My Special One, Keenan

My Special One, Keenan
Part 3


Mak Nah dan Burhan tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Drea, wajah Drea mendadak kusut menahan malu. Drea menelungkupkan wajahnya di meja tempat mereka makan.


“Kenapa kalian nggak kasih kode sih?” Drea protes, Burhan dan Mak Nah masih saja tertawa terbahak-bahak.


“Biarkan kalian akrab” Mak Nah membereskan piring kotor, memindahkannya ke tempat cucian piring. Burhan


menyeruput kopi, pipinya masih sakit karena tertawa.


“Maaaak…..” Drea merajuk, pipinya bersemu merah.


“Lagian kamu, kenapa nggak nanya?” Burhan meletakkan cangkir kopi yang disesapnya, lalu kembali tertawa.


“Kamu juga, nggak berhenti tertawa dan meledekku, aku malu banget” Drea menutup mukanya dengan kedua tangannya. “Eh…tapi bos kita mengapa keren gitu” Ujar Drea sesaat setelah membuka kedua telapak tangannya. Burhan melotot, Mak Nah tersenyum ke arah Drea. Drea tersenyum senyum sendiri.


“Kamu beneran nggak tahu siapa dia?” tanya Burhan, kali ini serius. Drea menggeleng, dilihatnya wajah Mak Nah dan Burhan bergantian. Tatapan Mak Nah dan Burhan mendadak heran.


“Serius?” tanya Burhan meyakinkan dirinya sendiri.


“Kalau sampai aku tahu siapa, nggak mungkin juga kejadian tadi pagi terjadi. Lagian aku nanya ngoceh ngalor ngidul dia nggak jawab, cuma melirik sebentar, habis itu kembali lagi menatap layar HPnya” Drea memperagakan Keenan melirik, lalu dia mendengus setelah itu.


“Kamu dari planet mana sih? Punya HP kan? Main media sosial kan? Atau enggak, baca-baca berita kek” Burhan ceramah, Drea semakin tidak tahu arah pembicaraan Burhan. Selama ini dia memang selalu tidak bisa jauh dari HP dan media sosial. Tapi dia benar-benar tidak tahu maksud Burhan.


“Coba deh kamu search nama Keenan Sean Sanjaya” Ujar Burhan lalu pergi meninggalkan dapur  menuju pos jaga di depan. Mak Nah tersenyum menatap Drea. Drea buru-buru pergi untuk bersih-bersih di dalam rumah. Drea bengong dan nyengir sendirian, Mak Nah sudah sibuk merapikan dapur.


Drea mengambil sapu beserta alat pembersih lainnya, lalu membersihkan seisi ruangan yang jauh lebih luas dari rumahnya dulu, banyak barang-barang juga yang harus dibersihkan. Rumah yang tak kalah nyaman dari rumah Drea dulu.


“Ah…dia mungkin atlet, medalinya banyak banget” Drea berhenti di depan rak besar yang penuh dengan medali dan piala” Drea menyentuh dari balik kaca dan membaca satu per satu, tak sanggup


dia menghitunganya karena banyak sekali.


“Badminton? Apakah dia atlet badminton?” Drea bergumam sendiri saat membaca salah satu kepingan medali. “Aku hanya tahu tentang Susi Susanti dan Alan Budikusuma, selanjutnya aku bodoh” Ujarnya merutuki dirinya.


“Keenan? Dia atlet Badminton? Mengapa aku menyangkanya kalau dia atlet volley atau yang lainnya. Kenapa aku mendadak error gini sih” Buru-buru Drea menyelesaikan pekerjaannya dan segera menuju kamarnya mencari HPnya. Ada hal penting yang harus dilakukannya.


“Rendi?” Drea mengernyit membaca pesan dari Rendi yang menyatakan ingin bertemu. Belum sempat Drea membalas pesannya, HPnya berdering, panggilan masuk dari Rendi. Sejenak Drea ragu menekan tombol terima. Namun menjelang dering akhir, akhirnya Drea memencetnya.


“Kamu di mana Dre?” tanya cowok itu. Rendi, cowok yang selama ini menjadi partner bisnis café dan restoran


yang Drea percaya.


“Kenapa?”


“Bisakah kita ketemu? Di mana kamu sekarang?” Rendi penasaran dengan keberadaan Drea, Drea menahan nafasnya, dia tidak ingin kalau semua temannya tahu dengan keadaan dirinya sekarang, rasanya


belum siap menerima semua ini.


