My Special One, Keenan

My Special One, Keenan
Part 11


Beberapa wartawan mengerubuti Keenan yang saat ini masih bersama dengan Drea, ada beberapa pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan penghargaan tadi dilontarkan juga. Membuat Drea tidak enak hati kepada Keenan.


“Ada hubungan spesialkah dengan cewek ini?” Teriak wartawan perempuan yang berada di sebelah belakang, nampaknya dia tidak kebagian menyerbu Keenan lebih dulu, sehingga ada di bagian belakang. Keenan tidak menjawab pertanyaan itu dan hanya melemparkan senyum tipis, Drea menggaruk keningnya yang sebenarnya tidak gatas, sebenarnya dia tersipu sendiri dengan pertanyaan wartawan tersebut. Sayang Keenan tidak menjawab apapun, Drea juga sebenarnya  ingin tahu.


Sebuah mobil warna hitam berhenti tepat di dekat kerumunan wartawan, kaca mobil tersebut terbuka sedikit, Drea melihat siapa yang ada di dalam mobil tersebut. Dia menyipitkan matanya, taka sing lagi wajah itu, tapi dia lupa siapa namanya. Sorotan kamera para wartawan beralih ke wajah cewek itu, wajah bening dan begitu cantik.


“Apakah mereka benar pacarnya? Lalu siapa yang datang ke acara dengannya malam ini?” ujar wartawan laki-laki yang tadi berada di barisan depan.


Drea tercekat, “Benarkah mereka pacaran?” Drea membatin, dilihatnya Keenan mendekati cewek itu dan menggantikan cewek itu menyetir. Sesaat sebelum keluar dari tempat acara, Keenan menyuruh Drea pulang dengan membawa pulang mobilnya, hanya saja dia tidak mengatakan akan pergi dengan cewek.


Para wartawan sibuk mengambil gambar terbaiknya tanpa bisa melakukan wawancara lagi, mobil mereka telah berlalu. Drea segera pergi meninggalkan kerumunan wartawan sebelum dia akan menjadi objek yang akan diwawancarai.


 ***


“Selamat atas penghargaan malam ini Keenan, aku senang walau hanya bisa lihat lewat streaming” Ujar Nuca, cewek berambut panjang itu bernama Nuca. Nuca adalah salah satu model yang lumayan terkenal. Sudah sejak lama dia berteman akrab dengan Keenan.


“Terima kasih” jawab Keenan singkat.


“Aku sengaja memilih tempat ini untuk merayakan kemenangan kamu, karena memang ada banyak hal yang kamu menangkan, tidak hanya malam ini” Nuca sengaja memesan tempat di restoran mewah setelah mendapat pesan dari Keenan kalau Keenan ingin bertemu dan membicarakan masalah penting dengannya.


“Seharusnya tidak perlu”


“Kamu butuh privasi, dan di sini akan aman, kamu bisa melakukan apapun tanpa masuk ke media” Nuca tersenyum menatap Keenan, cowok yang disukainya sejak lima tahun yang lalu, saat itu mereka bertemu di sebuah acara amal, di mana para atlet menjadi duta amal dan Nuca kebetulan menjadi salah satu bintang tamunya juga. Meskipun dingin, Nuca tidak pernah menyerah untuk bisa bersama Keenan.


Keenan tersenyum mendengar Nuca sangat memberikan kenyamanan pada dirinya, bahkan


memperhitungkan bahwa pembicaraan mereka tidak akan menjadi berita keesokan harinya. Nuca memegang tangan Keenan sambil tersenyum manis. “Katakan, ada apa? Sepertinya ini penting” Nuca menatap mata Keenan, mungkin ini saatnya Keenan akan mengutarakan perasaanya padanya. Nuca sudah siap untuk itu.


Keenan menarik tangannya setelah beberapa detik Nuca memegangnya, Nuca meminta maaf atas ketidaknyamanan Keenan.


