
Mbak Aida, Jerry, dan Ardi sudah berkumpul di pinggir lapangan. Drea baru saja sampai dan bergabung dengan mereka, hari ini hari senin sekaligus hari latihan terakhir sebelum tim bertolak ke Inggris besok sore. Jerry dan Ardi nampaknya berlatih lebih keras pagi ini, peluh bercucuran membasahi sekujur tubuhnya.
“Eh…udah lihat berita belum?” Mbak Aida menepuk punggung Drea. Drea menghela nafas, baru saja dia duduk untuk menghela nafas setelah berjalan dari gerbang ke dalam gedung. Dia lupa untuk mengecek berita apa yang dimaksud, mungkin ada kaitannya dengan apa yang dibilang Burhan kemarin.
“Apaan mbak?” Tanya Drea. “Aku nggak sempat buka medsos kemarin”
“Dia sibuk mbak” ledek Jerry, disambut senyum Ardi yang manis.
“Duh..Keenan jadian ya sama Nuca? Apa gimana sih?” Mbak Aida penasaran. Drea terkesiap mendengar kabar itu, apakah kabar itu yang memang lagi lagi rame?.
“Ke penghargaan sama siapa, jadiannya sama siapa…” Jerry menambahkan. Drea beralih pandangan dari Mbak Aida lalu ke Jerry. Jerry santai sambil senyum senyum.
“Masa kamu nggak tau sih Dre?” Mbak Aida memastikan. “Berangkatnya sama kamu kan?”
“Iya sama aku mbak berangkatnya” Drea mengangguk. “Tapi pulangnya nggak sama aku, aku disuruh pulang duluan. Dan aku juga nggak tahu kalau diajak ke acara itu, kirain aku nunggu aja dimana gitu, tahunya diajak masuk juga”
“Wiiih…bener nih mbak mesti beritanya, pasti mereka jadian. Ayo mbak tunjukin fotonya” Jerry menepuk pundak mbak Aida. Mbak Aida mengambil HPnya membuka folder foto lalu menunjukkan kepada Drea. Sebuah foto tangan cewek yang kebetulan berkutek coklat itu memegang tangan Keenan. Dia yakin itu tangan Keenan, tangan yang
baginya begitu halus meskipun setiap hari memegang raket, dia diam-diam suka memperhatikan tangan Keenan.
“Udah rame banget di linimasa, bahkan para fans udah ketar ketir aja, atau jangan-jangan kamu ya cewek berkutek coklat?” Mbak Aida tertawa. Drea menggeleng sambil menunjukkan kukunya yang tidak berkutek sama sekali.
“Nuca mbak…cinta lama” Jerry bicara santai. Lalu meninggalkan Drea dan Mbak Aida, Ardi mengikuti Jerry. Mereka kembali melakukan latihan. Dari jauh mereka masih saja tertawa tawa, Drea memperhatikannya.
Beberapa saat Drea terdiam, Mbak Aida memperhatikan Drea lalu mengembalikan HP ke dalam tasnya. Drea mengambil HPnya, ingin mengecek media sosial, namun dia mengurungkannya. Tidak masalah baginya Keenan dengan siapa saja, dia tidak ingin peduli dengan itu.
“Semoga dia bisa mempertahankan juaranya minggu depan, kalau enggak, bisa-bisa dicemooh senegara dia” Mbak Aida khawatir, Drea menatap wajah Mbak Aida serius.
“Iya Dre, dulu pernah juga mereka kepergok jalan berdua, nah kebetulan itu sebelum kejuaran dunia kalau nggak salah. Dan apesnya lagi, Keenan gugur di perempat final, huuuh para netizen yang budiman langsung deh, sumpah serapah keluar semua”
“Segitunya mbak?” Drea heran, dia merasa kasihan dengan Keenan. Dia ingin acuh, tapi kalau
hubungannya dengan mental Keenan, dia merasa kasihan juga. Hanya karena memiliki hubungan dengan wanita, terus kalau pas kalah, apakah itu juga akan menjadi kesalahan Keenan. Dan Keenan akan dianggap tidak punya attitude?
“Iya, terus dapat teguran juga dari pelatih” Mbak Aida menghela nafas.
“Ya….namanya bullying itu hampir pasti iya, cuma kalau Keenan beda banget. Doi kan fans-nya bejibun, dan tentu saja hatersnya. Kamu tahu sendiri lah, ekspektasi dia untuk menjadi juara begitu tinggu, jadi paham sendiri kan” Mbak Aida menjelaskan. “Kirain kamu tau Dre”
“Enggak mbak, aku kemarin pulang duluan, dia bilang ada janji dengan seseorang” Drea menjawab lemah. Dia khawatir kalau hal ini bisa membuat Keenan down di kejuaraan yang akan diikutinya.
