Truth About Love

Truth About Love
Bertemu kembali


Setelah makan siang, Hanna dan Regina keluar dari kafe meninggalkan seorang pria yang masih betah menatap punggung salah satu gadis itu, Hanna bukan tidak peka bagaimana sejak tadi laki-laki itu memperlakukannya, bahkan sangat terlihat jelas maksud dan tujuannya untuk lebih dekat dengannya, dia bukan lagi ABG yang baru saja mengenal cinta monyet, entah itu karena Hanna belum memikirkan terlalu jauh tentang perjalanan hidupnya yang masih fokus ke karirnya atau ada sesuatu yang terkunci rapat di relung hatinya yang paling dalam sehingga tidak seorang pun yang bisa membukanya, hanya dialah yang tau.


"masih ada waktu sekitar satu setengah jam lagi sebelum kita meeting Bu, apa kita ke kantor dulu? ujar Regina memecah keheningan saat mereka berada di dalam mobil.


" Tidak usah Re, kita mampir saja sebentar ke pusat perbelanjaan di ujung sana, besok aku berencana pulang ke rumah jadi ada yang harus aku beli! jelas Hanna


Tidak lama kemudian, Hanna memasuki pusat perbelanjaan bersama Regina, keduanya langsung mencari apa yang mereka butuhkan, bahkan Regina yang tadinya berniat hanya menemani Hanna tapi justru kedua tangannya berisi dengan beberapa paperbag,


"Tepat waktu! gumam Hanna ketika melihat jam di pergelangan tangannya, hanya tersisa setengah jam lagi sebelum meeting di mulai.


Sesampainya di salah satu Restoran italia, Hanna dan Regina bergegas untuk menemui perwakilan dari D. A grup.


" sebelah sana Bu! ucap Regina menunjukkan salah satu meja yang sudah terisi dua orang laki-laki, yang Regina yakini adalah orang yang akan mereka temui.


"Reginna tersenyum menyapa salah satu pria yang duduk menghadap mereka, sehingga kedatangan mereka langsung di ketahui laki-laki yang bernama Ifan itu. Sedangkan yang satunya lagi duduk membelakangi mereka dengan fokusnya ke sebuah ipad di tangannya.


Hanna sedikit memperlambat langkahnya,


" punggung itu... sepertinya...


akh.. tidak mungkin dia! tapi kenapa orang itu rasanya tidak asing...?


"selamat sore Tuan! sapa Regina mrnjabat tangan laki-laki yang bernama Ifan itu, dan..


deg...


jantung Hanna seketika lupa berdetak untuk beberapa saat ketika matanya berpapasan langsung dengan laki-laki yang baru saja berdiri menyambut mereka.


Tak ada sapaan ataupun ucapan selamat sore untuk mengawali pertemuan mereka, Hanna maupun laki-laki itu hanya saling menatap seolah-olah membiarkan kedua mata mereka yang berbicara ketika mulut sudah tak mampu lagi untuk mengucapkan kata-kata.


"Hanna....! liriknya menyebut nama gadis di depannya setelah menyadari kalau gadis yang tengah berdiri di depannya saat ini bukanlah halusinasinya.


Gadis yang selama bertahun-tahun dia cari, gadis yang yang sangat ia benci sekaligus yang sangat ia cintai dan gadis itu jugalah yang telah berhasil mematahkan hatinya sehancur-hancurnya tanpa alasan ataupun ucapan selamat tinggal. Bagaimana tidak, gadis di depannya ini menghilang begitu saja tanpa jejak setelah mengatakan sebuah kalimat "kita putus" disaat ia masih sangat sayang-sayangnya pada gadis itu dulu.


"Katakan Re, kalau orang yang akan kita temui bukanlah mereka! kalimat datar Hanna begitu membingungkan bagi Regina maupun Ifan yang sejak tadi belum mengerti situasi yang tengah terjadi.


