
Gadis itu menggeliat di atas tempat tidurnya. Mengumpulkan semua nyawa yang sempat berkenala entah ke mana selama ia tertidur. Setelah semua nyawa terkumpul barulah ia terduduk di atas kasur. Menghela napas panjang. Melepas sesuatu yang menumpuk di hatinya. Ia melihat jam yang menempel di dinding. Jam empat pagi. Seperti biasa, gadis itu selalu bangun di jam orang-orang masih tertidur. Bukan karena rajin, melainkan karena terpaksa. Terpaksa agar tidak terlambat masuk kerja. Kerjanya kan pergi petang pulang petang.
Ia turun dari kasur sembari mengikat rambutnya yang berantakan kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, mengambil air wudhu, sholat shubuh kemudian bersih-bersih rumah karena sudah menjadi rutinitas setiap paginya. Tak lupa memutar lagu dari ponsel yang ia sambungkan ke earphone karena musik adalah sebagian dari hidupnya. Bagi gadis yang mempunyai nama lengkap Nuraisyah Stefanni atau biasa dipanggil Ais, hidup tanpa musik itu hambar kayak sayur tanpa masako, kurang sedap. Melalui musik, Ais bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan sebab Ais bukan tipe orang yang terbuka. Yang dengan mudah mau menceritakan keluh kesahnya ke orang lain dengan gamblang.
Jam setengah enam ia sudah rapi dengan seragam kerjanya. Ia berkaca sekilas untuk melihat apakah ada yang salah dengan penampilannya.
"Bu, Ais berangkat dulu," pamitnya kala ia sudah berada di dapur menghampiri ibunya untuk berpamitan.
"Kamu enggak sarapan dulu, Is?" tanya Bu Sarah yang sibuk membuat adonan kue bolu.
"Maaf, Bu, gak keburu. Udah telat soalnya jam enam ada siswa."
"Ya udah kalau gitu, kamu hati-hati naik motornya. Jangan ngebut-ngebut." Tak jarang Bu Sarah khawatir apabila anak semata wayangnya ini berangkat dengan terburu-buru. Bisa jadi gadis itu memacu motornya dengan kecepatan yang tinggi.
"Iya, Bu." Ais menyalami tangan Bu Sarah, mencium, tak lupa mengucapkan salam. Ais mengeluarkan motor dari garasi, memanasinya. Mengambil earphone dari saku jaket. Memasangkan ke telinga dan menyambungkan ke ponselnya. Memutar lagu yang sudah ia masukkan ke daftar playlist. Setelah semuanya sudah siap, Ais langsung tancap gas menuju kantornya yang berada di Kota Kediri.
***
Brak.
Ais memekik saat motor yang ia kendarai tak sengaja menabrak motor depannya yang berhenti mendadak saat lampu sudah berganti warna menjadi merah.
'******,' batinnya.
Lelaki itu menoleh ke belakang, pandangan mereka bertemu, akan tetapi lelaki berjas biru tua itu kembali ke posisi awal. Ais bernapas lega sebab lelaki itu tidak mengomelinya seperti emak-emak sedang rebutan diskon.
Lampu merah sudah berganti warna menjadi hijau, Ais melanjutkan perjalanannya, tapi, tidak jauh dari lampu merah, lelaki yang motornya sempat Ais tabrak menghadangnya, menyuruhnya untuk menepi. Mau tidak mau ia berhenti. Menyetandarkan motornya. Ais membuka kaca helm melepas kacamata dan juga masker yang ia kenakan lalu berjalan ke arah lelaki tersebut. Lelaki itu tertegun melihat Ais. Ia juga tidak tahu kenapa.
"Ada apa?" tanya Ais dengan nada santai seperti tidak bersalah. Lelaki itu terhenyak dan kembali menormalkan diri.
"Kamu tanya ada apa? Kamu sudah nabrak motor saya sampai bagian belakang motor saya rusak kayak gini masih nanya ada apa? Gadis macam apa kamu? Kamu harus tanggung jawab!" Lelaki itu berkata dengan sengit seolah bertemu dengan musuh bebuyutannya.
"Bukan salah saya." Ais berbicara dengan datar, tanpa ekspresi. Nada bicaranya masih terlihat santai.
