
Nues tidak menyangka kalau ternyata Ais itu anaknya nurut sama orang tua padahal yang Nues tahu gadis itu cueknya minta ampun, kalau sama dia. Nues jadi semakin penasaran dengan gadis yang sekarang menyandang sebagai calon istrinya. Menurutnya, Ais itu beda dengan gadis lain di luaran sana. Dilihat dari gayanya menandakan orangnya tidak mau ribet. Ya ... seperti sekarang, pakaiannya simple banget hanya menggunakan hoodie hijau army yang dipadukan dengan celana training merah. Simple tapi ia suka. Bahkan ia sudah suka sama Ais saat pertama kali mereka bertemu waktu Ais tidak sengaja menabrak motornya. Hanya melihat dari matanya saja Nues sudah suka. Sekarang Nues baru percaya kalau cinta pada pandangan pertama itu ada karna ia sudah mengalaminnya sendiri.
Sekarang ia dengan calon istrinya sedang nonton televisi di ruang tamu dengan pintu yang terbuka agar tidak menimbulkan fitnah karena hanya ada mereka berdua. Jadi, aktifitas mereka berdua bisa terlihat dari luar. Tadi orang tuanya sempat menyuruh Nues untuk menjaga calon makmumnya karena Pak Edi dan Bu Sarah sedang pergi menjenguk anak temannya. Serta memberi ruang untuk mereka lebih dekat lagi.
"Non." Nues duduk di sebelah Ais. Tapi Ais tetap saja fokus ke televisi yang menayangkan Dangdut Academy Asia.
"Gak usah deket-deket!" ketusnya.
"Is," Nues manggil lagi.
"Hm." Ais hanya menjawab dengan dehaman tanpa menoleh sedikit pun.
"Aku bangga banget sama kamu, di balik sifat bodo amat kamu itu, ternyata kamu peduli juga sama orang lain sampai rela hujan-hujanan hanya untuk orang lain, bahkan belum lama kenal, gimana sama aku nanti yang udah kenal banget," ucap Nues dengan penuh percaya diri. Ais melirik dari ekor matanya, "PD sekali, Bung," batinnya.
"Gimana perasaan kamu saat tau aku calon suami kamu?"
"Biasa aja," jawabnya acuh tak acuh.
"Kamu gak kaget gitu lelaki tampan kayak aku ini yang jadi suami kamu?"
"Biasa aja. Ngapain masih di sini?" tanyanya sinis.
"Calon mertua kan nyuruh aku buat jagain kamu, Calon Makmumkuuuuuu," ucap Nues dengan tingkah gemasnya.
"Gue udah gede gak perlu Bapak jagain."
"Itu amanat dari calon mertua lho, Is." Ais menghela napas. Kenapa juga ayahnya harus menyuruh lelaki disampingnya ini tetap di sini. Biasanya juga sendiri gak masalah. Ais yakin, ada udang dibalik tepung bakwan Sasa ini.
"Kamu masih kedinginan, enggak?"
"Gak usah sok peduli."
"Aku nanya serius. Kalau kedinginan kan bisa aku peluk," ucap Nues dengan cengirannya.
"Gak usah macem-macem," ancam Ais.
Nues diam. Mulutnya bergerak ke kanan-kiri. Berpikir untuk lebih bisa mencairkan suasana karena baru kali ini ia bertemu dengan gadis yang cueknya minta ampun. Kalau bukan karna cinta, mungkin Nues sudah melambaikan tangan, tanda gak kuat alias nyerah.
"Besok berangkat kerja aku yang anter, gimana?"
"Gak perlu." Sepertinya Nues harus mengisi stok kesabaran untuk membuat hati Ais luluh.
"Bapak gak usah sok akrab."
"Sok akrab gimana?" tanya Nues tak mengerti.
"Gak usah pake aku kamuan, karena kita hanya sebatas instruktur dan murid." Ais menegaskan. Perkataan Ais barusan sedikit menyentil hati Nues, namun lelaki itu tetap berusaha baik-baik saja. Ia tidak mau patah sebelum berjuang.
"Kan itu kalau di tempat kursus. Kalau di sini ya beda dong, Non. Kan aku calon suami kamu, wajarlah kalo pengen akrab sama calon istri sendiri."
"Terserah." Ais akhirnya pasrah dengan kerasnya otak Nues.
"Tapi emang seharusnya aku kamu, Non, biar lebih akrab. Kamu juga jangan manggil aku, Bapak, nanti aku kelihatan tua."
"Emang udah tua."
"Aku itu masih seumuran sama kamu, ya, kita cuma beda empat tahun doang."
"Gak peduli."
Pandangan yang awalnya tertuju pada layar datar di depannya, tiba- tiba menoleh dan menatap Nues tajam. Tatapan yang bikin merinding tapi tidak lama kemudian Ais mengalihkan pandangannya. Entah kenapa saat menatap mata Nues, jantung Ais berdetak dua kali lebih cepat. Ais berharap itu hanya efek kedinginan dan bukan efek yang lainnya.
"Kenapa, Non? Kamu perlu sesuatu?"
"Bapak jangan pernah cerita ke siapapun tentang kita."
"Tentang kita?"
"Gak usah sok gak ngerti. Gak usah sok bego. Tentang hubungan kita."
"Kenapa?"