" Tapi bu, memang merekalah yang akan kita temui untuk membahas proyek kerja sama kita! jawab Regina membuat Hanna memejamkan kedua matanya sejenak sebelum langkahnya membawanya menjauh.


"Hanna! apa kita tidak bisa untuk bersikap profesional? bukankah kita sudah membuat kesepakatan tentang kerja sama ini? Suara berat Laki-laki itu sukses menghentikan langkah Hanna.


" Anda benar Tuan Denis, saya memang harus profesional! saya sudah menyetujui proyek ini sudah seharusnya saya bertanggung jawab! mari kita mulai! ucap Hanna seraya meletakkan berkas-berlasnya di meja serta mendudukkan tubuhnya persis di samping Dennis.


Sungguh tidak ada yang bisa membuat konsentrasi Hanna kembali seperti biasanya, bahkan Regina yang tengah memulai pembahasan mereka pikirannya masih tertuju pada masa lalunya.


Begitu juga dengan Dennis, entah mengerti atau tidak yang jelas dia hanya diam menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Jika ingin menuruti kata hatinya, dia ingin sekali memeluk gadis itu, menumpahkan segala kerinduannya tapi lagi-lagi sekelebat bayangan saat gadis itu meninggalkannya tanpa alasan yang jelas mampu membuat amarahnya bergejolak, rasa bencinya kembali menguasai hatinya meski perasaan benci itu langsung sirna dalam sekejap begitu tatapan sendu penuh luka yang ia tangkap dari sorot mata Hanna berhasil menghujam jantungnya, sakit! hanya rasa itu yang terasa, seolah-olah hatinya ikut merasa sakit yang teramat sangat hanya dengan melihat sorot mata gadis itu.


"Bu,!lirih Regina menyentuh lengan sehingga Hanna membuat gadis itu langsung tersentak dari lamunannya.


" sudah selesai bu! ucapnya lagi.


sejak tadi hanya dia dan Ifan yang benar-benar membahas proyek kerjasama mereka, sementara bos mereka sama-sama bergelut dengan ingatan masa lalu mereka.


"Permisi Tuan! Untuk pembahasan selanjutnya kita bertemu di lokasi saja! ucap Regina Final lalu mengikuti langkah kaki Hanna meninggalkan tempat itu.


Dennis masih tak bergeming menatap kepergian Hanna barusan, raut wajahnya berubah sendu dan sorot matanya terlihat sangat terluka..


" Apa dia gadismu dulu yang selama ini kau cari? pertanyaan Ifan sontak membuatnya menatap asistennya itu.


Tidak ada jawaban darinya, diamnya Dennis membuat Ifan yakin dengan dugaannya barusan. Baru kali ini Dennis memperlihatkan suasana hatinya di depannya.


"perjuangkan lagi sebelum terlambat! hati kalian sepertinya masih saling memiliki! ucap Ifan lagi


" aku bisa lihat dari cara Hanna menatapmu! jawab Ifan paham arti tatapan bos sekaligus sahabatnya itu barusan.


Dennis tersenyum lirih menatap Ifan, seolah-olah senyuman itu menyiratkan kata "tak semudah mengucapkan itu untuk memperjuangkannya Fan!...


kemudian keduanya beranjak meninggalkan area restoran.


" Bu! tida apa-apa kan? tanya Regina lembut karena sejak tadi Hanna diam, bola mata yang biasanya ia lihat berbinar itu kini tampak meredup...


"Tidak apa-apa Re! lirihnya...


" Kita langsung ke apartemenku saja ya pak? ucap Hanna lagi pada sopir


"baik bu! sahut si supir dari depan sambil mutar arah kemudinya.


" Kamu juga pulang saja Re! istirahat ya! ucap Hanna lagi memaksakan sedikit senyumnya. Reginna hanya mengangguk mengiyakan dengan perasaan khawatir terhadap bos cantiknya itu.