My Special One, Keenan

My Special One, Keenan
Part 7


Keenan melangkah meninggalkan café tersebut dan menuju parkir, mau tidak mau Drea mengikuti langkah Keenan. Keenan sudah ada di dalam dan siap mengemudi, Drea masuk dan duduk di sebelah Keenan.


 “Jam berapa sekarang?”


Drea melirik jam tangannya, melirik Keenan beberapa detik kemudian mengembalikan pandangannya ke arah jalan raya, mobil Keenan mulai melaju meninggalkan café. “11” Jawab Drea singkat.


“Harusnya mereka punya tanggung jawab, Lo juga…baru kenal berapa lama sudah akrab sama mereka” Keenan mendadak pandai berbicara, layaknya Ayah yang sedang mengomeli anaknya yang salah. Drea menatap Keenan, Keenan tak peduli dan fokus menyetir.


“Aku bisa pulang sendiri, lagian malam minggu jadwalku kan bebas, aku juga sudah mempersiapkan semua yang besok akan kita bawa”


“Lo…” Keenan sejenak tidak melanjutkan kalimatnya, Drea menatap Keenan, penasaran dengan lanjutan alasan


Keenan. “Lo nggak tahu daerah perumahan sekitar rumah,apa nanti kata Pak RT kalau lihat cewek pulang larut malam terus pulangnya ke rumah Gue” Ujar Keenan tanpa menatap Drea. Drea menahan tawa, meskipun baru 2 minggu berada di rumah Keenan, Drea sudah kenal dengan Pak RT di lingkungan perumahan Keenan, dan di


sana juga banyak aktifitas yang terjadi di tengah malam, karena ada beberapa artis juga yang tinggal di daerah sana.


“Setidaknya aku cewek baik-baik”


“Harus seperti itu, Gue nggak mau kalau tiba-tiba ada gosip yang enggak-enggak”


Drea kembali menahan senyumnya, setelah wajah canggung yang mengaku jadi bintang iklan, sekarang takut kalau ada gosip yang akan menghampiri.


“Ya..terima kasih, jadi kalau malam minggu aku kepentingan aku harus seperti apa?”


“Di rumah”


“Ngapain? Lagian aku juga punya kesibukan, ada yang harus aku urus juga”


“Atau enggak, minggu depan ikut Gue ke Singapura”


 


***


Keenan dan Drea baru saja memasuki area berlatih, ini adalah hari terakhir Keenan latihan sebelum besok berangkat ke Singapura. Drea bahagia akhirnya tidak jadi ikut dengan alasan ada meeting dengan rekan yang akan membahas iklan baru dengan Keenan.


“Besok ikut berangkat nggak?” Tanya Jerry, wajahnya dipenuhi peluh setelah menjalani latihan selama 3 jam. Selama itu pula Drea duduk-duduk di pinggir lapangan sambil memainkan game di HPnya.


“Enggak, aku ada urusan penting”


“Ih”


“Kenapa?”


“Nggak seru nggak ada kamu” Ujar Jerry, tangannya mengambil botol air mineral yang ada di samping Drea.


“Semoga kamu juara” Urai Dea sedikit berbisik, dari jauh Keenan memperhatika mereka berdua.


“Apa buat aku saja doa kamu?” Tanya Jerry, matanya melirik Keenan yang masih memperhatikan mereka.


“Tentu saja semua pemain negara kita, semoga bisa berjaya semua” tambah Drea.


“Termasuk dia?” Jerry memberikan aba-aba arah Keenan menggunakan raket yang dia pegang. Kali ini Keenan sudah tidak memperhatikan mereka, dia sedang sibuk membetulkan tali sepatunya.


“Harusnya, karena aku yakin dia lebih keren berada di podium juara daripada menjadi bintang iklan, dasar cowok canggung itu” Drea menahan tawanya, bagaimana dia melihat Keenan syuting adegan untuk iklan pada hari minggu kemarin. Harus melewati beberapa kali take dan pada akhirnya sutradara hampir menyerah karena Keenan


tak kunjung berhasil melakonkan apa yang diharapkan oleh sutradara.


