
All England akan berlangsung seminggu lagi, Keenan semakin serius dengan latihannya. Menurut Burhan, All England adalah kejuaran tertua yang begitu prestisius. Drea mengangguk-angguk mendengar penuturan Burhan. Selebihnya Drea mencari tahu lewat online.
“Hah tahun lalu dia juara? Apa yang nggak bisa dia menangkan?” Drea kagum.
“Iya, tahun lalu dan 2 tahun yang lalu juga” Burhan mngoreksi, Drea semakin menganga mendengar Burhan. Semoga kali ini juara lagi, secara undiannya tidak begitu mengkhawatirkan” Tambah Burhan yakin, tahun ini pasti akan menjadi milik Keenan lagi di tunggal putra.
“Kedengarannya akan lebih menyenangkan kalau dia juara untuk ketiga kalinya, aku akan melihat dia keren lagi di kejuaraan itu” Drea menyeringai.
“Ngomong-ngomong kamu mau kemana kok sepertinya mau keluar?”
“Ada acara sama Bos” Drea menekankan kata saat bilang Bos.
“Cie…sama Bos melulu” Burhan menggoda, Drea tak bereaksi. Karena setiap hari dia juga pergi bersama Keenan, karena pekerjaannya memang harus seperti itu.
“Eh, aku penasaran, kamu ya yang bilang pas aku pergi ke ulang tahun temanku?” Drea kembali ingat saat tiba-tiba Keenan menjemputnya di Hotel JT.
“Oh…iya, sorry Dre. Habisnya dia kelihatan khawatir banget, jadi ya udah aku bilang aja. Kamu nggak kena marah kan?” Burhan mengakui jika dia yang mnceritakan kemana Drea pergi waktu itu, padahal sebelum Drea pergi, Drea meminta Burhan merahasiakan.
“Sekarang aku nggak mau cerita aku mau kemana” Drea bersungut-sungut.
“Cieh…dia ngambek” Burhan menggoda, Drea bangkit dari duduk dan menunggu di depan gerbang setelah baru saja mendapat pesan di HPnya. Sesaat kemudian datang mobil Keenan.
“Harusnya nggak usah dijemput, aku bisa nyusul kesana” ujar Drea setelah menutup pintu mobil dan memakai sabuk pengaman.
“Nggak apa-apa, kan sejalan” Jawab Keenan enteng. Dia baru saja pulang dari latihan, hari ini hari sabtu. Keenan memilih pulang ke rumah. Dan hari ini juga ada acara di salah satu stasiun TV swasta, di mana Keenan akan menjadi bintang tamu sekaligus menerima penghargaan sebagai atlet terpopuler.
“Jas yang akan kamu pakai sudah siap di salon, tadi aku sudah dihubungi pihak butik” Drea menjelaskan, sekarang masih jam 5 sore, sedangkan acaranya akan dilakukan live jam 7 malam.”Sebelum acara kamu harus makan dulu” Drea mengingatkan, sebagai asisten, dia juga tidak boleh melewatkan kesehatan Keenan. Setidaknya itu adalah salah satu pesan dari Dokter di pelatnas tempat Keenan ditempa sebagai atlet.
Keenan membelokkan mobil ke sebuah butik, Drea masih sibuk dengan buku agendanya, memeriksa beberapa jadwal Keenan. Dia tidak menyadari jika Keenan sudah berada di sisi pintu mobil tempat dia duduk. Keenan mendengus, menunggu, tapi Drea tidak juga keluar. Akhirnya Keenan membuka pintu mobil dan menarik tangan Drea, Drea terkejut.
“Kebiasaan, kalau nggak ditarik nggak mau keluar” Keenan menatap gadis di depannya dengan heran, melihat Drea terkejut, Keenan melepaskan tangannya dan membiarkan Drea berjalan mengikutinya.
“Silahkan Mas” Ujar pelayan butik dengan ramah, Keenan menuju gaun perempuan, Drea mengikutinya tanpa banyak bertanya. Hanya saja dia heran, sejak kapan Keenan akan menggunakan gaun.
“Tolong pilihkan buat dia, yang pas” ujar Keenan kepada pelayan, pelayan dengan sigap mengajak Drea dan memilihkan beberapa gaun untuk dicoba.
“Buat apa?” Drea berbisik ke Keenan, Keenan tak peduli, dipakainya masker dan duduk di ruang tunggu. Drea mencoba gaun pertama lalu keluar. Keenan melihatnya, namun kurang srek dengan apa yang dikenakan Drea. Drea berganti hingga kelima kalinya.gaun dengan lengan pendek warna hitam, senada dengan jas yang akan dikenakan nanti.
“Sudah itu saja mbak” jawab Keenan, pelayan mengangguk.
