My Special One, Keenan

My Special One, Keenan
Part 5


Drea mendelik melihat jersey Keenan yang warna putih berubah warna menjadi kemerahan, diangkatnya kaos tersebut dengan kedua tangannya, dilihatnya dengan seksama, benar-benar jersey tersebut menjadi tidak karuan warnanya.


“Hah bagaimana ini?” Drea panik.”Ini jersey baru, belum-belum sudah rusak, gimana ini?. Drea mengambil ember dan mulai membersihkan lagi, namun nihil. Noda luntur di kaos tersebut tidak hilang sama sekali.


“Hah….nggak hilang juga” Drea mulai putus asa.


“Keluarkan barang-barangmu yang ada di kamar” Suara Keenan mengejutkannya, Drea tidak mendengar langkah kaki sebelumnya, dia terlalu fokus dengan cuciannya.


“Apa?” Drea menyembunyikan jersey itu di belakang badannya dengan kedua tangannya. “Aku bisa menjelaskan, atau kamu bisa potong gajiku nanti untuk mengganti jersey ini” Drea mengulurkan jersey tepat beberapa cm di depan wajah Keenan. Keenan terkejut dan refleks mundur selangkah.


“Apa ini?” Keenan menyipitkan matanya, lalu memegang kaos itu.


“Tolong, bahkan aku belum genap sebulan kerja di sini, aku juga belum gajian, please…jangan pecat aku, aku


butuh pekerjaan ini” Drea memohon, tangannya mulai menurunkan kaos ang dari tadi berada di depan wajah Keenan. Keenan menatap Drea dengan sedikit bingung.


“Mak….”


“Iya mas…” Suara Mak Nah dari dapur, tak berapa lama Mak Nah sudah berada di hadapan Keenan. “Bantu keluarkan barang-barangnya”


“Iya mas”


“Maaak….” Drea memohon, Mak Nah tersenyum, sementara Keenan sudah masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan apapun ke Drea.


“Mak…….aku dipecat gara-gara kaos ini” Drea masih memegang kaosnya, menjulurkan ke depan Mak Nah.  “Maaak…Mak Nah kok diam saja?” Ujar Drea lagi. "Aku harus cari kerja kemana lagi?"


“Emak lupa kasih tahu kamu, Mas Keenan mau kamu pindah ke kamar dalam”


“Hah? Apa Mak?” Drea ingin Mak Nah mengulang kata-katanya. Diletakkannya kaos basah tadi di ember, lalu Drea mengikuti langkah Mak Nah yang sudah berada di depan kamar Drea.


“Mas Keenan bilang kalau Nak Drea pindah kamar depan saja, terus nanti akan ada pekerja baru yang dipekerjakan untuk nyuci”


“Terus….pekerjaanku apa Mak?”


“Nanti lah nanya sama Mas Keenan, Emak cuma disuruh bilang seperti itu”


“Mengapa tiba-tiba seperti ini?” Drea menggumam.


“Ayo” perintah mak Nah.


***


Drea memasuki kamar baru, kamar yang persis berhadapan dengan kamar Keenan. Kamar yang tentunya lebih luas dari kamar sebelumnya. Bahkan kamar ini terkesan mewah dengan kamar mandi dalam. Drea menata barangnya, tak butuh waktu lama, karena memang dia tidak memiliki banyak barang.


“Ah…..serasa kembali ke kamarku sendiri” Drea rebahan, tangannya mengelus bantal yang terasa begitu halus dan


empuk. “Apa dia tidak berlebihan? Lalu….pekerjaan apa yang sekarang harus aku kerjakan?” Drea menggumam sendiri.


"tok…tok”


Suara pintu membuyarkan lamunannya, Drea bergegas bangun dan membuka pintu,dilihatnya Keenan di depan pintu kamarnya, menatap Drea tajam.


“Sudah?”


“Iya” Drea mengangguk. Tanpa aba-aba Keenan menuju ruang keluarga, Drea mengikutinya.


Keenan meletakkan buku agenda warna hitam di atas meja masih tanpa perintah. Ini adalah salah satu hal yang paling tidak disukai Drea, Keenan terlalu irit bicara. Bahkan kadang dia tidak tahu maksud dari sikap Keenan.


“Sekarang kerjaan Lo bantu Gue nyusun segala kegiatan, baik latiha,  turnamen, atau acara lain, jangan lupa tanyakan dulu ke Gue kalau ada agenda di luar latihan atau tanding”


“Maksudnya jadwal di luar tanding?”


“Baca dulu, pelajari, baru nanya” Keenan beranjak meninggalkan Drea. Drea membuka buku perlahan, membaca catatan-catatan lawas, mungkin Mas Dewo dulu yang membuatnya. Drea membacanya perlahan.


“Latihan….tanding, iklan……acara penghargaan…..Hah….masa sih dia jadi bintang iklan segala?” Drea tertawa kecil sambil terus melanjutkan membaca agenda tersebut.


“Cowok itu, sejak kapan jadi bintang iklan? Lalu iklan apa? Bahkan bicara saja canggung gitu?” Drea menggumam lagi.


“Lo nggak punya TV di rumah?” Suara Keenan mengagetkan Drea


“Aku?” Drea menatap Keenan “Sejak kapan di sini?” Drea menggumam lagi, tapi kali ini jelas Keenan mendengarnya lebih jelas. Keenan kembali duduk di kursinya tadi, tepat di depan Drea.


jadi aku tidak yakin” Drea berbicara dengan jujur tanpa mempedulikan tatapan Keenan.


“Apa?”Keenan melotot.


