
Hanna menghempaskan tubuhnya di ranjang apartemennya, kejadian yang tak terduga hari ini begitu melelahkan fisik dan mentalnya, masih terngiang dengan jelas kata-kata hinaan yang dilontarkan Kikan tadi siang di telinganya. Entah kenapa ketika Kikan menyebut Dennis sebagai calon tunangannya ada rasa seperti tidak rela menghinggapi hatinya, Hatinya seolah-olah berontak dan tidak Terima tentang hal itu.
Suara ketukan di pintu kamarnya memaksanya untuk beranjak..
"Bu! ada seorang laki-laki nungguin ibu di luar!
" siapa Ji? heran Hanna karena selama ini tak ada seorang pun laki-laki yang bertamu ke apartemennya kecuali adik tampannya.
"nggak tau bu!
" mungkin Erlangga! laki-laki itu kan nekad! gumam Hanna keluar dari kamarnya.
buru-buru ia keluar untuk menemui laki-laki yang diyakininya adalah Erlangga, karena sudah seminggu ini laki-laki itu selalu mengganggunya.
"Kau...!!!!...
Hanna mematung di depan pintu begitu ia tau siapa laki-laki yang berada di depannya, ternyata yang datang bukanlah Erlangga melainkan Dennis.
" Aku tau alamatmu dari Asistenmu! ucap Dennis seolah-olah mengerti arti kerutan di wajah bingung Hanna.
"lalu, mau apa kau kemari? jika kau masih menanyakan tentang alasanku, aku tidak sedang ingin membahasnya! ucap Hanna datar.
Bisa Hanna dengar helaan nafas Dennis yang terasa berat sembari menatap Hanna penuh cinta tapi juga ada luka di sorot mata itu.
" bagaimana kabarmu? kalimat yang tidak disangka-sangka Hanna itulah yang Dennis ucapkan.
"kita baru tadi siang bertemu, basa-basimu tidak perlu untuk dijawab!
" apa aku boleh masuk? pinta Dennis lembut, saking lembutnya sampai membuat Hanna menatap wajah sendu laki-laki itu. Sehingga tanpa sadar ia memundurkan langkahnya untuk memberi jalan pada Dennis agar pria itu bisa masuk ke dalam apartemennya.
"Terimakasih Hanna! ujar Dennis sambil mendudukkan tubuhnya di sofa, sedangkan Hanna duduk di depannya.
Suasana canggung menyelimuti mereka berdua, Tidak ada seorang pun diantara mereka memulai pembicaraan, Hanna yang ditatap Dennis terus-terusan hanya menundukkan wajahnya sambil memainkan jari tengannya yang saling bertaut di atas pahanya pertanda kalau ia tengah gugup.
Dennis yang melihat itu hanya tersenyum dalam diamnya,
" akhhh.. ternyata Hanna ku belum berubah, pasti dia sedang gugup sekarang! dia masih memainkan jari-jarinya!.. gumam Dennis dalam hati.
"Hanna! maaf untuk tadi siang! Kikan sudah sudah berbicara buruk tentangmu! ucap Dennis kemudian.
" oh.. gak apa-apa! mungkin karena dia cemburu! sahut Hanna datar.
"mama menjodohkan kami! Aku sama sekali tidak menyukainya, tapi mama selalu memaksa keinginannya! ucap Dennis lagi entah apa tujuannya menjelaskan itu yang pasti ada perasaan lega timbul di hati Hanna, Hanna juga tidak mengerti dengan suasana hatinya sekarang, sikap Lembut Dennis jika bersamanya, tatapan Dennis dan senyuman itu semua masih dia rindukan.
"mereka baik-baik saja!
" Kenapa kamu sepertinya sangat membenciku Hanna? sungguh aku nggak tau apa salahku! ucap Dennis kemudian tatapan sendunya berubah tajam menatap Hanna intens.
Hanna hanya diam untuk menjawabnya saja sepertinya Hanna tidak bisa, banyak kata-kata yang ingin dia ucapkan tapi dia tidak tau harus memulai darimana, Sorot matanya menjelaskan itu semua dan Dennis cukup tau tentang hal itu.
"baiklah, kalau kamu tidak mau menjawabnya, aku tidak akan memaksamu! kalau begitu aku pulang dulu ya! ucap Dennis sambil berdiri.
" kamu jaga kesehatan ya! kamu sedikit kurusan! ucapnya lagi penuh perhatian seraya mengelus puncak kepala Hanna yang langsung membuat gadis itu membeku menatapnya dengan air mata yang sia-sia untuk jatuh tapi masih bisa ditahannya.
Runtuh sudah pertahanan Hanna ketika laki-laki itu sudah menjauh, air matanya jatuh dengan derasnya, Ia langsung masuk kedalam kamarnya dan menangis sejadi-jadinya.
"kenapa kamu masih seperti ini Dennis!!
" harusnya kamu sadar kalau aku sangat membencimu!!! gumamnya terisak duduk bersimpuh memeluk lututnya.
Dilain Tempat Dennis baru saja sampai di apartemennya sudah mendapati Lisa di sana tengah berdiri menatapnya tajam.
"apa-apaan kamu Dennis!! ucap Lisa murka pada putra semata wayangnya itu.
" ada apa lagi ma?
"kenapa kamu marah-marah sama Kikan? dia itu calon istri kamu!
" ma! bisa tidak kita tidak usah berdebat tentang masalah ini? pinta Dennis lembut, sejujurnya emosinya sudah siap meledak karena lagi-lagi Kikan menggunkan Lisa sebagai tameng untuk menyudutkannya.
"mama harus mempercepat tanggal pertunangan kalian! ucap Lisa tegas
" ma! Dennis tidak mencintai Kikan! protes Dennis mulai terpancing emosi.
"apa karena perempuan yang baru kau temui tadi siang? tanya Lisa menatap curiga Dennis.
Sudah pasti bisa ditebak pasti Kikan sudah mengadu pada Lisa, dan Dennis semakin membenci gadis itu.
" ini tidak ada hubungannya dengan....
"mama tidak mau tau! kalau kau masih menemui perempuan itu, mama tidak akan tinggal diam! ancam Lisa memotong kalimat Dennis kemudia berlalu begitu saja.
Dennis hanya menghela nafas dan meminit pelipisnya pelan, ancaman Lisa tidak pernah main-main, ia takut Lisa akan berbuat sesuatu pada Hanna. Sungguh, ia hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada gadis itu.
Bagaimanapun luka yang diberikan gadis itu padanya, Ia tetap mencintai gadis itu bahkan sangat mencintainya dari dulu sampai sekarang.