I

I
episode 8


Rio langsung melajukan Mogenya dan sebelum berlalu dia menyempatkan waktu menglakson sekali.


Setelah itu Bu Ningsih masuk rumah sambil memapah Ani dan langsung Mendudukan Ani di sofa. Bu ningsih langsung pergi ke kamar untuk mengambil minyak Urut. Tidak selang berapa saat bu Ningsih kembali dengan tangan yang membawa minyak urut.


Bu Ningsih terlihat sangat khawatir dengan keadaan Ani, dia buru buru melepaskan sepatu serta kaos kaki Ani, tanpa banyak bicara bu Ani memijit kaki Ani dengan lembut. Ani haya diam dan takut kalau ibunya bertanya. Karena dia takut jika harus berkata jujur. tiba-tiba..


"Aduh duh duhh. Sakit buk, pelan pelan sakit kaki Ani. Ucap Ani sedikit meringis menahan sakit.


"Sabar ya Sayang. Nanti pasti sembuh.Ucap bu ningsing menenangkan."


" Ini tadi kenapa kok sampai seperti ini. Tanya bu Ningsih karena penasaran."


Deg....


"Tadi Ani jatuh dari sepedah bu, gara gara ada batu kerikil di jalan dan Ani tidak lihat jadi Ani jatuh. Jawab Ani berbohong. Ani hanya tidak mau membuat Bu Ningsih sedih kalau dia berkata jujur."


"Iya lain kali Hati hati Nak. Jawab bu Ningsih percaya


Bu Ningsih masih terus memijit dengan lembutnya belaian seorang ibu. Sedangkan Ani hanya bisa mencengkeram Roknya dan bisa mengerang menahan sakit. Hingga sampai akhirnya selesai bu Ningsih menarik kakinya yang sontak membuat Ani kaget dan berteriak kencang.


"Awwwww. Teriak Ani sambil menahan sakit"


"Sudah sayang. Buruan kamu ganti baju terus makan, setelah itu kamu istirahat saja gak usah bantu ibu. Ucap bu Ningsih dengan muka yang masih sangat khawatir. Bagaimanapun Ani merupakan satu satunya orang yang dia punya. Karena Ayah Ani entah kemana tidak ada kabar setelah Bu Ningsih melahirkan. Bu Ningsih termasuk sosok yang sangat menyayangi Ani.


Ani hanya mengiyakan perintah ibunya karena tidak ada gunanya juga menolak.


"Baiklah bu, kalau begitu aku masuk kamar dulu. Ucap Ani segera berdiri dan berlalu meskipun masih dengan kaki yang sedikit pincang."


Dia tetap pergi mengambil makanan meskipun cuma sedikit, sekedar menghargai jerih payah ibunya. Waktu pun berlalu begitu cepat. dan sore berganti dengan malam. sebelum tidur Ani menyempatkan belajar terlebih dahulu, meskipun Ani merasa mampu mengerjakan Ulangan dan tergolong cerdas, tapi dia tidak melupakan kewajibanya untuk selalu belajar. Karena keinginan membahagiakan orangtuanya sangat kuat.


@Keesokan paginya


Ani bangun seperti biasanya, melakukan aktifitas seperti biasanya. Dia bangun langsung wudhu dan melakukan shalat subuh. Tapi dia hari ini tidak membantu Ibunya. Meskipun kakinya sudah mendingan tapi ibunya melarang.


"An hari ini kamu tidak usah bantu ibu nak, biar ibu saja yang masak. Ucap ibu Ningsih lembut."


"Iya bu. Maafkan anakmu ini yang selalu merepotkan ibu. Ucap Ani sedih."


"Tidak sayang, Ani tidak pernah merepotkan ibu nak. Ibu tuh sayang sama Ani, ibu takut Ani kenapa-napa. Ucap Bu Ningsih sambil memeluk Ani."


Anipun menbalas pelukan ibunya dengan erat.


"Sudah sekarang Ani siapkan dulu pelajaran yang mau dibuat Ujian Nanti. Ucap ibu Ningsih kepada Ani."


"Iya bu. Jawab Ani tanpa membantah sedikitpun.


1 jam kemudian...


Ani yang sudah mandi bergegas sarapan dan tanpa banyak berkata. Dia sarapan lebih awal di banding dengan ibunya. Karena ibunya masih sibuk dengan pekerjaanya. Karena biasanya Kalau pagi seperti ini ibunya selalu sibuk membersihkan tokonya yang merupakan sumber penghasilan untuk menyambung kehidupanya.


Selang beberapa menit suara Motor Rio terdengar. setelah selesai makan kebiasaan Ani mencuci piring terlebih dahulu. setelah itu Ani berpamitan kepada ibunya dan bergegas keluar menghampiri Rio


Bersambung...