“Kenapa? Aku jujur” Ujar Drea ambil tertawa kecil.


“Kalau ada nomer telp nggak Lo kenal menghubungi Lo, jangan abaikan. Itu pasti berhubungan dengan pekerjaan”


“Bahkan kamu nggak nunggu persetujuanku” Drea mendelik.


“Lo mau kerja nggak?” Keenan menatap Drea dingin, tapi Drea sama sekali tak takut.


“Ya…..ya….Oh ya, apa tidak ada kamar lain? Kamarku terlalu mewah” Drea kurang nyaman karena mendapatkan kamar yang dirasa istimewa buatnya. Keenan hanya menatapnya tanpa menjawab Drea. Drea mulai memahami sifat dan sikap Keenan. Terlepas dari cerita di tempat latihan Keenan sehari-hari yang mengatakan Keenan terlalu eksklusif dan sangat tertutup kepada siapa saja, nyatanya Keenan tak seperti itu bagi Drea. Keenan adalah bos


sekaligus teman yang baik.


“Oh ya….itu Korea, ada ya turnamen kesana?. Drea membaca salah satu agenda jadwal pertandingan Keenan setahun yang lalu. "Pasti menyenangkan perjalanan kesana, aku bahkan sudah merencanakan perjalanan kesana


bersama teman-temanku, tapi sepertinya mereka sudah berangkat kesana 2 minggu yang lalu, aku melihat kebahagiaannya lewat media sosial mereka. Itu adalah waktu sulitku” Drea menerawang.


“Teman?”


“Iya, mereka yang selalu menemaniku beberapa tahun terakhir, aku pikir mereka sedang sibuk sekarang, hingga tidak merespon pesanku”


“Lo…Lo itu polos atau bagaimana?  Teman tak akan meninggalkan Lo begitu saja”


“Apa? Meninggalkan?” Drea terhenyak. “Kenapa aku harus menceritakan duniaku padamu, kamu juga tak akan pernah paham dengan duniaku”


“Gue nggak pernah berfikir bahwa orang yang diceritakan Mas Dewo tempo hari itu adalah cewek, Gue kira dia cowok yang semacam Mas Dewo yang bisa mengangkat barang-barang kemana mana”


“Selama ini aku juga bisa angkat raketmu kan?” Drea melotot, malam ini berbicara dengan Keenan tanpa merasa ada sekat. Keenan tersenyum mendengar Drea menjawab, dia tidak pernah menyangka akan mendapat asisten cewek.


“Kamar itu, sebenarnya kamar siapa?” Drea menunjuk pintu kamarnya, dia sedikit penasaran, Keenan enggan menjawab pertanyaan Drea, dia memilihberanjak pergi meninggalkan Drea dan masuk kamarnya.


“Hah…bintang iklan apanya…sudah aku bilang kalau dia adalah cowok yang canggung” Drea menggumam lagi, kali ini ditatapnya pintu kamar Keenan, takut kalau lagi-lagi Keenan akan mendengar atau Keenan akan berada di belakangnya tiba-tiba seperti tadi.


 ***


HP Drea berbunyi, ada pesan masuk, pesan yang mengingatkan bahwa minggu pagi Keenan ada acara pengambilan gambar untuk iklan.


“Hah…ini seriusan?” Drea membaca pesan dengan seksama, dia takut kalau salah lihat atau matanya yang tidak jelas membaca pesan itu. “Aku semakin penasaran, bagaimana kalau dia lagi akting di depan kamera. Drea berdiridi depan cermin kecil yang ada di samping TV, lalu memandang bayangan wajahnya sendiri di depan cermin sambil bergaya muka manis dan tangan memegang dagu.


“Apakah seperti ini kalau dia lagi action?” Ujarnya masih menatap cermin, Keenan membuka pintu kamarnya, mendapati Drea bersikap aneh, Keenan geleng-geleng kepala, sementara Drea ngacir lari ke


kamarnya.


 


Flashback


“Apa ini sudah keputusan final Mas?” tanya Keenan tak percaya dengan pengunduran diri Mas Dewo, laki-laki yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri. Sudah beberapa tahun terakhir Mas Dewo menjadi asisten yang selalu membantunya.


“Tidak ada pilihan lain Bro” Ujar Mas Dewo yang sebenarnya juga berat meninggalkan Keenan, terlebih saat-saat seperti ini. Baru tiga bulan yang lalu Keenan ditinggal oleh kakak kesayangannya, di saat itu pula Mas Dewo berperan menjadi teman dan menghiburnya.


“Lalu Gue harus gimana?” Tanya Keenan pasrah, masih tidak rela Mas Dewo mengundurkan diri.


“Gini, Gue ada adik, kebetulan dia butuh pekerjaan,Gue kira dia bakalan bisa, bahkan bisa banget bantu Elo” Mas Dewo menawarkan.


“Kalau itu saran Mas Dewo, Gue ikut” Keenan menerima tawaran itu.


“Gue fikir dia akan sangat membantu Elo,dan Gue juga minta bantua Elo buat jagain adik Gue, karena sejujurnya Gue nggak tega juga meninggalkan dia di saat seperti ini, tapi mau gimana lagi, keluarga Gue butuh Gue pulang kampung selamanya.


“Iya Mas,Gue ngerti. Kapan Mas Dewo berangkat?”


“Minggu depan, dan sorry banget nggak bisa ngedampingin Elo di Dubai nanti, Gue harap Elo berhasil dengan hasil terbaik, oh ya…nanti adik Gue langsung Gue bawa kesisni, mungkin pas Elo nggak ada di rumah, nggak apa-apa kan?”


“Iya Mas”