ICE

ICE
Tentang Ais


Ais keluar dari kamar mandi dengan seragam kantor yang sudah melekat di tubuhnya. Duduk di meja rias, menyisir rambut dan menguncirnya. Memakai bedak tipis serta liptin agar tidak terlihat pucat. Tanpa sengaja matanya melihat benda yang berkilau melingkar di jari manisnya. Cukup lama ia termenung memandangi benda tersebut. Sebuah cincin dari Nues. Ia tersenyum kecut. Bisakah ia menjalin hubungan dengan orang yang bahkan ia tidak kenali? Ia takut, takut akan luka lama yang belum sembuh kan terulang kembali. Rasanya Ais tidak sanggup untuk mengulang kembali menjalin sebuah hubungan. Ais menggelengkan kepala.


"Gak bisa." Bersamaan dengan kata itu, Ais melepas cincin yang melingkar di jari manisnya itu. Memasukkan ke dalam laci. Bukan menolak, hanya butuh waktu saja untuk menerima semuanya.


Ia bangkit. Mengambil sneakers lalu memakainya. Padahal sudah ada peraturan kalau instruktur harus menggunakan sepatu vantovel tapi yang namanya Ais, tidak peduli dengan aturan itu karena sneakers lebih nyaman di kakinya.


Matanya melirik saat ada panggilan masuk di ponselnya. Dengan malas ia mengambil dan menggeser tombol hijau.


"Pagi calon istriku." Tau lah ya siapa itu. Siapa lagi kalau bukan Nues.


"Hm."


"Hari ini aku anterin, ya, ini aku udah siap tinggal berangkat."


"Gak perlu. Saya bisa berangkat sendiri." Ais langsung memutuskan sepihak.


"Pengganggu." Ais ngedumel sembari mengikat tali sneakersnya. Mengambil tas dan ponselnya. Menghampiri Bu Sarah yang tengah duduk di meja makan, sarapan dengan Juna.


"Ais berangkat, Bu."


"Is, semalem gimana?"


"Apanya, Bu?" tanya Ais dengan malas.


"Semalem, waktu Ibu tinggal. Ngapain aja sama Nues?"


"Emang Mbak Ais ngapain, Buk? Nues? Nues siapa?" tanya Juna yang mendadak menjadi kepo bak wartawan yang mencari info untuk dijadikan bahan gosip.


"Calon menantu Ibuk dong," jawab Bu Sarah dengan  nada yang disombongkan. Sangat bangga memiliki calon menantu seperti Nues.


"Cieeee yang udah mau nikah. Laku juga lu, Mbak. Wanjir! Mbak gue udah mau nikah aja. Bisalah Mbak, Una jadi pager gantengnya." Goda Juna dengan cengiran khasnya.


"Berisik, Lo."


"Gimana, Is?"


"Ais berangkat dulu." Ais berpamitan dan menyalami ibunya tanpa menjawab pertanyaan sang ibu.


"Pertanyaan Ibu kok gak dijawab, sih?"


Ais tak mengindahkan ibunya. Ia melenggang pergi. Memanasi motor dan tak lupa juga memasang headset, memakai masker, kacamata, sarung tangan, dan helm. Setelah semuanya beres barulah Ais menjalankan motornya menuju ke tempat kerjanya.





Ais menepikan motornya karena merasa ada yang tidak beres dengan motor yang ia kendarai. Ais turun  untuk mengecek. Ia mendesah pelan, ban motornya bocor. Jam setengah enam mana ada bengkel buka. Ais berkacak pinggang.


"Sialan," umpat Ais. Ban motornya kempes.


Ais mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi Sasha untuk mengabari kalau ia datang telat dan siswanya yang jam enam dan jam tujuh harus libur dulu.


"Non, motor kamu kenapa?" Ais menoleh. Nues sudah berdiri disampingnya.


"Kempes." Ais menunjuk ban motornya menggunakan dagunya.


"Ya udah, sekarang aku anterin aja, ya?" Nues mencoba menawarkan diri. Siapa tau di saat seperti ini Ais mau diantar.


"Gak perlu." Tolaknya.


