
Sejak semalam yang ada di otaknya hanya pertanyaan, kenapa bisa lelaki yang bernama Nues nyasar sampai di rumahnya? Bahkan ngobrol dengan kedua orang tuanya. Terlihat sangat akrab sekali. Bukankah itu terlihat aneh? Ais perlu mencari tahu. Ya ... walaupun sudah dijawab dengan sang ayah, tapi Ais harus mendapatkan informasi yang jelas. Kalau bisa sejelas-jelasnya. Ais berjalan menuju dapur untuk mengambil sarapan karena waktunya terbuang beberapa menit hanya untuk memikirkan hal yang penting tidak penting itu.
"Pagi, Bu," sapanya yang melihat Bu Sarah berkutat di dapur dengan celemek yang masih menempel di badan perempuan berambut bergelombang itu.
"Pagi, Is. Sarapannya udah Ibu siapin di meja sekalian bekalnya."
Dahi Ais mengerut melihat anak laki-laki berseragam putih abu-abu sedang duduk dan menikmati sepiring nasi goreng. "Cucunya Eyang Subur kenapa ada di sini?" tanyanya sinis.
"Sialan lo, Mbak."
"Una, mulutnya." Bu Sarah memperingatkan anak yang sempat mengumpat tadi.
"Lo ke sini numpang makan?"
"Mana ada?" sanggah anak lelaki yang menjadi keponakannya.
"Biasanya juga gitu."
"Sotoy. Gue mau nganterin Ibuk," jelas dia yang memiliki nama Juna.
"Kemana? Ais bisa anterin Ibu. Gak perlu sama si anaknya anakonda."
"Ya terserah Ibuk lah mau minta dianterin siapa," bela Juna.
"Banyak ngomong, Lo."
"Bodo."
"Buruan dimakan keburu dingin."
"Iya." Ais duduk dan menikmati sarapan. "Bu, laki-laki yang semalem datang ke sini siapa?"
"Cieeeee diapelin jodohnya," ledek Juna.
"Berisik!"
"Nues," jawab Bu Sarah yang masih fokus dengan telur gulung sosisnya. "Kemarin kan Ayah kamu juga udah bilang," lanjutnya.
"Bolot dia, Buk," ejek Juna.
"Nyamber mulu."
"Maksud Ais, asal usul dia. Dari planet mana memangnya?"
"Merkurius kali, kalo gak gitu dari Mars," sahut Juna. Ais hanya meliriknya tanpa berniat membalasnya.
"Kamu kira dia elien? Dia itu anaknya Pak Andre, kamu ingetkan?" Bu Sarah meletakkan satu piring telur gulung sosis yang sudah jadi di depan gadis yang tengah mengunyah itu. Ais mencoba mengingatnya walaupun ia tidak ingat. "Ia mampir ke sini soalnya udah lama gak main ke sini, terakhir waktu dia masih berumur lima tahun. Dia ke sini juga tidak hanya mampir, dia disuruh Papanya buat ngasih sesuatu ke Ayah," lanjutnya. Ais hanya manggut-manggut saja.
"Dia ganteng, ya, Is. Cocok banget buat calon mantunya Ibu," tutur Bu Sarah ngelirik Ais. Beliau jadi ingat waktu Nues senyum ke arahnya yang membuat para emak-emak meleleh dan melupakan suaminya.
"Paling juga masih cakepan Una," sambar Juna yang merapikan kerahnya agar terlihat keren.
Ais mendesah pelan. Ibunya selalu tak pernah ketinggalan kalau masalah orang yang cakep sedikit saja.
"Coba aja kalau Ibu belum nikah, Ibu juga mau jadi calon istrinya."
"Belum tentu juga dia mau sama Ibu. Ais berangkat." Ais dan berpamitan.
"Kamu itu selalu ngalangin mimpi Ibu," dengus Bu Sarah.
"Biar kalau jatuh gak sakit," balas Ais sembari meraih tangan Bu Sarah untuk bersalaman dan melangkah pergi.
"Ayah tadi bilang kalau kamu bakal di kenalin sama anaknya temen Ayah."
Ais menghentikan lngkahnya. Menoleh ke belakang. Kembali menghampiri ibunya. "Dikenalin?"
