
Popcorn, minuman bersoda, kacang, dan makanan ringan lainnya memenuhi ruang pos jaga Burhan. Sampai-sampai Mak Nah ikut nimbrung hingga larut malam, Indah asisten baru yang membantu Mak Nah juga ikut, Burhan tak kalah heboh, berkali kali suaranya memekakkan telinga Drea yang duduk di samping Burhan.
Hari ini sudah memasuki babak final. Sayang sekali Jerry/Ardi sudah tersingkir, satu-satunya wakil yang diharapkan bisa juara adalah Keenan. Pertandingan memasuki set ke 3, dengan kedudukan 18-17 untuk Keenan. Drea menelan ludahnya, baru pertama melihat pertandingan yang begitu menegangkan. Dia bukan pecinta bulutangkis sebelumnya.
“Ayo Mas Keenan” suara Mak Nah memberikan semangat, meskipun tentu Keenan tak akan bisa mendengarkan. Dari layar kaca Keenan nampak begitu mempesona bagi Drea, peluhnya membasahi wajahnya yang memiliki rahang tajam, tatapan mata yang tak kalah menghujam. Kedudukan 20-18 untuk Keenan. Drea mengusap kedua tangannya yang terasa dingin, mulutnya tidak lagi mengunyah apapun, dia terlalu tegang, mulutnya komat kamit membaca doa agar Keenan bisa juara. Dan pertandingan pun berakhir dengan kemenangan Keenan. Mereka berempat bahagia sambil bersorak, akhirnya Drea bisa melihat Keenan berdiri di podium juara. Keenan benar-benar melakukannya, dan itu sangat keren.
“Tunggal Putra nomer satu dunia, semua berharap dia bisa melibaslawan-lawannya, kalah di final pun akan dibilang gagal” Burhan meneguk minuman bersoda. Mak Nah dan Indah sudah kembali ke kamarnya masing-masing, hanya Burhan dan Drea yang tinggal.
“Seberat itukah bebannya?” Drea ingin tahu.
“Iya, dia begitu membanggakan, tapi nyatanya banyak yang menghujat saat kalah di final”
Drea membuka media sosialnya, pasti kemenangan Keenan akan menjad trending di lini media sosial. Drea mendelik saat melihat akun Keenan memfollow akunnya.
“Yang benar saja, bahkan aku tak ingin terlibat dengan medias sosialnya” Drea menggumam, Burhan memperhatikan layar HP Drea, Burhan ikut terkejut.
“Wah….aku yang kerja sudah lebih lama saja tidak disetujui pertemananku, mengapa dia mengikuti media sosialmu?” Burhan iri.
“Aku juga nggak tahu, dan nggak meminta dia melakukan ini” Drea membaca komentar-komentar yang ada di media sosial, hampir semua mengucapkan selamat dan memberikan sanjungan setinggi langit.
“Pencet gini lho” Burhan memencet tanda permintaan pertemanan Keenan telah diterima Drea, Drea memukul pundak Burhan tanpa aba-aba.
“Aduh” Burhan tertawa.”Lagian kenapa lama-lama, jarang-jarang ada orang yang difollow sama dia, Mak Nah yang mengurus dia dari kecil saja nggak difollow” Burhan tertawa lagi.
“Ya kali Mak Nah mainan media sosial” Drea mendengus, akun media sosial mereka sudah saling follow sekarang.
***
“Aku pergi dulu mak, ada urusan penting dengan teman” Drea mencomot tempe goreng yang baru saja ditaruh di piring oleh Mak Nah.
“Kemana mbak? Sahut Indah”
“Ada bentar Ndah, dah…..” Drea melambaikan tangan ke keduanya.
“Hati-hati” Balas Mak Nah
Drea memasuki Lotus Café dengan kunci yang dia punya, malam ini dia tidak menemukan Pak Sarip yang berjaga di depan. Lampu di ruangan yang biasanya digunakan Drea untuk rehat terlihat terang. Perlahan Drea melangkah menuju ruang tersebut, dan saat membuka pintu ruangan, Drea kaget mendapati Mandy dan Rendi ada di dalam
sedang berbincang.
“Drea…kapan kamu datang?” Rendi mendekati Drea, Mandy mengikutinya.
“Kamu baik-baik saja kan Dre?” Tanya Mandy.
Mata Drea berkaca-kaca, melihat Mandy dan Rendi bergantian. Mandy memeluk Drea dan menepuk pundak Drea. “Aku kangen kalian”
Rendi mengajak mereka keluar dari tempat tersebut, lalu mengajak Drea dan Mandy ke
café yang ada di dekat daerah sana.
“Aku kangen kalian, bagaimana bisa kalian sibuk dan tidak pernah membalas pesanku?”
“Sorry Dre, aku juga sibuk akhir-akhir ini promo single laguku” Jawab Mandy, salah satu teman Drea yang satu ini memang bercita-cita mengeluarkan single, suaranya merdu menurut Drea, dan Mandy juga cantik. Setidaknya modal itu bisa menjadi daya tarik Mandy menjadi salah satu bintang di dunia entertainment.
“Oh selamat, akhirnya apa yang kamu inginkan tercapai” Drea ikut bahagia. “Oh ya Ren, dulu kamu pengin banget ketemu aku, setelah aku bisa bertemu, aku mencoba menghubungi kamu, kamu nggak pernah bisa ketemu, ada apa? Adakah perkembangan tentang tempat usaha kita yang tiba-tiba ditutup?”
“Oh…sorry Dre, iya…iya aku sibuk mengurus semuanya” Rendi gugup menjawab pertanyaan Drea, lalu melirik Mandy.