"Apa-apaan kamu menyalahkan saya. Sudah jelas kamu yang gak liat-liat main nabrak padahal posisi sudah lampu merah. Saya tidak mau tau kamu harus tanggung jawab!" tegas lelaki itu.
Ais menghela napas. Ia sudah menebak kalau kejadian ini akan berbuntut panjang. Ia melihat belakang motor lelaki itu untuk mengecek krusakannya. "Gak parah, cuma retak." Ais melirik jam tangannya. Sudah sepuluh menit waktunya terbuang. Ais langsung pergi ke motor memakai helm dan menyalakan mesin motor, tapi tangan kirinya langsung di tahan sama lelaki itu.
"Enak saja kamu mau kabur. Gak bisa. Kamu harus tanggung jawab!" Lelaki itu terus meminta Ais untuk bertanggung jawab.
"Jangan pegang-pegang," ketusnya. Ais langsung melepaskan tangannya dari cekalan lelaki itu.
"Saya bakal tanggung jawab." Akhirnya Ais pasrah untuk melakukan hal itu. Semakin ia ngotot menolak pasti bakal lebih lama ia berada di sana.
"Tidak bisa dipercaya. Kamu bakal kabur kalau saya biarkan pergi."
"Saya bukan orang yang seperti itu," bantah Ais yang tak terima dituduh sembarangan.
"Siniin hape kamu."
"Gak." Tolaknya tanpa melihat lelaki itu.
"Terserah kalau kamu malah pilih di sini lebih lama bersama saya."
Ais mendesah. Kenapa ada lelaki seperti ini? batinnya. Dengan ogah-ogahan ia mengambil ponselnya yang ada di saku. Mencabut kabel earphone-nya. Lelaki itu langsung mengambil ponsel Ais begitu saja. Rasanya Ais ingin sekali mengumpat dan menendang lelaki di depannya itu ke Merkurius.
"Simpan nomer saya. Saya Nues. Sekarang kamu bisa pergi tapi ingat, kamu masih punya urusan sama saya."
Tanpa mengindahkan ucapan lelaki yang bernama Nues itu, Ais langsung menyalakan mesin dan melajukan motor karena ia sudah terlambat.
***
"Mbak Ais dari mana aja* Ibunya dari tadi udah uring-uringan tau, Mbak. Mbak tumben banget telat lima belas menit?" tanya Luna dengan suara yang dipelanlan. Ia adalah salah satu staff admin di Kursus Mengemudi Natuna.
"Tadi ada urusan," jawabnya singkat. Ais mengambil kartu belajar siswanya buat absen dan menulis materi apa aja yang sudah ia ajarkan.
"Mari, Bu, sekarang."
"Mbaknya ke mana aja sampai jam segini baru dateng? Udah kebuang sepuluh menit saya, Mbak. Saya gak mau tau ya, Mbak, jam saya harus tetap penuh, lima puluh menit." Belum apa apa udah diprotes saja. Sabar, Is, cobaan hidup memang seperti itu.
"Mohon maaf, Bu, sebelumnya kalau saya terlambat soalnya tadi ada masalah di jalan. Tapi, nanti waktu yang sepuluh menit itu saya ganti, Bu."
Lima puluh menit telah berlalu. Gadis itu keluar dari mobil dengan embusan napas yang menandakan ia begitu lega. Ais bersyukur sekali karena ibu-ibu yang ia ajar tadi sudah selesai. Ais memilih masuk ke ruang staff dan duduk di sana menemani Luna yang sendirian karena Sasha, staff yang satunya belum datang.
"Jadwal gue?" Luna memberikan sebuah kertas putih di mana tertera nama siapa saja yang akan ia ajar hari ini. Ia tersenyum mendapati jadwalnya yang terisi penuh.
"Mbak Ais, kenapa bisa telat? Biasanya kan gak pernah telat." Ais memgalihkan pandangan dari kertas jadwal ke Luna.
"Ada urusan dijalan," jawabnya singkat setelah diam beberapa saat.
"Nabrak orang." Ia mengeluarkan ponselnya dan mengecek aplikasi wa. Tidak ada pesan yang masuk. Ah ... Ais lupa kalau ponselnya memang terbiasa sepi.
