Truth About Love

Truth About Love
flashback


Hanna Navisha, gadis cantik, ceria dan idola di salah satu SMU internanasional. Selain dari parasnya dia juga siswi yang berprestasi, hidup ditengah-tengah keluarga yang harmonis dan bergelimang harta tidak membuat gadis itu tinggi hati, dia berteman dengan siapa saja, hatinya yang lembut akan sangat mudah memaafkan jika ada orang yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya. Sudah cantik, pintar dan berhati malaikat menjadikan dia begitu diidam-idamkan siswa-siswa di sekolahnya tapi diantara mereka yang menyatakan Cinta padanya hanya satu orang yang mampu meluluhkan hatinya.


Dennis Arthur Pratama sosok laki-laki tampan, tinggi dan juga smart tapi sayang dia tampak selalu bersikap dingin pada siapa saja, dan dia juga pendiam. Tak Jarang para gadis yang menyukainya langsung kicep hanya ditatap dingin saja olehnya, tapi itu tidak berlaku pada seorang gadis bernama Hanna yang sukses mencairkan bongkahan es di hatinya.


Adik kelasnya itu begitu menarik perhatiannya, diawali dengan pertemuan tidak disengaja mereka di Koridor sekolah yang pada saat itu Dennis tanpa sengaja menabrak tubuh gadis itu hingga terpental ke dinding, Dennis yang biasanya tidak peduli dengan sekitarnya hanya berlalu begitu saja tanpa ada embel-embel kata maaf yang terucap dari mulutnya.


Justru tanpa disangka-sangkanya gadis itu malah terus-terusan mengikutinya dan memaksanya untuk minta maaf, sejak saat itulah kehadiran Hanna menjadi penyemangat hidupnya.


Saat Dennis tengah bermain basket bersama teman-temannya, matanya tertuju pada gadisnya yang tengah berlari-lari kecil menghampirinya.


"Hanna! kok lari-larian gitu sayang? ucapnya lembut membelai pucuk kepala gadis itu yang hanya dibalas dengan cengiran khasnya sehingga memperlihatkan lesung pipi di kedua sisi pipi gadis itu.


" he.. he.. he...! sengaja mau jumpai kamu! ujarnya tersenyum, senyum yang sangat Dennis sukai.


"Ya sudah kamu duduk di sana dulu ya, bentar lagi aku kelar mainnya! ucap Dennis menunjukkan salah satu bangku yang ada di dekat lapangan basket. Hanna hanya menurut saja apa yang dikatakan kekasihnya itu.


Tidak lama kemudian Dennis yang sudah selesai dengan basketnya mendekat dan duduk di samping gadis itu,


"mau pulang sekarang? tanyanya sambil merapikan rambut panjang gadis itu yang sedikit menutupi wajahnya.


" Ayo! tapi kita makan dulu, akunya laper! sahut Hanna dan diiyakan langsung oleh Dennis.


Dennis dan Hanna bukanlah pasangan yang romantis, tapi keduanya punya cara tersendiri agar hubungan mereka tetap mesra dan tidak menjenuhkan.


"Hanna! kita tetap seperti ini ya! Aku sayang kamu! ucap Dennis di suatu hari.


" Aku juga sayang sama kamu! sahut Hanna tidak mau kalah.


" Itu pasti! balas Hanna singkat seraya memperlihatkan senyuman kesukaan sang kekasih.


Tapi kemesraan dan kebahagiaan itu tidaklah semulus kata-kata yang mereka ucapkan. Hari yang cerah itu pasti akan ada masanya berubah mendung, serta Matahari yang cerah itu juga akan meredup kalau awan putih menyelimutinya. Dennis merasa hancur! hatinya terluka begitu dalam saat kata Pisah terucap dari bibir orang yang begitu dicintainya.


"kita harus pisah! aku sudah tidak mencintaimu lagi Dennis! "


Hanya kata itu yang terucap tanpa penjelasan dan alasan yang pasti. Hanna meninggalkannya begitu saja, Jika memang alasan Hanna karena tidak mencintainya kenapa gadis itu menangis? kenapa seperi ada sesuatu yang ditutupi? bahkan sorot mata gadis itu juga masih penuh cinta saat menatapnya.


Bukan Dennis namanya kalau menerima keputusan sepihak itu begitu saja, dia mencari tau semuanya, dia nekat mengunjungi rumah Hanna dan apa yang dia dapat? Nihil!...


Rumah mewah itu DIJUAL! bahkan di sekolah pun sosok gadis itu tidak pernah terlihat lagi, Dennis merasa dunianya runtuh, dia belum mengerti ada apa dengan gadisnya.


Di tengah hatinya yang begitu terluka, Lisa sang mama memaksanya untuk melanjutkan pendidikan ke negri Paman Sam, dia yang terlahir sebagai anak tunggal mau tak mau harus menuruti keinginan sang mama untuk pergi melanjutkan pendidikannya. Sejak saat itulah dia kembali pada sosok Dennis bersikap dingin, pendiam dan tidak peduli lagi tentang cinta.


Di flat kecil dan sedikit kumuh, Hanna tampak murung, dari sorot matanya tampak gurat kesedihan yang mendalam, tekanan Fisik dan mental menjadikan gadis itu terlihat kurus dan seolah tidak memiliki semangat hidup. Belum lagi dia harus bekerja paruh waktu demi pendidikannya dan adiknya karena sang ibu hanya bekerja sebagai pedagang kecil-kecilan yang sudah pasti penghasilannya tidak akan cukup. Segala Fasilitas yang pernah ia miliki dulu semua sudah terjual demi pengobatan Claudia karena semenjak suaminya menceraikannya dan lebih memilih wanita lain, keadaan fisiknya begitu lemah dan beberapa kali harus di rawat di rumah sakit.


Beruntung Hanna masih memiliki Paman Lim, adik dari Claudia, Laki-laki -laki itu berhasil menemukan tempat tinggal mereka saat Hanna sudah melanjutkan pendidikannya di Universitas.


Dibantu Paman Lim dan berbekal warisan peninggalan Kakek dan Neneknya, Hanna bangkit dan berdiri tegak menjadi gadis yang kuat, gigih dan penuh ambisi! sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang dulu. Pendidikannya ia tempuh hanya dalam waktu 4 tahun saja, begitu gelar Magister diraihnya, Hanna mulai belajar bisnis dengan sang Paman, pelan-pelan kehidupan mereka mulai kembali seperti dulu, bahkan sang Paman sudah mempercayainya untuk memimpin salah satu Perusahaan keluarga mereka yang dinamakan DANAVIS yakni nama perusahaan itu diambil dari nama kedua kaka beradik itu.


Hanna yang menjadi Pribadi yang dingin, tegas dan tak banyak bicara tapi tetap berhati lembut begitu disayang dan dihormati Para karyawan di perusahaan itu, Posisinya tidak menjadikan Hanna menjadi sombong dan angkuh, dia tetap rendah hati juga dermawan.


Masa lalu yang kelam bahkan sudah tak termaafkan lagi menciptakan luka yang begitu menyakitkan bagi Hanna dan keluarganya. Luka yang tak akan pernah sembuh serta ingatan tentang masa lalu itu tidak akan pernah hilang dari memorinya, apalagi jika mengingat luka itu justru berasal dari orang yang sampai saat ini begitu dicintainya. walaupun jika ia mengingat semua itu akan selalu membuat Depresinya kambuh. Sampai sekarang Hanna belum bisa berdamai dengan masa lalunya dan belum bisa menganggap itu semua adalah bagian dari takdirnya.