My Special One, Keenan

My Special One, Keenan
Part 6


Berkali-kali Drea mencoba melakukan panggilan ke nomer Rendi, tak ada jawaban. Lalu mencoba ke teman-teman yang lainnya. Teman yang biasanya nongkong di cafenya, teman yang biasanya senang mengajak Drea ber ha ha hi hi layaknya sosialita. Renata, Mandy, dan Nadira. Semuanya bahkan tidak bisa dihubungi. Drea merasa kesepian, kebiasaan saat malam minggu adalah stay di café atau restorannya yang memang sangat ramai apalagi saat weekend.


“Kemana mereka?” Ujar Drea sambil kembali mencoba menghubungi teman-temannya. Malam minggu, Drea bebas kemanapun karena Keenan juga berada di rumah saat ini, jadi dia bebas tugas.


“Nggak kemana-mana Dre?” Tanya Burhan sambil membawa secangkir kopi dari dapur, Drea yang sedang duduk di


bangku depan kamarnya menengok ke arah suara Burhan.


“Mau kemana juga bingung, teman-temanku dihubungi juga pada ngilang, padahal aku sudah siap begini” Drea menatap dirinya yang memang sudah siap dari tadi.


“Main catur aja di depan” tambah Burhan, Drea menggeleng. “Aku nggak bisa main catur”


“Aku ke depan dulu” pamit Burhan


“Ya” Drea menjawab singkat, dia masih mencoba menghubungi Rendi. di saat dia sudah siap untuk bertemu, malah Rendi yang sulit untuk dihubungi.


Drea pamitan dengan Mak Nah. Setelah naik ojek online, Drea sampai di tempat yang dituju. Tempat di mana dia biasa menghabiskan sepanjang malam di tempat itu. Drea berdiri mematung di depan halaman café yang sekarang terlihat sepi. Ingatannya kembali pada beberapa bulan yang lalu, di tempat ini yang biasanya selalu ramai.


“Mbak Drea….apa kabar?” Pak Sarip, security tempat itu menghampiri Drea, membuyarkan lamunan Drea. Wajahnya begitu sumringah melihat kedatangan Drea. “Mbak Drea sendirian? Naik apa?”


“Baik Pak” Jawab Drea tak kalah sumringah. Pak Sarip mempersilahkan Drea untuk duduk di bangku depan pos


satpam. “Terima kasih pak”


“Sudah hampir sebulan saya tidak bertemu Mbak Drea, dan tidak tahu kabar Mbak Drea, syukurlah mbak Drea


baik-baik saja” Urai Pak Sarip yang duduk di samping Drea.


“Bapak masih berjaga di sini?” Tanya Drea penasaran, setahu Drea, Rendi cerita jika semua karyawan terpaksa di PHK.


“Iya mbak, kata Mas Rendi, ini demi kebaikan, karena Mas Rendi akan mengurus semuanya, dan mengembalikan seperti sedia kala” Ujar Pak Sarip semangat.


“Apa Pak Sarip masih diberi gaji?” Drea khawatir. Pak Sarip mengangguk yakin.


“Syukurlah”


“Mbak Drea nggak ingin ketemu Mas Rendi?”


“Hehm?” Drea kaget.


“Mas Rendi ada di dalam”


Drea sedikit terkejut dengan perkataan Pak Sarip, dari tadi dia mencoba menghubungi tapi Rendi tidak mengangkat telponnya sama sekali.


“Sedang apa?”


“Kurang tahu Mbak, dia lumayan sering ke tempat itu dengan….” Belum selesai Pak Sarip bercerita, HP Drea


berbunyi.


“Sebentar ya Pak” Drea bangkit dan agak menjauh menjawab panggilan.


Drea kembali lagi menghampiri Pak Sarip setelah mengakhiri percakapan lewat telpon, kali ini dia pamit akan pergi. Sebelumnya Drea menatap café yang terlihat gelap seperti tidak berpenghuni.


“Iya Mbak, hati-hati” Pak Sarip membungkukkan badan ke arah Drea yang sudah naik mobil.


Hanya beberapa menit mereka telah tiba di lokasi, Jerry dan Ardi berjalan dulu mencari tempat kosong. Drea mengenal tempat ini, Café Barista, Café yang lokasinya dekat dengan lokasi cafenya dulu. Jerry menarik kursi dan mempersilahkan Drea duduk.


“Terima kasih” Ujar Drea sambil meletakkan tas di atas meja.


“Kamu lagi apa di sana?”


“Di mana?” tanya Drea


“Lotus Café” jawab Ardi.


“Oh….aku…tadi mau ketemu teman, tapi nggak jadi” Drea menutupi.


“Itu dulu café langganan aku banget”


“Masa?” Drea berbinar


“Sayang sekarang tutup” Jerry mendengus, dibukanya lembar menu dan memilih makanan dan minuman yang akan dipesan.


