Truth About Love

Truth About Love
Kejutan untuk jihan


Angin pantai berhembus begitu menenangkan bagi jiwa siapapun yang merasakannya. Wangi air laut yang lembut serta keindahan hamparan pantai berhiaskan burung cemara yang menari indah di tengah-tengah langit biru sangat-sangat memanjakan mata, Hawa sejuk itu menerpa wajah cantik seorang gadis yang tengah duduk memangku benda persegi yang sejak tadi fokusnya tidak teralihkan. Pun ketika angin sejuk itu mengajaknya bermain lewat helaian rambutnya yang terkadang menutupi wajah cantiknya tidak dihiraukannya sama sekali, hanya sesekali jemari lentiknya merapikan helaian rambut indah itu.


Tak jauh dari tempatnya, seorang gadis cantik lainnya tengah berjalan kearahnya dan di kedua tangannya tampak memegang buntelan roti berisi daging dan sayuran.


"Bu Hanna! .. lirihnya memanggil Hanna, si gadis cantik yang sejak tadi duduk fokus dengan iPad di tangannya, sambil memberikan satu buntelan roti isi itu.


Ya.. Setelah Hanna pulang dari rumah sakit tadi, dia mengajak Jihan ke pantai untuk merehatkan pikirannya yang akhir-akhir Ini sudah mengganggu kesehatannya. Alih-alih untuk merehatkan pikiran, tapi kedua jemari lentiknya sejak tadi tidak berhenti berkutat di atas layar ipadnya untuk membalas beberapa email yang dikirimkan oleh sekretarisnya dan sudah bisa dipastikan semua itu berhubungan dengan pekerjaannya di kantor.


"Sudah puas bermain airnya? tanya Hanna setelah mengunyah gigitan pertamanya pada buntelan roti isi itu sambil memperhatikan Jihan yang mengangguk mengiyakan ucapannya.


" kalau sudah sini duduk! pinta Hanna menepuk bangku kosong di sebelahnya dan langsung dituruti Jihan.


"mulai sekarang panggil aku mbak! karena kau adikku Jihan! ucapnya tersenyum tulus sehingga memperlihatkan sepasang dimple yang menghiasi senyumnya.


Jihan hanya membeku bingung mendengar kalimat Hanna barusan.


" aku ingin kamu segera meneruskan pendidikan kamu Ji, katakan! jurusan apa yang akan kau pilih! ucap Hanna lagi membuat gadis di depannya itu semakin bungkam bahkan saat ini raut wajahnya sudah berubah murung, tanpa terasa bulir-bulir bening sudah jatuh dari kelopak matanya.


"Hey... kenapa? kok malah nangis? heran Hanna. Namun Jihan semakin terisak.


" a.. ap.. apa Jihan melakukan kesalahan Bu? tanyanya terbata-bata di tengah isakannya.


"Mbak! panggil mbak Jihan! dan kenapa kamu malah bicara seperti itu? kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa!..


" lalu.. kenapa mbak memecat saya? tanya Jihan menatap Hanna dengan berurai air mata membuat suasana hati Hanna teriris sakit.


"siapa bilang aku memecatmu?


" tadi... mbak menyuruh Jihan untuk melanjutkan pendidikan itu tandanya Jihan harus berhenti kan?..


"No...! Kamu salah paham Jihan! maksud ku kamu tetap tinggal bersama mbak seperti biasa tapi kamu tetap melanjutkan pendidikan kamu juga, biar mbak yang biayai kamu dan masalah gaji kamu perbulannya tenang saja, kamu tetap bisa memberikan itu untuk orangtua kamu! jelas Hanna lagi-lagi membuat Jihan semakin bungkam.


Kemudian Hanna menatap hamparan pantai yang begitu luas, dia menghela nafas pelan..


