
Ais merenggangkan otot tangannya untuk melepas capai yang mendera seluruh tubuhnya. Hari ini terasa sangat melelahkan. Mungkin karena siswanya banyak yang latihan parkir ditambah cuaca yang begitu panas padahal hari masih pagi. Ia mengambil satu gelas akua di meja staff yang memang disediakan untuk tamu ataupun siswa, meneguknya hingga menyisakan setengah. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan kurang sepuluh menit. Sesuai dengan perjanjian kemarin, Ais pergi ke tempat yang Nues maksud. Ia tidak mau menjadi orang yang ingkar terhadap janji.
"Loh, Mbak Ais, mau ke mana?" tanya Sasha yang sempat melihat kelebatnya.
"Ada urusan. Ntar sebelum jam dua belas gue udah balik lagi." Tanpa menunggu jawaban dari Sasha, Ais langsung melesat pergi.
Tidak membutuhkan waktu lama, Ais sudah sampai di depan Dealer Aries Motor. Untung saja bengkelnya tidak jauh dari tempatnya bekerja jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di sana. Ia menyetandarkan motor dan melepas helm.
"Akhirnya kamu dateng." Ais terlonjak saat ada orang ngomong di belakangnya. Ia menoleh dan mengembuskan napas kasar. Dibelakang sudah ada Nues yang berdiri dengan seulas senyum.
"Saya bukan orang yang suka ingkar janji," sahutnya. Ais menoleh ke semua arah. Mencari keberadaan motor Nues, namun tak menemuinya.
"Motornya udah aku masukin," ucap Nues yang sadar akan apa yang Ais cari. Gadis itu hanya mengangguk dan berjalan masuk untuk menunggu motor Nues yang sedang diraba-raba oleh mekanik. Sebenarnya ia bisa memberi Nues beberapa lembar uang terus menyuruhnya pergi ke bengkel sendiri tapi ia bukan orang seperti itu, menganggap semuanya bisa selesai dengan uang. Ia juga yakin kalau lelaki itu tidak mudah menerima uangnya begitu saja. Tipe lelaki yang sulit untuk diajak kompromi.
Ais memilih duduk di kursi tunggu. Ia mengeluarkan earphone dari sakunya dan mulai mendengarkan lagu.
Nues duduk disebelahnya. Ntahlah Nues sedang apa karena Ais menikmati lagu yang ia putar. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi pertanda ada yang menelepon. Ais mendengus ketika kegiatannya terganggu. Ia melihat siapa yang menelepon, ternyata Yudha. Ia menggeser ke atas tombol berwarna hijau di ponselnya.
"Is, lo ke mana? Kok lo gak ada di kantor? Gue udah ada di sini nih."
"Keluar. Ngapain ada di sana?"
"Ya mau belajarlah."
"Sasha gak bilang?"
"Udah tapi gue pengin ke sini." Ais memutar kedua bola matanya dengan malas mendengar jawaban Yudha. Siswanya yang satu itu sungguh rajin sekali, diliburkan tetap masuk. Good.
"Kenapa lo ngeliburin gue? Gue kan baru aja masuk kemaren masa udah diliburin aja? Ntar kalo gue lupa gimana? Lo kemana? Lo sakit? Lo kecelakaan? Kamu di mana? Dengan siapa? Sedang berbuat apa? Kenapa lo diem? Jawab dong, Is. Bisu, lo?"
Buset ini anak nyerocos banget kayak kereta lewat nanyanya sampai kepala Ais mendadak jadi migren.
"BERISIK!" Dan seketika keadaan di sana menjadi hening. Yudha pun yang ada diseberang telepon juga kaget dan langsung menutup mulutnya. Ia menoleh ke samping. Nues terlihat kaget juga. Kemudian Ais tersenyum kikuk ke semua orang dan melanjutkan teleponnya lagi.
"Ada urusan."
"Is, ntar pulang kerja temenin gue, yuk. Mau, kan? Ya ya ya?"
"Ke mana?"
"Beli kado buat temen gue. Soalnya besok dia ulang tahun. Mau, kan? Ayo lah, Is. Pleaseeeeee," rengek Yudha.