“Gaun itu buat siapa? Harganya mahal” Drea kembali berbisik, tangannya memperbaiki kuncir rambutnya yang agak berantakan karena beberapa ganti baju. “Apakah buat pacar kamu?” Drea kembali berbisik.
“Kamu kemakan gosip dari Jerry dan Mbak Aida” Jawab Keenan asal.
“Ini mas gaunnya, terima kasih, silahkan datang kembali ke butik kami” ujar pelayan ramah, Keenan tersenyum walau tak kelihatan karena tertutup masker. Keenan memindahkan tas berisi gaun dari tangannya ke tangan Drea.
“Rupanya dia akan datang sama…sama….siapa ya? Gebetan atau sama pacarnya?” Drea berbicara pada dirinya sendiri, Keenan sudah siap di sopir kemudi, Drea masih beberapa meter menuju mobil. Drea bergegas dengan berlari kecil sebelum Keenan kembali dan menarik tangannya lagi.
***
“Dreaaa…!” Drea terkesiap mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. “Dreaaaa….mana sih yang namanya Drea” panggil orang itu lagi.
“Ya” Drea menyahut sambil mendatangi sumber suara, dilihatnya sosok di depannya dengan seksama. Orang itu berambut panjang dan ber make up tapi wajahnya masih kelihatan cook banget.
“Lama amat dipanggil nggak datang-datang, ayo make up dulu”
“Sebentar mas…eh mbak…eh aduh, sebentar. Salah orang mungkin, bukan Drea aku yang
“Panggil aku Miss” jawabnya singkat sambil menyibakkan rambut.
“Salah Miss….aku di sini cuma ngantar Bos, ngapain aku harus make up” Drea masih menolak. Keenan yang dari tadi ditunggu tak juga muncul. Ini butuh penjelasan.
“Kamu Drea kan? Temannya Bos Keenan?” pertanyaan Miss sekaligus menjadi penjelas.
“Iya…tapi…” Belum selesai Drea melanjutkan kalimatnya, Miss menarik Drea dan mendudukannya ke kursi untuk di make up. Drea pasrah, dalam hatinya berdoa, semoga Keenan segera menhampirinya.
Sejam kemudian Drea telah siap dengan make up wajahnya dan juga tatanan rambutnya, penampilannya sungguh berbeda, bahkan dia sendiri hampir pangling melihat pantulan dirinya di cermin.
“Sudah berapa lama pacaran sama Keenan?” tanya Miss sambil membereskan alat make up nya. Drea mendelik, untung Miss nggak melihat ekspresinya.
"Pacar?” Drea balik bertanya.”Salah paham, aku bukan pacarnya, aku asistennya” jawab Drea.
“Apa?” Miss menghentikan aktifitasnya dan ganti melotot, Drea kaget melihatnya.
“Kenapa?”
“Asisten? Yang benar saja, asisten kok sampai harus make up. Kalian mau datang ke acara awards yang ada di TV malam ini kan?” Tanya Miss penasaran. Drea mengangguk. “Yang benar saja dia datang sama asistennya,
dan di make up pula” Ujar Miss setengah menggunjing secara terang-terangan. Drea mendengus, ingin kesal tapi percuma. Bahkan dia sendiri tidak tahu maksud Keenan menyuruhnya harus make up.
“Sudah siap?” Tanya Keenan, Drea menoleh, dia bernafas lega akhirnya melihat Keenan. Belum sempat dia meminta penjelasan, Keenan menariknya keluar ruang make up. Sejenak Keenan menahan rasa terkejutnya melihat perubahan Drea setelah berganti baju dan menggunakan make up.
Drea melihat Keenan beberapa detik, menatap cowok itu tanpa berkedip. Keenan yang Nampak mempesona dengan setelan jas warna hitamnya. Rambutnya yang tertata rapi dan wajahnya nampak segar, sungguh kalau saja Drea menjadi fans, pasti Drea akan memeluk Keenan karena gemasnya. Keenan melambai lambaikan tangan tepat di depan wajah Drea. Drea tersadar dan mengedipkan matanya beberapa kali.
“Ya?” ujarnya gugup. Tangannya membenarkan tatanan rambut yang sebenarnya tidak berantakan, hanya saja dia menghilangkan gugup.
“Ayo pergi” ajaknya. “Miss..thanks ya” Keenan melambaikan tangan ke arah Miss yang masih sibuk membereskan alat-alat make up nya.
“Ok ganteng…See you ya!” Miss membalas lambaian tangan Keenan, Drea mengangguk, kali ini Miss tidak memberikan senyum yang sama dengan senyum yang diberikan untuk Keenan.
