My Special One, Keenan

My Special One, Keenan
Part 14


Drea bersiap di depan TV kamarnya, menantikan pertandingan Keenan pada babak pertama All England. Jam menunjukkan pukul 11 malam, namun di luar terdengar gaduh. Ada suara Burhan, Indah, dan Mak Nah. Drea bergegas mematikan TV kamarnya dan keluar menuju pos satpam. Di situlah mereka biasanya menonton bersama.


“Lah kirain sudah tidur” Ujar Burhan seketika melihat Drea mendatangi mereka untuk bergabung menonton.


“Kirain aku sendirian, jadi aku nonton di dalam”


“Bisa lah mbak ya mas Keenan menang?” Tanya Indah pada Drea.


“Amin…” ucap Drea, diikuti Mak Nah dan Burhan.


Pertandingan dimulai, pada awal-awal pertandingan, Keenan terlihat kesulitan mengimbangi permainan lawan yang sebearnya bukan pemain yang sulit. Game pertama usai, dan Keenan harus merelakan game tersebut.


“Yah…” Indah menutup mukanya, seolah tak rela jika Keenan kalah dengan mudah di game pertama.


“Tenang…tenang” Burhan menenangkan. Drea tidak mengucap sepatah katapun, jantungnya berdegup kencang, seolah merasakan firasat yang kurang enak dengan pertandingan kali ini.


Di game kedua, Keenan berhasil menang dan game akan berlanjut di game ketiga. Drea agak lega, dia berdoa agar firasatnya tidak menjadi kenyataan. Tangan dan kakinya dingin karena terlalu tegang.


“Kamu kok diam saja Dre? Baik-baik saja kan?” Tegur Burhan yang memperhatikan wajah Drea begitu tegang dan tidak cerewet seperti biasanya saat menonton pertandingan bulutangkis. Drea masih saja diam dan tidak membalas ucapan Burhan.


Game ketiga pun dimulai, kejar mengejar angka terjadi, dan bahkan Keenan tidak sekalipun berhasil mengungguli perolehan angka dari lawannya. Hingga pada akhirnya Keenan harus menyerah di game ketiga, dengan demikian Keenan resmi tersingkir dari All England di babak pertama. impian untuk mencetak hattrick gagal. Indah menekuk wajahnya, sementara Mak Nah meninggalkan pos satpam sejak pertengahan game ketiga tadi dengan alasan tidak sanggup melanjutkan nonton karena jantungnya berdegup kencang. Burhan menatap layar TV seolah tidak percaya, Drea meratap dalam hati, mengapa ini begitu menyakitkan. Melihat Keenan menelan kekalahan di babak pertama. Dia mulai memikirkan, betapa bengisnya netizen akan membully Keenan, apa yang dikatakan Mbak Aida tentang gosip itu kembali muncul, pasti akan dikaitkan dengan berita yang beberapa hari lalu naik.


Drea sudah berada di kamar, sudah lewat tengah malam. Namun Drea tidak bisa memejamkan matanya, dia selalu memikirkan nasib Keenan kini, apakah dia baik-baik saja sekarang?. Drea meraih HPnya, terlihat di layar nama Keenan, tidak ada pesan dari Keenan, Drea ingin mengirimkan pesan, tapi diurungkannya. Dia membuka media sosialnya, dan benar saja, banyak dukungan, tetapi juga banyak hujatan. Drea menelungkupkan wajahnya di bantal. Mungkin ini yang dirasakan oleh para penggemar berat terhadap idolanya jika idolanya menelan kekalahan. Jika ini begitu menyakitkan, lantas apa yang dirasakan oleh Keenan?. Banyak pertanyaan berkecamuk di kepala Drea.


***


“Sekarang apalagi?” Ujar Papa Keenan sambil berdiri, Keenan duduk di sofa ruang keluarga sambil duduk terdiam tanpa melihat lawan bicara. Dia sudah sangat hafal dengan tabiat Papanya yang selalu saja marah jika melihat sebuah kekalahan. Terlebih lagi kejuaraan sekelas All England. Keenan merasa sudah sangat kebal dengan apa yang dilakukan Papanya. Kekalahan ini mengecewakan baginya, tapi ini adalah hal yang biasa. Bagaimanapun dia akan bersikap sportif.