"Iya, jemput."
Setelah mengirim alamat ke Yudha, Ais kembali dengan musiknya. Bersandar di kursi. Mengamati setiap orang yang lewat. Dan tak luput dari pandangannya para mekanik yang sedang membenarkan motor.
Tapi Ais sadar dari tadi ada yang merperhatikannya. Bukannya ia GR tapi memang itu kenyataannya. Ais menoleh ke arah Nues, tanpa disangka tatapan mereka bertemu membuat Ais terdiam beberapa detik dan segera mengalihkan pandangannya lurus ke depan.
"Kamu kerja di mana?" Walaupun menggunakan earphone, tapi Ais masih bisa mendengar jelas pertanyaan dari Nues karena suara yang dihasilkan dari earphonenya sangatlah pelan.
"Gak usah kepo," jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ditanya baik-baik juga. Oh, kamu kerja di Kursus Mengemudi Natuna?" Tanya Nues yang sempat melihat tulisan yang ada di baju Ais. Udah tau pake nanya. Ais hanya diam. Ia terlalu malas berurusan dengan lelaki apalagi lelaki yang modelannya kayak Nues gini.
"Sekarang biaya kursus berapa?" Ais hanya diam tak menjawab. Ia lebih memilih menikmati lagunya.
"Dasar Nona jutek!" murka Nues karena diacuhkan Ais sedari tadi. Lagi-lagi Ais hanya diam saja.
"Mbak Ais?" Ais yang merasa dipanggil langsung menoleh ke sumber suara dan langsung berdiri memberi salam sembari melepaskan earphone.
"Mas Kris? Ngapain di sini? Benerin motor?"
"Ini dealerku, Mbak. Mbak Ais service motor?" Dalam hati, Ais merasa takjub dengan siswanya ini, masih muda tapi sudah mempunyai Ia tidak menyangka siswanya yang masih terbilang cukup muda ini sudah memiliki dealer motor yang cukup besar dan terkenal.
"Maaf, ya, Mas, hari ini harus libur dulu jadi libur dua hari. Cuma nemenin temen saya aja." Ais berucap seramah mungkin dan itu membuat Nues mendengus. Sama dia saja juteknya minta ampun, kalau sama yang lainnya berubah jadi manis banget.
"Udah santai aja, Mbak Ais, gak masalah kok kalau libur kebetulan hari ini aku repot banget. Kalau gitu aku tinggal dulu, ya, Mbak. Banyak kerjaan soalnya."
"Iya, Mas."
Selepas kepergian Kris, Ais kembali menyenderkan tubuhnya ke kursi. Kepalanya mendongak keatas. Matanya terpejam, mengistirahatkan matanya yang kadang kala terasa panas.
"Buat kamu." Ais membuka mata. Tangan Nues terulur memegang sebotol air mineral.
"Gak Bapak kasih racun, kan?" selidik Ais. Siapa tahu saja lelaki di sebelahnya menyimpan dendam yang Ais tidak ketahui terus dikasih sianida. Jaga-jaga apa salahnya, kan?
Nues terkekeh. "Aku kasih obat tidur." Ais membiarkan kerongkongannya kering daripada mengambil sebotol air dari tangan Nues.
"Ya ampun, segitu takutnya kamu sama aku? Aku cuma bercanda. Ini." Tangan Nues masih terulur, akhirnya Ais mengambilnya dan membuka botol itu, meneguk isinya secara perlahan.
"Mbak, motornya sudah selesai, bisa langsung ke kasir." Ais berseru dalam hati. Akhirnya kelar juga setelah menunggu hampir tiga jam. Ia tidak sabar ingin segera pergi dari sana dan menghilang dari lelaki yang bernama Nues.
"Iya." Ia menutup botol air mineral dan beranjak pelan ke kasir. Ia takut kalau biaya perbaikannya mahal karena ia hanya membawa uang tiga ratus ribu doang, itu pun hasil mengorek celengan jagonya. Nanti kalau kurang gimana? Gak mungkin juga kan ia minta uang ke Nues. Bakal hancur reputasinya dan urusannya dengan lelaki itu semakin panjang. Ais hanya bisa merapalkan do'a demi harga dirinya.