Jerry yang begitu usil selalu memberikan keceriaan tersendiri, dan bisa membuat Drea tertawa terbahak-bahak, sementara Ardi sedikit kalem dan sering hanya tersenyum melihat tingkah Jerry.


“Kenapa?” Drea mengaduk minumannya


“Iya, sekarang ada yang diajak keluar malam minggu, cantik” Ujar Jerry, Drea tertawa.


“Nggak pernah diajak Keenan?”


“Kemana?”


“Kemana saja”


“Aku kan sudah ikut kemana saja sama dia” Drea menahan tawanya, dia tahu maksud Jerry.


“Dasar itu orang, masa sih belum move on?”


Kata-kata move on, apa mungkin Keenan masih patah hati karena ditinggal pacarnya atau bagaimana. Drea enggan bertanya meskipun penasaran.


“Kamu tahu nggak Dre? Dia itu kasihan sih” Jerry bercerita sok dramatis. “Tiga bulan lalu, kakaknya baru saja


meninggal karena kecelakaan”


Sontak saja Drea tersedak dan menghentikan aktifitas minumnya, Ardi dengan cekatan mengambilkan tisu. Drea


mengelap mulutnya dan area yang terciprat minumannya.


“Kakak?” Drea sama sekali tidak tahu, stalking tentang Keenan kurang dalam, kurang jauh, yang dia tahu Keenan banyak fans dan dia number one di dunia.


“Iya, kakaknya kecelakaan, ini sih keterangan kepolisian, tapi itu tidak penting, dia sekarang masa pemulihan sih,


intinya tolong kamu baik-baik, dan syukur-syukur bisa buat dia ketawa” Jerry menyuapkan daging steak ke dalam mulutnya.


“Selama itu pula, dia sekarang jadi semakin tertutup, untung saja prestasinya tetap bagus, cuma kita sebagai teman


merasa khawatir saja. Jangan ada hal berat yang dipikirkan dia, dia harapan Bangsa ini” tambah Ardi.


“Kalian…..begitu manis” Drea menatap Jerry dan Ardi bergantian. Jerry mengibaskan tangannya, seolah bukan apa-apa. Jerry dan Ardi adalah teman dan juga partner di lapangan, mereka merupakan pelapis ganda putra di bawah Keenan dan pasangannya. Drea salut dengan kerendahan hati mereka yang berbaik hati dan tidak sombong.


“Sayang sekali minggu depan kita tidak bisa nongkrong cantik lagi”


“Kenapa?”


“Kamu nggak ngecek jadwal Keenan?” tanya Jerry, Drea menepuk dahinya. Minggu depan turnamen Singapura Super Series. Tentu saja para jagoan akan bertanding di sana.


“Good Luck” Drea mengangkat kedua tangannya sambil mengepal.


“Aku pasti semangat menang” Jerry tertawa keras.


Keenan menghampiri mereka bertiga, Drea menatap kaget, tiba-tiba saja Keenan berada di sampingnya dengan posisi berdiri.


“Wew….sejak kapan?” Drea sedikit memekik, Jerry dan Ardi juga tak kalah terkejut.


“Duduk lah, tadi dia bilang nggak mau datang, kenapa jam segini baru datang?” Tanya Jerry. Keenan tak menyahut, tangan kanannya menarik tangan Drea.


“Pulanglah, suamimu sudah menjemput” Jerry menggoda, Drea melotot, namun akhirnya dia mengikuti langkah Keenan, sesaat sebelum keluar melewati pintu, Drea melambaikan tangan ke arah Jerry dan Ardi. Drea melangkah mengikuti Keenan dari belakang, seingatnya, Dia tidak melakukan kesalahan, dia juga sudah menyusun jadwal meskipun belum terstruktur seperti di buku agenda.


Beberapa jam yang lalu


Keenan memperhatikan layar HPnya, udah 3 kali berbunyi, tertera nama Jerry yang melakukan panggilan. Di panggilan keempat akhirnya Keenan mengangkatnya.


“Woa…akhirnya, kemana saja?”


“Ada apa?” Tanya Keenan.


“Keluar yok, sudah lama kita nggak pernah nongkrong bareng, jangan di rumah saja, tuh ditungguin penggemar Lo” Jerry tertawa renyah, tapi nampaknya Keenan tidak tertarik dengan ajakan Jerry.


“Gue sibuk” Jawab Keenan datar.


“Ini malam minggu, ayolah…sudah lama juga Elo nggak keluar, sekalian ajak Drea”


“Enggak” Keenan memencet tombol akhiri pembicaraan.


Banyak sesama atlet yang kurang suka dengan Keenan karena sikapnya yang begitu dingin dan nggak mau tahu orang lain. Tapi tidak bagi Jerry dan Ardi, mereka cukup akrab dengan Keenan, dan tidak kapok walau Keenan sering berlaku dingin kepada mereka.


Keenan meletakkan HPnya kembali di atas meja kamarnya, terlihat jam menunjukkan jam 5 sore. Baginya, malam minggu atau apapun sama.