“Masa sih?” Jerry tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Drea, Keenan yang akan mulai latihan lagi memandang Drea dan Jerry. “cowok canggung? Darimana istilah panggilan itu? Itu bukan dari fansnya kan?” Jerry penasaran.


“Lihat saja wajahnya” Drea berbisik.


“Hati-hati, kalau fansnya tahu, habislah kamu, diapaling banyak fansnya” Jerry menahan tawanya.


“Aku bicara apa adanya, dia akan lebih keren dengan medalinya, dan tentu saja arahan gayanya sesuai keinginan dia”


“Diantara kami, dialah yang paling banyak disayang oleh pemuja Bulutangkis, tapi diantara kami juga, dialah yang akan paling dihujat saat dia kalah, terkadang ini terlalu tidak adil”


“Iyakah? Adakah bullying semacam itu buat kalian?” Drea serius mendengarkan Jerry, Jerry mengangguk. “Banyak yang menyarankan kepada para atlet agar sebisa mungkin menghindari media sosial, karena kalau nggak kuat mental, mereka akan menghancurkan karir, bahkan mereka sendiri”


“Bagaimana kalian bertahan” Drea penasaran, apakah kehidupan para atlet juga taklepas dari bully.


“Kamu ini asisten si cowok canggung atau mbak Aida sih?” Jerry tertawa, Drea menatapnya dengan tajam, lalu ikut tertawa karena keingintahuannya.


“Ya…biarin aja mau bilang apa, namanya pertandingan, ada yang kalah dan menang, yang penting kita lakukan yang terbaik saja. Dan kamu…jaga Keenan”


“Hah? Maksudnya apa?”


“Jaga dia agar tidak seperti kakaknya”


“Kamu hutang cerita sama aku tentang ini, tentang kakak dia” Drea menepuk pundak Jerry.


***


Drea memastikan semua barang-barang yang dibutuhkan Keenan sudah berada dikoper, jangan sampai ada yang tertinggal. Ini adalah pengalaman pertama dia menyiapkan segala keperluan Keenan yang akan bertanding ke luar negeri. Drea bersiap mengantar barang tersebut ke asrama, belum sempat Drea keluar dari kamar pakaian, Keenan membuka kamar tersebut. Kamar yang dikhususkan Keenan untuk menyimpan semua keperluan yang berhubungan dengan Bulutangkis.


“Woooa….” Teriak Drea, sungguh dia tidak menduga kalau Keenan akan berada tepat di


depannya. Hanya berjarak beberapa senti, wajah mereka hampir mengenai satu samalain. Tangan Keenan menahan tubuh Drea agar tidak jatuh karena kaget dengan kedatangannya. Selang beberapa detik, Drea mundur ke belakang, Keenan melepaskan tangannya.


“Maaf…Oh ya, baru saja ini mau aku antar ke asrama”


“Nggak usah, ini sudah malam, Lo di rumah saja, biar Gue yang bawa” Keenan berjalan mengambil koper yang berada di samping Drea, lalu menyeretnya keluar. Drea mengikuti langkah Keenan.


Keenan meletakkan koper di ruang tamu, lalu dia duduk di sofa sambil memainkan HP. Drea hendak masuk kamar karena tugas yang seharusnya dia kerjakan sudah diambil alih oleh Keenan sendiri.


“Buatin Gue Mie sama teh hangat” Keenan meminta, Drea tidak jadi membuka pintu kamarnya.


“Bukannya itu tidak baik buat kamu, aku dengar kemarin dari dokter gizi, para atlet tidak boleh mengkonsumsi makanan seperti itu” Drea mengingatkan


“Gue juga nggak setiap hari makan mie” protes Keenan. Drea menyerah dan pergi ke dapur, lampu kamar tidur  Mak Nah sudah gelap, pasti sudah tidur. Drea membuka lemari makanan lalu mengambil mie yang diinginkan Keenan.


Drea meletakkan mie dan teh hangat pesanan Keenan di meja, Keenan masih saja asyik dengan layar HPnya, Drea bergegas lagi meninggalkan Keenan.


“Kenapa cuma satu?” Tanya Keenan.


“Aku harus buat berapa?” Drea celingukan, dari tadi tidak melihat orang lain selain Keenan.