"Lebih tepatnya di jodohin. Ucapan Ayah semalam serius loh." Untung saja Ais sudah selesai sarapan jadi tidak tersedak. Ais hanya tersenyum karena tidak tahu harus berekspresi macam apa.
"Bau-baunya bakal ada yang gak jomlo lagi, nih," goda Juna dengan senyuman khasnya.
"Biar gak kayak elo, jomlo abadi."
Ia membalikkan badan, mengeplak kepala Juna dan berlari sebelum Juna mengejarnya.
"SAKIT BEGO. DASAR ANAKNYA GENDERUWO." teriak Juna mengelus kepalanya bekas geplakkan Ais.
"Jadi maksud kamu, Ibuk genderuwo?" tanya Bu Sarah menatap Juna dengan sebilah pisau ditangan kanannya. Yang ditatap langsung membekap mulut. Ia ingin ketawa tapi takut melihat pisau yang terlihat tajam mengkilat itu.
"Bu-bukan gitu, Buk. Mana ada Ibuk genderuwo. Cantik gitu, kok, kayak Manohara."
"Ya iyalah cantik kalo gak cantik mana mungkin Ayah kamu mau nikahin Ibuk."
"Nah, tuh."
"Lanjutin makannya. Ibuk mau siap-siap dulu."
"Dasar keluarga abstrak," ucap Juna setelah melihat Bu Sarah pergi meninggalkannya.
♥
♥
♥
Hari ini sebenarnya Ais malas sekali buat kerja, mungkin efek obrolan semalam tentang nikah dan juga tadi pagi, tentang dijodohkan, tapi karena ia harus kejar target jadi mau tidak mau ia tetap masuk.
Ia tidak bisa fokus mengajar. Pikirannya ke mana-mana. Siswa yang harusnya ia ajari parkir malah ia ajari tanjakan. Yang harusnya ia suruh ngegas malah ia suruh ngerem. Kacau benar hari ini. Apa iya, ia harus menerima perjodohan itu? Gimana kalau jodohnya nanti tua? Kalau jahat, gimana? Kasar? Galak? Eh, jangan dong. Ia gak mau kalau punya jodoh kayak gitu. Bisa dibunuh hidup-hidup nanti atau gak gitu disiksa trus diduain. Ngeri kayak di ftv-ftv ikan terbang saja.
Ais menghela napas panjang. Beginikah rasanya dijodohin? Rasanya ia tidak sanggup bila terus seperti ini.
"Kenapa lo bengong?" Ais menoleh dengan malas. Pak Key duduk di kursi sebelah Ais. Ia hanya menggelengkan kepala.
"Lo gak mau cerita sama gue?" Lagi-lagi Ais hanya menggelengkan kepala.
"Dasar cewek, kalo ditanyain ya gitu, kalo gak gelengin kepala ya ngejawab gak pa-pa."
"Gue perhatiin dari tadi lo lemes banget. Kenapa? Lo punya masalah?"
"Gue gak pa-pa, Pak Key."
"Lo gak bisa bohong sama gue, Is. Lo itu udah gue anggep adek gue sendiri dan gue itu abang elo, lo kenapa?"
"Gue kan udah bilang kalo gue gak pa-pa."
"Lo itu munafik, Is. Lo gak mau dibohongin tapi lo sendiri yang bohong. Gue tau lo kenapa-kenapa." Ucapan Pak Key sangat menohok hati tapi, apa yang Pak Key bilang itu benar. Ais paling tidak suka dibohongi tapi sekarang ia malah berbohong.
"Gue... gue bingung Pak Key," ucapnya. Pak Key menoleh ke Ais. Sedetik kemudian Pak Key kembali duduk ditempatnya tadi.
"Lo bingung kenapa? Coba cerita ke gue."
"Gue dijodohin."
"Maksud, Lo?"
"Ayah ngejodohin gue sama anak temennya."
Ais menghela napas. "Gue gak tau siapa orangnya."
"Ya makanya lo kenalan dulu." Ais cuma menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
"Gak segampang itu, Pak Key."
