
Aku tidak menyangka sama sekali akan bertemu dia lagi, Bertahun-tahun aku mencarinya yang tak kunjung berhasil tapi sekarang justru dia yang datang dengan sendirinya.
Aku pernah mencoba melupakannya, dia adalah orang yang sangat aku cintai tapi juga sekaligus aku benci, namun dia justru datang bagaikan masa yang tak pernah ingin ku ulangi lagi.
Sorot mata itu tetap sama seperti terakhir kali aku melihatnya, penuh dengan misteri yang penuh luka, ada apa dengan dia sebenarnya? apa yang dia tutupi selama ini? Aku juga masih melihat ada Cinta di sorot mata itu, walaupun sorot mata yang dulu terlihat lembut itu kini sudah berubah tajam dan sedikit kosong. Ingin rasanya tadi aku memeluknya, dan menumpahkan segala kerinduanku, tapi justru aku hanya diam menatapnya seperti orang asing dan bukan gadisku yang dulu...
Dering ponselku tiba-tiba menyentakkan lamunanku tentang Hanna, tampak sebuah nama yang selama ini tidak aku sukai " Kikan" dia gadis yang dijodohkan mama, seorang model yang manja dan selalu menggangguku! aku sangat tidak menyukainya, jangankan untuk berkencan melihatnya saja aku sudah muak!.
Panggilannya selalu aku abaikan, tak sekalipun kehadirannya aku peduli Tapi justru sangat membuatku marah dan kesal dia sama sekali tidak berhenti, dia malah dengan gencar mendekatiku seperti penggoda ulung dan selalu membawa-bawa mama dalam urusannya. Sangat menjijikkan..
Entah takdir yang tengah mempermainkan kami atau memang takdir yang tengah berpihak padaku, pertemuanku dengan Hanna seolah-olah menjadi titik terang tentang masalah hubungan kami, karena aku masih mempertanyakan alasan kenapa dia memilih meninggalkanku ketimbang mempercayaiku tentang masalahnya. Kepergiannya yang tiba-tiba menjadi sebuah teka-teki yang sangat sulit aku tebak, bodohnya lagi, Aku tidak pernah mencoba masuk ke dalam kehidupan keluarganya lebih dalam, aku melihat keluarga yang harmonis itu saja! bahkan aku dan Davian adiknya selalu bermain bersama. Sehingga aku tidak punya gambaran sama sekali ada apa dengan Hanna?.
Di sini! di perusahaan peninggalan almarhum Ayah kandungku, Aku hanya bisa merenung mengingat semua masa-masa menyakitkan itu. Aku yang terlalu bodoh mencintainya atau Hanna yang terlalu pintar mempermainkan hatiku, bahkan sampai sekarang sakit yang ditorehkannya masih terasa dan mulai berubah menjadi benci!
Aku yang terlalu bodoh, saking bodohnya dan terlena dengan Cintaku, aku tidak tau apa yang terjadi pada Hanna. Aku pikir dengan melihat senyumnya setiap hari dia pasti baik-baik saja, aku tidak penasaran dengan diamnya dia di suatu hari dulu, Aku tidak bertanya dengan perubahan kelopak matanya yang sedikit membengkak di pagi hari ketika aku menjemputnya dulu dan aku tidak peka saat tak ada lagi senyum di wajahnya beberapa hari menjelang kata yang tak ingin ku dengar itu keluar dari mulutnya.
Andai sedikit saja aku bisa menunjukkan diri sebagai sosok kekasih yang bisa menjadi sandarannya, kekuatannya ataupun menjadi tempat berkeluh kesahnya, aku rasa semua ini tidak akan pernah terjadi.
Katakan aku terlalu naif, tapi memang begitu adanya, jika aku sudah menitipkan hatiku pada seseorang, maka aku hanya akan melihat seseorang itu saja tidak akan ada yang lain.
Dan setelah itu Duniaku hanya akan ada padanya, sekuat apapun masalahnya aku akan terus berada di sisinya. Tapi mungkin tidak bagi Hanna, kehadiranku justru masih samar-samar di hatinya, Dia tidak pernah mengijinkanku untuk menyelam lebih jauh lagi ke dasar hatinya. Sehingga aku tidak tau ada kemelut apa yang tengah tumbuh di sana, Hanna yang sangat pandai menyembunyikannya atau aku yang terlalu tidak mengindahkan semua itu.
Sangat berbeda dengan Hanna, hatiku justru sangat mudah ditebak, terbukti ketika Ifan sahabat sekaligus asistenku dengan mudahnya bisa menebak kalau salah satu dari gadis yang kami temui tadi adalah bagian dari masa laluku. Kalimatnya yang terucap dengan enteng menyemangatiku untuk memperjuangkannya lagi, katakan Hanna! Katakan satu alasan apa aku layak memperjuangkanmu! gumamku hanya dalam hati.