
Drea mengemasi semua barang yang dia butuhkan, hanya yang dia butuhkan. Sebegitu banyak barang yang ada di rumah mewahnya, hanya satu koper besar dan satu tas ransel yang bisa dia bawa. Beberapa kali Drea menarik nafas panjang dan menghadap ke belakang, seolah tak rela meninggalkan ini semua.
“Sudah siap? Apa hanya itu yang kamu bawa?” tanya seseorang yang menunggu di depan rumahnya, tepat di samping mobilnya. Drea mengangguk, lalu menutup pintu rumah yang sudah terpasang tulisan “Rumah Ini Disita oleh Bank”. Sejenak Drea terdiam, sementara laki-laki itu menata koper Drea ke dalam mobil. Sejenak setelah membereskan koper, laki-laki itu membiarkan Drea mengucapkan selamat tinggal untuk tempat yang dia
huni 3 tahun terakhir.
“Ayo pergi mas” ujar Drea, laki-laki itu mengangguk perlahan dan membuka pintu mobil. Drea duduk di sebelah laki-laki itu. Mobil perlahan meninggalkan rumah itu.
“Aku tidak pernah menyesal dengan apa yang telah terjadi, aku tahu, awalnya aku bukan siapa-siapa di sini, dan aku kembali menjadi bukan siapa-siapa, jadi mas Dewo jangan khawatir, aku pasti bisa” Ujar Drea sambil tersenyum ke arah Mas Dewo yang sedang menyetir. Mas Dewo tersenyum, perempuan yang ada di sampingnya, sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri, bagaimana dia bertekad menjadi yang terbaik dengan segala
usaha yang dia bisa, hingga bisa menjadi sukses, dan pada akhirnya perempuan ini kembali ke titik 0, bahkan dikatakan berada di titik minus.
“Mas Dewo dan Mbak Santi jangan khawatir, aku akan baik-baik saja, maaf kalau aku kali ini benar-benar
merepotkan kalian” Mbak Santi adalah istri dari Mas Dewo.
“Dre…..Aku dan Santi tetaplah saudara kamu, aku yang harusnya minta maaf, di saat tersulitmu, kita tidak bisa berada di samping kamu”
“Kalian yang terbaik” Drea tersenyum. “Jika suatu saat nanti aku ada waktu luang, aku akan main ke rumah Mas Dewo dan Mbak Santi”
“Itu gampang Dre” Mas Dewo kembali tersenyum.
***
Mas Dewo, yang selama ini membantu Drea, tiba-tiba harus meninggalkan kota ini untuk selamanya. Karena punya tanggung jawab mengurus usaha keluarga, sementara kedua orang tuanya sakit keras dan tidak memiliki anak lagi selain Mas Dewo. Demi baktinya, Mas Dewo dan Mbak Santi harus meninggalkan kota ini, termasuk meninggalkan Drea.
Ingatan Drea seolah kembali pada kejadian malam itu, Drea terdiam sambil memandangi secarik kertas yang ada di tangannya, tak ada kata atau ekspresi berlebih dari wajahnya. Beberapa jam hal tersebut terjadi, Drea duduk termenung di ruang tamu rumahnya. Tak ada teman, hanya segelas air putih di atas meja. Sejak mendapat surat itu sore tadi, Drea mendadak merasa sesak nafas dan tidak ingin berbuat apapun. Usaha yang dengan susah payah dia rintis, harus melayang begitu saja. Tidak ada yang menghiburnya, hingga seminggu berlalu, dia mencoba mengusahakan yang terbaik agar usaha yang dia miliki kembali atau paling tidak diselamatnya.
“Tidak bisa Drea, semua akan ditarik oleh Bank” Ujar seorang cowok yang dia anggap sebagai sahabatnya itu. Padahal dia ingin ada jawaban selain kata tidak bisa.
Drea mengernyit sambil membuka matanya, menghela nafas panjangnya lalu meletakkan kertas itu di meja. Mulai besok dia harus meninggalkan rumah itu, entah sampai kapan dia bisa kembali ke rumah itu.
Memori Drea kembali ke kenyataan yang sekarang, mobil berhenti di depan pagar rumah berwarna putih, seorang satpam membuka pagar dan mempersilahkan mobil yang mereka tumpangi untuk masuk ke halaman. Sekiranya mereka sudah akrab satu sama lain.
“Mas Keenan belum datang mas” Ujar Satpam tersebut sambil menutup pintu gerbang kembali, Mas Dewo mengangguk sambil membawa koper Drea dari mobil. Lalu Satpam itu mendekati Mas Dewo.
“Pasti dia lagi latihan malam, mau ada turnamen, aku tahu dia pasti sangat sibuk, bekerja keras agar kembali menjadi Juara”
“Iya Mas” Jawab Mas Dewo.
