
"pagi Bu!...
" pagi Bu Hanna Cantik!...
Sapaan beberapa karyawan DANAVIS menyambut kehadiran Hanna di suatu pagi, Meski Hanna tersenyum membalas sapaan itu tetap saja aura dingin begitu melekat dalam dirinya.
"Regina! mari keruanganku sebentar! ucap Hanna begitu melewati meja Reginna yang letaknya persis di depan ruangannya.
" Apa saja jadwalku hari ini? tanyanya begitu sampai di meja kerjanya.
" ada rapat para pemegang saham pagi ini Bu? ucap Regina sukses membuat kerutan di kening Hanna.
"ada apa? apa pasar saham kita sedang ada masalah?
" Tidak Bu, semua masih stabil! tapi tadi Tuan Lim memberitahu untuk rapat ini! ucap Regina
"apa Paman yang akan memimpin rapat ini atau asistennya? tapi aku harap Paman karena ada beberapa yang harus aku bicarakan dengannya terkait proyek kita yang baru dengan D'A grup!
" saya harap juga begitu Bu, saya juga sudah mempelajari berkas yang dikirimkan oleh perwakilan D'A grup terkait proyek ini Bu, sejauh ini semua aman dan terkendali Bu! kita hanya menunggu tanda tangan persetujuan dari Bu Hanna saja! ucap Regina Lagi.
"kalau begitu tinggalkan berkasnya di mejaku, sebelum meeting nanti akan aku pelajari dulu! ujar Hanna sembari mendudukkan tubuhnya di kursi dan mulai membaca berkas yang baru saja di berikan Regina.
" apa kamu sudah pernah membahas ini secara langsung dengan mereka Re? tanya Hanna kemudian setelah membubuhkan tanda tangannya.
"hanya sekali Bu, itu pun dengan asistennya saja karena waktu itu atasannya katanya berada di Amerika!
" oke! ayo siap -siap, kau tau kan Paman Lim tidak suka menunggu? ucap Hanna beranjak dari kursinya untuk bersiap-siap ke ruangan Meeting.
Hanna tersenyum puas ketika keluar dari ruangan meeting, beberapa jam lalu di ruangan itu tengah terjadi perbedaan pendapat antara pemegang saham yang sedikit panas, beruntung Ide Hanna selalu menjadi penengah perseteruan yang terjadi beberapa jam lalu.
"Tadi itu Bu Hanna keren banget lho! puji Regina tersenyum bangga pada atasannya.
"Tidak salah Paman mempercayakanmu memimpin DANAVIS sayang! ucap Tuan Lim pada keponakannya itu.
" ini juga berkat Paman dan juga Regina! Hanna mana mungkin bisa melakukan ini sendiri tanpa bantuan kalian! sahut Hanna sambil memeluk Tubuh Tuan Lim...
"Heiii... kok malah sedih begini! ujar Tuan Lim ketika menyadari ada isakan kecil yang terdengar dari Hanna.
Tuan Lim adalah satu-satunya saksi seperti apa rapuhnya Hanna, hanya di depan Tuan Lim juga Hanna menunjukkan kesedihannya, dan hanya kepada Tuan Lim juga Hanna menceritakan setiap permasalahnnya. Tuan Lim adalah adik dari Claudia, selama ini ia tinggal di London mengurus Perusahaan Pusat makanya DANAVIS ia serahkan ke tangan Hanna.
"tidak apa-apa Nak, kamu pasti lelah ya! ucap Tuan Lim seraya mengurai pelukan Hanna.
" Terimakasih untuk semuanya Paman! itu saja kalimat yang keluar dari mulut Hanna disertai dengan senyumnya yang hanya dimengerti oleh Tuan Lim saja ada apa dibalik senyuman indah keponakannya itu.
" maafkan pamanmu ini sayang, tapi Paman harus pergi, ada beberapa urusan yang sangat penting! ujar Tuan Lim tak enak hati menolak ajakan Keponakannya itu.