"Bapak gak bisa ya sekali aja buat gak kepo?"
"Aku juga pengen tau alasannya, Non."
"Karna saya gak mau di introgasi sama orang lain."
"Ya kan tinggal jawab apa adanya, Is."
Nues tahu kalau Ais mau menjawab tapi keburu ada telfon masuk di ponselnya Ais jadi tidak sempat menimpali ucapan Nues.
".... " Nues tidak tahu siapa yang telepon tapi ia sedikit mendengar, suaranya cowok.
"Gue gak suka basa-basi. Gue udah tau tabiat lo. Buruan ngomong, lo mau apa?" Nues mengelus dadanya karena ucapan Ais yang terdengar galak. Untung cinta, kalo enggak, ogah gue punya istri galak, batinnya.
"..."
"Salah sendiri bikin ulah."
"..."
"Gak bisa. Gue sibuk. Jadwal gue padet. Makanya, jadi anak jangan begonya dipupuk terus. Besok lo ulangin aja lagi. Sekalian bakar sekolahnya biar didepak dari sekolahan."
"..."
"Iya, ntar gue mintain tolong temen gue. Tapi jangan lupa besok lo bawa bensin buat bakar sekolahan lo sekalian."
"..."
"Gak usah sok iyes lo. Uang masih minta emak lo aja sok-sok an mau nraktir gue. Traktir gue makanan yang enak kalo lo udah kerja."
"... "
"Lo ulangin lagi, gue bunuh lo."
"..."
"Iya." Ais mematikan teleponnya dan masih mengotak-atik ponselnya. Nues masih memeperhatikan.
Ais Meletakkan ponselnya di dekat telinganya. Menghubungi seseorang.
"..."
"Gue butuh bantuan. Lo bisa nolongin gue?"
"..."
"Oke, thanks." Ais memutuskan panggilannya.
Nues tau kalau sebenarnya dibalik kata-kata Ais yang kurang manusiawi itu, dia perhatian sama orang yang ada ditelepon tadi, hanya saja cara perhatian dia itu beda.
"Siapa?"
"Gak usah kepo."
Nues melihat Ais menghela napas panjang seolah melepas beban berat di hidupnya. Menyandarkan tubuhnya ke sofa. Kepalanya mendongak ke atas. Memejamkan mata. Ais berpikir, bagaimana ia bisa menolong Juna? Ia meminta bantuan Yudha, namun Yudha sibuk. Yang lainnya juga kerja. Walaupun ia seolah tak peduli dengan anak Sma itu, tapi ia juga kasihan melihatnya, mana ibu anak itu seolah tak peduli walaupun biaya sekolah masih ditanggung sang ibu.
"Ngapain Bapak ngeliatin saya?" tanyanya dengan mata yang masih terpejam karena ia merasa diawasi.
"Aku enggak ngeliatin kamu, Is. Aku nonton tv kok," sangkalnya.
Di saat Ais berpikir untuk minta bantuan orang lain, terlintas wajah Nues di otaknya. Apa gue minta bantuan dia aja, ya? Kasihan Juna kalau tidak di tolongin, batinnya.
"Pak." Nues menoleh. Ais tetap memejamkan matanya.
"Iya, Is. Kenapa?"
"Saya boleh minta tolong?"
"Kamu mau minta tolong apa?" Di wajah Nues terlihat sebuah senyuman. Senyuman yang mengembang kala Ais minta tolong ke dia. Apapun bakal Nues turuti.
"Boleh apa enggak?"
"Boleh. Kamu minta tolong apa saja bakal aku turuti. Sekali pun ngehidupin laut mati bakal aku jabanin demi calon istri tercinta."
Ais membuka matanya dan kini menatap Nues. "Saya minta tolong, Bapak ke Smk Kadiri. Ke ruang BP dan berpura-pura sebagai pakde nya siswa yang bernama Juna karena dia ketahuan ngerokok di sekolah. Jangan tanya kenapa dan dia siapa. Masalah waktu, saya kabari lebih lanjutnya."
"Kamu tenang aja. Aku bakal kosongin jadwal buat kamu, khusus buat kamu."
"Thanks." Nues tersenyum simpul.
Ais kembali keposisi semula. Terjadi keheningan beberapa menit hingga bahu Nues terasa berat. Ia menoleh ternyata Ais tertidur, kepalanya bersandar di bahunya. Dengan hati-hati Nues membenarkan posisi Ais supaya lebih nyaman. Sesekali ia merapikan rambut yang menutupi wajah cantiknya agar tidurnya nyaman.
Melihat wajah damainya saat tidur seperti ini membuat Nues bersyukur karena sekarang Ais menjadi miliknya. Gimana tidak menjadi milik Nues kalau makan malam tadi ada acara tukeran cincin sebagai pengikat hubungan. Dan itu adalah rencana dari kedua orang tua mereka, sayangnya hati Ais masih tertutup oleh masa lalu. Kenapa Nues bisa tahu? Sebelum Ais pulang, Sarah sudah cerita banyak tentang masa lalu Ais dan pacarnya.
Walaupun Ais belum suka bahkan cinta sama Nues tapi, Nues akan membuat Ais suka bahkan cinta sama dia. Dan membuat Ais move on dari bayang-bayang masa lalunya. Nues berjanji, ia akan membalikkan Ais seperti Ais yang dulu.
I'm back again,