"Mbak, habisnya berapa?" tanya Ais ragu-ragu.
"Habisnya lima ratus ribu, Mbak." Kasir itu memberikan nota rincian biaya yang dikeluarkan. Ia melotot. Astagaaaa uang dari mana coba yang dua ratus ribu? "Tapi Pak Kris bilang gak usah bayar, Mbak," lanjut Mbak kasir.
"Ini beneran, Mbak?" tanya Ais yang masih tidak percaya karena nominalnya cukup besar. Tidak mungkinkan bisa gratis dadakan?
"Iya, Mbak. Itu perintah langsung dari Pak Kris." Ais bernapas lega. Setidaknya uangnya masih selamat.
"Makasih, Mbak, tapi saya bisa ketemu Pak Kris, enggak?"
"Pak Kris masih ada tamu, Mbak. Kalau mau ketemu Pak Kris mending nanti sore aja, Mbak."
"Ya udah, Mbak, kalau gitu tolong sampaikan ke Pak Kris, saya berterima kasih banget udah ditolongin." Habis itu Ais langsung menemui Nues lagi.
"Pinjam hape, boleh?" Ais menodongkan tangannya di depan Nues.
Nues memicingkan matanya. "Buat?"
"Ngabarin orang kantor. Hape saya tiba-tiba mati." Ais kira dia bakal bodo amat eh taunya Nues langsung memberikan hapenya ke Ais. Dan ia langsung ngambil hape yang ada di tangan Nues kemudian ia cari panggilan keluarnya, ia hapus panggilan keluarnya dan tak lupa ia hapus nomernya di kontak dia.
"Makasih." Ais keluar dari dealer itu dan langsung menaiki motornya.
"Tunggu." Cegah Nues.
"Lepasin." Ais melepaskan tangannya yang ditahan Nues, namun Nues tak berniat melepasnya.
"Saya bilang lepasin ya lepasin!" murka Ais. Ia menginjak kaki Nues yang kebetulan jarak mereka berdekatan, jadi tidaklah sulit untuk melakukannya. Nues mengaduh, langsung melepaskan cekalannya. Di saat yang bersamaan, Ais melajukan motornya. Namun naas, aksinya dihadang cepat oleh Nues.
"Mau Bapak apa lagi? Urusan kita udah selesai."
"Kamu ngehapus nomer kamu di hapeku, kan?" tanya Nues yang sudah tahu niat Ais dari awal.
"Enggak," elak Ais. Sial. Umpat Ais. Niatnya ketahuan. Ternyata mengelabuhi lelaki di depannya tidaklah mudah.
"Aku tau kamu bohong."
"Minggir!"
"Aku gak akan minggir sebelum kamu ngasih nomer hape kamu lagi."
"Nomer saya tidak penting."
"Karena enggak penting makanya aku minta nomer kamu."
"Minggir atau saya tabrak?" ancam Ais.
"Saya gak bakalan minggir." Ini orang berani banget dah, cuma nomer hape doang kayak gini. Kayak di ftv aja. Lebay tingkat dewa.
"Terserah." Emang dia pikir Ais gak berani? Dikira ia hanya mengancamnya? Oh tidak. Apa yang Ais ucapkan itu yang bakal ia lakukan. Tanpa pikir panjang Ais langsung ngelajuin motornya dengan kecepatan sedikit ngebut. Dengan sekali meluncur Nues minggir sendiri. Tuh kan. Ais gak pernah omong kosong.
"DASAR CEWEK JUTEK."
"BERENTI LO."
Ais hanya tersenyum remeh. Salah siapa nantangin Ais. Gadis itu terus melajukan motornya tanpa melihat ke belakang lewat spion karena jam sudah menunjukkan hampir jam dua belas. Lebih penting siswanya daripada lelaki tidak jelas itu.
"Sialan. Awas aja kalau ketemu. Gue bales." Teriak Nues walaupun Ais sudah jauh dari pandangannya. Dengan kaki sedikit pincang ia menghampiri motornya. Namun seulas senyum tercetak di wajahnya. "Gue bakal nemuin elo lagi. Liat aja nanti."