
" aku harap kamu bisa mengerti Kikan, akan jadi apa hubungan ini jika didasari tanpa adanya cinta! ucap Dennis tegas pada Kikan.
"tapi aku sangat mencintaimu Dennis! bantah Kikan cepat.
" Aku sama sekali tidak bisa mencintaimu Kikan! dan tidak akan pernah bisa! tolong kau mengertilah..
"cukup aku yang mencintaimu! aku yakin dengan berjalannya waktu kamu pasti bisa jatuh cinta padaku! ucap Kikan lagi
" Tidak Kikan! aku nggak mau menyakiti kamu dan juga diriku sendiri!
"apa karena perempuan itu! ucap Kikan mulai tersulut emosinya.
" ini tidak ada hubungannya dengan Hanna! semua ini karena memang aku tidak bisa mencintaimu! Ucapan Dennis tidak bisa semudah itu untuk membuat Kikan percaya, Ambisinya sudah menguasai hatinya, apa yang dia inginkan akan menjadi miliknya bagaimanapun caranya.
"kamu pikir aku tidak tau tentang cinta masa lalumu itu Dennis? bahkan aku sangat tau siapa perempuan itu! tapi satu hal yang harus kau tau kau tidak akan pernah bisa memilikinya lagi karena aku yang akan menghalanginya! ucap Kikan sambil menatap tajam pria di depannya yang sudah mengeraskan rahangnya menahan emosi yang sudah bergejolak.
"Kamu sudah Gila Kikan! sinis Dennis kemudian beranjak meninggalkan Kikan.
" cih... dan aku akan pastikan kau akan melihat kegilaanku lagi Dennis! gumamnya sebelum berlalu.
Dennis memijit pelipisnya pelan, pertengkarannya barusan dengan Kikan sungguh sangat membuat kepalanya pusing, ini bukanlah pertama kali mereka ribut, jauh sebelum Dennis bertemu Hanna mereka juga selalu ribut dengan pokok permasalahan yang sama.
Dennis berjalan gontai memasuki Apartemennya, pikirannya terlalu lelah hari ini, ia sudah tidak sabar untuk merebahkan tubuhnya, Namun sepertinya keinginannya itu tertunda karena di depan pintu apartemennya sudah berdiri menyambutnya seorang wanita paruh baya dengan tatapan tajam melihat kearahnya.
"Apa ini!!!!... ucap Lisa melemparkan beberapa lembar foto ke atas meja begitu Dennis memasuki apartemennya dan mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu. Dilihatnya Foto Hanna dan dirinya tengah duduk berdua di sebuah kafe dan seingat Dennis tempat itu sepertinya di kafe dekat lokasi proyek mereka kemarin.
" mama dapat darimana foto ini? Heran Dennis..
"itu tidak perlu! ketus Lisa menatap tajam putranya.
" apa yang kau harapkan dari perempuan itu? tanya Lisa
"ma, kita cuma rekan bisnis! kita hanya membahas proyek kerja sama di sana!
" jangan mencari-cari alasan Dennis, wanita seperti dia mama sudah hapal! kalau tidak karena dia mengincar uangmu tidak mungkin perempuan itu mau kau bawa ke perkampungan seperti itu!
"ma! dia perempuan baik-baik! bantah Dennis meninggikan suaranya karena ia sangat tidak suka Lisa mengatai Hanna yang tidak-tidak.
" kamu membentak mama hanya karena perempuan itu? luar biasa Dennis! mama tidak tau pengaruh buruk apa yang sudah dia beri ke kamu!
"ma, sekali saja dengarkan Dennis! pinta Dennis melemah
" dia itu bukan siapa-siapa Dennis! dia perempuan baik-baik! lanjut Dennis lagi.
" Cukup Dennis!!! mama sudah tau semuanya, berhenti membela perempuan itu dan persiapkan dirimu karena mama akan mempercepat pertunangan kalian!
"Harus berapa kali lagi Dennis bilang kalau Dennis tidak mencintai Kikan ma! tolong jangan paksa Dennis! ucap Dennis semakin frustasi.
" Lama-lama juga kamu pasti bisa mencintainya! mama nggak mau tau kau harus menikah dengan Kikan! Setelah mengucapkan kata-kata itu, Lisa langsung meninggalkan putranya itu.
Dennis sudah kehabisan kata-kata menghadapi Lisa maupun Kikan, terkadang jika tidak mengingat kalau Lisa adalah ibu yang melahirkannya, ia ingin sekali bertindak dan berkata semau dia, ia sudah tidak tahan dengan perlakuan Lisa yang selalu mengambil keputusan tanpa meminta pendapatnya.
Tanpa melepas sepatunya, Dennis merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjangnya sambil melepas dasi yang sejak tadi mencekik lehernya. Sungguh pikirannya sangat lelah, Ia sangat tau kemungkinan terburuk yang akan Lisa ataupun Kikan lakukan pada Hanna, cepat atau lambat Kikan pasti akan menyerang Hanna atau Lisa ibunya sendiri yang langsung mendatangi gadis itu. Sebisa mungkin ia harus memikirkan cara bagaimana meyakinkan Lisa ataupun Kikan kalau diantara dirinya dan Hanna sudah tidak ada hubungan apa-apa walaupun jauh di dalam lubuk hatinya ia masih sangat menginginkan Hanna. Cinta dan hatinya masih seutuhnya milik gadis itu, sesakit apapun luka yang sudah dia beri pada Dennis tapi dengan menatap sorot mata Hanna, Dennis tau kalau gadis itu sama terlukanya dengan dirinya.
"Rahasia apa sebenarnya yang kau sembunyikan dariku Hanna! gumam Dennis sebelum dirinya larut dalam mimpinya.