“Selama kamu tidak bisa menghentikan sikap liar kamu terhadap para perempuan itu, kamu tidak akan pernah menjadi legenda” Tambah Papanya lagi, nadanya kini semakin meninggi. Kalimat itu selalu saja dikatakan oleh Papanya setiap kali Keenan menelan kekalahan, bagi Papanya kekalahan seperti kiamat.


“Pa…” Keenan mencoba membela diri.


“Apa hanya sekali kalah karir seseorang akan hancur Pa?” Keenan membela diri, jika dihitung, kekalahan dia lebih sedikit dibanding dengan kemenangannya dalam beberapa tahun terakhir.


“Jangan membantah, gosip kamu di luar sana jauh lebih kencang daripada prestasi kamu!”


“Apa ini yang Papa lakukan dengan Kim?” Keenan menelan ludahnya, sebenarnya dia tidak ingin sama sekali mengungkit kejadian kakaknya. Siapa saja berhak kalah dan menang Pa, siapa saja berhak menentukan hidupnya, termasuk aku aku Pa, termasuk Kim” suara Keenan bergetar, Papanya menatap tajam ke arah Keenan, anak


laki-lakinya yang biasanya terdiam saat dia marah mendadak menjadi berani membantah.


“Pa…apakah Papa tahu kalau Kim punya keinginan? Punya cita-cita? Punya impian selain kehendak Papa?” Keenan mulai membuka kegundahan hatinya perlahan, dia tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang dia dengar dari Rendi tempo hari. Tapi perlakuan Papanya memang sudah di luar batas kewajaran.


“Pa…apa kurangnya kita untuk  Papa? Kim yang sejak dulu kurang suka dengan Bulutangkis, dengan relanya mengikuti apa yang Papa inginkan, kalaupun dia tidak bisa seperti apa yang Papa harapkan, bukan salah pada Kim”


“Kamu membantah Papa kamu?” Nada suara Papanya mulai datar, tidak sekeras yang tadi, tapi wajahnya masih terlihat memendam amarah.


“Pa…apakah Papa yakin jika kematian Kim itu wajar?” Keenan memejamkan matanya saat mengatakan kalimat tersebut, hatinya kelu saat harus mengatakan hal tersebut. Tatapan mata Papanya mendadak sendu, kembali teringat dengan Putra pertamanya yang meninggal beberapa bulan yang lalu. Saat sebelum kejadian, Kim pulang ke rumah Papanya dan berbicara seolah tidak ada apa-apa, hingga pamit untuk pulang. Dan ternyata di tengah perjalanan, Kim dinyatakan tewas kecelakaan.


“Apa maksud perkataan kamu?”


“Pa…kita anak Papa punya keterbatasan, kita punya mimpi, keinginan, dan kita juga punya batas Pa. jika bagi Papa prestasi sepertiku saja kurang, bagaimana perasaan Kim saat Papa selalu saja menekannya? Apalagi jika menginginkan dia sepert aku? Pasti itu berat buat dia Pa, sedangkan dia sebenarnya hatinya ingin yang lain, Papa


tidak pernah tahu itu” Mata Keenan berkaca-kaca, bayangan wajah Kakaknya kembali muncul, luka beberapa bulan lalu kembali hadir dan memenuhi segala perasaannya.


“Papa tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan, Hanya saja Papa tidak suka kamu terlalu diekspos kehidupan pribadimu, harusnya kamu tahu mana prioritas kamu” Papa Keenan berdiri lalu meninggalkan Keenan yang masih duduk di sofa, kali ini tangannya menutup wajahnya. Bukan tentang kekalahan di babak pertama yang


menyakitkan, tapi Papanya yang tidak mau mengerti bahkan sampai detik ini tidak peduli dengan Kim.


Kekalahan kemarin tidak ada hubungannya dengan apapun, sebagaimana beratnya mental saat bertanding, dia merasa fokus. Hanya saja keberuntungan sedang tidak berpihak padanya, mereka yang menjadi pengamat, akan jauh lebih mudah mengatakan Keenan kelelahan atau sedang tidak fokus dengan pertandingan. Bukan, Keenan bisa menepiskan apapun jika untuk Bangsa, bahkan berita tentang kematian Kakaknya yang ditengarai bunuh diri dari Rendi.