“Elo”


“Aku? Oh…aku sudah makan, dan aku tidak mau makan terlalu malam, itu akan membuat berat badanku naik dengan cepat” Drea masih berdiri di depan pintu kamarnya.


“Apakah kamar itu terlalu nyaman sehingga Lo selalu ingin masuk kesana?”


“Apa?”


Akhirnya Drea duduk di depan Keenan, menemaninya makan mie hingga suapan terakhir.


“Jangan khawatir, aku sudah memasukkan semua barang-barang sesuai catatan” Drea menahan


kantuknya.


“Jangan suka keluyuran, apalagi sendirian”


“Aku nggak pernah keluyuran” Drea membantah, kedua tangannya menopang dagu.


“Atau ke Lotus café” Ujar Keenan, Drea meletakkan tangannya di meja, kantuk yang tadi menderanya hilang seketika. Dari mana Keenan tahu kalau dia beberapa kalike Lotus café.


“Lo bisa pergi saat meeting, selebihnya Lo di rumah” Keenan memberikan peringatan, Drea menatap Keenan heran, sejak kapan Keenan menjadi ikut campur dalam urusan pribadinya.


“Aku tidak bisa nonton sendirian” kalimat itu yang keluar dari bibir Drea, sebenarnya dia ingin mengumpat mendengar semua peraturan Keenan yang tak masuk akal melarangnya pergi kemana-mana, bahkan ke Lotus Café.


“Burhan, Lo nonton sama Burhan” Ujar Keenan dingin.


Drea mengemas mangkok dan gelas bekas Keenan, lalu membawanya ke dapur. Malam semakin larut, Drea berfikir bahwa Keenan tak akan kembali ke asrama malam ini. Penerbangannya dijadwalkan setelah jam 12 siang. Drea kembali melewati ruang tamu, Keenan masih duduk di sofa yang sama.


“Good luck buat turnamen nanti, aku harap kamu bisa mengalahkan semua lawan-lawanmu, setidaknya aku ingin melihat kamu keren berada di podium juara, dan kalaupun tidak…aku yakin kamu sudah melakukan yang terbaik. Aku akan nonton sama Burhan”


Keenan menatap Drea sambil tersenyum simpul beberapa sekian detik, Drea masih mematung di depan pintu kamarnya.


“Aku akan benar-benar masuk kali ini, aku mengantuk, O ya…aku harap kamu tidak terlalu fokus dengan media sosialmu, tentang sanjungan dan hujatan mereka” Drea mengakhiri lalu benar-benar menghilang setelah membuka pintu kamar. Keenan kembali tersenyum, tangannya membuka media sosial miliknya, banyak para penggemarnya yang memberikan dukungan, tetapi juga para hatersnya yang nyinyir dengan kata-kata yang pedas. Keenan mengetik sebuah nama lalu memfollow akun tersebut.


Flasback sore tadi


“Maaf Keenan jika Gue banyak ngrepotin Elo, nggak seharusnya Elo repot begini. Tapi terima kasih sudah menerima Drea dengan baik, dan Gue bener-bener minta tolong, ajaklah dia sibuk, biar tidak ada kesempatan buat teman-temannya untuk memanfaatkan dia” Mas Dewo menyempatkan diri untuk mengetahui kabar Drea.


“Dia seperti adikku sendiri, hanya saja dia sering tidak mengindahkan apa kataku” tambah Mas Dewo. “Apa dia merepotkan?”


Keenan menggeleng, dan tentu saja Mas Dewo tidak melihatnya. “Dia bekerja dengan baik, bahkan lebih teliti dari Elo Mas”


“Bagus lah, setidaknya tidak membuatmu repot berlebihan” Mas Dewo lega.


“Lotus café, tempat favorit dia main Mas?” tanya Keenan, saat Drea kesana beberapa waktu lalu, Keenan mengikuti tanpa sepengetahuan Drea.


“Dia kesana? Harusnya dia menghindari apa yang ada di dalam, dia terlalu polos, Gue belum sempat membantunya dan ternyata Gue sudah harus kesini duluan”


“Gue ngerti Mas”


“Terima kasih Bro, sukses ya…”