ICE

ICE
Terpaksa


Sinar mentari di Minggu pagi yang cerah menemani Ais jogging mengelilingi taman kota. Ia sendiri, iya sendiri padahal yang lain pada gandengan sama pacarnya masing-masing. Ah, jomlo emang gini banget ya, apa-apa sendiri. Tapi tidak masalah, uji coba untuk terlatih mandiri.


Harusnya tadi Ais di sini dengan Pak Key. Mereka sudah janjian untuk ikut Care Free Day dan ketemuan di taman, tapi batal karena Pak Key harus mengantar saudaranya pulang dulu. Namun, sampainya ia di taman, Pak Key memberi kabar kalau ada acara keluarga dadakan, jadinya sekarang Ais sendirian. Mau balik lagi nanggung di ongkos. Mana tadi ia naik bus ke sininya.


Jogging lima putaran saja sudah membuat Ais ngos-ngosan kayak di suruh kerja rodi. Ketara banget kalau ia tidak pernah olahraga. Lagi pula Ais juga paling males kalau disuruh olahraga. Bikin badan remuk semua. Ia milih tiduran di rumah daripada capek-capek lari.


Ia berhenti. Matanya menyapu semua penjual makanan untuk mengisi perut yang habis olahraga. Pilihannya jatuh pada penjual bubur ayam. Sudah lama juga ia tidak makan bubur, terakhir waktu menemani Pak Key olahraga, tapi Pak Keynya yang lari Ais hanya duduk menanti. Itu pun lima bulan yang lalu.


"Pak, bubur satu."  Setelah memesan, ia duduk di bangku yang sudah di sediakan oleh bapak penjual bubur sembarj menunggu buburnya datang. Tidak perlu menunggu lama bubur sudah ada di hadapannya. Ia berdo'a sebelum menyuapkan satu sendok bubur ke dalam mulut.


"Cewek." Ais mengangkat kepala karena ia masih merasa cewek. Nah lho! Ais melotot tapi tidak sampai bola matanya keluar, ya. Orang yang paling Ais hindari. Siapa lagi kalau bukan Nues. Sepertinya hari-hari Ais tidak bisa jauh-jauh dari Nues walaupun itu hari libur. Ais memilih kembali fokus ke bubur yang beberapa detik lalu ia anggurkan.


"Pak, buburnya satu," ucapnya yang kemudian duduk di depan Ais.


"Kamu ngapain di sini?" Sudah tahu Ais lagi pakai baju olahraga trus makan bubur masih aja ditanyain. Pengen kupeluk cogan satu ini.


^Nues : Sorry, Thor, gue bukan cowok sembarangan yang mau lu peluk-peluk. Meluk, bayar.


"Menurut anda?"


"Ngeliatin orang pacaran, kali."


What? Wah... ini orang bener-bener ya, bikin Ais naik darah mulu. Mungkin setelah ini Ais harus menyantumkan nama lelaki itu di dalam do'a-do'anya sehabis menunaikan ibadah. Menyebut nama Nues agar tidak mengganggu ketenangannya.


"Ngapain anda duduk di sini?"


"Suka-suka saya. Lagian ini tempat umum, jadi saya bebas mau duduk di mana. Di sebelah kamu juga bisa."


Ais diam. Benar juga jawabannya. Ini tempat umum tapi, di meja lainkan bisa?


"Meja lain masih kosong."


"Suka-suka saya, Non."


Bisa pusing jika meladeni manusia didepannya itu. Akhirnya ia milih fokus untuk menghabiskan bubur dan segera kembali ke rumah. Lama-lama disini bikin Ais cepat tua. Emosi.


Ais buru-buru menyelesaikan aktifitasnya dan beranjak dari tempat duduknya, namun tangannya di tahan oleh Nues.


"Gak usah pegang-pegang!" Ais langsung melepaskan tangannya cekalan Nues.


"Habis ini kamu mau kemana?"


"Kepo."


"Serius."


"Pulang!" jawabnya dengan nada ketus.


"Kamu mau nemenin saya, gak? Beli baju."


"Gak."


"Gak mau? Kemarin saya sempet baca di kantor kamu, kalau kepuasan pelanggan diutamakan, tapi saya ngerasa kok gak puas, ya. Saya juga bisa lho laporin kamu ke atasan kamu kalo kamu kemaren ngebentak saya waktu saya lupa gak ngasih tanda sign waktu belok kiri, itu membuat saya down, jatuh, dan gak bisa bangkit lagi. Kalau kamu gak mau, reputasi tempat kursus punya bos kamu bakal hancur karena kamu." Ais terdiam. Seolah ucapan Nues langsung mengingatkannya pada kejadian kemarin saat ia tidak sengaja membentaknya. Bisa gawat kalau Ais dilaporkan. Ia bisa saja di pecat. Bosnya kan tidak mau punya karyawan yang tidak sopan sama siswa. Mana Ais butuh duit pula.


