
Hanna keluar dari dalam kamar Apartementnya dan langsung mendapati Jihan tengah mengobrak-abrik isi kulkas, entah apa yang tengah dicari gadis itu.
"Lagi ngapain Ji? Gadis itu langsung menoleh bukannya langsung menjawab malah menatap Hanna dengan intens.
" Jihan! panggil Hanna membuat hadis itu tersentak.
Hanna terlihat seperti anak remaja yang baru tumbuh dewasa, padahal kalau dilihat dari segi umur, Hanna sudah sangat wajar untuk berumahtangga. Kaos oversize berwarna pink baby serta celana jeans hitam ketat begitu pas di tubuhnya yang sedikit kurus, sementara rambut panjangnya dia kucir bebas ke belakang. Pemandangan itulah yang membuat Jihan sempat bengong karena baru pertama kali melihat Hanna berpenampilan seperti itu. Di matanya Hanna terlihat seperti gadis seumurannya karena wajah baby Face serta dimple yang ada di kedua sisi pipinya.
"Bu Hanna sangat cantik!... Kalimat itu saja yang lolos dari mulut Jihan setelah beberapa detik yang lalu tersadar ketika Hanna memanggil namanya.
Hanna hanya tersenyum dan mendekati Jihan.
" kamu siap-siap gih! kita pulang ke rumah mama! ucap Hanna.
"iya bu! sahut Jihan dan langsung berlalu ke kamarnya.
Hyunday GV80 berwarna silver milik Hanna memasuki pekarangan rumahnya, kedatangannya di sambut salah satu assisten rumah tangga yang kebetulan sedang merawat tanaman hias milik Claudia. Jihan hanya menatap takjub rumah majikannya itu,
waaahhh.. ini istana atau apa...! gumamnya dalam hati.
" mama ada mbak? sapanya pada Assistennya itu sambil tersenyum lembut.
"ada Non, Mari saya antar! sahut mbak yang bernama Ismi itu.
" nggak usah mbak, lanjutin saja kerjaannya, Hanna masih hafal jalannya! ucap Hanna sembari meluncurkan candaan pada si mbaknya itu.
Hanna menyusuri ruang tamu rumahnya diikuti Jihan yang setia mengekorinya sejak tadi,
"Mama! ucapnya sambil memeluk Claudia dari belakang..
kalau sudah berada di dekat Claudia, Orang-orang yang melihatnya tidak akan percaya kalau sosok Hanna adalah seorang CEO di salah satu perusahaan besar. Sifat manja Hanna akan keluar saat berada di dekat keluarganya dan bersama Dennis dulu...
" oh.. iya, Davi Mana ma? tanyanya mencari adik tampannya itu.
"ada, di kamarnya! dia baru aja pulang!
" bi! tolong panggilkan Davi! pinta Claudia pada salah satu assistennya.
"eh.. nggak usah Ma! biar Hanna aja yang kesana! ucap Hanna melepas pelukannya.
Claudia memperhatikan gadis yang sejak tadi berada di belakang Hanna yang terlihat malu-malu.
" Ini.. pasti namanya Jihan ya! ucap Claudia mendekati Jihan.
"selamat pagi nyo...
" panggil mama aja! ucap Claudia memotong kalimat Jihan.
"selamat Pagi ma.. ma! sapa Jihan gugup
" selamat pagi sayang!.. ucap Claudia seraya menuntun Jihan agar duduk di sofa ruang tamu mereka.
Hanna membuka pintu kamar adiknya dan mendapati sang adik tengah tertidur pulas, perlahan-lahan Hanna mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang adiknya sambil mengelus pucuk kepala sang adik penuh kasih sayang...
Merasa ada yang menyentuh rambutnya, Davi membuka matanya dengan malas
" kakak kapan datangnya? tanyanya melepas pelukannya.
"baru aja dek, mandi gih! liat tuh iler kamu nempel di pipi! goda Hanna pada sang adik mbuat adiknya refleks meraba pipinya.
" yeee.. kak Hanna, Davi nggak ileran tau! ujarnya cemberut.
Hanna hanya tertawa melihat adik tampannya itu kesal, menggoda Davi adalah kesenangannya sejak dulu..
"ya sudah kamu mandi gih, kakak tunggu di bawah! ujar Hanna dan langsung beranjak dari kamar adiknya..
Selesai makan malam, Hanna duduk dibalkon kamarnya, sesekali ia menyesap minuman kaleng di tangannya, Pikirannya teringat kembali tentang pertemuannya dengan Dennis..
Raut sendu di wajahnya tidak bisa berbohong kalau kehadiran laki-laki itu kembali mengusik suasana hatinya, Dia juga tidak bisa membohongi hatinya sekalipun mulutnya bilang membencinya tapi jantungnya tidak bisa berdetak dengan beraturan di dekat pria yang masih sepenuhnya ada di dalam hatinya itu. Kerinduan dan amarahnya seakan berperang saat ini sehingga rasa sakit itu menjadi dua kali lipat rasanya hingga tanpa sadar bulir-bulir bening itu jatuh dari kelopak matanya..
Claudia menatap iba pada anak gadisnya itu, ia sangat tau perihal masa lalu hidup mereka yang tak pernah mungkin bisa dilupakan anak-anaknya, terutama Hanna. Ia sangat tau perjuangan Hanna memperjuangkan pendidikannya dan Davi adiknya, ditengah mentalnya yang jatuh sejatuh-jatuhnya akibat penghianatan suaminya dan juga kehidupan mereka yang terlalu menyakitkan.
"Hanna...! lirihnya menyentuh bahu sang putri, sehingga membuat gadis itu buru-buru menghapus air matanya dan memaksakan senyum yang selama ini ia perlihatkan.
" ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu nak? tanya Claudia lembut.
Hanna terdiam, dan diamnya membuat Claudia tau tanpa Hanna menjawab sekalipun.
"Aku bertemu dia Ma! ucapnya Lirih sontak membuat Claudia mengerutkan keningnya.
" Dennis...! ucap Hanna lagi
"Hanna begitu ceroboh dan bodoh tidak menyadari kalau D. A grup itu miliknya, dan Hanna sudah terlanjur terikat kontrak kerja sama dengannya! Kalimat yang terucap dari Hanna sama sekali tidak merubah raut wajah Claudia justru wanita paruh baya itu tersenyum.
" Sudah saatnya kamu melupakan dan memaafkan semuanya nak, jangan korbankan dirimu hanya karena kebencianmu! tidak ada gunanya sama sekali nak!
"Hanna juga ingin ma! tapi sangat sulit rasanya!... sakit di sini ma! ucap Hanna mulai terisak.
Kemudian Claudia tersenyum membelai rambut putrinya..
" perlahan-lahan! lakukan dengan perlahan-lahan! .. ucapnya
"Hanna! panggilnya lagi
" apa kamu masih mencintai Dennis? Tanya Claudia sembari menatap paras sendu putrinya.
Hanna menghela nafasnya, lalu tersenyum
"Hanna sudah tidak mencintainya! jawabnya tapi justru jawabannya membuat Claudia yakin kalau putrinya ini tengah membohongi hatinya.
" Mama istirahat ya, udah malam! Hanna juga udah ngantuk! ucap Hanna yang langsung menuntun Claudia ke kamarnya dan membantu Claudia membaringkan tubuhnya.
"Good night ma! ucap Hanna mengecup kening Claudia..
" night too sayang!
Kemudian Hanna keluar dari kamar Claudia.
"kamu masih sangat mencintainya nak, sorot matamu mengatakan semuanya"