“Sorry” Nuca meletakkan tangannya kembali ke pangkuannya dan sedikit kecewa dengan sikap Keenan. Dia sangat berharap Keenan akan mengungkapkan perasaannya malam ini, atau melamarnya. Tapi sepertinya tidak, Nuca menelan kekecewaannya sendiri. Keenan mengajak bertemu bukan untuk membahas perasaannya.


Keenan mengeluarkan HPnya dan membuka galeri fotonya, lalu menyodorkannya kepada Nuca. Nuca mengambil HP Keenan dan melihatnya dengan seksama.


***


Drea berada di area parkir dan bersiap mengendarai mobil Keenan keluar area tersebut, setidaknya dia aman dari kejaran para wartawan.


“Apa-apaan dia itu, aku kira ada janji penting, ternyata…hah…tahu gitu aku tetap di dalam menikmati hiburan yang bahkan aku hanya bisa menontonnya melalui TV” gerutu Drea, akhirnya dia memutuskan keluar dari gedung parkir dan perjalanan menuju pulang. Baru kali ini dia menyetir mobil Keenan. Kata Burhan, ini adalah mobil kesayangan Keenan, yang bahkan tidak ada satu orang pun yang pernah menyetir mobil ini selain Keenan sendiri.


“Kemana perginya dia?” Drea menggumam penasaran, tapi buru-buru menepisnya. “Ah biarin aja, ngapain aku harus pusing, lagian ini malam minggu. Harusnya aku libur, tapi aku harus kerja juga”


Drea melihat rintik hujan membasahi kaca depan mobil, makin lama makin deras. Suasana malam di jalanan nampak sangat padat.


“Dia nggak bawa mobil, lalu pulangnya gimana?” Drea khawatir, dia menepikan mobilnya, hujan semakin deras. Tangan Drea merogoh HP yang ada di tasnya, tidak ada pesan masuk dari Keenan. Dia berharap Keenan menghubunginya dan memintanya menjemput di suatu tempat. Drea membuka pesan dari Mas Dewo yang isinya meledak dan menertawakan Drea karena tampil di TV bersama Keenan.


“Mas Dewo usil” Drea tersenyum sambil membalas pesan mas Dewo dengan emoticon marah lalu tertawa.


“Apa aku telfon saja ya?” tampilan HPnya tertera nama Keenan.


Drea turun dari kasur dan mendekati jendela, membuka gorden jendela yang bisa melihat gerbang depan. Bisa melihat siapa saja yang datang. Tidak ada tanda-tanda Keenan datang. Drea kembali duduk ka kasurnya, mengambil HP dan melihat layar HP nya berulang, tidak ada panggilan atau pesan.


“Kenapa seolah-olah aku menunggunya?” Drea membanting HPnya ke kasur, tak berapa lama dia menengkurapkan dirinya dan membenamkan wajahnya di bantal. Tak berapa lama dia terkejut mendengar HPnya berbunyi, ada pesan masuk. Buru-buru Drea melihat dari siapa pesan tersebut.


“Besok kita ketemu ya? Aku tunggu di café X” ternyata bukan pesan dari Keenan, pesan itu dikirim oleh Rendi. Drea membalas pesan dari Rendi dan menyatakan iya. Kebetulan besok tidak ada jadwal lembur dari Keenan.


“Oke, aku mau tidur” Drea memutuskan untuk tidur. Sementara hujan di luar masih saja deras mengguyur.


***


Jam 1 siang Keenan baru keluar dari kamarnya, perutnya terasa sangat lapar. Mak Nah baru saja meletakkan makanan di meja makan. Drea keluar dari kamarnya, agak terkejut saat melihat Keenan duduk menikmati makanannya.


“Kenapa? Tidak pernah melihat orang makan?” Tanya Keenan, mulutnya penuh dengan makanan. Drea salah tingkah, padahal maksudnya bukan itu. Dia ingin sekali menanyakan jam berapa Keenan pulang? Dengan siapa? Lalu tadi malam pergi kemana?. Semua pertanyaan itu tersimpan kembali di otaknya tanpa bisa keluar satu pun.