“Jangan melongo, dia memang seperti itu” Keenan tersenyum, Dia berjalan beberapa langkah di depan Drea. Drea mengikuti langkah Keenan yang baginya terlalu cepat. Keenan berhenti sejenak menunggu Drea berada di sampingnya, karena mereka akan melewati karpet merah, di mana banyak para wartawan yang akan memotret bagi siapa saja yang datang. Drea berhenti sejenak, mempersilahkan Keenan jalan duluan, Drea akan mengambil jalan lain untuk sampai di tempat acara. Tentunya bukan karpet merah, ada jalan tersendiri bagi orang yang tidak
berkepentingan khusus sebagai undangan. Keenan mendekati Drea, menatapnya sejenak lalu menarik tangan Drea. Tanpa berkata, Drea mengikuti Keenan.
“Apa kamu tidak bisa mengikuti perintah jalan kalau tidak ditarik tanganmu” bisik Keenan dekat telingan Drea.
“Eh” Drea hanya berekspresi heran sambil menatap Keenan sejenak, lalu pandangannya kembali ke karpet merah yang akan dia injak di langkah pertama.
“Jangan lupa senyum” Keenan memberikan perintah, gandengan tangannya terlepas, tapi mereka berjalan berjajar. Drea mengikuti apa yang dikatan Keenan, tersenyum anggun ke arah kamera yang tak berhenti mengeluarkan blitz. Drea berasa menjadi seorang artis papan atas yang sedang mengikuti ajang penghargaan. Beberapa wartawan nampak berbisik-bisik, Keenan melambaikan tangan dan beberapa kali menuruti permintaan wartawan untuk tersenyum ke arah kamera. Karena memang senyum Keenan sangat mahal, atau dia seperti sedang sariawan setiap hari yang membuatnya sulit untuk tersenyum.
“Aku harus duduk di mana?” Drea menggumam, matanya melihat bangku kosong yang tidak tertulis nama undangan, dia harus berada di deretan penonton biasa. Drea mencari jalan menuju bangku di belakang. Keenan menoleh kanan kiri mencari Drea, cewek itu jalan terpincang dengan sepatu hak tingginya. Hanya beberapa meter dari posisi Keenan berdiri.
“Dre….Drea” Keenan berteriak memanggil Drea, namun yang dipanggil tidak menoleh, suasanya sudah bising, ada beberapa tampilan dari artis pembuka sehingga Drea tidak mendengar panggilan Keenan. Keenan meninggalkan bangkunya dan berjalan ke arah Drea, Keenan kembali menarik tangan Drea dan mengajaknya menuju kursinya.
“Aku harus kesana, ada apa lagi? Apa kamu butuh cermin atau apa?” Drea merogoh tasnya mencari cermin, dia begitu yakin kalau Keenan tidak percaya diri dengan tampilannya malam ini. Apalagi akan banyak disorot kamera. “Mungkin saja dia akan melihat wajahnya sekali lagi lewat cermin sebelum memastikan dia akan tampil baik di layar TV” Ujar Drea dalam hati.
“Ini” Drea mengulurkan cermin kecil yang baru saja dikeluarkan dari tasnya dengan susah payah, tangan kirinya dipegang erat Keenan. Keenan mengambil cermin itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya, masih dipegang erat tangan Drea hingga mereka duduk bersebelahan. Drea melirik Keenan, cermin yang diberikan tadi tidak digunakan. Drea senyum senyum sendiri, acara baru saja dimulai. Beberapa kali kamera menyorot ke arahnya, Drea tersipu malu, merasa norak dengan semua ini. Atau jangan-jangan hanya wajah Keenan yang tersorot dan masuk kamera?. Senyum Drea hilang, dia tidak mau terlihat norak. Tiba saatnya Keenan dipanggil ke panggung untuk menerima penghargaan. Cowok itu tampil begitu mempesona, setidaknya itulah yang dilihat Drea, gemuruh tepuk tangan dan juga teriakan dari para fans-nya yang sengaja hadir di tribun festival begitu bergemuruh, Drea tak henti bertepuk tangan dan merasa bangga dengan Bosnya itu. Keenan memberikan sedikit sambutan, gaya bicaranya yang singkat dan cool membuat para fans semakin histeris meneriakkan namanya. Dia adalah salah satu atlet yang menjelma bak selebritis yang memiliki banyak penggemar.
Keenan kembali ke kursi di sebelah Drea, beberapa kali Keenan mengecek layar HPnya, seperti menunggu pesan dari seseorang. Drea kembali ke panggung menikmati hiburan selingan.
“Kita pulang dulu, aku ada janji” Keenan berbisik ke telinga Drea. Tanpa bertanya maksud dan tujuan janji Keenan yang tidak tertulis di buku agendanya, Drea mengangguk dan mengikuti Keenan keluar dari acara tersebut.