Truth About Love

Truth About Love
hanya sekedar teman lama


Pagi ini Hanna sedikit malas untuk ke kantor, Kepalanya terasa pusing dan seluruh tubuhnya meriang begitu juga dengan tenggorokannya yang terasa panas dan sakit walau hanya menelan ludah. Kemudian ia meraih ponselnya.


"Re! tolong kamu urus semua urusan kantor ya, dan batalkan semua jadwalku! ucap Hanna melalui ponselnya yang terhubung dengan sekretarisnya.


"*Bu Hanna tidak masuk hari ini kenapa?


" aku sedikit pusing, kalau ada berkas yang perlu aku tanda tangani tong kamu kirimkan saja ke apartemenku ya!


"baik bu! semoga cepat sembuh


" terimakasih Regina*!


Setelah percakapannya dan sekretarisnya selesai, Hanna bangun untuk bersiap-siap ke rumah sakit menemui dokter Chintya, yakni dokter pribadinya.


Dengan sangat hati-hati supir yang mengendari mobilnya sesekali melirik Hanna yang duduk bersandar di kursi belakang sambil memejamkan kedua matanya.


"maaf Bu Hanna, apa perlu saya kabari nyonya? tanyanya khawatir sebab melihat raut wajah Hanna yang mulai pucat.


" tidak perlu, hanya pusing biasa paling cuma kecapean aja pak! sahutnya memaksakan sedikit senyumnya.


Akhir-akhir ini memang tenaga dan pikirannya terkuras habis untuk masalah kerjaan di kantornya, jadwalnya yang padat menyita seluruh waktu istirahatnya. Belum lagi pikirannya yang terganggu akibat pertemuannya kembali dengan Dennis dan semakin bertambah dengan adanya proyek kerja sama mereka. Sekuat apapun dia dan seprofesional apapun dia tetap saja Kenangan pahit itu selalu terpampang jelas diingatannya jika sudah melihat Dennis.


"Hanna! kenapa tidak menelpon aku saja, biar aku yang datang ke apartemenmu! ucap Dokter chyntia begitu melihat Hanna di kursi tunggu depan ruangannya.


" Gak apa-apa Chyntia! ucapnya tersenyum


"baiklah, mari saya periksa dulu! ucap Dokter chyntia sembari membantu Hanna berbaring.


" Tekanan darahmu sangat rendah Hanna, kenapa bisa seperti ini! untung saja kamu tidak sampai pingsan! omel dokter chyntia kemudian beralih memeriksa Tenggorokan Hanna dengan senter kecilnya.


"Amandelmu juga bengkak! ada apa Hanna? apa kamu ada masalah? tanyanya khawatir karena setiap dia memeriksa Hanna permasalahannya tetap itu-itu saja.


Hanna hanya melemparkan senyumnya pada dokter sekaligus temannya saat kuliah dulu.


" aku akan meresepkan obat untukmu atau kau mau aku beri suntikan saja? tanyanya menggoda Hanna sebab ia sangat tau kalau Hanna sangat takut dengan jarum suntik.


"apa-an? nggak-nggak! aku tidak separah itu! tolak Hanna langsung berdiri menjauhi dokter muda itu.


" makanya kamu jaga kesehatan, dan tolong kurangi jadwalmu! tenangkan pikiranmu dan perbanyak istirahat! ucap Dokter Chyntia lagi karena dia sangat hapal seperti apa sibuknya Hanna.


"Terimakasih Dokter! ucap Hanna tersenyum setelah menerima resep obat yang diberikan Dokter Chyntia.


" Semoga cepat sembuh Hanna! ucapnya lagi sebelum Hanna meninggalkan ruangannya dan hanya diiyakan Hanna lewat anggukan kepalanya.


"Hanna!!!.... Seseorang memanggilnya membuat Hanna menoleh kebelakang dan mendapati Erlangga dengan senyum menggodanya.


" Sedang apa di sini? siapa yang sakit Hanna? tanyanya langsung.


Sedikit pusing tadi dan ternyata Tekanan darahku Cukup rendah! kamu sendiri ngapain di sini?


"aku lagi nemenin.....