"Nabrak orang? Tapi, orangnya gak papa, kan, Mbak? Gak ada yang luka, kan?" Luna terlihat kaget dan begitu khawatir sampai-sampai tidak menanyakan kondisi temannya sendiri
"Sebenernya temen lo itu gue apa dia?" protes Ais.
"Eh? Maaf, Mbak Ais. Mbak, gak pa-pa, kan?"
"Gak pa-pa, dia cuma minta ganti rugi."
"Ganti aja, Mbak. Daripada nanti urusannya panjang."
"Iya, lah."
Ais menoleh ke jam dinding. Sudah pukul tujuh tapi siswanya belum datang juga. Bersamaan dengan itu Luna memberitahu kalau siswa yang saat ini ia ajar ternyata meliburkan diri karena ada urusan yang begitu penting.
Ais menoleh ke sekitar. Kantor terlihat begitu sepi. Biasanya pergantian jam kantor sudah begitu ramai, tapi sekarang? Sunyi sekali.
"Bapak-bapak pada ke mana? Kok, pada belum balik?"
"Mereka ngajar langsung dua kali."
"Semuanya?" Luna mengangguk.
"Tumben?"
"Siswanya Pak Cahyo sama Pak Dani yang jam 7 libur soalnya kan adik kakak. Kalau Pak Key sama Pak Agus memang dua kali, sih."
Belum sempat Ais bertanya lagi, tiba-tiba ada tamu yang datang untuk bertanya-tanya mengenai bagaimana sistem kursusnya.
Pandangan Ais lurus ke depan. Ia mendadak jadi melamun akan kejadian di mana motornya tak sengaja menabrak motor lelaki itu. Entah kenapa seperti ada yang tidak beres, tapi ia tak tahu apa. Ia tidak mau menduga-duga yang akan berujung pada hal yang kelirun
"Is, tadi tumben lo telat biasanya kan anti banget sama yang namanya telat." Ais menoleh pelan ke sumber suara. Nah, ini yang ngomong teman satu jabatan dengan Ais, namanya Pak Key. Sesama instruktur mereka manggilnya lo gue biar lebih akrab, katanya. Ais mah ngikut saja. Semua instruktur di sini lebih tua dari Ais. Jadi, kalau orang Korea, Ais bisa di bilang maknae karena paling muda sendiri.
"Tadi ada sedikit masalah jadi telat." Pak Key duduk di kursi yang ada di belakang Ais. Reflek Ais memutar kursinya agar mudah untuk ngobrol.
"Masalah?" tanya Pak Key.
"Gak usah kepo." Pak Key hanya memberi tatapan tak suka ke arah Ais.
"Udah makan belum? Kalau belum, yuk nyari makan di luar," ajak Pak Key.
"Enak banget Mbak Ais sama Pak Key makan di luar. Saya gak diajak gitu?" sahut Luna usai tamu tadi pergi.
"Kamu mau ikut kita, Na?" tanya pak Key dengan seulas senyum.
"Ya mau lah, Pak Key," jawab Luna dengan semangat empat lima.
"Siap dapet SP, gak?" tanya Pak Key meyakinkan.
"Gak jadi kalo gitu." Seketika Ais sama pak Key tertawa melihat Luna yang cemberut.
"Aku sama Ais mau makan dulu. Ntar aku bungkusin aja. Kalau siswa kita udah dateng kamu Wa aja. Kita makan deket sini, kok." Setelah mendapat anggukan dari Luna, Ais dan pak Key pergi ke tempat makan dekat kantor. Tempat makan langganan para instruktur.
Ya begini setiap harinya. Ais dekat sama pak Key. Bahkan ,ada yang nyangka kalau kedua instruktur tersebut tengah menjalin hubungan. Padahal pak Key itu sudah Ais anggap abangnya sendiri karena mereka masih ada hubungan darah. Kebetulan juga rumah mereka masih dalam satu blok. Jadi tidak heran kalau mereka bisa sedekat itu.
♥
♥
♥
♥
♥
**Part satu done. Selamat membaca. Jangan lupa untuk vote dan coment.
Satu komentar positif membawa perubahan yang begitu bagus.
Salam kece dari orang yang sok kece.
Kediri, 04 August 2020
Tertanda,
Wima_Machrus**