"Is, kali ini aja. Ini udah jam berapa? Kamu bisa telat."


"Jam enam sama jam tujuh diliburkan," jawabnya singkat.


"Ya udah kalau kamu enggak mau aku anterin enggak apa-apa. Kamu minggir dulu." Ais menurut saja apa yang Nues perintahkan.


"Bapak mau apa?" tanya Ais yang melihat Nues menuntun motornya.


"Jangan khawatir, aku gak bakal bawa kabur motor kamu. Kebetulan di depan sana ada bengkel punya temen aku jadi aku mau bawa ke sana. Kamu mau ikut apa nunggu di sini?"


"Ya udah jalan." Nues menganggukkan kepalanya dan kembali menuntun motor Ais diikuti gadis itu dari belakang.


Ais menunggu motornya yang masih di perbaiki sembari menunggu Nues yang mengambil motornya yang sempat lelaki itu tinggalkan di pinggir jalan. Bukan karena kebetulan Nues sedang lewat, akan tetapi Nues memang mengikuti Ais dari belakang makanya saat tahi Ais kesusahan, Nues langsung menghampiri gadis itu. Setelah di cek, bukan hanya ban motornya saja yang bermasalah tapi vanbel (rantai pada motor matic) juga sudah hampir putus dan harus menunggu lama untuk diganti.


"Kamu udah makan?" Nues yang berada di sebelah mencoba membuka suara. Ais hanya mengangguk. Sedetik kemudian ada suara yang terdengar dari perut Ais. Nues tersenyum namun tidak dengan Ais. Gadis itu tetap tenang dan diam, menutupi rasa malunya.


"Ayo ikut aku." Nues menggenggam tangan Ais dan mengajaknya ke warung nasi padang di sebrang jalan. Ais pun tidak bisa menolak karena genggaman tangan Nues sangatlah erat.


Nues berbelok ke rumah masakan Padang karena hanya warung itu lah yang sudah buka di jam pagi seperti ini.


Mereka berdua duduk di sebelah kaca yang memperlihatkan suasana di luar. Tidak ada obrolan sama sekali. Mereka sama-sama diam.


"Nanti aku libur dulu ya soalnya kerjaan di kantor banyak dan kayaknya sore juga belum kelar." Nues membuka obrolan mereka namun hanya dijawab dengan anggukan saja oleh Ais.


Sambil menikmati sarapan yang sudah ada di depannya, mata Ais tidak sengaja melihat dua pasangan sejoli yang juga masuk ke dalam warung yang ia tempati sekarang.


Ia memalingkan wajah kemudian membungkukkan badan seolah-olah membenarkan tali sneakersnya karena tidak mau melihat dua sejoli itu dan juga tidak mau dua sejoli itu melihatnya, terutama si lelaki itu.


Setelah dua sejoli itu melewatinya barulah ia kembali tegap lagi. Nues sedikit bingung dengan tingkah laku Ais namun ia memilih diam. Ia tahu kondisi Ais sedang tidak baik-baik saja karena motornya. Daripada tambah marah, mending Nues menjadi patung berjalan untuk sementara waktu.


"Saya udah selesai."


Nues menghentikan makannya dan melihat piring Ais. "Masih ada itu di piring."


"Gue mau kerja. Jam delapan ada siswa."


"Ya udah aku anterin tapi kamu habiskan dulu yang di piring."


"Gue bisa berangkat sendiri." Ais mengambil tasnya dan beranjak pergi.


Nues menghela napasnya. "Aku anterin kamu, tapi kamu tunggu dulu aku mau bayar." Ais main nyelonong keluar begitu saja. Nues hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Sungguh ia tidak tahu bagaimana caranya untuk meluluhkan hati Ais yang dinginnya seperti es, namun ia tak akan pernah gentar untuk memperjuangkan cintanya.





"Mbak Ais dianter sama siapa? Eh? Bukannya ini Mas Nues, ya?" Luna sedikit bingung karena saat Ais datang dibelakangnya ada Nues.


"Mbak Ais dianter sama Mas Nues? Kok bisa?"


