa? Aku Drea, kalau boleh bilang, aku kerja di sini sebagai pengalaman pertama, benar-benar pengalaman pertama menjadi ART. Aku dulu pernah kerja jadi asisten toko, penjual makanan juga pernah, tapi untuk urusan cuci mencuci, ini benar-benar pengalaman pertamaku” Drea menghitung dengan jarinya sambil mengingat-ingat pekerjaan apa saja yang pernah dia lakukan. “Dan kamu tahu? Pagi ini dimulai
dengan mencuci baju yang banyak banget” Drea memperhatikan tangannya, terasa panas kena detergent. “Tanganku panas, karena aku tidak terbiasa, ah tapi tak apa aku akan bersemangat bekerja di sini, semoga kamu juga kerasan, aku akan sangat senang punya teman kerja yang ganteng seperti kamu” Ujar Drea cekikikan sendiri, cowok itu menoleh sejenak, memperhatikan Drea dengan tatapan heran, lalu kembali lagi ke layar HPnya. “ Dan lagi, kamu adalah cowok yang sepertinya tak mudah dirayu”
“Mak….Mak Nah…..” teriak cowok itu. Mak Nah mendekati sumber suara dengan sedikit berlari, Drea menatap Mak Nah penuh tanya, lalu menatap cowok yang duduk di sebelahnya.
“Iya Mas" jawab Mak Nah singkat.
“Mas? Apakah Mak Nah sudah kenal dengan cowok yang di sebelahku?” Drea menggumam pelan.
“Nanti tidak usah siapkan makan siang, aku pulang malam”
“Siap Mas”
“Iya Mas, Mas Keenan mau pergi sekarang?” Tanya Mak Nah, Drea terkejut, seolah dia hafal dengan nama yang diucapkan Mak Nah. KEENAN. Drea menutup mukanya dengan tangan kanannya. Sedari tadi yang diajak
ngobrol nggak jelas adalah bosnya. Malunya lagi dia terang-terangan bilang jika wajah cowok yang tak lain adalah bosnya itu ganteng. dengan gaya santai, dia mundur teratur dan kembali ke kamarnya. mukanya terasa panas, mungkin terlihat memerah jika dia melihat dari cermin, tapi tak dilakukannya. dia terlalu malu.
Flashback 2 hari yang lalu
Lima orang lelaki datang ke rumahnya, dua 2 di antaranya layaknya seorang preman yang siap menebas siapapun yang menolak perintahnya.
“Maaf, kita harus melakukan ini” Ujar lelaki dengan memakai jas warna hitam itu halus, sambil menyerahkan secarik
kertas kepada Drea yang duduk tenang di ruang tamu.
Lelaki lainnya duduk di sofa samping Drea, sementara dua preman berdiri sambil melipat tangan di dada. Drea melirik keduanya secara bergantian.
“Usaha café dan restoran milik anda mengalami kolaps dan keputusannya kami harus menyita semua properti milik anda” Ujar lelaki yang tidak memakai setelan jas resmi, dia memakai kacamata, dan tak kalah ramah dengan yang sberbicara tadi.
“Apa saya tidak memiliki kesempatan untuk melakukan penyelidikan mengapa ini bisa terjadi?” tanya Drea tenang.
“Tidak bisa, mohon maaf, ini sudah prosedur dari Bank, jika ingin melakukan, maka lakukan di luar ini, kami tidak
bisa ikut campur”
“Saya mengerti” Drea menarik nafas panjang.“ Lalu kapan saya harus meninggalkan rumah ini?”
“Besok lusa” Ujar pria berjas tadi.
Beberapa saat Drea terdiam, mengambil secarik kertas di atas meja, membaca ulang, dan tetap saja, semuanya, semua yang Drea miliki harus menjadi milik Bank.
“Tolong, saya akan melakukan yang terbaik untuk membuatnya semua kembali normal, jangan sampai rumah saya jatuh ke pihak lain”
“Akan kami usahakan, tapi kami tidak bisa berjanji”
Rumah yang menjadi impiannya sejak lama, rumah yang dengan usaha kerasnya dia bangun, rumah yang setiap sudutnya dia desain sendiri, kini harus rela untuk dipindah tangankan dengan terpaksa kepada pihak lain. Drea tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya, ini benar-benar mimpi buruk. Kini, dia tak memiliki apapun.