My Special One, Keenan

My Special One, Keenan
Part 4


Drea sudah siap di teras depan menunggu Keenan, dimulai sejak bangun tidur tadi, dia sudah menyiapkan mentalnya agar kejadian kemarin tidak meracuni pikirannya. Sudah hampir 5 menit Drea menunggu, dipangkunya tas raket dan baju ganti. Digerak-gerakkan kakinya, sebagai usaha menghilangkan rasa groginya. Terdengar derap kaki melangkah semakin mendekat, jantung Drea berdebar kencang. Apa yang harus dikatakan oleh Drea, apakah dia harus meminta maaf? Atau menganggap kejadian kemarin sudah benar-benar hilang dalam ingatannya?. Tanpa berkata, Keenan menuju mobilnya dan membuka pintu, sejenak dia memandang Drea, seolah menyuruh Drea mengikutinya. Dengan sigap Drea membawa barang bawaan Keenan dan mengikutinya. Namun sejenak Keenan berdiam diri menatap Drea tajam, Drea jadi salah tingkah.


“Apakah aku terlihat menawan hari ini? Ah tentu saja, aku udah dandan maksimal agar tidak malu-maluin” Drea membatin. Keenan masih saja menatap Drea.


“Apa Lo  mau berangkat dengan sandal dan sepatu itu?” Keenan menjelaskan kode pandangannya secara gamblang. Drea spontan melihat ke arah kaki, sebelah kanan sepatu dan kiri sandal jepit. Sontak saja mukanya


memerah dan tersenyum paksa demi menutupi rasa malunya, lantas dia memberikan bawaannya Keenan. Keenan kaget menerima barang bawaan Drea yang ternyata lumayan berat dengan sedikit terkejut. Drea lari secepat kilat menuju kamarnya untuk berganti sepatu.


“Ah….memalukan sekali. Oh Tuhan mengapa hidupku jadi begini” Gerutu Drea


Keenan memilih untuk menyetir sendiri mobilnya, sementara Drea duduk di sebelahnya. Drea benar-benar mati


kutu, di dalam mobil yang sudah melaju, tak ada percakapan yang terjadi.


“Aku……aku minta maaf soal kemarin, aku nggak tahu kalau….”


“Setelah Gue menyelesaikan latihan, lo bisa pulang” Keenan memotong pembicaraan Drea, Drea tercekat. Baru kali ini dia merasa kikuk di depan orang lain. Diingat-ingatnya perkaaan Mak Nah yang sedikit memberikan pengarahan, nanti Drea bisa pulang dengan membawa barang yang Keenan suruh bawa, karena Keenan di hari aktif  biasanya akan menginap di asrama, dan dia akan pulang saat weekend. Keesok harinya, Drea harus kembali ke tempat di mana Keenan latihan, menunggunya dan kembali membawa barang yang harus dia bereskan.


“Baik….” Drea mengiyakan, sambil memandang ke arah Keenan, namun Keenan tak peduli dan fokus melihat ke jalan. “Panggil saja aku Drea…..aku manggilnya gimana ya?” Drea tersenyum kikuk, bagaimanapun orang di sampingnya adalah bosnya saat ini. Drea ingin mengumpat, andai saja dia bukan bosnya saat ini, karena saking menyebalkan sikapnya.


Keenan menoleh sejenak, mereka bertatap mata. Mata yang tajam dan membunuh dirasakan Drea, Drea menelan


ludahnya. “Keenan” jawabnya singkat. Drea memahami, karena usia mereka sebaya, semalaman Drea mencoba mencari tahu tentang Keenan dan seluk beluknya. Setelah sekitar 1 jam, mobil memasuki arena gedung yang sangat luas. Drea turun dari mobil mengikuti Keenan sambil membawa barang Keenan. Meskipun sedikit


kerepotan, tak ada reaksi bantuan dari Keenan, Drea tergopoh.


***


Sementara di dalam sudah ada beberapa yang melakukan pemanasan untuk latihan, ada banyak lapangan, dan suara derit sepatu yang tergesek di lapangan begitu nyaring terdengar.


“Waah……siapa nih?” tanya cowok berambut pirang. Keenan mengabaikannya, lalu duduk di samping cowok itu,


sedangkan cowok yang satu lagi hanya tersenyum memandang Keenan tanpa berkomentar.


“Cewek lo?” ujar cowok itu lagi. Drea terkesiap, peluh cowok yang dilihatnya itu bercucuran, seolah baru saja melakukan olahraga pagi. Dia mengambil tempat duduk agak jauh dari gerombolan cowok asing yang baru saja


dilihatnya itu. “Siapa sih?” tanya dia lagi. Terlihat di punggung jerseynya tertulis nama Jerry sedangkan yang satunya ada tulisan namaya Ardi.


“Gantinya Mas Dewo” Jawab Keenan datar, dia sambil duduk membenarkan sepatunya dan mulai melakukan pemanasan ringan.


“Gila lo, cewek, cantik lagi, nemu di mana?” ujar Jerry masih saja nyerocos. Drea mendelik.


“Dikira aku barang apaan pake nemu di mana?” umpat Drea dalam hati.


“Menang banyak lo bro….” Ujar Jerry tertawa disambut Ardi.


 Drea menghabiskan waktu di pinggir lapangan dan mengamati sekitar, di sinilah tempat para atlet Nasional


digembleng, di sinilah para juara itu lahir. Ada rasa bangga dia bisa berada di tempat seperti ini. Beberapa kali ada beberapa atlet yang lewat, Drea tersenyum tanda menyapa, begitu juga dengan para atlet memberikan balasan senyum kepada Drea.