"Mas Nues, makasih ya udah nganterin Mbak Ais. Maaf juga atas sikap Mbak Ais." Luna merasa tidak enak sama Nues karena Ais terlihat seperti masa bodoh dengan Nues yang sudah mengantarnya, tapi mau bagaimana lagi memang sifatnya Ais seperti itu jadi Luna memakluminya.


"Iya gak pa-pa, kalau gitu saya pergi dulu." Nues tersenyum singkat lalu pergi. Seperginya Nues, Luna tersenyum mengingat senyuman Nues.


"Andai punya sepuluh siswa yang kayak Mas Nues, sejahtera hidupku," gumam Luna yang melihat kepergian Nues.


♥♥♥


Nues menyusuri jalanan kota Kediri. Ia masih malas untuk datang ke kantor. Masih terlalu lelah untuk bercinta dengan berkas-berkas yang menggunung di meja kerjanya. Ia membelokkan motornya ke sebuah kafe. Membebaskan diri sejenak sebelum bekerja tidak masalahkan?


Memasuki area kafe, matanya menyipit kala melihat seseorang yang ia kenal. Ia berjalan menghampirinya.


"Jo." Lelaki yang dipanggil mendongak. Ia Jomin tapi sering di panggil Jojo. Dia adalah sahabat karib Nues saat menimba ilmu di bangku sekolah menengah atas.


"Ternyata elu, Nu. Ngapain lo di sini?"


Nues duduk di depan Jo. "Gue mau ngadem. Lu sendiri ngapain di sini?"


"Sama. Bosen di kantor mulu.


Lagian kerjaan udah lumayan beres." Jo meminum kopi hitamnya. "Kemarin gue abis ketemu Om Andre. Katanya elu abis tunangan, ya?"


Nues berhenti mengaduk ice coffee nya yang sudah berada di atas meja. Papanya memang tak bisa menyembunyikan rahasia. Dasar. Nues menghardik ayahnya. "Iya, Senin kemarin. Tumben lu ketemu sama itu Bapak?"


"Vangke, Bapak sendiri digituin. Gak sengaja kemarin ketemu di Masjid Agung alun-alun." Nues hanya terkekeh dan mengangguk. "Cewek mana nih yang berhasil ngeluluhin hati seorang Nues?" Goda Jojo, karena ia tahu sahabatnya ini susah sekali untuk menerima seorang gadis untuk dijadikan pacarnya. Apalagi setelah hubungannya dengan Gita kandas, Jojo tidak pernah mendengar kalau Nues menjalin sebuah hubungan.


"Malah gue yang luluh duluan, Jo," jawab Nues dengan menggelengkan kepala tanda tidak menyangka hatinya bisa seluluh itu. Jawaban Nues sontak membuat Jojo melotot dan tersedak.


"Maksud, lo?" Jojo semakin dibuat penasaran dengan ucapan Nues. Luluh duluan? Mustahil sekali.


"Gue yang bakal ngeluluhin hatinya." Lagi-lagi Jojo dibuat kaget. Ia sungguh tidak mengerti apa yang diucapkan Nues sekarang.


"Bentar-bentar, maksud lo apaan? Kalo ngomong yang jelas."


Nues menghela napas. "Gue yang bakal bikin tunangan gue suka sama gue karna gue udah suka duluan sama dia." Nues berharap Jojo cepat paham. Malas sekali untuk mengulang-ulang perkataan dipikir ujian sekolah apa pakai diulang-ulang alias remidi.


Jojo terkejut sekaligus takjub. Ia tidak menyangka Nues bakal membuka hatinya terlebih dahulu dan ia yang akan memperjuangkan cintanya. Selama berteman dengan Nues, lelaki itu tidak pernah berjuang hanya demi cinta. Kalau dengan Gita, karena Gita yang memulai dan perempuan itu yang selalu ada di saat Nues susah makanya Nues sangat menyayangi gadis itu.


"Tumben banget hati elu lumer? Emang dia siapa? Cantiknya ngalah-ngalahin sang mantan Gita?"


"Ais."


"Ais? Kok gue kayak gak asing sama namanya."


"Dia anak buah, lo." Jojo mencoba mengingat anak buahnya.