" kemarin mbak tidak sengaja melihat buku-buku kamu dan beberapa tulisan kamu, sepertinya kamu sangat tertarik dengan dunia sastra, mbak hanya ingin kamu mewujudkan mimpimu itu Jihan! jelas Hanna lembut


Entah kenapa, setelah beberapa bulan sudah dekat dengan Jihan membuatnya semakin menyukai kepribadian gadis itu, Jihan termasuk gadis yang sedikit cerewet tapi tegas, mandiri dan dewasa, Tapi terkadang dia juga memperlihatkan sisi manja nya tanpa dia sadari, sikap apa adanya Jihan yang membuat Hanna semakin menyayangi gadis 18 tahun itu seperti adiknya sendiri.


Air mata Jihan turun semakin derasnya membasahi pipi chubynya. Terharu dan bahagia secara bersamaan bercampur menjadi satu memenuhi relung hatinya. Menjadi seorang penulis adalah impiannya sejak dulu, tapi impian itu sudah ia kubur dalam-dalam karena merasa ia tak akan pernah bisa meraihnya, apalagi sang ibu pernah berkata "adik-adikmu masih butuh biaya banyak" tanpa berfikir dua kali impian itu sebisa mungkin ia redam berharap akan hilang dengan sendirinya. Tapi kini mimpi itu akan terwujud lewat sosok wanita cantik berhati malaikat yang berada di depannya sekarang.


" Terimakasih mbak! hanya kalimat itu sayng mampu terucap dari bibir Jihan dengan mata berkaca-kaca.


"anggap mbak sebagai kakakmu Jihan! apapun kesulitanmu ceritakanlah! mbak akan dengar! ucap Jihan membawa gadis itu kedalam pelukannya dengan air mata yang siap untuk jatuh. Bukan tanpa alasan ia melakukan itu, Sosok Jihan persis seperti dia dulu tapi beruntungnya Hanna tidak mengalami tekanan mental seperti dirinya, Cepat-cepat dia mengusap air matanya sebelum Luka lama itu semakin mencabik-cabik hatinya.


"mulai besok, mbak akan suruh Davi untuk mengurus semuanya,! ucap Hanna sontak membuat Jihan mengurai pelukannya dan menatap Hanna intens.


" kenapa Ji? heran Hanna


"Davi?


" iya Davi, adik mbak! kamu kan sudah mengenalnya kemarin!


"**.. tapi mbak, Jihan bisa kok mengurusnya sendiri! ucap Jihan semakin membuat Hanna heran.


" No! biar Davi yang membantumu! toh, mbak sudah pernah bilang ke dia dan dia setuju-setuju aja!


"tapi mbak....


" kamu kenapa sih Ji? tanya Hanna menatap lekat-lekat paras Jihan.


"Jihan takut mbak!... lirihnya dengan suara pelan.


" apa yang kamu takutkan? adik mbak itu orangnya baik, ya.. walaupun pembawaannya saja yang pendiam dan susah diajak bicara tapi dia itu baik! bujuk Hanna yang memang sangat tau kepribadian Seorang Davian yang cenderung bersifat dingin dan irit bicara tapi sebenarnya dia adalah sosok laki-laki berhati hangat..


Jihan masih diam menundukkan wajahnya.


"Kalau dia diam, kamu ajak bicara saja pasti dia tidak keberatan! siapa tau kalian bisa jodoh nantinya! goda Hanna jail.


" mbak!


"Kenapa? siapa tau kan?


Jihan hanya diam tidak menanggapi lelucon Hanna, dalam hati Jihan tersenyum miris menertawai dirinya sendiri, Mana mungkin sosok sempurna seperti Davian mau dengan gadis seperti dirinya yang jika dibandingkan seperti mutiara indah di dasar laut yang tak tersentuh dengan Remahan Rengginang! sungguh sangat tidak sepadan.


Dan Jihan cukup tau diri untuk hal itu, jangan kan untuk berharap, bahkan hal itu tidak pernah sama sekali terlintas dalam pikirannya. Karena yang ada di dalam pikirannya hanya uang.. uang.. uang.. dan uang.. Agar keluarganya bisa hidup layak dan adik-adiknya bisa menempub pendidikan dengan baik.