" dicariin ke mana-mana dari tadi ternyata kamu malah di sini! omel seorang wanita paruh baya begitu melihat Erlangga.


"Mama...


" kamu ya! pantang liat gadis cantik, mamanya sendiri dilupain! ucap wanita itu lagi masih mengomel.


"Mama....! rengek Erlangga malu diomeli di depan Hanna.


" Apa???


"Mmm Hanna! kenalin ini mamaku! dan Ma, ini Hanna teman Erlan! ucap Erlangga kemudian mengenalkan Hanna pada Rita mamanya.


" Oh, Hay selamat pagi tante, saya Hanna! ucap Hanna mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Rita dengan sopan.


"Waah.. udah cantik kamu sopan lagi! panggil saya mama Rita! ucap Rita dengan lembut. Hanna tersenyum mendengar dan melihat kelembutan wanita di depannya itu.


" Mmm.. tante Rita sakit? tanya Hanna


"Mama! koreksi Rita.


" Ma.. mama Rita sakit? ulang Hanna sedikit gugup tapi masih mempertahankan senyumnya tanpa dia sadari sudah memporakporandakan suasana hati seorang pria tampan di sampingnya kalau melihat senyum disertai dimple Hanna.


"Cuma kontrol biasa! jawabnya


" Hanna sendiri kenapa Nak? apa kamu sakit?


"sedikit pusing aja ma! tapi sudah enakan kok! jawab Hanna.


" kalau begitu Mama pulang duluan ya, Dan kamu Erlan! gadis yang seperti Hanna ini yang cocok jadi menantu mama bukan pacar-pacar nggak jelasmu itu! Ucap Rita lagi masih mengomeli anaknya.


"Ma...! rengek Erlan mengusap tengkuknya karena malu lalu melirik ke Hanna yang sejak tadi tersenyum melihat mimik wajah Erlangga yang tampak lucu ketika merengek tadi.


" Hanna, aku antar mama dulu ya..!


"nggak perlu! mama bisa pulang dengan supir, biasanya juga seperti itu! kamu temenin Hanna aja, kasihan dia sendirian! ucap Rita, tidak tau saja gimana bahagianya suasana hati Erlangga.


"Hanna bilang saja ke supir Hanna pulang duluan, biar anak nakal ini saja yang nganterin kamu! ucap Rita yang membuat Hanna segan untuk menolaknya.


" Mama duluan ya! ucap Rita kemudia meninggalkan Hanna yang masih bengong sementara Erlangga bersorak senang dalam hari. Mau tak mau Hanna akhirnya ikut dengan Erlangga dan bukan Erlangga namanya kalau tidak memanfaatkan kesempatan yang jarang-jarang ia bisa dapatkan bersama Hanna seperti ini.


"Maafin mamaku ya, mama memang seperti itu! ucap Erlangga basa-basi ketika mereka sudah di dalam mobil.


" iya nggak aap-apa! ucap Hanna singkat.


"mm.. gimana kalau kita makan dulu? ini juga sudah waktunya makan siang! ajak Erlangga tanpa menunggu persetujuan Hanna, dia langsung berhenti di salah satu Restoran timur Tengah.


Hanna hanya mengikuti saja kemana Langkah Erlangga, toh perutnya juga sudah lapar karena kepalanya pusing tadi pagi dia tidak berselera untuk sarapan padahal Jihan sudah membuatkannya sarapan.


" Kamu sering kemari ya? tanya Hanna karena melihat Erlangga yang sudah seperti Familiar dengan tempat itu.


"lumayan sih! sahutnya sambil menuliskan pesanan mereka di catatan menu yang diberi salah satu pelayan tadi.


" Pasti kau membawa pacar-pacar nggak jelasmu itu kan? tanya Hanna menebak yang langsung ditanggapi Erlangga dengan kejahilannya.


"kenapa? kamu cemburu ya? goda Erlangga membuat Hanna memutar bola matanya malas.


" Dalam mimpimu! sewot Hanna sontak membuat Erlangga tertawa lepas dan Tanpa mereka sadari sejak tadi ada sepasang mata tengah menatap mereka sejak mereka baru datang tadi.