“Iya….bentar…..gue lagi nunggu Keenan nih buat wawancara” Suara perempuan itu sambil memegang HP yang menempel di telinganya, Perempuan itu mendekat ke arah Drea duduk, lalu perempuan itu mengangguk senyum dan duduk di samping Drea. “Iya bentar lagi selesai latihannya, udah nanti aku kabari lagi deh, daaah” perempuan itu menutup pembicaraan.


“Hai…..mbak dari wartawan mana nih?” tanya perempuan itu ramah, Drea tersenyum. Melambaikan tangan kanannya yang artinya dia bukan wartawan seperti yang dimaksud.


“Oh….lalu?”


“Ceweknya Keenan mbak” Teriak Jerry dari jauh, namun dia berjalan mendekat karena latihan telah selesai. Drea


terkesiap dan lagi-lagi melambaikan tangannya.


“Wah…bakal jadi berita besar nih” Ujar perempuan itu cekikikan, Drea melirik Keenan yang tak peduli dan tidak


bereaksi apapun.


“Asisten, ya….aku asisten barunya Keenan”


“Oh….., oh ya kenalin nama gue…eh aku aja ya biar kita makin akrab gitu, kan kita bakalan sering ketemu ya kan?


“Drea” Drea mengulurkan tangannya.


“Jerry” cowok tengil yang dari tadi nyerocos memperkenalkan dirinya, dilanjutkan dengan Ardi.


“Mereka itu bocor semua Dre……jangan kaget dan jangan sampe kamu jantungan gegara mereka, mereka semua teman karibnya si itu” Mbak Aida menunjuk Keenan dengan hanya memajukan wajahnya.


“Termasuk dia yang bocor, dan ingat….dia pencetus skandal-skandal yang ada di sini, jadi kamu harus


hati-hati, terlebih kalau dekat-dekat dengan Keenan. Sudah tahu kan siapa Keenan?” Jerry masih saja membual, Mbak Aida dan Ardi menahan tawa. Sementara Keenan yang duduk menjauh dari mereka hanya diam saja sambil menyelonjorkan kaki.


“Gila kalian, kalian pikir aku wartawan yang suka menghibah gitu? jangan merusak citra wartawan ya”


“Lha apa mbak?” tanya Ardi


“Ya kadang-kadang sih keinginan pribadi, bukan profesi, makanya jangan jomblo trus, nanti banyak gosip nggak bener, cari pacar yang beneran nanti bakalan nggak ada gosip” Mbak Aida tak kalah semangat.


“Ya kali mbak bebas gosip, yang ada malah panas”


“Neraka kali Jer” balas Mbak Aida. “Eh gara-gara kalian ya…aku sampai lupa harus wawancara Keenan”. Mbak Aida beranjak dari sebelah Drea lalu duduk di samping Keenan dan mereka pun bercakap


seperti biasa.


 Drea masih duduk sambil menunggu Keenan selesai wawancara dengan Mbak Aida, Jerry dan Ardi masih duduk di dekat Drea.


“Sejak kapan kerja bareng Keenan?” tanya Jerry sambil melepas sepatunya.


 “Baru kemarin lusa”


“Wih baru banget, tumben-tumbenan tuh anak langsung akrab sama orang?” Jerry heran, begitu juga Ardi.


 “Akrab?” Drea penasaran.


“Iya…mana mau dia ada asisten yang sekiranya dia percaya banget dan dia nyaman?”


 “Mas Dewo?” tanya Drea


“Iya dulunya juga Mas Dewo kan kerja di rumah dulu, lama gitu baru jadi asisten dia, nggak gampang itu anak. Makanya hati-hati” ujar Jerry tertawa menyeringai, Ardi hanya menggeleng sambil tertawa kecil. Mereka berdua teman yang sudah sangat akrab dan mengetahui segala seluk beluk Keenan.


Ardi pamit untuk kembali ke asrama terlebih dahulu, sementara Jerry masih duduk menemani Drea yang menunggu Keenan wawancara. Sesekali Drea melihat Keenan dan Mbak Aida berbicara.


“Kasihan sih dia itu akhir-akhir ini” Jerry memulai percakapan lagi, kali ini dengan wajah yang sedikit serius.


“Sering kalah?” ceplos Drea, Jerry menggeleng.


“Nggak tahu?” giliran Drea menggeleng mendengar pertanyaan ini dari Jerry.


“Serius? Kamu dari planet mana sih sampai nggak kenal dan nggak tahu dia?”


“Memang harus?”


“Hasshhhh, kamu……kamu memang beda dari cewek lain, ya sudah itu pangeran Keenan sudah selesai wawancaranya, kita lanjutkan kapan-kapan saja ngobrolnya, bye…..” Jerry menggantung ceritanya dan membawa semua peralatannya kemudian pergi meninggalkan Drea.


Keenan datang menghampiri Drea, melepas sepatu dan kaos kakinya, lalu menaruh ke dalam tasnya.


“Lo bisa bawa pulang ini dan membereskannya di rumah, besok pagi kesini lagi dan bawa yang baru”


“Iya” jawab Drea singkat, setelah mengatakan itu, Keenan mengambil tas berisi raket lalu meninggalkan Drea, baru


beberapa langkah Keenan berjalan.


“Arah keluar mana ya?” Tanya Drea, Keenan berhenti seketika, menatap Drea dan kembali ke tempat semula. Lalu


berjalan ke arah keluar, Drea mengikuti Keenan sambil memperhatikan arah keluar, karena ini pengalaman berada di tempat ini dan dia masih bingung.