“Dre, aku habis dari rumah kamu, dan rumah kamu sudah kosong, aku mengkhawatirkanmu, kamu bisa tinggal di rumahku sementara” Bujuk Rendi.


“Aku baik-baik saja, aku masih menenangkan diri sekarang, kita ketemu lain waktu” Jawab Drea.


“Dre…aku akan bantu kamu, akan aku bantu sebisaku, akan aku kembalikan semua aset yang seharusnya milik kita, dan yang lebih penting kamu bisa kembali ke rumah kamu lagi”


“Terima kasih” Ujar Drea singkat. Lalu percakapan mereka berakhir. Drea tak sempat berpamitan dengan Rendi, dia tak ingin Rendi ikut khawatir dengan keadaannya, sama sekali Drea tidak ingin merepotkan teman-temannya. Harusnya dia bertemu dengan Rendi secepat mungkin, tapi dia belum siap saat ini.


Drea teringat pesan Burhan untuk search nama Keenan, buru-buru dia membuka informasi yang berkaitan dengan Keenan. Betapa terkejutnya dia saat membaca.


“Apa? Rangking satu dunia tunggal putra?” Drea memekik, tangan kanannya menutup mulutnya yang menganga lebar. “Dan aku mempermalukan diriku di depannya pagi ini? Haashh…..apalah aku ini? Mengapa ini terjadi, aku sungguh malu” Drea menghempaskan tubuhnya ke kasur yang empuk. Membenamkan wajahnya ke bantal.


“Dia bukan orang sembarangan? Hah…Tuhan….mengapa aku mempermalukan diriku sendiri, aku…Nadrea Xiola, yang terkenal keren dan elegan di kalangan teman-teman apalagi para pelanggan cafeku, mengapa harus mempermalukan diriku di depan dia” Drea mengoceh sendirian di dalam kamar. “Sebentar….coba aku cek sosial medianya” dengan cepat Drea memencet nama Keenan, muncullah IG dari yang dia maksud.


“Sudah kuduga, pasti centang biru” Drea kembali duduk di atas kasur, kakinya dilipat bersila. Semakin serius


memperhatikan media sosial Keenan. “Yaaaak…tentu saja para Bucin berkeliaran di setiap postingan dia” Drea menutup media sosialnya dan menghela nafas panjang. Beberapa saat terdiam, merenungi dirinya yang bernasib harus menjadi bagian di rumah Keenan. Dia bingung, apakah ini hadiah atau musibah.


“Baik…aku harus profesional, aku harus berwibawa meskipun hanya status asisten di rumahnya, dan aku nggak akan pernah bertatap muka dengannya lagi, Mak Nah bilang kalau dia jarang di rumah, aku harus di belakang saja menyiapkan keperluannya, sudah cukup” Drea yakin, tapi sebenarnya itu dilakukan karena dia malu dengan kejadian tadi pagi.


Belum sempat bernafas lega, Drea mendadak merasa sesak nafas saat Mak Nah memberitahu jika besok Drea akan menemani Keenan kemanapun, karena Keenan memutuskan tidak akan mencari pengganti Mas Dewo sebagai asisten. Jadi Drea yang akan menjadi asisten Keenan, mempersiapkan barang-barang bawaaan yang akan dibawa latihan dan juga menyiapkan segala keperluan sebelum bertanding. Sekilas dari cerita Mak Nah, Keenan adalah cowok yang sedikit eksklusif, dia lebih suka dilayani oleh asisten pilihan dia sendiri daripada menggunakan fasilitas yang ada di asrama, salah satunya urusan mencuci jersey. Mak Nah juga sedikit mengajari apa saja yang mesti dipersiapkan oleh Drea untuk Keenan.


Malam ini Drea sudah merampungkan dan menyiapkan barang bawaan Keenan untuk besok pagi, tentunya dia harus ikut Keenan dalam sesi latihan. Beberapa kali Drea memantapkan hatinya, setelah kejadian tadi pagi, memang dia belum sempat bertemu dengan Keenan. Tapi info dari Mak Nah membuatnya kembali menata ulang rencana dan menata hatinya. Dia harus segera tidur dan bangun pagi-pagi untuk ikut dengan Keenan. Drea merebahkan tubuhnya ke kasur, terasa lelah setelah sore tadi menyelesaikan pekerjaan menyetrika dan menata barang-barang Keenan. Semoga esok hari kejadian akan membaik, dan Keenan mendadak lupa ingatan tentang kejadian tadi pagi. Tapi, sayang itu hanyak khayalan Drea.