"tidak apa-apa Paman, mungkin lain waktu kita buat janji makan malam bersama bibi nanti! ujar Hanna tersenyum dan disambut senyuman serta anggukan kepala dari Tuan Lim sebelum mobilnya melaju meninggalkan Hanna dan Regina.
" kalau begitu kita berdua saja yang makan siang Re! ucap Hanna tertawa
"tapi Bu, barusan Ibu Margaretha memberitahu kalau Tuan Erlangga nekad ke kantor dan menunggu Bu Hanna di lobby! ucap Regina sontak menghentikan pergerakan tangan Hanna yang akan membuka pintu mobilnya.
" baiklah, beritahu Bu Margaretha kalau kita menunggu Tuan Erlangga di kafe xxxx! ujar Hanna tidak habis pikir dengan keras kepalanya pria bernama Erlangga Itu.
Di lain Tempat, seorang Pria tampan tengah duduk santai di salah satu sofa yang ada di lobby sambil menatap serius pada ponselnya.
"Tuan Erlangga! Bu Hanna sudah menunggu anda di kafe xxxx! ucap seorang resepsionis mengalihkan perhatiannya.
baru kali ini dia bersedia menunggu, kalau bukan karena rasa penasarannya pada gadis yang sudah berani menolak ajakan makan malamnya ia tak akan sudi melakukannya, mengingat Pria cassanova itu begitu digilai kaum hawa dan juga sepak terjang tentang percintaannya selama ini sangat tidak mungkin ia rela berjam-jam menunggu.
Dan benar, begitu ia sampai di kafe yang disebut resepsionis tadi matanya langsung tertuju pada Regini yang merupakan sekretaris gadis yang tengah ingin ia jumpai. Dan tak salah lagi kalau gadis yang duduk membelakanginya itu adalah Hanna Navisha.
"selamat siang Nona Regina! sapanya sesopan mungkin, yang di sapa Regina tapi sorot matanya tertuju pada perempuan cantik yang ikut berdiri menyambut kedatangannya.
" selamat siang Tuan Raditya Erlangga! saya Hanna dari DANAVIS! Ucap Hanna mengulurkan tangannya.
Erlangga menjabat uluran tangan gadis itu, tatapan matanya tidak lepas dari paras cantik Hanna, seketika jiwa cassanovanya meronta-ronta.
"silahkan duduk Tuan! ucap Hanna lagi
" tidak usah terlalu formal Hanna, panggil saya Erlan saja! ucap Erlangga yg merasa risih dengan panggilan formal Hanna.
"saya tidak suka berbasa-basi Tuan! saya mengundang anda kemari karena saya sangat terganggu dengan ajakan-ajakan dinner anda! kalimat Hanna tajam tapi tidak membuat pria di depannya itu tersinggung. Malah ia tersenyum seolah-olah memperlihatkan pada dunia kalau dia pria tampan,
" selamat menikmati makanannya Tuan, saya harap makanannya tidak mengecewakan anda! Hanna mempersilahkan ketika makanan sudah tersedia di depan mereka.
"Terimakasih Hanna, makanan apapun itu akan terasa nikmat jika dimakan dihadapan gadis secantik anda! ujar Erlangga meluncurkan gombalan mautnya, tapi bukan Hanna namanya jika tergoda rayuan receh seperti itu, buktinya ekspresi wajahnya saja tetap datar seolah-olah kalimat Erlangga barusan sama sekali tidak di dengar oleh telinganya.
"Baiklah Tuan Erlangga, saya sudah menepati janji saya, saya masih ada rapat, jika anda masih ingin di sini saya permisi dulu, selamat siang! ucap Hanna segera beranjak pergi di susul Regina dari belakang.
" shiiiittt!!!.... umpat Erlangga dalam hati! "untung cantik! gumamnya setelah Hanna dan Regina menghilang dari hadapannya.
Ia pun langsung meninggalkan kafe itu dengan suasana hati kesal, selama ini belum pernah ada yang berani mengabaikannya, tapi lihatlah sekarang setelah menunggu berjam-jam, berharap diperlakukan dengan baik, tapi kenyataannya dia bahkan diabaikan, predikat cassanovanya sedikit diragukan.