"Trus mau Bapak apa?" tanya Ais geram. Kelihatannya Ais harus berhati-hati dengan lelaki di hadapannya ini. Sangat menakutkan melebihi singa.


"Habis ini temenin saya ke mall dan gak ada penolakan. Atau kamu saya aduin ke atasan kamu." Seperti di sihir, Ais langsung duduk kembali setelah mendengar ucapan Nues. Ais harus selalu sabar berhadapan dengan orang yang modelannya seperti Nues.


Ais melihat Nues yang sedang makan dengan tenangnya.


Ais mengakui kalau Nues itu sebenernya cakep. Putih iya, ganteng iya, hidungnya mancung, gaul iya, kekinian iya, tinggi iya tapi yang Ais sayangkan kenapa cowok yang di depannya membuatnya risih. Eh ngapain Ais malah ngeliatin dia coba. Kayaknya otaknya Ais perlu di reparasi lagi. Siapa tahu ada yang konslet lagi.


"Saya tau saya ganteng tapi ngeliatnya biasa aja." Ais gelagapan saat ketahuan ngeliatin Nues. "Jangan lama-lama ngeliatin saya, ntar kamu suka sama saya," lanjutnya. Ais hanya memutar bola dengan malas.


"Yuk, kita berangkat. Tapi kamu gak papa naik motor?" Ajak Nues seusai menghabiskan satu mangkok bubur.


"Lo pikir gue cewek matre yang gak mau kepanasan?" Ais balik bertanya karena ia sudah kesal dengan pertanyaan Nues. Seolah-olah ia terlihat seperti cewek manja. Setelah bertanya seperti itu, ia langsung jalan menuju ke parkiran tapi ucapan Nues membuat Ais menghentikan langkahnya dan ingin membenamkan kepalanya ke tanah.


"Non, motor saya ada di parkiran yang kanan bukan yang kiri." Huwaaaa Ais salah jalan. Sok-sok an banget sih lu, Is, pake jalan duluan. Malu-maluin dunia persilatan aja, Lu, Is.


^Ais :  Diem, Lu, Thor. Gue yasinin juga, Lu.


"Yuk." Nues menggandeng tangan Ais yang otomatis langsung Ais lepaskan.


"Gak usah pegang-pegang!" Ais langsung jalan lebih dulu dan meninggalkan Nues yang berada di belakangnya. Lelaki itu tersenyum melihat tingkah Ais.





Ais heran sama makhluk ciptaan Tuhan yang gak ada seksi-seksinya ini dan yang paling ngeselin. Belanja saja ngalah-ngalahin cewek. Muterin mall lima kali tapi belum dapat apa-apa. Apa sih, yang lelaki itu cari? Busananya kerajaan Inggris? Bajunya Pangeran William? Ais menghela napas. Kakinya berasa sudah hampir lepas di eskalator mall.


"Masih lama?" tanya Ais. Kakinya sudah capai gara-gara mumutari mall tanpa tujuan.


"Kita masuk ke sini."


Ais mendengkus. Apa faedahnya tadi muter-muter sampai lima kali kalau ujung-ujungnya kembali ke titik awal, Paijo? Rasanya Ais ingin mendorong Nues dari atas eskalator. Dengan berat hati, ia mengikuti langkah kaki Nues masuk ke dalam butik.


Ais duduk di sofa tunggu, sedangkan Nues tengah sibuk memilih pakaian.


"Menurut kamu kalau saya pakai ini, cocok, enggak?" Nues menunjukkan kaus hitam dengan tulisan yang lagi viral saat ini, Telek kon.


"Cocok," jawabnya asal.


"Kalau ini?" Nues menunjukkan setelan jas serta celana jeans hitam.


"Cocok."


"Kalau ini?" Nues menunjukkan kemeja lengan pendek ke Ais.


"Cocok."


"Kalau ini?"


"Cocok." Mata Nues langsung membulat. Ia jadi tau kalau gadis yang ia ajak ini hanya asal bicara, tidak memperhatikannya.


"Masa saya cocok pakai mini dress. Bisa aja kamu." Kekeh Nues.


"Tergantung fungsinya."


Mendengar Ais bersuara, membuat Nues menoleh ke arahnya. "Besok saya mau makan malam sama calon mertua sekaligus calon istri saya, jadinya saya harus kelihatan keren di depan calon istri saya. Siapa tau calon istri saya langsung kepincut sama saya."


Ais melihat Nues dari atas sampai bawah. Karena ia ingin cepat-cepat terbebas dari Nues ia berpikir sejenak. Ah, dia punya saran untuk Nues siapa tahu dia mau dan Ais bisa cepat pulang.


Ais melihat semua pakaian yang ada di butik tersebut. Tidak selang beberapa menit Ais sudah menemukan baju yang cocok untuk Nues.


"Siapa tau cocok." Ais memberikan baju yang dipilihnya dengan lengkap. Mulai dari atasan sampai bawahan dan juga sepatunya.