Hanna sangat menikmati makanan yang dipilih Erlangga, Entah karena lapar atau memang rasanya yang enak sehingga tidak berapa lama makanan di depannya sudah habis.


"Makanannya Enak! terimakasih ya! ucapnya


" Sama-sama! dan terimakasih juga sudah tidak berbicara Formal padaku!


"boleh aku ikut bergabung? Ucapan dan Kehadiran Dennis yang tiba-tiba sontak mengejutkan keduanya terutama Hanna. Dia tidak tau saja kalau sejak tadi Dennis sudah mengamati mereka.


" Oh.. Dennis! kau di sini! sama siapa? tanya Erlangga sembari melihat ke kiri dan ke kanan .


"Tadi ada pertemuan dengan Kolega dari Jepang, baru selesai dan bertemu kalian di sini! ucapnya melihat Hanna Sekilas.


" Lama kita tidak bertemu Dennis! ucap Erlangga lagi


"aku yang terlalu sibuk atau kau? tambahnya lagi sambil tertawa,


" Hanna kamu kenal Erlan juga ya! sapa Dennis karena melihat raut wajah Hanna yang berubah datar semenjak kedatangannya.


"kalian saling kenal juga? tanya Erlangga balik.


Kemudian Dennis menatap lekat-lekat wajah Hanna,


" Hanna! kamu sakit? tanyanya refleks menyentuh kening Hanna.


"badan kamu hangat, pasti kamu kena Radang tenggorokan lagi gara-gara ice cream kemarin kan? ucapnya lagi tanpa ia sadari tingkahnya barusan mengundang tanda tanya besar bagi Erlangga.


" Sepertinya kalian terlihat sangat dekat! sudah berapa lama kenal? ucap Erlangga kemudian tidak bisa membohongi hatinya kalau ia cemburu melihat tingkah Dennis terhadap Hanna barusan.


"Kita pernah...


" Kita hanya teman lama! ucap Hanna cepat memotong ucapan Dennis.


"wah.. menyenangkan dong punya teman lama dan bisa bertemu lagi! ucap Erlangga lagi sembari menatap Hanna.


" sangat menyenangkan! bukan begitu Hanna? sahut Dennis lagi- lagi menatap Hanna dan itu tidak luput dari perhatian Erlangga.


"mm.. maaf Erlan! kalau kamu masih ingin di sini, aku bisa pulang naik taxi saja! pamit Hanna langsung beranjak pergi.


" Hanna tunggu! Mmm.. Dennis kapan-kapan kita bertemu lagi ya, aku anterin Hanna pulang dulu! pamit Erlangga dan langsung berlari menyusul Hanna.


Dennis hanya menatap kepergian Hanna dan Erlangga, hatinya terasa sesak sejak tadi melihat interaksi Hanna dan Erlangga, ia tidak buta untuk melihat ketertarikan yang sangat besar dari cara Erlangga melihat Hanna tadi.


Erlangga sepupunya sekaligus sahabatnya ketika mereka sama-sama menuntut ilmu di Amerika dulu.


"Kau masih sangat mencintainya! ucap Ifan tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.


" dia sangat membenciku Fan!


"bukankah jarak antara benci dan cinta itu sangat dekat? kau hanya perlu lebih berusaha lagi! ingat ada Erlangga yang siap merebutnya darimu! peringat Ifan seraya menepuk bahu Dennis pelan.


" Bahkan tadi saja dia hanya menganggapku teman lama! cih... ternyata aku hanya sebatas teman lama baginya!


"Tapi dari yang ku lihat dari cara dia melihatmu, kalian masih sama-sama saling mencintai, kalian hanya perlu berbicara dari hati ke hati dan lebih terbuka satu sama lain! ucap Ifan lagi


" Kalau saja semudah itu Fan! gumam Dennis.


"ya.. sudah kita pulang yuk, di kantor masih banyak pekerjaan! dan berhenti galau seperti itu kalau tidak mau muka kusutmu itu ditertawakan nanti!


" Cih!...


Dennis hanya berdecih menanggapi ocehan Ifan kemudian berlalu meninggalkan restoran.