"Ais yang jadi instruktur?" Nues hanya mengangguk. "Seriusan lo sama dia?"


"Iya lah."


"Lu suka sama dia?" tanya Jojo untuk memastikan pendengarannya. Siapa tahu telinganya bermasalah.


"Iya. Kenapa emangnya?" Kini gantian Nues yang bingung dengan Jojo.


"Emang sih dia itu cantik tapi  cuek, sifatnya kaya es. Ya ... kaya gitu lah. Kalo menurut gue dia itu gak gampang disentuh dalam artian gak mudah luluh hatinya. Itu sih yang gue liat dari itu cewek."


"Emang setau lo dia gimana?" Nues semakin penasaran dengan apa yang dikatakan Jojo. Apa benar calon istrinya seperti itu. Apakah sifatnya di tempat kerja sama saja dengan saat bersamanya.


"Gue cuma denger dari yang lain kalo dia itu gak bisa dibantah dan juga gak di remehin tapi dia anaknya baik. Semua karyawan suka sih sama keberadaannya dan kalo debat, bumb! bisa kalah lawannya dan itu udah pernah kejadian."


"Gimana ceritanya?"


"Dia sempet debat sama suaminya siswa gara-gara siswanya batal belajar terus minta uangnya kembali penuh bahkan lelaki itu ngancem juga. Sama Ais sempat ditantang juga alhasil waktu suaminya siswa itu dateng ke kantor dibuat kicep sama Ais. Gak berani apa-apa, nurut apa yang Ais katakan."


Nues hanya menggelengkan kepalanya mengetahui bagaimana sikap Ais. Ternyata calon istrinya tidak hanya ketus dengan dia saja, sama orang lain pun juga ketus.


"Kalo lo gak kuat sama sifatnya Ais, mundur aja deh, Nu, gadis yang lain masih banyak yang mau ngantri." Jojo memberi saran. Menejernya Ais itu tahu betul bagaimana karakter manusia apalagi karyawannya. Ia hanya kasihan kalau sahabatnya berjuang mati-matian tapi hasilnya nihil.


"Do'ain ajalah, Bro."


"Pasti kalo itu."


"Terus gimana sama kantor yang lo pegang?"


"Sekarang jadi tambah rame. Apalagi dengan masuknya instruktur kaya Key dan Ais, grafik pendapatan naik terus."


"Baguslah kalau gitu. Lo kan jadi tambah kaya."


"Bisa aja lo." Jojo melirik ke jam tangannya. "Bro, gue cabut duluan ya, tadi gue ada janji sama orang," lanjutnya.


"Oke. Hati-hati."


"Gue gak akan nyerah sampe hati itu luluh." Nues bergumam setelah kepergian Jojo. Menyesap ice coffeenya dengan keyakinan yang kuat.





"Mbak Ais." Ais hanya menoleh.


"Tadi mbak Ais kok bisa dianter sama Mas Nues? Gimana ceritanya?"


"Tadi kan gue udah bilang kalo gak sengaja ketemu. Ngapain lo tanyain lagi?" Luna langsung mengatupkan mulutnya kembali. Ia kira Ais akan bercerita seperti biasanya eh ternyata tidak.


"Mbak."


"Napa?"


"Siswanya mbak Ais yang jam 4 sampai yang jam 6 libur."


"Ya udah kalau gitu gue pulang duluan."


Ais mengambil barang barangnya dan pergi keluar. Namun langkahnya terhenti kala ia mengingat sesuatu. Ia tadi kan berangkat diantar Nues. Tidak mungkin ia menyuruh Nues menjemputnya lagi.


"Lun, pinjem hape lu buat pesen ojol." Ais menerima hape yang Luna berikan dan tak lupa untuk mengabari Nues kalau dirinya pulang sendiri.


Tidak perlu menunggu lama, ojol yang ia pesan sudah sampai di depan kantor. Walaupun begitu Ais tetap memberi tahu ke Nues kalau ia pulang sendiri. Ia tidak enak kalau harus merepotkan Nues lagi walaupun ia tahu tanpa disuruh pun Nues bakal menjemputnya.