"Gak gampangnya di mana? Cuma kenalan doang elah. Orang mah dijodohin harusnya seneng."
"Seneng gundulmu."
"Ini anak kalo dibilangin suka gitu." Pak Key membenarkan posisi duduknya. "Harusnya lo tuh bersyukur karna lo bakal gak jomlo lagi. Bakal nyusul temen-temen lo yang udah nikah, masa yang lain udah pada nikah lo masih sendirian aja. Masih mending kalo punya pacar, lha ini jomlo, ngenes banget idup lo, Is."
"Mending lo diem deh Pak Key daripada ngehina gue mulu." Emang ini orang ngeselin banget. Ngehina mulu kerjaannya.
"Ya kan emang gitu faktanya. Buber taun lalu temen-temen lo bawa pacar sedangkan, Lo? Sendirian. Buber kemaren mereka bawa suami eh elo masih jomblo aja, ntar taun depan mereka udah bawa anaknya masing-masing, lo nya tetep aja masih jomlo. Miris njir." Iya sih Ais dua tahun buber selalu sendiri mulu tapi ya gak usah diperjelas juga elah. Mulut kok bener trus ngomongnya.
"Tau ah. Bukannya ngasih solusi malah kaya gitu." Ais sudah masang muka ngambek. Padahal ia pengin nenangin diri tapi yang ada makan hinaan mulu.
"Emang lu mau dijodohin sama siapa?"
"Gue tadi kan udah bilang, ngapain lo tanyain lagi," ketus Ais. Ia paling tidak suka kalau harus mengulang perkataannya lagi. Baginya, itu buang-buang waktu.
"Siapa pun itu lo harus terima, karena apa? Karena untuk menghilangkan kutukan jomblo di diri elo."
"Kayaknya gue salah tempat curhat." Ais bangkit dari tempat duduk tapi Pak Key menahan tangannya. Otomatis ia duduk kembali.
"Jangan pegang gue." Ais melepas cekalan Pak Key dan mengusap-ngusapkan ke baju dan kembali duduk. "Apaan lagi Pak Key? Belum kelar ngatain guenya?" tanyanya sinis.
"Astaga, Is, gue gak senajis itu sampe lo usap-usapin bekas cekalan gue ke baju elo."
"Lo yang baperan."
"Gini ya Is, orang tua itu gak mungkin milih pendamping hidup untuk anaknya berlatar belakang orang yang salah, orang yang gak bener. Mereka hanya ingin ngeliat kita bahagia. Udah itu doang. Sama kayak ayah, ayah pengin yang terbaik buat elo karna dia ngerasa lo itu udah waktunya nikah. Toh gak mungkin ayah ngejodohin elu tanpa sebab. Ayah hanya perhatian akan masa depan elo karena hampir semua temen lo udah nikah sedangkan elo belum, siapa tau elo cocok. Ayah gak mungkin ngejodohin anaknya sendiri sama brandalan, preman, dan kawan-kawannya itu. Gue aja yang bukan anak kandung ayah percaya masa elu yang anak kandungnya sendiri gak percaya."
"Udah gak usah kebanyakan galau." Pak Key ngacak rambut Ais sebelum pergi buat ngajar.
Gak galau gimana coba. Ini tuh hidup dan matinya Ais. Iya kalau semua yang diomongin Pak Key itu benar, kalau salah? Bisa tinggal nama doang dia.
Ia menghela napas panjang. Baru kali ini Ais jadi puyeng ngurusin perjodohan. Ngalah ngalahin waktu ia ujian praktik SMK saja.
♥
♥
♥
Nues memasuki ruang kerjanya. Ia terlonjak saat melihat Papanya duduk di kursi kerja yang biasa ia gunakan.
"Papa ngapain disini?" Nues bertanya sembari melabuhkan duduk di depan Papanya.
"Ada hal penting yang ingin Papa bicarakan. Tapi, sebelumnya kamu kemarin udah ketemu sama temennya Papa, kan?"
"Pak Edi? Udah. Beliau juga seneng sama oleh-olehnya."
Nues mengerutkan keningnya, bingung. Tumben sekali Papanya sampai datang ke kantor untuk membicarakan hal yang penting. Biasanya juga dirumah saja kalau ada itu hal penting yang ingin dibicarakan.