Drea berdiri mematung di dekat mobil, sambil mendengarkan percakapan antara Satpam dan Mas Dewo. Tentang latihan dan turnamen. Drea sama sekali tidak tahu, apa yang akan dia lakukan di sini, Mas Dewo hanya bilang jika dia harus menggantikan pekerjaannya, sembari Drea bisa menemukan pekerjaan yang benar-benar dia inginkan nantinya.
“Mas Dewo yakin mau resign? tanya Satpam itu.
“Iya, ya….keadaannya harus seperti ini, mau bagaimana lagi, aku titip adikku” Ujar Mas Dewo sambil memandang Drea, Satpam itu mengangguk dan tersenyum ke arah Drea. Drea membalas senyum Satpam itu. Tak
“Mas Dewo…..mari masuk Mas” Ujar wanita itu ramah.
“Tidak usah Mak” ini aku hanya mengantar Adikku, nitip dia Mak….dia masih perlu banyak bimbingan” Wanita yang dipanggil Mak itu kemudian mendekati Drea, Drea mengajak salaman wanita itu.
“Ah…adik Mas Dewo….iya Mas, sebisa mungkin akan Emak ajari”
“Tolong anggap dia sebagai anak Emak” Ujar Mas Dewo sambil tertawa kecil”
“Siap Mas, oh ya….Mas Keenan belum datang” Mak Nah menarik koper Drea, namun Drea keberatan dan tak ingin wanita itu membawa kopernya. Mak Nah kemudian masuk ke dalam rumah, menunjukkan kamar yang akan dihuni oleh Drea.
“Panggil saja Mak Nah, dia orang yang baik, dan maaf Dre, aku nggak bisa lama, aku harus segera berangkat, ini Mbak Santi dan anak-anak sudah menunggu, jangan khawatir, bos kamu orang yang baik” Mas Dewo tersenyum.
Mas Dewo bilang jika pekerjaan yang harus dilakukan Drea adalah mencuci baju dan sebagainya, karena masak sudah dilakukan oleh Mak Nah, wanita yang ditemuinya tadi. Awalnya Drea kaget, tangan halus yang biasanya hanya menyuruh orang untuk melakukan pekerjaannya, kini dia harus melakukan itu untuk orang lain. Drea mendengus tak percaya.
“Oh ya, itu sementara yang harus kamu lakukan, karena Bos kamu juga akan mencari asisten baru sepeninggal aku resign. Jadi, semoga kamu bisa kerasan dan aku yakin kamu perempuan adik Mas Dewo yang kuat” Mas Dewo memotivasi Drea.
“Ah…Mas Dewo berlebihan, tenang mas, kalau urusan cuci mencuci, aku ahlinya” Drea mencoba berbohong dan tentu saja dia membayangkan tangannya akan menjadi kasar nantinya.
“Kamu memang hebat” Drea tertawa menyeringai, tentu saja ucapan itu sangat berlebihan dan tidak seperti kenyataan yang ada. Setelah beberapa saat, Mas Dewo pamit, meninggalkan Drea di rumah orang asing yang
bahkan dia tidak tahu siapa Bosnya.
“Emak harus memanggil dengan panggilan apa nak?” tanya Mak Nah mengagetkan Drea yang sedang duduk di depan kamarnya setelah meletakkan barang di dalam lemari. Kamar Drea berada di belakang, menghadap taman samping rumah.
“Oh Mak….” Drea beringsut dari kursi panjangnya menuju pinggir, memberikan tempat duduk kepada Mak Nah, lalu Mak Nah duduk di samping Drea. Wanita itu benar-benar ramah dan wajahnya sangat keibuan.
“Panggil saja Drea Mak”
“Sudah makan nak Drea?”
“Oh sudah Mak, tadi bareng Mas Dewo”
“Oh baik, sayang sekali Mas Dewo harus resign, padahal Mas Keenan sangat cocok dengan kinerja Mas Dewo” Ujar Mak Nah mengenang, Drea menatap Mak Nah, mata Mak Nah menerawang ke dapan. “Entah kebetulan atau tidak, asisten Mas Keenan, Mira, juga resign 2 minggu yang lalu”
“Mira?” tanya Drea.
“Mira, yang sekarang kamu gantikan nak, mungkin Mas Keenan juga akan mencari pengganti Mas Dewo secepatnya, sayangnya dia orangnya sulit untuk bisa cocok dengan orang lain, jadi perlu waktu lama mungkin” Mak Nah menatap Drea, lalu tersenyum, tangan Mak Nah meraih tangan Drea.
“Semoga kamu betah di sini nak dan bisa akrab dengan Mas Keenan dan semua yang ada di sini, anggaplah di sini keluarga” Ujar Mak Nah berharap, Drea menganggup. Mak Nah pamit untuk tidur, karena waktu juga sudah menunjukkan jam 11 malam. Drea masih berada di kursi panjang depan kamarnya. Tempat baru yang akan dia tempati entah sampai kapan. Kata-kata dari Mak Nah yang menyejukkan, menyuruh menganggap semua yang ada di rumah ini adalah keluarga, terasa hangat dia dengar. Karena, sehari-hari, Drea hidup sendirian di rumahnya.