“Jangan lemes gitu donk say…kita doain aja dia bisa memberikan yang terbaik, dia sudah mulai bangkit dan semangat sejak kepergian Kakaknya beberapa bulan lalu” Mbak Aida tersenyum, Drea ikut tersenyum walau terpaksa.
“Atau kamu mengkhaatirkan yang lain nih” Goda Mbak Aida.
“Apa Mbak?”
“Ya kali aja ada hati yang mulai cenat cenut gitu, secara kalian bareng terus” Mbak Aida mengedipkan matanya.
Drea kesal, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya asisten yang tidak memiliki hak untuk melindungi Keenan. Padahal sebenarnya ada hal lebih yang ingin dia lakukan untuk Keenan. Sejauh dia menjadi asisten Keenan, dia menjadi tahu bagaimana kehidupan seorang Keenan yang tidak ringan, dengan begitu banyak ekspektasi, Keenan pasti juga memiliki tingkat tekanan dalam dirinya.
“Iya Mbak” Jawab Drea singkat.
***
Drea mengantarkan barang tersebut ke asrama, hari ini Keenan dan tim akan berangkat ke Inggris. Keenan mengambil barang yang diantarkan Drea. Keenan menatap Drea tajam, tidak seperti biasanya. Drea menjadi kikuk, seharusnya dia langsung saja pergi setelah meletakkan koper tersebut, tapi dia tidak enak kalau tidak menyerahkan langsung ke Keenan. Tapi Keenan kini malah menatapnya tajam. Keenan menarik tangan kanan Drea, hal sama yang sering dia lakukan. Keenan membawa Drea ke tempat yang agak sepi agar pembicaraan mereka tidak terdengar oleh yang lain.
“Selama aku tidak ada di rumah, kamu hati-hati, jangan keluar sembarangan” ternyata pesan ini yang disampaikan Keenan, Drea agak kesal dan bingung. Mengapa selalu pesan ini yang disampaikan Keenan. “Jangan seperti kejadian dulu, saat kamu bertemu dengan teman-teman kamu di pesta ulang tahun temanmu” Keenan menambahkan. Drea sadar, setelah kejadian itu dia menjadi tahu bahwa selama ini teman-temannya tidak tulus kepadanya. Bahwa apa yang dia kesalkan waktu itu, waktu Keenan menarik keluar paksa dari pesta itu adalah sebuah kesalahan, dia tahu, bahwa Keenan datang untuk menyelamatkannya.
“Iya” Drea menjawab dengan menahan suaranya yang terasa tercekat. Betapa Keenan peduli padanya, atau jangan-jangan Keenan hanya peduli tentang dia sebagai asistennya saja?. Drea tidak peduli, dia ingin menangis saat ini.
“Dan lagi, hati-hati dengan cowok yang namanya Rendi” Keenan menambahkan. Drea menatap Keenan tajam, darimana Keenan tahu tentang Rendi, sehingga Keenan dengan tegas mengucap nama itu dan melarangnya bertemu. “Kamu nggak perlu tahu, itu saja pesanku” Keenan seolah menjawab pertanyaan yang ada di dalam hati
Drea.
“Terima kasih” Drea menjawab singkat, ingin rasanya dia mengucapkan lebih dari kata terima kasih, tapi seolah dia tidak mampu. “O ya…selamat berjuang, lakukan yang terbaik” Pesan Drea sambil tersenyum, kalimat itu dirasa pas untuk mengalihkan kalimat yang sebenarnya ingin dia ucapkan. Keenan tersenyum tipis, bahkan hampir tidak terlihat kalau itu senyum.
Anggota tim dan official sudah berada di dalam bus semua, Keenan segera masuk ke dalam bus yang akan membawa mereka ke bandara. Drea melambaikan tangan, Mbak Aida membalas lambaian tangan Drea dari dalam bus dengan semangat, tidak ketinggalan Jerry juga melambaikan tangan dengan senyum sumringahnya. Selepas kepergian bus tersebut, Drea bersiap untuk pulang ke rumah Keenan. Drea mengeluarkan HP dari tasnya, dia akan memesan ojek dari aplikasi HPnya. Belum sempat dia memencet aplikasi tersebut, HPnya bergetar, nama Rendi tertera di layar HPnya.