
Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 tapi Hanna dan Regina masih berada di perjalanan akibat macet yang menjadi langganan ibukota, Hanna juga tidak menyangka kalau meeting mereka akan selesai malam itu sebabnya mereka masih berada di perjalanan sekarang.
"Re! Apakah ajakan makan malam Tuan Raditya Erlangga sudah kamu batalkan! tanyanya
" sudah Bu, tapi Tuan Erlangga bilang masih menunggu pertemuan itu! ucap Regina
"keras kepala sekali anak itu! kalau lusa aku tidak bisa, kalau dia bersedia minggu depan saja! ucap Hanna datar. Dia sungguh tidak mengerti jalan pikiran pria itu, biasanya kalau ada pertemuan Regina yang mewakilinya saja sudah cukup, tapi sepertinya tidak berlaku kepada Pria itu, pria itu bersikeras untuk bertemu secara langsung dengan dirinya.
"kalau boleh tau, apa Ibu ada acara besok lusa? setau saya jadwal ibu kosong! ucap Regina menatap Hanna.
" Aku berencana pulang ke rumah Re! sudah hampir dua bulan aku tidak pulang! sahut Hanna
"ooo... kalau begitu biar saya yang urus di kantor, bersenang-senanglah dengan keluarga anda Bu! ucap Regina tulus membuat Hanna tersenyum
" terimakasih Regina! Kau memang selalu bisa aku andalkan! kau dan Karin sangat berarti untukku! Hanna tersenyum menatap Regina sendu, membuat seseorang lagi yang berada di dalam mobil itu ikut tersenyum mendengar kalimat atasan mereka. Dia adalah Wahyu yang merupakan supir di kantornya yang masih berusia sekitar tiga puluhan.
"anything for you miss! Aku akan tetap berada di sisimu mendukungmu dan membelamu! ujar Regina membalas senyuman Hanna.
Hanna memasuki apartemennya ketika jarum jam sudah menunjukkan hampir tengah malam,
ia memperhatikan Jihan yang tengah menunggunya sambil membaca beberapa buku.
" eh.. ibu sudah pulang! selamat malam Bu! sapanya langsung menghampiri Hanna.
"malam Ji! sahut Hanna sambil membuka pintu kamarnya.
" Bu! mau langsung makan? biar Jihan panasin dulu! ucapnya sambil berdiri di belakang Hanna
"sepertinya tidak usah Ji, saya mau langsung istirahat saja! kamu sudah makan?
" belum Bu! tadinya Jihan menunggu ibu saja biar makan sama! ucap Polos Jihan membuat kedua bola mata Hanna seketika membulat sempurna menyadari Kalau Jihan belum makan padahal jam sudah pukul dua belas tengah malam.
"astaga Jihan sudah selarut ini kamu belum makan? lain kali kamu tidak usah menunggu saya ya, ya.. sudah ayo kita makan! ajak Hanna sambil berjalan ke meja makan, dia tidak mau mengecewakan Jihan yang sudah menunggunya.
"Terimakasih Bu! senyum Jihan Senang
" mulai besok kamu tidak usah menunggui saya ya, kalau mau tidur juga kamu tidur duluan! ucap Hanna mengingatkan
"iya Bu! ucap Jihan kemudian menyuapkan makanan kemulutnya.
Tak ada percakapan selanjutnya, mereka hanya menikmati hidangan di depannya, Hanna yang memang belum mengisi perutnya sejak tadi begitu fokus makan sehingga tidak menunggu lama makanan di piringnya sudah habis.
" Kamu berapa bersaudara Ji? tanya Hanna setelah mereka selesai dengan makanan masing-masing.
"ada Tida Bu, Jihan anak pertama dan adik-adik Jihan masih kecil-kecil! sahut Jihan.
" orang tua kamu pekerjaannya apa?
"hanya pedangang kecil-kecilan Bu! itu sebabnya Jihan ingin bekerja saja untuk membantu ayah dan ibu Jihan! ucap Jihan polos.
Hanna hanya menganggukkan kepalanya mendengar cerita Jihan, gadis di depannya ini masih sangat belia menurutnya, persis seperti dirinya beberapa tahun yang lalu, masih muda tapi sudah harus ikut berjuang demi keluarga.
" Ya.. sudah, saya ke kamar dulu ya Ji! pamit Hanna beranjak dari meja makan.
"selamat istirahat Bu! ucap Jihan dan hanya diiyakan Hanna lewat anggukan kepalanya.
Hanna mrebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah selesai mandi, tatapannya tertuju pada langit-langit kamarnya, kehadiran Jihan kembali mengusik sebuah kisah yang tidak ingin diingatnya lagi, Sampai pada ingatannya tertuju pada seseorang yang langsung membuat hatinya berdenyut nyeri, dan sesak, sosok seseorang yang sampai sekarang tidak pernah tergantikan, sosok yang paling dia benci seumur hidupnya dan sosok itu juga yang sudah merubah kepribadiannya menjadi dingin dan cuek.
Berkali-kali ia ingin menghilangkan semua ingatan menyakitkan itu dari hidupnya, namun ia selalu gagal, dan berkali-kali juga ia selalu mencoba berdamai dengan masa lalunya yang menyakitkan itu tapi Hal itu juga selalu gagal, Dia sama sekali belum bisa menganggap itu semua bagian dari takdir hidupnya, dunia terlalu kejam mempermainkan keluarganya. Harusnya sekarang dia sudah bisa memaafkan dan berdamai dengan semua itu, berhubung kejadian itu juga sudah berlalu sangat lama bahkan ketika ia masih berada di saat masa-masa putih abu-abunya. Tapi ternyata Tidak, Mungkin karena terlalu sakit atau mungkin juga karena terlalu dendam hingga pada sampai detik ini luka itu masih basah menganga dan sangat menyakitkan!
Sehelai daun kering akan terlihat kuat dan kokoh jika hanya kita pandangi saja, namun apabila daun kering itu kita genggam sebentar saja, daun kering itu sudah hancur berkeping-keping tanpa sisa, Sehelai daun kering itulah yang cocok untuk menggambarkan seorang Hanna, Terlalu sakit dan pedihnya hidup yang pernah ia jalani menjadikannya gadis yang kuat dan penuh ambisi, tapi jauh di dalam dirinya, dia hanyalah seorang gadis yang rapuh, yang mencoba tegar dan terlihat baik-baik saja,
Usia 27 tahun harusnya Hanna sudah memikirkan sebuah keluarga, pendamping hidup dan masa depan, tapi sepertinya hal itu masih sangat jauh bagi Hanna, dari segi fisik bahkan dia sangat cantik dan sempurna, beberapa pengusaha muda pernah terang-terangan melamarnya, namun semua ia tolak dengan sopan, entah apa alasannya hanya dialah yang tau.