Keenan melihat Drea, cewek itu sudah rapi. Dilihatnya dari atas sampai bawah, lalu kembali membuang pandangannya, beralih ke makanan yang sudah hamper separuh disantapnya.


“Kenapa sudah rapi? Bahkan makananku saja belum habis” ujar Keenan enteng.


“Apa?” Drea kaget, dari perkataan itu seolah menyiratkan kalau Keenan akan pergi dengannya, bukankah hari ini tidak ada janji. Keenan pun akan kembali ke asrama sore ini, tentu saja akan kembali sendiri, karena itu sudah kebiasaannya.


“Kenapa? Aku akan ke asrama setelah ini, jadi kamu tunggu aku, setelah menyelesaikan makan, aku akan mandi dan bersiap kembali ke asrama, sama kamu” Keenan menyelesaikan suapan makan terakhirnya lalu meneguk air putih segelas. Selepasnya dia tersenyum dan berdiri meninggalkan Drea yang masih bengong.


“Bicara apa dia?” Drea membuang muka lalu berjalan ke dapur sambil membawa piring dan gelas kotor bekas Keenan makan.


“Kenapa itu mukanya kusut?” Tanya Burhan yang sedang mengambil kopi di dapur, ada Mak Nah juga yang sedang beberes dapur. Drea meletakkan piring dan gelas yang dibawanya di tempat cucian piring. Mak Nah ikut memperhatikan raut wajah Drea.


“Harusnya seneng yang tadi malam tampil di TV bareng idola para cewek-cewek” Burhan tertawa, Drea meliriknya.


“Kenapa sih?” Tanya Burhan lagi.


“Tadi malam Keenan pulang jam berapa?” Tanya Drea setengah berbisik. Burhan tertawa sambil mengangguk.


“Oh jadi ini yang buat wajahmu kusut?” Burhan malah meledek, Drea menggeleng cepat. Karena memang bukan itu. Drea mengambil HP yang ada di tasnya dan menjawab panggilan telpon dari Rendi, dengan menyesal Drea tidak bisa bertemu dengan Rendi hari ini. Drea menawarkan untuk bertemu malam hari nanti, tapi Rendi yang


tidak bisa karena ada sudah ada janji lain. Drea manyun.


“Dia pulang sekitar tengah malam, sendirian naik taksi online, kamu lagian, kenapa pulang duluan, harusnya kamu tungguin, mana hujan-hujan lagi” Burhan menjawab pertanyaan Drea tadi, Drea kesal karena dianggap tidak bertanggung jawab dan meninggalkan Keenan begitu saja. Tapi dia juga merasa senang saat tahu Keenan pulang sendiri tanpa diantar cewek tadi malam. Apa yang membuatnya senang, Drea sendiri tidak tahu alasan pastinya.


Drea duduk di kursi depan kamar Indah, kamar yang beberapa waktu lalu dia tempati. Indah sudah selesai menyiapkan barang yang akan dibawa Keenan kembali ke asrama. Drea mengambil tas tersebut dan bersiap membawanya ke mobil. Sebelum Drea membawa tas tersebut, Keenan sudah berada di dekat mobilnya. Tidak ingin


hingga Keenan memanggilnya, Drea pamit ke Mak Nah dan lainnya untuk segera berangkat.


“Dre…lihatlah gosip hari ini, rame” Burhan membisikkan kalimat itu sebelum dia meninggalkan dapur, bersamaan dengan Drea yang menuju halaman untuk pergi bersama Keenan. Belum sempat Drea bertanya secara detail, Burhan sudah kembali ke pos jaganya. Antara ingin cuek dan penasaran juga. Gossip apa yang dimaksud Burhan. Apakah tentang acara tadi malam? Dia duduk bersama dengan Keenan?. Drea belum sempat mengeceknya, hingga dia sudah duduk di bangku sebelah Keenan.


Drea menjadi tidak enak hati jika saja ada gosip yang tidak mengenakkan menyerang Keenan gara-gara dia. Dia sangat yakin jika gosip yang dimaksud Burhan itu berkaitan dengan dia tadi malam.