“Apa yang harus aku lakukan?” Tanya Drea, dia merasa tidak enak karena hanya Rendi yang bekerja keras, padahal itu adalah usaha mereka bersama.
“Nggak usah Dre, aku bisa semua” Rendi menyahut. “Kamu sibukkan sekarang, O ya kerja di mana sekarang?”
“Aku…aku..ada lah kerjaan” Drea tak mengakui pekerjaan apa yang dia lakukan sekarang. “O ya..kapan kita bisa nongkrong bareng?” Drea sangat merindukan teman-temannya itu.
“Besok ulang tahun Nadira” Mandy keceplosan, Rendi melirik Mandy.
“Oh iya, kita bisa ngumpul seperti biasa kan?” Drea bersemangat. “Di mana dia sekarang?”
“Dia sibuk dengan bisnis barunya, O ya…besok kalau mau datang pesta ulang tahunnya di Hotel JT”
“Dengan senang hati aku akan datang kesana, kalian….aku benar-benar merindukan kebersamaan bersama kalian, besok pasti akan menjadi momen yang menyenangkan”
Ruangan ballroom di hotel JT dihias dengan berbagai bunga dan aneka lampu, Nadira sudah siap dengan gaun mewahnya, dandanannya juga begitu bmembuat semua mata tertuju padanya,Mandy, Rendi dan Renata sudah berada di tmpat. Tamu-tamu yang lainnya juga sudah mulai berdatangan. Drea memasuki hotel tersebut dengan dandanan seadanya, karena tak banyak barang yang bisa dia bawa ke rumah Keenan. Sejenak dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang hadir ke pesta tersebut. Drea menoleh kanan kiri mencari Nadira, Renata, dan Mandy. Matanya berbinar saat melihat Nadira berdiri dengan anggunnya.
“Nadira” Drea melambaikan tangannya, Nadira memandang Drea heran, tahu dari siapa Drea
sampai di hotel JT. “Selamat Ulang tahun” Drea sumringah, sambil menyerahkan bungkusan kado berisi scraft untuk Nadira. Nadira menerima kado tersebut sambil memasang muka datar, dia juga heran dengan dandanan Drea yang biasa saja. “Maaf Nad, aku nggak tahu ada tema kostum hari ini, aku juga lagi nggak ada stok gaun”
“Oh nggak masalah, terima kasih ya” Nadira menoleh ke arah Mandy dan Renata. “Siapa yang ngundang dia? Rendi kah?” Nadira berbisik.
“Sorry Nad, aku keceplosan kemarin” Mandy menjawab dengan berbisik pula.
Rendi mengulurkan tangannya kepada Nadira, Nadira menerimanya dan mereka berdansa di tengah pesta. Rendi tak kalah mencuri perhatian, dengan setelah jas warna hitam dan terlihat menawan. Drea duduk bersama Mandy dan Renata menikmati hidangan yang ada di depan mereka.
“Kerja di mana sekarang?” tanya Renata.
“Ada sama teman Mas Dewo” Drea belum siap jujur dengan pekerjaannya yang sekarang, teman-temannya pasti akan menertawakannya.
“Kerja apaan sih? Bikin penasaran aja, pasti biasa saja pekerjaanmu ya sekarang? O ya, dua minggu yang lalu kita pergi ke Korea liburan” Renata bercerita.
“Pasti menyenangkan” Imbuh Drea. “Sayang sekali aku nggak bisa ikut”
“Karena bukan kelasmu sekarang” Ujar Renata sombong. Drea menelan ludahnya mendengar ucapan Renata yang agak menohok hatinya, pertemuan kali ini terasa tidak menyenangkan, teman-teman yang dulu baik dan akrab dengannya mendadak menjadi orang asing yang tidak menganggap keberadaannya.
“Kita sekarang punya geng sendiri, jadi aku harap kamu tidak berada di anggota geng kita lagi” Tambah Nadira yang berdiri di belakang Drea duduk. Rendi berdiri di samping Nadira, dia tak ingin terlibat percakapan.
“Kalian..” Drea tak melanjutkan kalimatnya.
“Maaf Dre, sudah sejak dulu kita kurang suka dengan kamu, hanya saja kita tak bisa ungkapkan, kamu jauh dari kita dalam segala hal, hanya saja kamu tertolong dengan usaha kamu, sekarang apa?” Ujar Nadira.
“Ada kesempatan saat kamu bisa berdiri sejajar dengan kami” Tambah Mandy.
Drea menelan ludahnya, tenggorokannya terasa sakit. Sementara Rendi masih berdiri mematung tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Air mata di pelupuk mata Drea mulai menggenang dan hampir membasahi pipinya. Sebuah tangan menarik tangan Drea dan menuntunnya keluar. Drea menatap siapa yang menariknya, tanpa sepatah kata pun Keenan menarik Drea keluar dari kerumun pesta.
Renata, Mandy, Nadira memandang siapa cowok yang baru saja menarik Drea keluar. Mereka saling berbisik.
“Siapa? Aku seperti nggak asing dengan wajahnya” Ujar Mandy sambil mengingat-ingat.
“Keenan Sean Sanjaya bukan? Atau hanya mirip?” Renata menyahut. Rendi melihat hingga Drea dan Keenan keluar rungan pesta.
“Hah…kok bisa?” Nadira heran, tak hanya dia, beberapa teman Nadira yang menjadi tamu undangan pun dibuat heran dengan kedatangan Keenan. Mereka bahkan menyempatkan tanya ke Nadira, apakah Keenan adalah salah satu undangannya.
“Apa yang dilakukan dia sekarang?” Gumam Nadira heran.