"Saya coba dulu kala gitu." Nues menerima semua itu.


Sambil menunggu Nues mencoba pakaian darinya, ia meminkan sosial medianya, mulai dari facebook, wa, dan juga instagram. Facebook isinya orang jualan mulu sama curhat masalah rumah tangga. Aib rumah tangga kok diumbar di publik. Orang jaman sekarang mah gitu, apa-apa di up di publik, gak bisa membedakan rahasia sama umum. Itu sama saja menjelekkan dirinya sendiri, batinnya.


"Nona Jutek." Ais menoleh. Mata Ais sempat terbelalak. Ini yang didepannya beneran, Nues? batinnya. Ais harus mengakuinya. Kali ini Nues terlihat ganteng banget.


"Non, menurut kamu, gimana? Cocok?"


"O.. O... oh cocok kok."


"Beneran ini?"


"Hm."


"Bagus kok, Mas. Simple tapi tetap terlihat keren. Kesan sopannya juga ada." Tanpa ditanya pelayan toko itu langsung bersuara.


"Oke kalo gitu ini aja, Mbak."


Seusai mengganti pakaian, Nues duduk di sebelah Ais yang tengah memainkan jari-jarinya.


"Kamu gak mau beli sekalian?" tanya Nues.


"Gak."


"Kenapa?"


"Banyak nanya. Udah tuh." Ais bangkit. Ia keluar dari butik untuk menunggu Nues.





Ais mengerutkan keningnya saat motor Nues berhenti di depan stand yang bertuliskan 'Susu Mak Tam'.


"Original dua, Mbak."


Seusai membayar apa yang dibeli, Nues kembali menjalankan motornya, namun tak jauh dari tempatnya berhenti tadi, ia meminggirkan motornya dan berhenti. Ia menyetandartkan motor dan turun. Menyenderkan tubuhnya ke motor. Tak lupa melepas helm.


"Buat kamu." Nues memberikan satu cup es susu ke Ais.


"Pegangin dulu."


"Kamu duduk aja gak pa-pa. Motornya gak bakal roboh," ucap Nues yang melihat Ais yang akan turun dari motor.


"Diminum biar tenggorokannya gak kering." Ais menerima es yang ada ditangan Nues.


"Makasih." Ais meminum es dari Nues. Syukurlah lelaki di depannya ini pengertian, membelikan es walaupun es dipinggir jalan, namun bisa meredakan haus yang menyerangnya.


Nues menatap Ais yang sedang menikmati es darinya. Seulas senyum tampak di wajah lelaki berkulit putih itu. Entah kenapa matanya terlihat damai saat melihat Ais. Rasanya ingin sekali bertemu dengan gadis di sampingnya ini setiap saat.


"Non," panggil Nues.


"Nona Jutek." Barulah Ais menoleh ke Nues yang sedang menatapnya. Tersenyum ke Ais. Mata mereka bertemu. Sejenak Ais terbuai oleh mata elang Nues, namun Ais segera mengalihkan pandangan.


"Hm?"


"Thanks, ya, udah mau nemenin saya beli baju," ucap Nues dengan tulus.


"Terpaksa." Nues tersenyum mendengar jawaban Ais.


"Gak pa-pa, deh, terpaksa yang penting saya besok bisa terlihat ganteng di depan calon istri saya, siapa tau dia langsung suka sama saya." Nues melirik ke Ais. "Ternyata kamu bisa diandelin juga, ya," lanjutnya.


"Kebetulan," jawab Ais seadanya.


"Tadi kamu olahraga sendiri? Gak sama pacar?"


"Udah siang, mending Bapak anterin saya di halte pertigaan daripada banyak nanya," pintanya.


"Kamu mau ngapain di sana?"


"Nunggu bus. Buruan."


"Dari pada kamu naik bus, mending saya anterin kamu pulang, toh saya juga sudah tau rumah kamu," tawar Nues.


"Gak perlu."


"Aku maksa, lho."


"Terserah." Nues terkekeh melihat Ais pasrah.


"Udah minumnya?"


"Udah." Nues mengambil cup ditangan Ais dan membuangnya di tempat sampah yang kebetulan sudah disediakan oleh Pemkot. Jadi, jangan buang sampah sembarangan. Budayakan bersih. berangkat bersih pulang bersih.


"Oh iya, Non, kamu ada mampir ke mana gitu? Atau ada yang mau dibeli?" tanya Nues mendekat ke arahnya.


"Kalau Bapak lama mending saya naik bus."


"Janganlah. Biar saya yang anterin." Nues segera memakai helm, langsung naik ke motor, menyalakan mesin motor dan melajukan motornya sebelum gadis yang sedari tadi memasang wajah bete marah dan memilih turun dan malah naik bus, bisa gawat urusannya.


Sorry gaes update lama karena ....


Dan juga thanks udah mau baca cerita inin