"Masalah hotel? Hotel ini udah Nues handel dengan benar, jadi Papa gak perlu khawatir."
"Papa ingin ngejodohin kamu sama anaknya temen, Papa."
"Jodoh? Pa, Nues belum mikirin hal sepenting itu. Nues ingin fokus sama kerjaan Nues, Pa. Dan, Papa udah tau itu." Tolak Nues. Ia benar-benar sudah bosen dengan yang namanya perjodohan.
"Nu, dua puluh enam tahun. Umur kamu itu udah termasuk umur yang matang untuk berumah tangga, sampai kapan kamu cuman kerja, kerja dan kerja terus, Nu? Come on, jangan kayak gini."
"Pa, Nues bukannya enggak mau dijodohin tapi Nues masih enggak ada niatan buat menjalin suatu hubungan."
Andre bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati anaknya. "Sampai kapan kamu siap untuk menjalin hubungan? Sampai hati kamu udah terbang bebas?" Nues hanya mampu diam. Ia tidak bisa menjawab karena ia tidak bisa mentargetkan kesiapannya itu.
"Di jalani dulu, Nu, siapa tahu cocok."
"Dari dulu tiap, Papa, ngejodohin Nues selalu bilang di jalani dulu tapi ujung-ujungnya juga kayak gitu, gak sukses di pelaminan. Mana matre semua pula."
"Kan dulu, Papa, enggak tahu, Nu."
"Nah, karena Papa enggak tau makanya jangan ngejodohin Nues lagi. Nanti kalau udah ketemu jodohnya Nues juga bakal nikah. Lagian Nues udah punya gadis incaran jadi Papa gak perlu ngejodohin Nues lagi."
"Ayo lah, Nu, kali ini aja. Kalo yang ini gak berhasil, Papa gak akan ngejodohin kamu lagi. Mau, ya?"
"Tapi Pa..." Nues ingin menjawab tapi sudah dipotong duluan sama Andre.
Andre mengeluarkan hapenya dan membuka galeri foto. "Ini anaknya temen Papa, cantik, kan? Siapa tau habis ngeliat fotonya kamu jadi kepincut." Andre memperlihatkan Nues sebuah foto gadis yang tergolong cantik.
Nues memicingkan matanya saat melihat foto yang ada dilayar hape Andre. Dia ingat siapa gadis yang ada di hape Papanya.
"Ya udah kalau gitu, Nues setuju."
Andre mengerutkan keningnya, bingung. Tadi nolak sekarang jadi mau. "Kok kamu langsung mau? Tadi kan nolak."
"Kalo yang ini beda, Pa. Do'ain Nues bisa dapetin dia ya, Pa."
"Papa jadi tambah gak ngerti. Kesambet setan mana tiba-tiba mau?" Nues hanya tersenyum bahagia.
"Nues pernah ketemu dia soalnya," jelasnya agar Papanya tidak kebingungan.
"Gimana ceritanya?"
"Ya pokoknya pernah ketemu, Pa. Panjang ceritanya."
"Ya udah terserah kamu. Senin malam kamu datang ke rumahnya teman, Papa, itu, ya."
"Sama Papa, kan?"
"Papa gak bisa soalnya ada acara. Kamu saja ke sana sendiri."
"Sendiri?"
"Iya, lah. Cowok harus berani. Kalau gitu Papa pergi dulu. Kerja yang rajin. Jangan salah fokus."
"Siap, Pa."
Setelah Pak Andre keluar dari ruangan, ia jingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang mendapatkan kado dari orang tuanya.
"Permisi, Pak." Mendengar suara seseorang dan pintu terbuka, Nues langsung berhenti berjingkrak dan membenarkan posisinya agar kembali berwibawa.
"Ada apa?" tanyanya sembari melangkah untuk duduk di kursinya.
"Ada berkas yang harus Bapak tanda tanganin."
"Oke." Nues membaca berkas, mengambil bolpoin. Seusai memahami isi berkas itu, ia menandatangi, dan menyuruh sekretarisnya pergi.
"I will procure you, girl," ucapnya dengan wajah yang menyeringai.